Fakta Penting Tentang Vaksin Cacar (Smallpox) yang Perlu Diketahui

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 7 September 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Vaksinasi adalah obat paling efektif untuk mencegah penyakit yang disebabkan oleh virus. Vaksin berfungsi membangun kekebalan pada sistem imun tubuh terhadap infeksi virus. Kini, tersedia berbagai vaksin yang bisa mencegah berbagai penyakit berbahaya. Namun, semua bermula dari penemuan vaksin pertama yang berhasil memusnahkan penyakit cacar atau smallpox.

Sejarah singkat penemuan vaksin cacar

Vaksin cacar merupakan vaksin pertama yang berhasil memberikan perlindungan di dalam tubuh terhadap serangan infeksi virus patogen. Vaksin ini ditemukan oleh seorang dokter asal Inggris, Edward Jenner, pada tahun 1776.

Dalam sejarah vaksin, konsep vaksinasi ditemukan dari adanya wabah penyakit cacar sapi yang tengah berlangsung.

Sebagaimana dituliskan dalam artikel Smallpox Vaccine: The Good, the Bad, and the Ugly, kala itu, dr. Jenner melakukan percobaan kepada beberapa orang dengan menggunakan virus cacar sapi (cowpox) untuk memberikan efek kekebalan tubuh terhadap infeksi virus variola penyebab cacar (smallpox).

Dari hasil percobaanya, 13 orang yang telah terinfeksi cacar sapi kemudian memiliki imunitas terhadap penyakit cacar. Penemuan dr. Jenner kemudian dijadikan dasar penelitian untuk memproduksi vaksin cacar.

Kegunaan dan dosis vaksin cacar

Vaksin lain tersusun dari komponen genetik virus penyebab penyakit yang telah dilemahkan. Namun, vaksin cacar terbuat dari virus vaccinia, virus yang masih satu famili dengan virus variola tapi lebih tidak berbahaya.

Sekarang ini vaksin untuk cacar dikenal dengan vaksin generasi kedua, yaitu ACAM2000. Vaksin ini mengandung virus yang hidup, maka pengunaan vaksin perlu dilakukan secara hati-hati agar tidak menyebabkan penularan penyakit oleh virus tersebut.

Cara kerja vaksin adalah membuat sistem imun Anda membangun pertahanan untuk menyerang virus cacar. Ketika virus cacar masuk dan coba menginfeksi tubuh, sistem imun bisa segera menghalau virus tersebut menghancurkan sel-sel sehat di dalam tubuh.

Efektivitas vaksin ini dalam mencegah infeksi virus variola mencapai 95 persen. Bahkan vaksin juga cukup efektif menurunkan infeksi jika diberikan dalam waktu beberapa hari setelah seseorang terpapar virus variola.

Satu dosis vaksin akan disuntikan dengan menggunakan teknik injeksi khusus. Menurut CDC, vaksin cacar bisa dengan efektif memberikan perlindungan selama 3 sampai 5 tahun.

Setelahnya, kemampuan perlindungan vaksin akan menurun secara perlahan, sehingga Anda perlu mendapatkan booster atau vaksinasi lanjutan.

Mengapa perlu melakukan vaksin cacar?

Vaksin cacar dapat menghambat bahkan menghentikan penularan penyakit ini. Meskipun penularan penyakit cacar tidak semudah penyakit cacar air, tapi risiko penularan sangat tinggi pada orang-orang yang kerap beriteraksi dan melakukan kontak dekat dengan penderita.

Melakukan kontak fisik dengan luka kulit akibat cacar bisa langsung menularkan penyakit ini. Begitupun dengan paparan droplet mukosa yang dikeluarkan ketika penderita cacar bersin dan batuk.

Keberhasilan vaksin cacar tidak hanya sampai pada menghentikan infeksi virus di dalam tubuh, tapi juga membasmi sepenuhnya keberadaan penyakit ini.

Vaksinasi cacar yang dilakukan sejak akhir abad ke-18 hingga akhir abad ke-20 berhasil menghentikan penyebaran dan menghilangkan penyakit cacar di seluruh bagian dunia. Kasus terakhir penyakit cacar yang ditemukan adalah di Kongo tahun 1977.

Masih perlukah mendapatkan vaksin ini?

Setelah resmi dinyatakan musnah oleh WHO pada tahun 1980, penyakit cacar (smallpox) yang disebabkan oleh virus variolla sudah tidak lagi ditemukan kasusnya.

Program vaksinasi untuk cacar pun tidak lagi dipioritaskan sehingga vaksinnya hampir sulit untuk didapatkan saat ini. Virus tersebut selanjutnya digunakan untuk kepentingan penelitian medis.

Akan tetapi, kewaspadaan terhadap penyakit cacar kembali ditingkatan setelah adanya ancaman dan teror atas penggunaan virus variola sebagai senjata biologis.

Dilansir dari The Lancet, pada tahun 2002 The Advisory Committee on Immunization Practices (ACIP) kembali menambah persediaan vaksin cacar sebagai antisipasi terulangnya wabah penyakit ini.

Efek samping vaksin cacar

Setiap produk medis selalu ada efek sampingnya. Meskipun terbuat dari virus yang hidup, efek samping vaksin tidaklah berat.

Efek samping yang sering muncul biasanya adalah demam, kulit memerah, dan bengkak di daerah kulit tempat Anda disuntik. Selain itu,  sebagian kecil orang yang juga mengalami ruam-ruam kemerahan di sekitar area injeksi.

Sementara menurut FDA, efek samping serius yang bisa ditimbulkan dari penggunaan vaksin ini dapat berupa risiko peradangan dan pembengkakan pada sel-sel jantung, serta penyakit seperti miokarditis dan perikarditis.

Kelompok orang dengan kondisi kesehatan tertentu bisa saja menunjukkan reaksi efek samping vaksin yang cukup berbahaya.

Untuk itu, Anda perlu mengetahui siapa saja orang yang perlu memperoleh vaksin cacar ini dan siapa yang sebaiknya menghindari vaksinasi terlebih dahulu.

Siapa yang perlu mendapat vaksin ini?

Ketika tidak ada terjadi wabah penyakit cacar, kelompok orang yang seharusnya mendapatkan vaksin adalah:

  • Pekerja laboratorium yang terlibat dalam penelitian yang memanfaatkan virus variola.
  • Pekerja perlu mendapatkan vaksin lanjutan (booster) dalam waktu 3 tahun ke depan.

Selain itu, beberapa kelompok lain yang direkomendasikan mengikuti program vaksinasi cacar ketika terjadi wabah adalah:

  • Siapapun yang melakukan kontak tatap muka dengan orang yang terinfeksi cacar.
  • Anak-anak yang berusia di bawah 13 tahun yang belum pernah terkena sakit cacar.
  • Orang dewasa yang belum pernah mendapat vaksin atau belum pernah terkena penyakit cacar.
  • Sekalipun Anda sebelumnya pernah terkena cacar, maka Anda tetap bisa melakukan vaksinasi untuk menambah kekebalan atas penyakit ini.

Siapa yang tidak boleh mendapat vaksin cacar?

Setiap orang yang sedang sakit tidak dianjurkan untuk mendapatkan vaksin cacar. Anda harus menunggu sampai Anda pulih terlebih dahulu, baru Anda bisa melakukan vaksinasi.

Berikut adalah daftar orang-orang yang tidak bisa menerima vaksin:

  • Ibu hamil karena sampai saat ini belum diketahui efek samping dari vaksin ini pada ibu hamil ke bayi yang dikandungnya.
  • Orang-orang yang alergi gelatin. Akan tetapi, sudah tersedia vaksin  yang tersusun dari bahan vaksin bebas gelatin.
  • Orang-orang yang mengidap penyakit kelainan sistem imun.
  • Orang-orang yang baru saja menerima steroid dalam dosis tinggi.
  • Orang-orang yang sedang dalam pengobatan kanker dengan X-ray, obat-obatan, dan kemoterapi.
  • Orang-orang yang baru saja melakukan transfusi darah atau menerima produk-produk yang berhubungan dengan darah. Orang tersebut baru boleh menerima vaksin 5 bulan setelah melakukan tindakan transfusi darah atau menerima produk-produk yang berhubungan dengan darah.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Polio, Penyakit yang Menyebabkan Kelumpuhan Otot

Polio adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, serta pengobatan polio di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Penyakit Infeksi pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 2 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit

Tak Hanya Anak, Imunisasi Juga Penting untuk Orang Dewasa

Tak hanya bayi dan balita, orang dewasa juga perlu perlindungan dari penyakit menular lewat imunisasi. Apa saja jenis vaksin yang dibutuhkan orang dewasa?

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Penyakit Infeksi 21 Desember 2020 . Waktu baca 7 menit

Pro Kontra Rencana Vaksin COVID-19 di Indonesia

Rencana pemerintah Indonesia untuk mempercepat proses imunisasi vaksin COVID-19 diprotes banyak kolegium dokter. Adakah bahaya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 23 Oktober 2020 . Waktu baca 7 menit

Mengenal Berbagai Efek Samping Imunisasi: Bahaya Atau Tidak?

Jangan sampai berbagai efek samping imunisasi (vaksin) bikin Anda takut apalagi ragu diimunisasi. Pelajari dulu seluk-beluknya di sini, yuk.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Imunisasi, Kesehatan Anak, Parenting 16 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

herpes dosis acyclovir adalah

Acyclovir

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 28 Februari 2021 . Waktu baca 13 menit
KIPI vaksinasi COVID-19

Proses Vaksinasi COVID-19 di Indonesia, Kelompok Prioritas Sampai Masyarakat Umum

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
penyakit difteri pada anak

Difteri

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 12 menit
smallpox variola cacar

Cacar (Smallpox)

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 3 Januari 2021 . Waktu baca 8 menit