Syok Hipovolemik

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22/07/2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu syok hipovolemik?

Syok hipovolemik adalah kondisi ketika seseorang kehilangan darah atau cairan tubuh sebanyak lebih dari 20% (satu per lima).

Umumnya, sebanyak 60% tubuh pria terdiri dari cairan, sedangkan wanita sebanyak 50%. Cairan tubuh dibuang melalui beberapa cara, seperti berkeringat dan buang air kecil. Beberapa kondisi dapat mengakibatkan tubuh kehilangan terlalu banyak cairan, seperti muntah, diare, serta pendarahan.

Pendarahan adalah salah satu penyebab paling umum dari syok ini. Kehilangan darah atau cairan tubuh terlalu banyak dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan.

Salah satu masalah kesehatan yang dapat terjadi adalah jantung tidak dapat memompa darah yang cukup ke seluruh tubuh. Hal tersebut dapat mengakibatkan kegagalan fungsi organ-organ tubuh.

Tanda dan gejala dari kondisi ini umumnya bervariasi, mulai dari yang bersifat ringan hingga parah. Jika tidak segera mendapatkan penanganan medis, syok hipovolemik dapat berakibat fatal, bahkan berujung pada kematian.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Syok hipovolemik merupakan salah satu jenis syok yang paling umum terjadi. Kondisi ini dapat terjadi pada siapa saja, namun risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

Kondisi ini dapat diatasi dan dicegah dengan cara mengendalikan faktor-faktor risiko yang ada. Untuk mengetahui informasi lebih lanjut mengenai kondisi ini, Anda dapat berkonsultasi dengan dokter Anda.

Tahapan

Apa saja tahapan-tahapan dari syok hipovolemik?

Pada orang dewasa, kondisi kehilangan darah dapat dibagi menjadi beberapa fase atau tahap:

1. Kelas 1 (10-15%)

Darah yang hilang pada tahapan ini hanya mencapai 10 hingga 15 persen. Umumnya, tidak ada tanda-tanda atau gejala fisik yang timbul pada tahapan ini.

2. Kelas 2 (15-30%)

Ketika tubuh manusia kehilangan darah sebanyak 15 hingga 30 persen, tubuh akan menunjukkan gejala-gejala seperti hipotensi postural, pengurangan jumlah urin, dan penyempitan pembuluh darah.

3. Kelas 3 (30-40%)

Tubuh yang kehilangan cairan sebanyak 30 hingga 40 persen akan mengalami gejala-gejala seperti hipotensi, pernapasan lebih cepat, dan detak jantung tidak beraturan. Jumlah urin pun mengalami penurunan, serta penderita akan merasa kebingungan.

4. Kelas 4 (40% ke atas)

Ketika darah yang hilang mencapai lebih dari 40%, tubuh akan mengalami gejala-gejala yang telah disebutkan sebelumnya. Namun, penderita akan kehilangan kesadaran dan mengalami koma.

Sementara itu, tahapan dari syok hipovolemik sendiri dapat dibagi menjadi 3, yaitu:

1. Kompensasi

Reflek baroreseptor dalam tubuh menyebabkan terjadinya masalah kontraksi jantung, percepatan detak jantung, dan penyempitan pembuluh darah.

2. Progresif atau dekompensasi

Kondisi jantung akan semakin melemah, refleks motorik tubuh memburuk, dan sirkulasi darah di dalam tubuh pun berpotensi mengalami kegagalan. Hal ini berisiko mengakibatkan gagal fungsi beberapa organ tubuh.

3. Ireversibel

Jika seseorang yang mengalami syok telah memasuki fase ini, beberapa organ tubuh yang vital gagal berfungsi dan tidak dapat disembuhkan. Kondisi ini dapat berujung pada kematian.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala syok hipovolemik?

Tanda-tanda dan gejala yang ditunjukkan ketika seseorang mengalami syok hipovolemik umumnya bervariasi. Hal ini tergantung dari volume darah yang hilang dan seberapa cepat tubuh kehilangan darah.

Beberapa penderita mungkin akan merasa demam, kesulitan bernapas, sulit berdiri, hingga pingsan. Gejala apapun yang muncul dapat berpotensi membahayakan nyawa dan membutuhkan pertolongan medis sesegera mungkin.

Gejala-gejala dari syok mungkin tidak akan langsung muncul. Lansia mungkin tidak mengalami gejala-gejala ini hingga syok berkembang dengan signifikan.

Gejala-gejala yang tergolong ringan umumya meliputi:

  • Sakit kepala
  • Berkeringat berlebihan
  • Kelelahan
  • Mual
  • Kepala pusing

Selain itu, terdapat pula gejala-gejala yang lebih serius, seperti:

  • Kulit yang dingin dan pucat
  • Berkurangnya atau tidak dihasilkannya urin
  • Detak jantung tidak beraturan (takikardia)
  • Denyut nadi melemah
  • Kebingungan
  • Bibir membiru
  • Kepala terasa ringan
  • Napas cepat dan pendek-pendek
  • Tidak sadarkan diri

Biasanya, kondisi ini juga disertai dengan gejala-gejala pendarahan dalam atau internal, seperti:

  • Sakit perut
  • Buang air besar berdarah
  • Feses berwarna hitam dan bertekstur lengket
  • Urin mengandung darah
  • Muntah darah
  • Nyeri dada
  • Perut membengkak

Meskipun beberapa tanda dan gejala menyerupai penyakit lain, seperti flu perut, Anda harus memeriksakan diri ke dokter jika salah satu atau beberapa gejala di atas muncul. Semakin lama Anda menunggu munculnya gejala yang lebih serius, kondisi kerusakan organ akan semakin sulit dihindari.

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu, konsultasikanlah dengan dokter Anda.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Syok hipovolemik adalah kondisi gawat darurat yang harus segera mendapatkan penanganan medis. Jika Anda memiliki tanda-tanda atau gejala-gejala di atas atau pertanyaan lainnya, jangan tunda lagi waktu untuk mencari pertolongan.

Tubuh masing-masing penderita menunjukkan tanda-tanda dan gejala yang bervariasi. Untuk mendapatkan penanganan yang paling tepat dan sesuai dengan kondisi kesehatan Anda, pastikan Anda selalu memeriksakan diri ke dokter atau pusat layanan kesehatan terdekat.

Penyebab

Apa penyebab syok hipovolemik?

Darah membawa oksigen dan zat penting lainnya ke organ dan jaringan tubuh Anda. Saat pendarahan berat terjadi, tubuh tidak memiliki darah yang cukup untuk dipompa jantung secara efektif.

Apabila tubuh kehilangan darah atau cairan terlalu cepat dan tubuh tidak dapat menggantikan volume cairan yang hilang, organ-organ pada tubuh akan mengalami masalah dan gejala syok muncul. Kehilangan seperlima atau lebih dari jumlah normal darah pada tubuh dapat menyebabkan gejala-gejala timbul.

Kehilangan volume darah dapat terjadi akibat adanya pendarahan dalam (internal) maupun luar (eksternal). Pendarahan dalam biasanya terjadi akibat adanya penyakit tertentu atau kecelakaan. Salah satu di antaranya adalah pendarahan pada saluran pencernaan.

Selain itu, kondisi dehidrasi juga dapat menyebabkan terjadinya syok. Jika tubuh kekurangan cairan, jaringan-jaringan tubuh akan menarik air dari aliran darah untuk menyeimbangkan jumlah cairan yang hilang.

Kehilangan darah dapat disebabkan oleh:

  • Perdarahan dari luka sayat
  • Perdarahan dari cedera lain
  • Perdarahan internal, seperti pada saluran pencernaan.

Kadar dari darah yang beredar pada tubuh dapat turun jika Anda kehilangan terlalu banyak cairan tubuh. Kondisi ini dapat disebabkan oleh:

  • Luka bakar
  • Diare
  • Keringat berlebih 
  • Muntah

Faktor-faktor risiko

Apa saja faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami syok hipovolemik?

Syok hipovolemik adalah kondisi medis yang dapat terjadi pada hampir semua orang, terlepas dari berapapun usianya dan apapun kelompok rasnya. Namun, terdapat beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang untuk mengalami kondisi ini.

Penting untuk Anda ketahui bahwa memiliki salah satu atau beberapa faktor risiko bukan berarti Anda pasti akan menderita suatu penyakit atau kondisi kesehatan. Dalam beberapa kasus, tidak menutup kemungkinan Anda dapat mengalami kondisi kesehatan tertentu tanpa adanya satu pun faktor risiko.

Berikut adalah faktor-faktor risiko yang dapat memicu terjadinya syok hipovolemik:

1. Usia

Meskipun kondisi ini dapat terjadi pada hampir semua usia, risiko seseorang untuk mengalami syok akan meningkat seiring dengan bertambahnya usia.

2. Mengalami kecelakaan

Apabila Anda mengalami kecelakaan kendaraan bermotor, terjatuh, atau mengalami peristiwa kecelakaan lainnya yang menyebabkan Anda kehilangan banyak darah, risiko Anda untuk mengalami syok jauh lebih tinggi.

3. Mengidap penyakit atau kondisi kesehatan tertentu

Apabila Anda memiliki masalah saluran pencernaan, organ dalam Anda berisiko mengalami pendarahan. Kondisi tersebut memperbesar peluang Anda untuk mengalami syok.

Selain itu, kehamilan yang tidak normal, seperti kehamilan ektopik, juga dapat meningkatkan risiko mengalami syok karena adanya peluang kerusakan pada janin.

Orang-orang yang menderita penyakit kronis tertentu, seperti diabetes, stroke, atau masalah jantung, juga memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami kondisi ini.

Pasien yang mengidap penyakit kelainan darah, misalnya hemofilia, juga berisiko mengalami kondisi ini. Orang yang hidup dengan hemofilia mengalami perdarahan lebih lama dari orang normal, sehingga risiko untuk kehilangan darah lebih besar.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang dapat diakibatkan oleh syok hipovolemik?

Kurangnya aliran darah dan cairan di dalam tubuh dapat menyebabkan terjadinya beberapa komplikasi.

Menurut sebuah artikel dari Harvard Medical School, pasien syok hipovelemik yang tidak segera mendapat pertolongan medis dapat mengalami cedera iskemik pada organ-orang vital, yang berisiko menyebabkan gagal fungsi pada organ-organ tersebut.

Berikut adalah beberapa komplikasi yang dapat terjadi akibat syok hipovolemik:

  • Kerusakan ginjal
  • Kerusakan otak
  • Gangren pada tangan dan kaki, kadang menyebabkan amputasi
  • Serangan jantung
  • Kerusakan organ lain
  • Kematian

Efek dari syok hipovolemik tergantung pada seberapa cepat tubuh Anda kehilangan darah, serta volume darah yang hilang.

Jika Anda memiliki penyakit kronis seperti diabetes, stroke, atau masalah jantung, risiko Anda untuk mengalami komplikasi jauh lebih tinggi.

Selain itu, jika Anda menderita gangguan pembekuan darah, seperti hemofilia, kemungkinan untuk mengalami komplikasi juga jauh lebih besar.

Diagnosis & pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Bagaimana syok hipovolemik didiagnosis?

Umumnya, kondisi ini tidak langsung menunjukkan tanda-tanda atau gejala. Jadi, gejala akan muncul ketika Anda sudah mengalami kondisi ini untuk beberapa saat.

Maka dari itu, diperlukan adanya pemeriksaan fisik untuk mengetahui tanda-tanda syok, seperti tekanan darah rendah dan detak jantung tidak beraturan. Orang yang mengalami syok juga umumnya tidak cukup responsif untuk menjawab pertanyaan yang diberikan dokter di instalasi gawat darurat.

Jika pendarahan eksternal terjadi, kondisi ini akan lebih mudah dikenali. Namun, pendarahan internal biasanya lebih sulit didiagnosis hingga pasien menunjukkan tanda-tanda syok hemoragik.

Dokter akan melakukan beberapa tes tambahan untuk mengonfirmasi hasil diagnosis. Berikut adalah jenis-jenisnya:

  • Tes darah lengkap untuk mengecek ketidakseimbangan elektrolit, serta fungsi ginjal dan hati
  • Tes pencitraan, seperti CT scan, USG, dan MRI
  • Ekokardiogram untuk mengecek struktur dan fungsi jantung dengan gelombang suara
  • Elektrokardiogram untuk mengecek ritme detak jantung
  • Endoskopi untuk memeriksa esofagus dan organ pencernaan lainnya
  • Kateter jantung kanan
  • Kateter kemih (tabung dimasukkan ke dalam kemih untuk mengukur volume urin)

Bagaimana cara mengobati kondisi ini?

Ketika pasien tiba di rumah sakit, tim medis akan memasang infus untuk mengganti volume cairan dan darah yang hilang. Hal ini penting agar sirkulasi darah tetap terjaga dan meminimalisir kerusakan organ.

Tujuan dari pengobatan dan perawatan adalah untuk mengontrol kadar cairan dan darah, mengganti cairan yang hilang, serta menstabilkan kondisi pasien.

Beberapa prosedur yang mungkin akan dilakukan adalah:

  • Transfusi plasma darah
  • Transfusi trombosit
  • Transfusi sel darah merah
  • Infus kristaloid

Dokter juga akan memberikan obat-obatan yang dapat memperbaiki fungsi jantung untuk memompa darah, seperti:

  • Dopamine
  • Dobutamine
  • Epinephrine
  • Norepinephrine

Pengobatan di rumah

Apa saja pertolongan pertama, pengobatan di rumah, atau pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi syok hipovolemik?

Ketika seseorang mengalami syok, berikut adalah beberapa langkah yang dapat Anda lakukan sebelum ke dokter atau pusat layanan kesehatan:

  • Jaga orang tersebut agar tetap nyaman dan hangat untuk mencegah hipotermia.
  • Baringkan orang tersebut dengan kaki terangkat sekitar 30 cm untuk meningkatkan peredaran.
  • Namun, jika orang tersebut memiliki cedera kepala, leher, punggung atau kaki, jangan ubah posisi kecuali orang tersebut dalam kondisi gawat.
  • Jangan berikan cairan melalui mulut.
  • Jika orang tersebut harus diangkat, jaga agar tetap berbaring dengan kepala di bawah dan kaki terangkat. Stabilkan kepala dan leher sebelum memindahkan orang tersebut jika diduga adanya cedera tulang belakang

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Mengenal Kelainan Katup Jantung Bawaan dan Cara Mengatasinya

Kelainan atau penyakit katup jantung bisa terjadi karena bawaan dari lahir dan bisa terdeteksi pada bayi. Apa penjelasannya dan bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 01/07/2020 . Waktu baca 7 menit

Penyakit Katup Jantung

Penyakit katup jantung terjadi ketika katup pada jantung tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Ketahui lebih lanjut di Hello Sehat.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 01/07/2020 . Waktu baca 13 menit

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan memang bukan tugas mudah. Jangan khawatir, simak panduannya berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit

Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

Gagal jantung terbagi dua berdasarkan progresnya, yaitu gagal jantung akut dan gagal jantung kronik. Apa yang dimaksud gagal jantung akut?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 01/07/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makanan yang dilarang untuk pasien penyakit jantung

5 Jenis Pantangan Makanan untuk Pasien Penyakit Jantung

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
obat prostat

Obat-obatan yang Bisa Digunakan untuk Mengatasi Penyakit Prostat

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 05/08/2020 . Waktu baca 8 menit
manfaat virgin coconut oil minyak kelapa dara; virgin coconut oil

Manfaat Virgin Coconut Oil untuk Kesehatan

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit
gejala penyakit yang diacuhkan

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit