Waspadai 5 Gejala Bayi Sakit yang Sebenarnya Menandakan Penyakit Serius

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 31 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Bayi tidak bisa mengomunikasikan dengan jelas apa yang sedang dia rasakan. Makanya tak heran kalau banyak orangtua yang kebingungan ketika anaknya sakit — “Ini sebenarnya demam biasa yang bisa dikasih minum obat dari apotek, atau harus segera dibawa ke dokter?” Penting untuk mengenali mana gejala bayi sakit yang harus diwaspadai sehingga orangtua bisa segera memutuskan kapan harus berobat. Terlambat mengenali gejala penyakit serius dapat berakibat fatal.

Begini caranya membedakan mana gejala bayi sakit yang ringan dan mana yang bahaya dan perlu diwaspadai.

Apa saja gejala bayi sakit yang perlu orangtua waspadai?

Jika bayi sakit Anda menunjukkan salah satu, atau lebih dari, gejala berikut, jangan dulu panik. Orangtua harus tetap dan berkepala dingin dalam menghadapi anaknya yang sakit. Ada baiknya selalu konsultasikan dengan dokter tentang kondisi anak Anda.

1. Demam tinggi

Ketika melihat bayi demam, insting orangtua pasti ingin segera membawanya ke dokter. Padahal, tak selalu perlu. Demam sejatinya bentuk pertahanan diri alami yang menandakan tubuh sedang memerangi infeksi. Artinya, fungsi imunnya berjalan dengan normal.

Tapi waspadai jika suhu tubuh bayi yang demam mencapai 38°C, khususnya untuk bayi berusia di bawah tiga bulan. Sedangkan, bagi bayi yang berusia 3-6 bulan perlu dibawa ke rumah sakit jika suhunya lebih dari 39 derajat. Hati-hati juga ketika bayi demam naik turun terlalu sering. Ini mungkin pertanda ia mengalami infeksi bakteri atau virus yang cukup berbahaya, seperti pneumoniainfeksi saluran kencinginfeksi telinga, ataupun meningitis.

Ketika Anda menggunakan termometer, pastikan termometer dipasang di pantat bayi. Jika Anda memasangnya di ketiak, pastikan tambahkan suhu setengah derajat celcius agar lebih akurat. Bayi perlu dibawa ke dokter jika suhunya terus tinggi selama lebih dari lima hari atau muncul tanda serius lainnya. Anda juga perlu segera membawa ke dokter apabila tubuhnya panas namun kaki dan tangannya malah dingin.

Bagi bayi di atas usia 6 bulan, segera bawa ke dokter jika demam tidak kunjung turun setelah Anda memberikan paracetamol atau ibuprofen. Sebagai catatan, kedua obat ini jangan diberikan kecuali suhunya di atas 38,3 derajat celcius.

2. Napas terengah; sulit bernapas

Jika bayi sakit dan mengalami napas terengah-engah, bisa jadi terdapat infeksi pada paru-parunya atau jalur napasnya yang tertutup. Bayi yang sesak napas bisa ditandai dengan dada, perut atau leher yan terlihat cekung ke dalam, karena ia sedang berusaha menghirup napas dalam-dalam. Dengarkan, apakah nafasnya berbunyi mengi? Lihatlah, apakah ada warna biru di sekitar mulut atau bibir. Jika ada, segera bawa ke rumah sakit.

3. Muntah-muntah

Muntah pada bayi adalah kondisi yang cukup umum terjadi. Bayi yang baru lahir akan sering muntah di minggu-minggu pertama karena ia masih membiasakan diri dengan makanan yang masuk. Menangis dan batuk yang berlebihan juga dapat memicu refleks muntah. Anak Anda juga mungkin muntah karena kekenyangan. Muntah masih wajah jika tidak diikuti oleh demam dan tidak ada darah atau cairan empedu berwarna hijau di muntahannya. Jika setelah anak muntah pun ia tidak rewel, masih bisa bermain, dan tetap mau makan, anda tak perlu khawatir.

Namun jika muntahannya berwarna hijau barulah Anda harus waspada. Ini mungkin menandakan adanya sumbatan pada ususnya. Selain itu, perhatikan juga apakah anak mendadak lemas dan tidak responsif setelah muntah; kulit pucat dan dingin atau tidak; apakah anak masih mau makan atau justru menolaknya; apakah perutnya bengkak; apakah ia muntah lebih dari tiga kali dalam 24 jam atau berlangsung selama lebih dari tiga hari dan disertai demam.

Segera pergi ke dokter jika muncul satu-dua gejala bayi sakit di atas. Juga apabila bayi muntah-muntah sementara menunjukkan gejala dehidrasi, seperti mulut kering, menangis meraung tapi tidak mengeluarkan air mata, dan buang air kecil tidak sesering biasanya.

3. Menangis terus-menerus

Menagis terus menerus bisa jadi tanda kolik atau sedang tantrum. Tapi jika tangisannya terus berlanjut bahkan sudah tak lagi mengeluarkan air mata, Anda harus waspada. Tangisan tanpa air mata yang diikuti dengan mulut kering dan tidak pipis, bisa jadi anak Anda sedang mengalami dehidrasi berat. 

4. Kejang-kejang

Kejang pada bayi umumnya berbeda dengan apa yang sering dialami oleh orang dewasa. Kejang pada bayi biasanya diawali atau disertai demam, sehingga disebut kejang demam (step). Kejang demam sering terjadi pada sekitar 2-4% anak berumur 6 bulan hingga 5 tahun. Gejala yang timbul saat kejang demam antara lain adalah kekakuan otot, kelojotan sekujur tubuh, mata berkedip-kedip kosong, atau tidak merespon saat namanya dipanggil.

Penyebab kejang demam adalah demam tinggi akibat peradangan atau infeksi. Ada anak yang kejang saat suhu tubuh 38 derajat C, namun ada anak yang baru kejang saat suhunya di atas 40 derajat C. Diduga faktor genetik juga berperan dalam kejadian kejang demam, terutama jika ada riwayat epilepsi dalam keluarga.

Untuk mengatasi anak kejang, jangan memasukkan benda apapun ke dalam mulut. Jangan pula memaksa membuka mulutnya. Jangan minumkan kopi. Jangan menahan kaki atau tangan anak dengan paksa saat kejang, karena dapat menimbulkan patah tulang.

Bawa ke dokter sesegera mungkin untuk mencari tahu apa penyebabnya. Ukur suhu anak saat kejang, amati seberapa lama kejang dan apa yang terjadi saat kejang, karena informasi ini sangat berguna bagi dokter anak Anda.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Usia Berapa Bayi yang Baru Lahir Diperbolehkan Keluar Rumah?

Saat baru dilahirkan Anda mungkin cemas untuk membawa si kecil keluar rumah. Memangnya, kapan pada umur berapa bayi baru lahir boleh keluar rumah?

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Bayi, Parenting, Bayi Satu Tahun Pertama 18 Februari 2021 . Waktu baca 3 menit

10 Cara Seru Mengajarkan Anak Belajar Membaca

Hobi membaca buku wajib ditanamkan sejak kecil agar terus berlanjut sampai dewasa. Bagaimana cara mengajarkan anak mulai belajar membaca?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Anak 1-5 Tahun, Parenting, Perkembangan Balita 16 Februari 2021 . Waktu baca 8 menit

TBC Pada Anak: Ketahui Gejala, Perbedaan dengan Orang Dewasa, dan Pengobatannya

Banyak kasus TBC atau TB pada anak terlambat ditangani karena gejalanya sering kali bukan batuk-batuk. Apa saja gejala yang biasanya muncul pada anak?

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Gangguan Pernapasan pada Anak, Kesehatan Anak, Parenting 14 Februari 2021 . Waktu baca 11 menit

Lebih Baik Kompres Dingin atau Hangat untuk Menurunkan Demam?

Mana yang lebih baik untuk menurunkan demam: kompres dingin atau hangat? Simak masing-masing penjelasannya di sini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 10 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

minyak kelapa untuk bayi

Manfaat Minyak Kelapa untuk Bayi, Mulai dari Mengatasi Eksim Sampai Melebatkan Rambut

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Maret 2021 . Waktu baca 5 menit
kasur tempat tidur bayi

4 Tips Mudah Memilih Kasur Bayi yang Aman dan Nyaman

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 27 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit
anak cengeng

7 Cara Menghadapi Anak Cengeng Tanpa Drama

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 22 Februari 2021 . Waktu baca 5 menit
Serba-Serbi Mengahadapi Anak Introvert

Serba-Serbi Membesarkan Anak Dengan Kepribadian Introvert

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Monika Nanda
Dipublikasikan tanggal: 20 Februari 2021 . Waktu baca 6 menit