Mencegah dan Menurunkan Risiko Hipertensi pada Ibu Menyusui

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Seorang wanita yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi berisiko mengalami hipertensi saat hamil dan setelah melahirkan. Pada hipertensi setelah melahirkan, kondisi ini bisa mengganggu proses menyusui atau pemberian ASI dari ibu kepada bayi. Padahal, menyusui memberi manfaat yang baik bagi kesehatan ibu dan bayinya. Lantas, bagaimana mencegah hipertensi setelah melahirkan atau saat menyusui? Apakah menyusui memberi dampak pada tekanan darah ibu?

Sekilas tentang manfaat menyusui bagi ibu

Sudah terbukti secara jelas bahwa menyusui membawa manfaat bagi seorang ibu dan bayi. American Pregnancy Association menyebut, menyusui bisa mempercepat pemulihan ibu setelah melahirkan, mengembalikan berat badan lebih cepat ke kondisi sebelum melahirkan, serta mengurangi risiko kanker payudara dan kanker rahim.

Menyusui juga disebut dapat mengurangi stres serta menurunkan risiko berbagai penyakit kronis lainnya pada ibu, seperti diabetes dan penyakit jantung pada kemudian hari.

Selain itu, ASI dari ibu menyusui juga mengandung banyak nutrisi yang dibutuhkan bayi pada enam bulan pertama usianya. Oleh karena itu, pakar kesehatan di seluruh dunia menganjurkan, setiap ibu untuk menyusui bayinya setidaknya selama enam bulan pertama setelah kelahiran, atau yang biasa disebut dengan ASI eksklusif.

Fakta seputar menyusui yang bisa menurunkan risiko hipertensi

ibu dengan penyakit lupus menyusui

Mengingat pentingnya menyusui bagi ibu dan bayi, ada baiknya seorang wanita mencegah dan menurunkan risiko terjadinya hipertensi pada saat menyusui. Namun nyatanya, proses menyusui itu sendiri memberi dampak yang baik bagi tekanan darah seorang ibu. Berikut beberapa fakta mengenai menyusui dan hipertensi yang perlu Anda tahu.

Pemberian ASI Eksklusif

Menyusui memang bermanfaat untuk menurunkan risiko berbagai penyakit kronis. Sejalan dengan hal tersebut, hasil penelitian terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Epidemiology melaporkan bahwa risiko hipertensi pada ibu menyusui menurun secara drastis apabila mereka menjalani program ASI eksklusif selama setidaknya enam bulan. Tidak hanya itu, semakin lama Anda menyusui juga dapat mengurangi risiko obesitas dan resistensi insulin.

Secara keseluruhan, penelitian ini menemukan bahwa wanita yang menyusui ASI eksklusif setidaknya selama enam bulan berpeluang lebih kecil untuk mengalami tekanan darah tinggi dalam 14 tahun setelahnya dibandingkan ibu yang hanya memberikan susu botol. Penelitian tersebut dilakukan terhadap lebih dari 50 ribu ibu menyusui (yang ASI ekslusif dan yang memberikan susu formula) di Amerika Serikat.

Penelitian ini tidak secara langsung membuktikan bahwa menyusui dapat membuat tekanan darah menjadi lebih sehat. Namun, peneliti menduga bahwa pelepasan hormon oksitosin ketika menyusui dapat memiliki efek jangka panjang pada kesehatan pembuluh darah dan kestabilan tekanan darah, yang kemudian dikaitkan pada penurunan risiko hipertensi pada ibu menyusui. Adapun Oksitosin adalah hormon pemicu rileksasi, yang efeknya mungkin juga tercermin pada fungsi pembuluh darah.

Menurunkan risiko aterosklerosis

Sanne Peters, seorang peneliti di Oxford University mengatakan bahwa menyusui dapat mengurangi risiko wanita mengalami pengerasan pembuluh darah alias aterosklerosis. Adapun aterosklerosis menjadi faktor risiko stroke dan penyakit jantung.

Mengapa bisa begitu? Menyusui ternyata mengubah metabolisme tubuh ibu segera setelah melahirkan. Selama hamil tubuh wanita “diprogram” untuk mengumpulkan lemak demi memastikan bayi dalam kandungan mendapatkan cukup nutrisi dan juga untuk persiapan menyusui ketika nanti bayi telah lahir.

Nah, penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa menyusui bisa menggelontorkan cadangan lemak tersebut dengan lebih cepat. Apabila ibu tidak menyusui, maka cadangan lemak yang kini tak lagi dibutuhkan itu akan tetap bersemayam dalam tubuh. Hal ini dapat menyebabkan penambahan berat badan dan meningkatkan faktor risiko untuk hipertensi dan penyakit jantung setelah melahirkan.

Itu sebabnya para ahli merekomendasikan bahwa bayi disusui secara eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupannya, kemudian terus dilanjutkan sambil diselingi dengan pemberian makanan padat sampai mereka berumur satu tahun.

Cara mencegah hipertensi saat menyusui

mencegah hipertensi maligna

Menyusui memang memberi dampak yang baik bagi tekanan darah seorang ibu dan bisa menurunkan risiko berbagai penyakit. Namun, seorang wanita yang memiliki riwayat tekanan darah tinggi masih mungkin mengalami hipertensi setelah melahirkan dan saat menyusui bayinya.

Bila ini terjadi pada Anda, Anda perlu mengontrol tekanan darah sedini mungkin, dari sebelum memulai program hamil dan saat hamil. Hal ini pun berlaku bagi yang tidak memiliki riwayat hipertensi karena kondisi ini bisa terjadi pada wanita manapun. Berikut beberapa cara mencegah hipertensi yang bisa Anda lakukan:

1. Periksa tekanan darah secara rutin

Tekanan darah tinggi memang kerap tidak menimbulkan gejala hipertensi pada penderitanya. Oleh karena itu, banyak yang tidak menyadari bahwa dirinya memiliki hipertensi, termasuk pada seorang wanita.

Untuk mencegah hipertensi saat menyusui, Anda perlu rutin melakukan cek tekanan darah, dari sebelum memulai program hamil, saat hamil, dan setelah melahirkan. Hipertensi yang cepat terdeteksi akan mendapat penanganan yang tepat serta menurunkan risiko dari komplikasi hipertensi yang mengancam nyawa.

2. Menjaga berat badan sebelum dan selama kehamilan

Salah satu faktor risiko hipertensi adalah kegemukan atau obesitas. Jika Anda memiliki kelebihan berat badan sebelum hamil, ada baiknya Anda menurunkan berat badan agar kondisi kehamilan Anda lebih sehat dan Anda bisa mencegah hipertensi saat hamil yang juga bisa berujung pada hipertensi setelah melahirkan atau menyusui.

Menjaga kenaikan berat badan juga perlu dilakukan saat hamil. Faktanya, dilansir dari MedlinePlus, beberapa wanita sudah mengalami kelebihan berat badan saat hamil dan beberapa wanita lainnya menambah berat badan terlalu cepat. Hal ini sangat berbahaya bagi kesehatan Anda dan bayi yang Anda kandung bila tidak dikontrol.

Sebagai gambaran, kenaikan berat badan seorang wanita hamil setidaknya dijaga di kisaran 11,5-16 kg. Namun, hal ini tentunya tergantung pada kondisi setiap wanita dan berat badan sebelum kehamilannya.

3. Menerapkan gaya hidup sehat

Hal penting yang perlu Anda lakukan untuk mencegah hipertensi saat menyusui, yaitu menerapkan gaya hidup yang sehat. Perhatikan asupan makanan Anda dengan menerapkan pola makan sehat dan dengan gizi seimbang, sehingga semua kebutuhan vitamin dan mineral Anda selama kehamilan terpenuhi. Kurangi asupan garam dan hindari makanan yang mengandung natrium karena dapat meningkatkan tekanan darah Anda.

Bila perlu, Anda bisa melakukan olahraga untuk ibu hamil. Namun, Anda perlu berkonsultasi dengan dokter apakah hal ini dimungkinkan pada kondisi kehamilan Anda.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Waspada Papilledema, Pembengkakan Saraf Mata yang Bisa Sebabkan Kebutaan

Papilledema adalah pembengkakan saraf optik pada mata yang bisa mengakibatkan kehilangan penglihatan secara tiba-tiba. Ini dia pencegahan dan penanganannya.

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fajarina Nurin
Kesehatan Mata, Penyakit Mata 21 Desember 2020 . Waktu baca 6 menit

Daging Kambing vs Daging Domba: Mana yang Lebih Sehat?

Anda penggemar sate kambing? Atau lebih suka steak domba muda? Kira-kira mana yang lebih baik untuk kesehatan, daging kambing atau domba?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Fakta Gizi, Nutrisi 20 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit

Menyusuri Sistem Peredaran Darah Manusia

Sistem peredaran darah pada manusia berguna untuk mengantarkan nutrisi dan oksigen serta zat lain yang dibutuhkan tubuh. Bagaimana mekanisme ini berjalan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Penyakit Kelainan Darah 15 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Berapa Tekanan Darah yang Masih Dianggap Normal?

Tahukah berapa angka tekanan darah normal? Apakah Anda tahu bedanya angka atas dan angka bawah? Simak angka tensi normal berdasarkan usia di sini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung 23 November 2020 . Waktu baca 8 menit

Direkomendasikan untuk Anda

penyakit degeneratif

Mengenali Jenis-jenis Penyakit Degeneratif yang Umum Terjadi

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit
klaudikasio adalah

Klaudikasio

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 4 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
eklampsia adalah

Eklampsia, Komplikasi Penyakit Preeklampsia yang Tidak Ditangani

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 2 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
bahaya garam

6 Bahaya pada Tubuh Jika Mengonsumsi Garam Terlalu Banyak

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 24 Desember 2020 . Waktu baca 4 menit