Tourette Syndrome

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 02/05/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu Tourette syndrome?

Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah kelainan bawaan sejak bayi baru lahir yang menyerang sistem saraf.

Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah kondisi yang membuat bayi tidak bisa mengendalikan gerak-gerik tubuh serta apa yang terlontar dari mulutnya atau disebut tics.

Bayi dengan kelainan bawaan ini bisa memunculkan pola gerakan pada bagian tubuh mana pun, mulai dari wajah, tangan, atau kaki.

Pada kasus lainnya, anak yang memiliki Tourette syndrome atau sindrom Tourette juga dapat tibat-tiba mengeluarkan suara yang tidak normal, mengulang perkataan, atau bahkan mengumpat kepada orang lain.

Serangan tics terkait dengan Tourette syndrome adalah kondisi yang terjadi secara tiba-tiba tanpa disengaja, berulang, dan tidak bisa dikendalikan.

Serangan sindrom Tourette atau Tourette syndrome dapat terjadi secara serius hingga memengaruhi hidup penderita maupun orang-orang di sekitar mereka.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Sindrom Tourette bisa dialami oleh siapa saja dari semua kelompok usia maupun etnis.

Namun, dalam banyak kasus, sindrom ini lebih sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan dan selalu dimulai sebelum usia 18 tahun.

Melansir dari National Institute of Neurological Disorders and Stroke, umumnya Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah kelainan bawaan yang dimulai dalam rentang usia 3-9 tahun.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala Tourette syndrome?

Gejala khas dari Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah tics motorik dan tics vokal, menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC). Serangan tics dapat muncul secara tiba-tiba dan bersifat kambuhan.

Biasanya gejala Tourette syndrome atau sindrom Tourette muncul di masa anak-anak antara usia 3-9 tahun. Gejala Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah sebagai berikut:

Tics motorik

Tics motorik adalah gerakan otot yang tidak bisa dikendalikan. Bayi dan anak dengan sindrom ini bisa memunculkan gerakan spontan dan menyentak tiba-tiba.

Misalnya mata berkedip, hidung yang berkedut, bahu naik-turun, mengangguk atau menggeleng-gelengkan kepala, atau bahkan mulut yang bergerak-gerak.

Beberapa orang ada pula yang sampai harus membungkuk atau memutarkan badannya berkali-kali ketika tics mereka kambuh.

Tics vokal

Sementara tics vokal adalah gejala Tourette syndrome atau sindrom Tourette ketika anak secara tidak sadar melontarkan suara atau kata-kata yang tidak normal.

Ketika serangan tics vokal kambuh, anak dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette ini biasanya akan mengumpat, memaki, melontarkan kata-kata cabul secara spontan dan berulang kali.

Anak dengan kondisi ini juga bisa memunculkan gejala seperti mengisap-isap, bersiul, batuk-batuk, mendengus, meludah, dan mengeluarkan suara mendengking.

Mungkin ada beberapa gejala yang tidak disebutkan di sini. Jika Anda memiliki pertanyaan mengenai gejala tertentu terkait kondisi bayi dan anak, harap berkonsultasi dengan dokter.

Bentuk dan frekuensi serangan tics berbeda pada setiap orang

Secara umum, bentuk dan frekuensi kemunculan serangan tics bisa berbeda pada setiap orang, tergantung pada faktor pemicunya.

Namun, serangan tics seringnya muncul ketika anak sedang di bawah tekanan (stres) atau justru saat mereka sangat bersemangat untuk melakukan sesuatu.

Sebaliknya, serangan tics cenderung tidak akan muncul ketika anak dengan sindrom ini melakukan aktivitas yang tenang dan fokus.

Misalnya mendengarkan musik atau mengetik di depan layar komputer. Serangan tics tidak hilang saat tidur tapi sering berkurang secara signifikan.

Pola gerakan atau perkataan spontan dan berulang yang dialami orang dengan Tourette juga umumnya sulit dihindari.

Jika diibaratkan, tics itu seperti cegukan. Anda tidak merencanakan dan tidak pula menginginkan kehadirannya tetapi ia tiba-tiba datang dan membuat tidak nyaman.

Terkadang, tics juga bisa seperti “menggaruk gatal”. Anak tidak benar-benar ingin menggaruk gatal, tapi ia juga tidak bisa menahan rasa gatal tersebut.

Ya, anak dengan sindrom ini cenderung sulit untuk mengontrol ataupun mencegah serangan tics.

Meski orang dengan sindrom ini dapat menahan serangan tics untuk sementara waktu, tapi pada akhirnya mereka harus membiarkan serangan tics keluar.

Pasalnya, meredam, mengontrol, atau mencegah tics justru dapat memicu stres berat, yang pada akhirnya memperparah serangan tics.

Dalam beberapa kasus, anak dengan sindrom Tourette mungkin memiliki kondisi lain, seperti attention deficit hyperactivity disorder (ADHD), gangguan obsesif-kompulsif (OCD), atau kesulitan belajar.

Kapan harus ke dokter?

Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah kondisi yang sering terjadi pada anak-anak.

Akan tetapi, gejalanya akan menghilang seiring pertumbuhan anak dan berkembangnya mekanisme tahu-kendali mereka.

Dokter dapat membantu meresepkan obat-obatan tertentu untuk meringankan gejala Tourette syndrome atau sindrom Tourette.

Namun, sebaiknya Anda menghubungi dokter jika terjadi hal-hal terkait sindrom Tourette:

  • Obat yang diresepkan dokter tidak cocok dengan Anda (terjadi efek yang berlawanan dari penggunaan obat).
  • Gejala-gejala yang Anda tidak juga membaik atau bahkan justru semakin memburuk.
  • Mengalami demam, kekakuan otot, atau perubahan perilaku setelah mengonsumsi obat yang digunakan untuk mengobati sindrom Tourette.

Penyebab

Apa penyebab Tourette syndrome?

Secara umum, Tourette syndrome atau sindrom Tourette bisa dibilang adalah kondisi yang kompleks.

Maka dari itu, sampai saat ini penyebab sindrom Tourette belum diketahui secara pasti.

Namun, para ahli menduga bahwa kemungkinan besar penyakit ini disebabkan oleh kombinasi faktor genetik dengan faktor lingkungan.

Genetik

Para ahli menduga bahwa Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah kondisi genetik, yang berarti diturunkan dari orangtua ke anak-anaknya.

Sayangnya, gen khusus yang berkaitan dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette belum ditentukan dengan pasti.

Kelainan sturktur otak

Kelainan di bagian otak tertentu (termasuk ganglia basal, lobus frontal, dan korteks) serta gangguan neurotransmiter (dopamin, serotonin, dan norepinefrin) dipercaya dapat menyebabkan anak mengalami kondisi ini.

Sindrom Tourette tidak menular. Jadi, berinteraksi dengan anak yang memiliki Tourette syndrome atau sindrom Tourette tidak akan membuat orang lain mengalaminya.

Faktor-Faktor Risiko

Apa yang meningkatkan risiko terkena Tourette syndrome?

Beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah sebagai berikut:

Riwayat keluarga

Jika kakek, nenek, orangtua, atau saudara kandung Anda memiliki riwayat Tourette syndrome atau sindrom Tourette atau penyakit lain yang menyebabkan kejang, anak berisiko mengalami juga di kemudian hari.

Intinya, sindrom ini bisa menurun dalam keluarga.

Jenis kelamin

Pada pria, risiko terkena Tourette syndrome atau sindrom Tourette biasanya 3-4 kali lebih tinggi dibandingkan wanita.

Tidak adanya faktor risiko bukan berarti anak tidak dapat mengalami Tourette syndrome atau sindrom Tourette.

Faktor-faktor ini hanya untuk referensi. Silakan berkonsultasi dengan dokter ahli untuk informasi yang lebih rinci.

Obat & Pengobatan

Informasi yang disediakan di bawah ini bukanlah sebagai pengganti pengobatan medis. Selalu konsultasikan dengan dokter Anda.

Bagaimana cara mendiagnosis Tourette syndrome?

Semua anak yang mengalami Tourette syndrome atau sindrom Tourette pasti memiliki tics, tapi anakg yang memiliki tics belum tentu mengalami sindrom ini.

Jadi, jika anak Anda memunculkan berbagai gejala seperti yang sudah disebutkan di atas, segera berkonsultasi ke dokter saraf pediatri.

Dokter saraf pediatri adalah dokter yang mempunyai spesialisasi dalam masalah saraf anak-anak.

Para dokter akan menentukan diagnosa berdasarkan riwayat medis, hasil pemeriksaan fisik serta pemeriksaan laboratorium, misalnya tes darah.

Pertama-tama, dokter mungkin akan meminta anak Anda untuk duduk tenang untuk melihat apakah serangan tics akan muncul atau tidak.

Setelah itu, dokter mungkin juga akan meminta anak Anda untuk melakukan elektroensefalografi (EEG), sebuah tes untuk mengukur gelombang otak.

EEG dapat melakukan pemindaian resonansi magnetik (magnetic resonance imaging atau MRI).

Proses MRI layaknya rontgen, tetapi MRI menggunakan medan daya magnet tanpa menggunakan sinar-X untuk melihat tubuh bagian dalam.

Apa pilihan pengobatan untuk Tourette syndrome?

Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah kondisi kronis yang tidak bisa disembuhkan.

Pengobatan yang ada ditujukan untuk mengendalikan serangan tics yang menganggu aktivitas sehari-hari. Sementara jika tics tidak parah, biasanya pengobatan tidak diperlukan.

Secara umum, berikut pilihan pengobatan yang biasa dilakukan dokter untuk mengatasi sindrom ini.

Minum obat tertentu

Dokter biasanya akan meresepkan beberapa obat untuk mengurangi gejala dan memudahkan anak untuk melakukan aktivitas sehari-hari.

Beberapa obat yang mungkin diresepkan dokter sebagai perawatan Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah sebagai berikut:

  • Obat antipsikotik. Kelompok obat ini dapat membantu mengendalikan serangan tics. Namun, ada beberapa efek samping yang mungkin terjadi, yaitu kenaikan berat badan dan gerakan berulang yang tidak disengaja.
  • Suntikan botulinum (Botox). Suntikan ke otot yang bermasalah dapat membantu meringankan serangan tics motorik maupu vokal.
  • Obat ADHD. Stimulan seperti methylphenidate dan obat-obatan yang mengandung dextroamphetamine dapat membantu meningkatkan konsentrasi. Sayangnya, obat-obatan tersebut justru dapat memperburuk tics bagi beberapa anak.
  • Inhibitor adrenergik sentral. Obat-obatan seperti clonidine dan guanfacine, biasanya diresepkan bagi penderita yang juga memiliki tekanan darah tinggi.
  • Obat antidepresan. Fluoxetine dapat membantu mengendalikan gejala kesedihan, kecemasan, dan OCD.
  • Obat anti kejang. Studi terbaru menunjukkan bahwa beberapa orang dengan sindrom Tourette merespons topiramate (Topamax), yang digunakan untuk mengobati epilepsi.

Berbagai obat tak boleh dikonsumsi sembarangan. Pastikan Anda berkonsultasi terlebih dahulu ke dokter guna menentukan obat mana yang paling sesuai dengan kondisi anak.

Terapi perilaku

Selain itu, berkonsultasi ke seorang psikolog atau psiakter juga bisa dilakukan untuk membantu mengontrol gejala Tourette syndrome atau sindrom Tourette.

Sebenarnya Tourette syndrome atau sindrom Tourette bukanlah masalah dalam kesehatan mental.

Namun, seorang psikolog maupun psikiater dapat memberikan terapi perilaku untuk membantu menenangkan anak ketika serangan tics tiba-tiba muncul.

Seorang psikolog maupun psikiater juga bisa membantu meringankan gejala dari penyakit lain yang sering dikatkan dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette, misalnya ADHD dan gangguan kecemasan.

Salah satu bentuk terapi perilaku untuk mengobati Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah Comprehensive Behavioral Intervention for Tics, atau CBIT.

Terapi ini membantu anak dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette mengontrol serangan tics dengan cara yang sangat hati-hati dan sistematis.

Tak hanya penderita, terapis juga akan memberikan tips kepada keluarga pasien perihal bagaimana cara mereka menghadapi kekambuhan serangan tics pada sindrom ini agar tidak semakin memburuk.

Entah itu dengan berjalan-jalan, mendengarkan musik yang menenangkan, atau melakukan latihan pernapasan.

Semuanya dilakukan semata-mata untuk mengurangi keparahan serangan tics atau bahkan mencegahnya agar tidak terjadi sama sekali.

Biasanya, terapi perilaku ini membutuhkan delapan sesi pertemuan, yang setiap sesinya menghabiskan waktu sekitar satu jam.

Dalam kasus tertentu, terapi CBIT mungkin membutuhkan waktu yang lebih lama.

Komplikasi

Apa saja komplikasi yang mungkin terjadi dari Tourette syndrome?

Anak dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette umumnya juga mengalami satu atau bahkan beberapa kondisi tertentu.

Beberapa kondisi yang sering kali dikaitkan dengan sindrom Tourette adalah:

Pengobatan rumahan

Apa perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan untuk mengatasi kondisi ini?

Sindrom ini sering kali muncul pada usia anak-anak. Jika anak Anda salah satu yang mengalami sindrom ini, sebagai orangtua ada beberapa hal yang perlu Anda lakukan.

Beberapa upaya untuk mendukung tumbuh kembang anak dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah sebagai berikut:

Cari informasi

Usahakan untuk mencari informasi tentang penyakit ini sebanyak-banyaknya. Anda bisa mencari di internet, membaca buku, berkonsultasi ke dokter atau psikolog, atau bertanya langsung dengan orang lain yang juga memiliki masalah sama.

Bila perlu, ikutlah kelompok pendukung guna memudahkan Anda mendapatkan informasi terkait penyakit ini.

Dengan mengetahui berbagai informasi tentang Tourette syndrome atau sindrom Tourette dapat membantu Anda menghadapi serangan tics yang dialami oleh anak atau kerabat Anda.

Beri dukungan moril

Serangan tics yang muncul secara tiba-tiba dan di luar kendali dapat membuat penderitanya merasa tidak percaya diri ketika mereka berada di tempat umum atau berinteraksi dengan orang lain.

Maka dari itu, dukungan moril dari orang-orang terdekat, terutama orangtua sangat penting untuk meningkatkan kepercayaan anak saat berhadapan dengan orang lain.

Salah satu cara meningkatkan kepercayaan anak dengan Tourette syndrome atau sindrom Tourette adalah dengan mendukung kegiatan yang mereka sukai atau menarik perhatiannya.

Misalnya, Anda bisa mengikutsertakan anak dengan sindrom ini les privat musik, bola, atau olahraga lainnya yang mereka sukai.

Ingat, serangan tics mungkin akan membaik seiring bertambahnya usia anak. Meski begitu, dalam kasus tertentu serangan tics justru dapat bertambah parah dan membutuhkan perawatan lanjutan.

Oleh karenanya, anak dengan Tourette syndrome membutuhkan dukungan yang positif dari orang-orang yang ada di sekitarnya, sehingga mereka bisa melakukan berbagai aktivitas seperti orang normal pada umumnya.

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tidak Perlu Bingung Pilih Hewan Peliharaan untuk Anak, Ini 5 Tips dan Manfaatnya

Hewan peliharaan dan anak adalah gambaran yang menggemaskan. Namun, para orangtua perlu mempertimbangkan beberapa hal sebelum memilih hewan untuk anak.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi

Aturan Pakai Masker Wajah untuk Anak dan Tips Membuat Mereka Terbiasa

Imbauan penggunaan masker saat bepergian berlaku untuk siapa pun, termasuk anak. Apa saja aturan yang harus diperhatikan ketika anak memakai masker?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Coronavirus, COVID-19 08/05/2020

Omphalocele

Omphalocele atau omfalokel adalah kondisi cacat lahir pada bayi. Cari tahu gejala, penyebab, diagnosis, serta pengobatannya di Hello Sehat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Atresia Esofagus

Esophageal atresia atau atresia esofagus adalah salah satu cacat lahir pada bayi. Cari tahu gejala, penyebab, dan pengobatannya di Hello Sehat.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri

Direkomendasikan untuk Anda

IBS dan stres

Bagaimana Stres Memicu dan Memperparah Gejala IBS?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/06/2020
minyak esensial untuk meredakan stres

Khasiat Minyak Esensial untuk Meredakan Stres

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 05/06/2020
stres kerja di rumah

Terlalu Lama Kerja di Rumah Bikin Stres? Ini Cara Mengatasinya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 03/06/2020
diagnosis hiv

Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020