6 Panduan Mendidik Anak Pengidap ADHD

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 3 Januari 2018 . Waktu baca 7 menit
Bagikan sekarang

Ketika anak Anda pertama kali didiagnosis mengidap Attention Deficit/Hyperactivity Disorder alias ADHD oleh para ahli, mungkin reaksi pertama Anda adalah tidak percaya. Bagaimana mungkin, yang pertamanya Anda pikir anak Anda hanyalah anak yang sangat aktif dan penasaran, nyatanya didiagnosis oleh para ahli mengidap ADHD?

Akan tetapi, tidak mungkin bukan Anda terus-menerus menolak kenyataan? Tentu, Anda harus mengambil langkah bagaimana cara mendidik dan membesarkan anak Anda dengan kondisi seperti ini. Berikut adalah cara-cara yang dapat dilakukan untuk mendidik anak Anda yang mengidap ADHD.

1. Jujurlah kepada anak Anda tentang ADHD yang diidapnya

Para orangtua tidak dianjurkan untuk merahasiakan tentang ADHD kepada anaknya. Para orangtua juga tidak dianjurkan untuk membohongi anaknya tentang ADHD ini. Katakanlah sejujur-jujurnya kepada anak Anda tentang ADHD yang mereka idap.

Beri tahu juga bahwa ADHD ini terjadi bukan karena kesalahan atau kenakalan mereka. Dengan terbuka kepada anak Anda tentang kondisi mereka, Anda meringankan stigma ADHD yang ada pada anak Anda. Anak-anak Anda perlu mengetahui kedaan mereka yang sebenarnya dan mengerti bahwa mereka dapat mengontrol hal tersebut.

2. Jangan menuntut anak untuk jadi “lebih baik”

Memang, anak-anak yang mengidap ADHD mungkin lebih tidak konsisten dibandingkan dengan anak-anak normal. Misalnya, hari ini ulangan mereka nilainya 90, besok mungkin nilainya 60. Lusa mungkin beda lagi ceritanya, mungkin nilainya 70. Tapi minggu depan, mungkin nilainya 95.

Kalau sudah begini, umumnya orangtua langsung berkata, “Kalau kamu kemarin bisa bagus, kenapa hari ini tidak?” Padahal yang terjadi sebenarnya pada anak-anak ADHD adalah mereka ini sebenarnya sangat cerdas. Mereka tahu apa yang harus mereka lakukan, akan tetapi kadang-kadang mereka tidak tahu bagaimana harus memulainya.

Selain itu, seperti yang sudah disebutkan, terkadang mereka tidak konsisten. Hal inilah yang kadang-kadang salah diartikan oleh orang pada umumnya.

3. Jangan biarkan ADHD menjadi alasan untuk anak tidak bertanggung jawab

Memang betul, ADHD membuat anak menjadi lebih sulit melakukan sesuatu. Akan tetapi, bukan berarti ADHD menjadi alasan untuk anak tidak bertanggung jawab. Misalnya, anak dengan ADHD berkata “Aku nggak perlu kerjain PR soalnya aku kan mengidap ADHD.”

Padahal realitanya, anak itu bisa mengerjakan PR, meskipun memang dibutuhkan usaha yang lebih keras dibandingkan anak-anak normal. Ubalah pola pikir anak Anda sehingga mereka berkata, “Memang, aku mengidap ADHD. Tapi aku tetap bisa kerjain PR aku.”

4. Menerapkan aturan dan konsekuensi secara perlahan-lahan

Untuk anak-anak pengidap ADHD, orangtua akan lebih mudah menerapkan aturan dan konsekuensi secara verbal dan tertulis. Contohnya, para orangtua dapat menempel daftar tanggung jawab anak-anak dan aturan di dalam rumah.

Jika Anda ingin memberi rewards alias hadiah kepada anak Anda, boleh saja. Akan tetapi, jangan memberi iming-iming hadiah kepada anak Anda untuk sesuatu yang masih lama, misalnya, “Papa mama bakal beliin kamu sepeda kalau kamu naik kelas tahun depan.”

Anak-anak ADHD memiliki masalah untuk merencanakan waktu yang akan datang, maka tidak akan masuk akal kalau Anda menjanjikan hadiah yang baru akan diberikan untuk tahun depan. Sebaliknya, rewards yang diberikan usahakanlah dapat diberikan dalam waktu dekat, misalnya diberi izin main game di luar waktu yang sudah ditentukan, dan lain sebagainya.

Orangtua juga harus menjelaskan tentang konsekuensi secara jelas. Setelah itu, terapkanlah konsekuensi yang sudah dibuat secara perlahan-lahan namun tegas. Mungkin, kadang-kadang orangtua merasa frustrasi dan lelah menghadapi anaknya, tapi usahakanlah jangan mendidik anak Anda dengan marah-marah.

Mungkin akan agak sulit kalau orangtua dari anak-anak tersebut juga mengidap ADHD, karena penyakit ADHD bisa saja bawaan. Orangtua yang juga mengidap ADHD bisa saja menghardik marah-marah akibat mereka sendiri juga punya masalah dengan tindakan impulsif mereka. Untuk hal ini, orangtua dianjurkan untuk mengontrol terlebih dahulu ADHD yang mereka idap, lalu berusaha menjadi contoh yang baik bagi anak mereka.

5. Bantulah anak Anda menemukan kelebihan mereka

Anak-anak pengidap ADHD sering dikucilkan. Hal ini dapat menyebabkan anak tersebut merasa tidak punya harga diri dan depresi. Rasa tidak punya harga diri sendiri sudah mulai muncul pada anak-anak pengidap ADHD sejak mereka berusia 8 tahun.

Anak-anak ini mungkin merasa “Nggak ada yang bisa aku kerjain. Ngapain aku mesti capek-capek, coba? Lagian orang-orang tetap nggak bakal anggap aku, kok.” Anak-anak ini banyak kehilangan semangat dan merasa depresi.

Di sinilah, orangtua berperan untuk membangkitkan kembali semangat anak-anak mereka. Biasanya, kalau anak-anak ADHD ini menaruh minat dalam satu hal, anak-anak ini bisa menguasai hal tersebut setara dengan kemampuan untuk orang-orang 5 tahun di atas umur mereka.

Oleh karena itu, Anda bisa berkata kepada anak Anda, “Coba lihat, mungkin kamu lemah dalam bidang ini. Tapi, kamu punya kelebihan lain, kan? Bahkan temen-temen kamu aja belum bisa bikin seperti apa yang kamu sudah bisa bikin.”

6. Janganlah overprotektif terhadap anak Anda

Seiring dengan berjalannya waktu, tentu saja, anak-anak pengidap ADHD ini akan tumbuh dewasa. Mereka perlu belajar untuk mandiri. Kebanyakan orangtua berusaha menyelesaikan semua masalah yang dialami oleh anaknya. Hal ini tidak baik, sebab anak akan berpikir, “Aku punya kekurangan dan pasti papa mama aku bakal selesaikan semua masalah aku.”

Cobalah jangan buat Anda yang harus menyuruh segala sesuatu apa yang harus dilakukan oleh anak Anda, tapi cobalah buat anak Anda yang akan meminta apa yang harus mereka lakukan. Pada saat-saat awal, mungkin anak-anak ini memang masih butuh arahan Anda. Tapi semakin lama, biasakan hingga akhirnya mereka benar-benar mengambil keputusan sendiri untuk menyelesaikan masalah mereka.

Ajarlah supaya anak Anda belajar untuk mandiri, yang memang, untuk anak-anak yang mengidap ADHD, sulit untuk melakukannya.

Behavioural treatment untuk anak ADHD

Kalau Anda mengalami kesulitan dalam mendidik anak Anda yang mengidap ADHD, jangan khawatir. Ada alternatif terapi untuk Anda, yang dinamakan “behavioural therapy”. Pada dasarnya, terapi ini bertujuan supaya Anda menerapkan 6 hal yang sudah disebutkan di atas. Hanya saja, dengan terapi ini, Anda akan diberikan program dan semacam kelas oleh para ahli kesehatan mental. Terapi ini dapat dilakukan dengan meminum obat ataupun tidak meminum obat.

Berikut tiga elemen dari terapi ini:

1. Mengeset gol/target

Anda dan pembimbing Anda akan membantu anak untuk membuat dan mencapai suatu tujuan yang spesifik. Contoh-contoh dari target yang bisa dibuat seperti menyelesaikan PR, bermain dengan teman-teman di taman, duduk di meja belajar selama satu jam, atau yang lain.

2. Membuat rewards dan konsekuensi

Anak Anda akan mendapat hadiah atau hukuman bergantung dari apa yang diperbuatnya. Contohnya, kalau mereka berhasil mencapai gol yang sudah dibuat, mereka akan diberi tambahan waktu untuk bermain komputer. Sebaliknya, kalau mereka berperilaku negatif, maka Anda akan mengurangi jam main game mereka.

3. Konsisten dalam menjalankan terapi

Sangat penting untuk menerapkan 2 elemen di atas sampai anak itu dapat melakukan sendiri (tanpa bantuan orangtua atau pembibing) hal-hal yang telah diajarkan.

Alat Pengingat Jadwal Imunisasi

Anda baru punya anak? Mau tahu informasi lengkap soal jenis vaksin dan jadwal pemberiannya? Atau butuh pengingat agar tidak lupa?

Cek Di Sini!
parenting

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?

Yang juga perlu Anda baca

Anda Sering Disebut Pacar Posesif? Ini Penyebab dan Cara Mengatasinya

Tak ada yang mau punya pacar posesif yang membatasi segala gerak-gerik sehari-hari. Namun, bagaimana bila justru Anda yang posesif? Atasi dengan cara ini.

Ditulis oleh: Theresia Evelyn
Kesehatan Mental, Hubungan Harmonis 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Ini Alasan Orang yang Sering Menangis, Justru Mentalnya Sekuat Baja

Ketika lain kali Anda diledek cengeng karena sering menangis, katakan dengan lantang bahwa menangis adalah tanda orang yang sehat dan bermental baja

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Kesehatan Mental, Stres dan Depresi 18 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit

Bagaimana Cara Mengendalikan Ego yang Tinggi?

Ego adalah bagian dari kepribadian manusia yang seringkali dicap negatif. Memang, apa itu ego, dan bagaimana mengendalikan ego yang tinggi?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Widya Citra Andini
Kesehatan Mental, Gangguan Mental Lainnya 18 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit

Mental Illness (Gangguan Mental)

Mental illness adalah gangguan mental yang memengaruhi pemikiran, perasaan, perilaku,suasana hati, atau kombinasi diantaranya. Berikut informasi lengkapnya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Mental 17 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit

Direkomendasikan untuk Anda

putus kenapa cinta memudar

4 Alasan Psikologis Cinta Bisa Memudar

Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
Dipublikasikan tanggal: 21 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
cara menghilangkan rasa cemas

8 Cara Jitu untuk Menghilangkan Rasa Cemas Berlebihan

Ditulis oleh: Novi Sulistia Wati
Dipublikasikan tanggal: 20 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
sedih

11 Cara Jitu Mengusir Rasa Sedih dan Galau Dalam Hati

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Risky Candra Swari
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 11 menit
obat mual anak cara mengatasi mual anak

Daftar Obat Mual untuk Anak, Mulai dari Resep Dokter Sampai Perawatan di Rumah

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 18 Januari 2021 . Waktu baca 7 menit