Sindrom Tourette

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Definisi

Apa itu sindrom Tourette?

Sindrom Tourette adalah sebuah penyakit langka yang menyerang sistem saraf. Kondisi ini membuat penderitanya tidak bisa mengendalikan gerak-gerik tubuh serta apa yang terlontar dari mulutnya — disebut tics.

Orang dengan kondisi ini bisa memunculkan pola gerakan pada bagian tubuh mana pun, mulai dari wajah, tangan, atau kaki. Pada kasus lainnya, seseorang yang memiliki sindrom Tourette juga dapat tibat-tiba mengeluarkan suara yang tidak normal, mengulang perkataan, melontarkan kutukan atau bahkan mengumpat kepada orang lain. Serangan tics terjadi secara tiba-tiba tanpa disengaja, berulang, dan tidak bisa dikendalikan.

Sindrom ini dinamai oleh Dr Georges Gilles de la Tourette, seorang ahli saraf asal Prancis. Beliau pertama kali menggambarkan kondisi sindrom Tourette pada seorang wanita bangsawan usia 86 tahun asal Prancis.

Serangan sindrom Tourette dapat terjadi secara serius hingga memengaruhi hidup penderita maupun orang-orang di sekitar mereka.

Seberapa umumkah sindrom Tourette?

Sindrom Tourette bisa dialami oleh siapa saja dari semua kelompok usia maupun etnis. Namun, dalam banyak kasus, sindrom ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan, dan selalu dimulai sebelum usia 18 tahun. Biasanya dalam rentang usia 5 hingga 9 tahun.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala sindrom Tourette?

Gejala khas dari sindrom ini adalah tics motorik dan tics vokal. Serangan tics dapat muncul secara tiba-tiba dan bersifat kambuhan. Biasanya gejala sindrom ini muncul di masa anak-anak antara usia 5 hingga 9 tahun.

  • Tics motorik

Tics motorik adalah gerakan otot yang tidak bisa dikendalikan. Orang dengan sindrom ini bisa memunculkan gerakan spontan dan menyentak tiba-tiba. Misalnya mata berkedip, hidung yang berkedut, bahu naik-turun, mengangguk atau menggeleng-gelengkan kepala, atau bahkan mulut yang bergerak-gerak.

Beberapa orang ada pula yang sampai harus membungkuk atau memutarkan badannya berkali-kali ketika tics mereka kambuh.

  • Tics vokal

Sementara tics vokal adalah ketika seseorang dengan sindrom ini secara tidak sadar melontarkan suara atau kata-kata yang tidak normal. Ya, ketika serangan tics vokal kambuh, seseorang dengan kondisi ini biasanya akan mengumpat, memaki, melontarkan kata-kata cabul secara spontan dan berulang kali.

Sejumlah orang dengan kondisi ini juga bisa memunculkan gejala seperti mengisap-isap, bersiul, batuk-batuk, mendengus, meludah, dan mengeluarkan suara mendengking. Sebuah survei yang dilakukan oleh para psikolog University of San Diego, diketahui bahwa ada sekitar 10-15 persen orang yang punya sindrom Tourette dengan tics vokal, yang disertai suara macam orang mengumpat. Kondisi ini bisa disebut juga sebagai copropraxia.

Mungkin ada beberapa gejala yang tidak disebutkan di sini. Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai gejala tertentu, harap berkonsultasi dengan dokter Anda.

Bentuk dan frekuensi serangan tics berbeda pada setiap orang

Secara umum, bentuk dan frekuensi kemunculan serangan tics bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada faktor pemicunya. Namun, serangan tics seringnya muncul ketika seseorang sedang di bawah tekanan (stres) atau justru saat mereka sangat bersemangat untuk melakukan sesuatu.

Sebaliknya, serangan tics cenderung tidak akan muncul ketika orang dengan sindrom ini melakukan aktivitas yang tenang dan fokus. Misalnya mendengarkan musik atau mengetik di depan layar komputer. Serangan tics tidak hilang saat tidur tapi sering berkurang secara signifikan.

Pola gerakan atau perkataan spontan dan berulang yang dialami orang dengan Tourette juga umumnya sulit dihindari. Jika diibaratkan, tics itu seperti cegukan. Anda tidak merencanakan dan tidak pula menginginkan kehadirannya tetapi ia tiba-tiba datang dan membuat tidak nyaman.

Terkadang, tics juga bisa seperti “menggaruk gatal”. Anda tidak benar-benar ingin menggaruk gatal, tapi Anda juga tidak bisa menahan rasa gatal tersebut.  Ya, orang dengan sindrom ini cenderung sulit untuk mengontrol ataupun mencegah serangan tics.

Meski orang dengan sindrom ini dapat menahan serangan tics untuk sementara waktu, tapi pada akhirnya mereka harus membiarkan serangan tics keluar. Pasalnya, meredam, mengontrol, atau mencegah tics justru dapat memicu stres berat, yang pada akhirnya memperparah serangan tics.

Dalam beberapa kasus, orang dengan sindrom Tourette mungkin memiliki kondisi lain, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan obsesif-kompulsif (OCD), atau kesulitan belajar.

Kapan saya harus periksa ke dokter?

Sindrom Tourette sering terjadi pada anak-anak, tetapi gejala-gejalanya akan menghilang seiring pertumbuhan anak dan berkembangnya mekanisme tahu-kendali mereka. Dokter dapat membantu meresepkan obat-obatan tertentu untuk meringankan gejala sindrom Tourette.

Namun, sebaiknya Anda menghubungi dokter jika terjadi hal-hal di bawah ini:

  • Obat yang diresepkan dokter tidak cocok dengan Anda (terjadi efek yang berlawanan dari penggunaan obat).
  • Gejala-gejala yang Anda tidak juga membaik atau bahkan justru semakin memburuk.
  • Mengalami demam, kekakuan otot, atau perubahan perilaku setelah mengonsumsi obat yang digunakan untuk mengobati sindrom Tourette.

Penyebab

Apa penyebab sindrom Tourette?

Secara umum, sindrom Tourette merupakan penyakit yang kompleks. Maka dari itu, sampai saat ini penyebab sindrom Tourette belum diketahui secara pasti. Namun, para ahli menduga bahwa kemungkinan besar penyakit ini disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dengan faktor lingkungan.

  • Genetik. Para ahli menduga bahwa sindrom Tourette adalah kondisi genetik, yang berarti diturunkan dari orangtua ke anak-anaknya. Sayangnya, gen khusus yang berkaitan dengan sindrom ini belum ditentukan dengan pasti.
  • Kelainan sturktur otak. Penelitian saat ini menunjukkan bahawa kelainan di bagian otak tertentu (termasuk ganglia basal, lobus frontal, dan korteks) serta gangguan neurotransmiter (dopamin, serotonin, dan norepinefrin) dapat menyebabkan seseorang mengalami kondisi ini.

Sindrom Tourette tidak menular. Jadi, berinteraksi dengan orang yang memiliki kondisi ini tidak akan membuat Anda mengalaminya juga.

Faktor-Faktor Risiko

Apa yang meningkatkan risiko saya untuk sindrom Tourette?

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena sindrom Tourette, di antaranya:

  • Riwayat keluarga. Jika kakek, nenek, orangtua, atau saudara kandung Anda memiliki riwayat penyakit ini atau penyakit lain yang menyebabkan kejang, maka Anda berisiko mengalami juga di kemudian hari.
  • Jenis kelamin. Pada pria, risiko terkena sindrom Tourette biasanya 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita

Tidak adanya faktor risiko bukan berarti Anda tidak dapat terjangkit sindrom ini. Faktor-faktor ini hanya untuk referensi. Silakan berkonsultasi dengan dokter ahli untuk informasi yang lebih rinci.

Obat & Pengobatan

Informasi yang disediakan di bawah ini bukanlah sebagai pengganti pengobatan medis. Selalu konsultasikan dengan dokter Anda.

Apa pilihan pengobatan untuk sindrom Tourette?

Sindrom Tourette adalah kondisi kronis yang tidak bisa disembuhkan. Pengobatan yang ada ditujukan untuk mengendalikan serangan tics yang menganggu aktivitas sehari-hari. Sementara jika tics tidak parah, biasanya pengobatan tidak diperlukan.

Secara umum, berikut pilihan pengobatan yang biasa dilakukan dokter untuk mengatasi sindrom ini.

Minum obat tertentu

Dokter biasanya akan meresepkan beberapa obat untuk mengurangi gejala dan memudahkan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari. Beberapa obat yang mungkin diresepkan dokter di antaranya:

  • Obat antipsikotik. Fluphenazine, haloperidol, risperidone, dan pimozide dapat membantu mengendalikan serangan tics. Namun, ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi ketika pasien menggunakan obat ini, yaitu kenaikan berat badan dan gerakan berulang yang tidak disengaja.
  • Suntikan botulinum (Botox). Suntikan ke otot yang bermasalah dapat membantu meringankan serangan tics motorik maupu vokal.
  • Obat ADHD. Stimulan seperti methylphenidate dan obat-obatan yang mengandung dextroamphetamine dapat membantu meningkatkan perhatian dan konsentrasi penderita. Sayangnya, bagi beberapa orang dengan sindrom ini, obat-obatan tersebut justru dapat memperburuk tics.
  • Inhibitor adrenergik sentral. Obat-obatan seperti clonidine dan guanfacine, biasanya diresepkan bagi penderita yang juga memiliki tekanan darah tinggi.
  • Obat antidepresan. Fluoxetine dapat membantu mengendalikan gejala kesedihan, kecemasan, dan OCD.
  • Obat anti kejang. Studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa orang dengan sindrom Tourette merespons topiramate (Topamax), yang digunakan untuk mengobati epilepsi.

Berbagai obat tak boleh dikonsumsi sembarangan. Pastikan Anda berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter guna menentukan obat mana yang paling sesuai dengan kondisi Anda.

Terapi perilaku

Selain itu, berkonsultasi ke seorang psikolog atau psiakter juga bisa dilakukan untuk membantu mengontrol gejala. Sebenarnya sindrom Tourette bukanlah gangguan mental, namun seorang psikolog maupun psikiater dapat memberikan terapi perilaku untuk membantu menenangkan Anda ketika serangan tics tiba-tiba muncul. Seorang psikolog maupun psikiater juga bisa membantu meringankan gejala dari penyakit lain yang sering dikatkan dengan sindrom Tourette, misalnya ADHD dan gangguan kecemasan.

Salah satu bentuk terapi perilaku untuk mengobati sindrom Tourette adalah Comprehensive Behavioral Intervention for Tics, atau CBIT. Terapi ini membantu orang yang punya sindrom Tourette mengontrol serangan tics dengan cara yang sangat hati-hati dan sistematis. Tak hanya penderita, terapis juga akan memberikan tips kepada keluarga pasien perihal bagaimana cara mereka menghadapi kekambuhan serangan tics pasien dengan sindrom ini agar tidak semakin memburuk.

Sebagai contoh, seseorang yang ticsnya memburuk sebelum presentasi di tempat kerja akan belajar bagaimana mengelola stres mereka sebelum dan selama situasi tersebut berlangsung. Entah itu dengan berjalan-jalan, mendengarkan musik yang menenangkan, atau melakukan latihan pernapasan. Semuanya dilakukan semata-mata untuk mengurangi keparahan serangan tics atau bahkan mencegahnya agar tidak terjadi sama sekali.

Biasanya, terapi perilaku ini membutuhkan 8 sesi pertemuan, yang setiap sesinya menghabiskan waktu sekitar satu jam. Dalam kasus tertentu, terapi CBIT mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama.

Apa tes yang paling umum untuk mendeteksi sindrom Tourette?

Semua anak yang mengalami sindrom ini pasti memiliki tics, tapi seseorang yang memiliki tics belum tentu mengalami sindrom Tourette. Jadi, jika anak Anda memunculkan berbagai gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, segera berkonsultasi ke dokter saraf pediatri, yaitu dokter yang mempunyai spesialisasi dalam masalah saraf anak-anak.

Para dokter akan menentukan diagnosa berdasarkan riwayat medis, hasil pemeriksaan fisik serta pemeriksaan laboratorium, misalnya tes darah.

Pertama-tama, dokter mungkin akan meminta anak Anda untuk duduk tenang untuk melihat apakah serangan tics akan muncul atau tidak. Setelah itu, dokter mungkin juga akan meminta anak Anda untuk melakukan elektroensefalografi (EEG), sebuah tes untuk mengukur gelombang otak. EEG dapat melakukan pemindaian resonansi magnetik (magnetic resonance imaging[MRI]). Proses MRI layaknya rontgen, tetapi MRI menggunakan medan daya magnet tanpa menggunakan sinar-X untuk melihat tubuh bagian dalam.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi dari sindrom Tourette?

Orang dengan sindrom ini umumnya juga mengalami satu atau bahkan beberapa kondisi tertentu. Berikut beberapa kondisi yang sering kali dikaitkan dengan sindrom Tourette adalah:

  • Attention deficit hyperactivity disorder (ADHD)
  • Obsessive compulsive disorder (OCD)
  • Gangguan spektrum autisme
  • Ganguan tidur
  • Depresi
  • Gangguan kecemasan
  • Gangguan belajar
  • Nyeri terkait serangan tics, terutama sakit kepala
  • Gangguan suasana hati, sulit menahan amarah

Pengobatan rumahan

Perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan seperti apa untuk mengatasi sindrom Tourette?

Sindrom ini sering kali muncul pada usia anak-anak. Jika anak Anda salah satu yang mengalami sindrom ini, sebagai orangtua ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan. Beberapa di antaranya seperti:

  • Cari informasi

Usahakan untuk mencari informasi tentang penyakit ini sebanyak-banyaknya. Anda bisa mencari di internet, membaca buku, berkonsultasi ke dokter atau psikolog, atau bertanya langsung dengan orang lain yang juga memiliki masalah sama. Bila perlu, ikutlah kelompok pendukung guna memudahkan Anda mendapatkan informasi terkait penyakit ini.

Dengan mengetahui berbagai informasi tentang penyakit ini dapat membantu Anda menghadapi serangan tics yang dialami oleh anak atau kerabat Anda.

  • Beri dukungan moril

Serangan tics yang muncul secara tiba-tiba dan di luar kendali dapat membuat penderitanya merasa tidak percaya diri ketika mereka berada di tempat umum atau berinteraksi dengan orang lain. Maka dari itu, dukungan moril dari orang-orang terdekat, terutama orangtua sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan anak saat berhadapan dengan orang lain.

Salah satu cara meningkatkan kepercayaan anak dengan kondisi ini adalah dengan mendukung kegiatan yang mereka sukai atau menarik perhatiannya. Misalnya, Anda bisa mengikutsertakan anak dengan sindrom ini les privat musik, bola, atau olahraga lainnya yang mereka sukai.

Ingat, serangan tics mungkin akan membaik seiring bertambahnya usia anak. Meski begitu, dalam kasus tertentu serangan tics justru dapat bertambah parah dan membutuhkan perawatan lanjutan. Oleh karenanya, orang dengan sindrom ini membutuhkan dukungan yang positif dari orang-orang yang ada di sekitarnya, sehingga mereka bisa melakukan berbagai aktivitas seperti orang normal pada umumnya.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca