Dalam banyak film dan literatur dunia, penyakit skizofrenia sering digambarkan sebagai kegilaan; seorang kriminal sadis yang suka menyiksa dan membunuh korban yang tidak berdaya. Adakah sedikit saja kebenaran dari stereotip mengerikan ini?

Apa itu skizofrenia?

Penyakit skizofrenia adalah gangguan mental kronis dan parah yang memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan (berempati), dan berperilaku. Orang dengan skizofrenia mungkin tampak seperti telah kehilangan kontak dengan realitas.

Orang dengan skizofrenia akan sulit membedakan mana dunia nyata dengan dunia khayalan. Ini karena gejala penyakit skizofrenia sering mencakup pengalaman psikotik, seperti mendengar suara-suara tak berwujud, halusinasi, atau delusi.

Seberapa umumkah penyakit skizofrenia?

Skizofrenia biasanya dimulai pada akhir masa remaja atau dewasa awal, antara usia 16 sampai 30 tahun.

Setiap orang berisiko untuk mengalami skizofrenia. Skizofrenia merupakan gangguan mental yang paling umum ditemukan secara global. Menurut WHO, penyakit skizofrenia diidap oleh lebih dari 21 juta orang dari berbagai belahan dunia. Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar 2013, sekitar 1 dari 1000 orang Indonesia terdiagnosis skizofrenia.

Satu dari dua orang yang hidup dengan skizofrenia tidak menerima perawatan memadai untuk kondisinya. Pasien skizofrenia sering dianggap sebagai “orang gila” karena mereka seringkali berhalusinasi. Sebanyak 14.3 persen dari orang Indonesia dengan skizofrenia dipasung oleh keluarga sendiri karena ketidaktahuan masyarakat mengenai skizofrenia.

Penting untuk memahami mana yang mitos menyesatkan dan mana fakta seputar penyakit skizofrenia, atau dalam bahasa awamnya “gila”, demi memberikan kesempatan bagi orang-orang ini untuk menjalani kehidupan yang produktif dan terlibat penuh dalam masyarakat.

Mitos seputar skizofrenia yang ternyata salah besar

1. Skizofrenia tidak dapat disembuhkan

Skizofrenia, seperti banyak gangguan mental lainnya, bisa diobati. Meskipun hingga saat ini belum ditemukan obat untuk skizofrenia, namun terapi berupa perawatan psikososial atau rehabilitasi yang efektif membuat pasien skizofrenik bisa memiliki kehidupan yang produktif, sukses, dan mandiri. Dengan obat yang tepat dan terapi, sekitar 25% dari orang-orang dengan penyakit ini akan sembuh sepenuhnya.

Beberapa terapi psikososial yang dapat bermanfaat bagi pasien skizofrenik diantaranya adalah: terapi keluarga, pengobatan komunitas asertif, dukungan pekerjaan, remediasi kognitif, pelatihan keterampilan, terapi perilaku kognitif (CBT), intervensi modifikasi perilaku, dan intervensi psikososial untuk penggunaan zat, dan pengaturan berat badan.

2. Halusinasi adalah satu-satunya gejala skizofrenia

Skizofrenia merupakan penyakit yang memengaruhi beberapa fungsi otak, seperti kemampuan berpikir jernih, mengelola emosi, membuat keputusan, ataupun berhubungan dengan orang lain. Bahkan seringkali, ODS akan mengalami kesulitan dalam mengorganisir pikiran mereka atau membuat koneksi logis.

Tapi halusinasi bukan satu-satunya gejala skizofrenia. Gejala lain yang dapat timbul dari penyakit skizofrenia adalah delusi, alias waham, yang bisa diartikan sebagai memegang teguh keyakinan yang salah.

3. Orang dengan skizofrenia berbahaya bagi masyarakat

Banyaknya pasien skizofrenik yang diasingkan atau bahkan dipasung adalah karena adanya anggapan bahwa skizofrenia itu berbahaya. Padahal, sebuah studi menunjukkan bahwa pasien skizofrenik yang mendapatkan pengobatan medis memadai tidak akan berbahaya, kecuali jika pasien dibatasi akses kesehatannya atau justru ditelantarkan.

4. Skizofrenia sama dengan kepribadian ganda

Tidak benar. Skizofrenia sama sekali berbeda dengan kepribadian ganda, alias gangguan disosiatif. Yang terjadi,pasien skizofrenik seringkali memiliki ide-ide palsu yang tidak berhubungan dengan realita; penderitanya sulit membedakan dunia nyata dengan dunia khayalan.

Sementara itu, orang dengan kepribadian ganda memiliki dua atau lebih kepribadian yang berbeda, dan masing-masingnya bisa secara bergantian mengambil alih kesadaran individu “tuan rumah”.

5. Skizofrenia disebabkan oleh kekerasan orangtua pada anak

Skizofrenia adalah penyakit mental yang disebabkan oleh beragam faktor: genetik, trauma, dan/atau penyalahgunaan narkoba. Kesalahan yang Anda buat sebagai orang tua tidak akan menyebabkan anak Anda mengalami skizofrenia.

6. Skizofrenia adalah penyakit genetik

Meskipun genetik memiliki peran dalam menentukan faktor risiko seseorang mengidap penyakit skizofrenia. Tapi jika hanya salah satu orang tua Anda yang memiliki penyakit mental ini, tidak berarti Anda akan ditakdirkan untuk mendapatkannya.

Dan jikapun salah satu orangtua Anda memiliki skizofrenia, risiko Anda mendapatkan kondisi ini hanya sekitar 10%. Risiko akan semakin meningkat jika ada semakin banyak anggota keluarga Anda yang memiliki skizofrenia.

7. Skizofrenia membuat Anda tidak bisa melakukan apapun

Ada begitu banyak anggapan yang meremehkan penyakit skizofrenia, diantaranya: pasien skizofrenik pasti tidak cerdas, tidak akan mendapatkan pekerjaan, dan seterusnya. Padahal, pendapat ini jelas salah.

Meskipun pasien mengalami kesulitan berpikir, bukan berarti ia tidak cerdas. Atau, meskipun skizofrenia bisa menyulitkan Anda dalam mencari pekerjaan dan bekerja, bukan berarti ODS tidak akan bekerja. Dengan pengobatan yang tepat, banyak orang skizofrenik yang dapat menemukan pekerjaan sesuai dengan kemampuan dan keterampilan mereka.

Penyakit skizofrenia tidak akan sembuh dengan sendirinya; Oleh karena itu, Anda perlu melakukan pemeriksaan segera jika menemukan gejala skizofrenia guna mendapatkan pengobatan yang tepat. Atau, jika Anda tahu seseorang yang mengalami gejala skizofrenia, Anda perlu memotivasi orang tersebut untuk mendapatkan pengobatan yang tepat sesegera mungkin.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca