Schizoaffective Disorder (Gangguan Skizoafektif)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 20 April 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu schizoaffective disorder?

Schizoaffective disorder atau gangguan skizoafektif adalah kelainan mental yang gejalanya merupakan gabungan dari skizofrenia dan gangguan mood (misalnya depresi atau bipolar disorder).

Seberapa umumkah gangguan skizoafektif?

Kasus schizoaffective disorder diperkirakan jumlahnya sepertiga kasus skizofrenia. Gangguan ini lebih sering terjadi pada wanita karena dua pertiga penderitanya adalah wanita.

Gejala

Apa ciri-ciri dan gejala schizoaffective disorder?

Gejala gangguan skizoafektif bisa bervariasi pada tiap orang, dan bisa dalam level ringan maupun parah. Gejala yang paling sering terlihat adalah:

Depresi

  • Hilang nafsu makan
  • Berat badan turun atau naik tanpa disengaja
  • Perubahan kebiasaan tidur (menjadi jarang tidur atau malah tidur lama sekali)
  • Gelisah
  • Hilang energi
  • Hilang minat pada hal-hal yang biasanya dilakukan setiap hari
  • Merasa diri tak berarti dan tak punya harapan
  • Perasaan bersalah atau menyalahkan diri sendiri
  • Kesulitan berpikir dan konsentrasi
  • Memikirkan kematian atau bunuh diri

Mania

  • Terlihat lebih aktif dari biasanya, termasuk di kantor, di pergaulan, dan secara seksual
  • Lebih cerewet dan bicara lebih cepat
  • Banyak pikiran berseliweran di kepala
  • Tidak merasa perlu tidur
  • Gelisah, tidak sabaran
  • Berbangga diri
  • Konsentrasi muah pecah
  • Perilaku membahayakan/merugikan diri sendiri (menghambur-hamburkan uang, kebut-kebutan di jalan, melakukan seks bebas tanpa pengaman, dll)

Skizofrenia

  • Delusion (percaya pada hal yang jelas-jelas tidak benar, dan tetap bersikukuh bahwa hal tersebut adalah nyata meski sudah diperlihatkan bukti dan fakta)
  • Halusinasi (melihat/mendengar/merasakan hal yang tidak nyata, misalnya mendengar suara yang berbicara padanya)
  • Pola pikir tidak teratur
  • Perilaku aneh atau tidak biasa
  • Gerak tubuh lambat
  • Ekspresi wajah dan cara berbicara datar, tidak menunjukkan emosi apa-apa
  • Tidak termotivasi dalam hidup
  • Masalah dalam berbicara/berkomunikasi

Mungkin ada gejala yang tidak disebutkan di atas. Konsultasikan pada dokter untuk informasi tentang gejala lainnya.

Penyebab

Apa penyebab schizoaffective disorder?

Penyebab gangguan skizoafektif sampai kini tidak diketahui. Mungkin ada beberapa faktor yang berkontribusi, misalnya genetik dan variasi di kimia dan struktur otak.

Faktor pemicu

Siapa saja yang berisiko mengalami schizoaffective disorder?

Ada beberapa faktor yang meningkatkan risiko Anda terkena gangguan skizoafektif, di antaranya adalah:

  • Memiliki hubungan darah dengan seseorang yang mengidap gangguan skizoafektif, skizofrenia, atau bipolar disorder
  • Menghadapi kejadian dalam hidup yang membuat stres berat
  • Mengonsumsi obat-obatan yang mengganggu pikiran (psikoaktif atau psikotropika)

Diagnosis & pengobatan

Informasi di bawah ini tidak dapat dijadikan pengganti konsultasi medis. SELALU konsultasikan pada dokter untuk mendapat informasi tentang pengobatan.

Bagaimana dokter mendiagnosis schizoaffective disorder?

Diagnosis schizoaffective disorder dilakukan dengan cara memastikan gejala yang dialami bukanlah disebabkan oleh gangguan mental lain, bukan disebabkan oleh penggunaan substansi atau obat-obatan tertentu, dan bukan akibat kondisi medis lain. Biasanya, dokter akan melakukan:

  • Pemeriksaan fisik, untuk mengeliminasi kemungkinan penyebab lain, sekaligus mengecek jika ada komplikasi fisik.
  • Tes untuk mengeliminasi kemungkinan penyebab lain, termasuk tes alkohol dan narkoba. Dokter juga mungkin akan melakukan studi pencitraan misalnya MRI atau CT scan.
  • Evaluasi psikis. Doktor spesialis kesehatan mental akan mengobservasi penampilan dan perilaku pasien, sekaligus bertanya mengenai pikiran, mood, delusi, halusinasi, penggunaan obat terlarang, dan kemungkinan keinginan bunuh diri. Ini termasuk diskusi mendalam tentang sejarah hidup pasien dan keluarganya.

Bagaimana cara mengobati schizoaffective disorder?

Pengobatan untuk gangguan skizoafektif adalah:

  • Obat-obatan: Obat yang diresepkan akan tergantung apakah pasien memiliki depresi atau bipolar disorder, selain skizofrenia. Obat utama untuk gejala psikotik seperti halusinasi, delusi, dan pola pikir yang terganggu, dinamakan obat antipsikotik. Ada banyak jenis obat antipsikotik yang tersedia, tapi paliperidone extended release adalah satu-satunya yang disetujui FDA untuk mengobati gangguan skizoafektif. Untuk gejala yang berhubungan dengan mood, dokter biasanya meresepkan antidepresan atau mood stabilizer seperti lithium.
  • Psikoterapi. Tujuan konseling ini adalah untuk membantu penderita memahami penyakitnya, menentukan target, dan mengendalikan masalah sehari-hari yang berhubungan dengan penyakitnya tersebut. Terapi juga bisa dilakukan sekeluarga untuk membantu anggota keluarga yang lain dalam mendukung dan membantu penderita gangguan skizoafektif.
  • Latihan kemampuan: Biasanya difokuskan pada kemampuan bekerja dan bersosialisasi, kemampuan merawat diri, dan aktivitas sehari-hari seperti mengatur keuangan dan rumah tangga.
  • Perawatan di rumah sakit: Saat gejala psikotik kambuh, pasien mungkin harus diinapkan di rumah sakit, terutama jika ada risiko bunuh diri atau jika ia mengancam akan menyakiti orang lain.

Perubahan gaya hidup

Apa yang bisa dilakukan oleh pengidap schizoaffective disorder?

Perubahan gaya hidup berikut ini bisa membantu memudahkan Anda yang hidup dengan schizoaffective disorder:

  • Pelajari lebih jauh tentang penyakit Anda. Semakin banyak Anda tahu, semakin mungkin Anda berdisiplin dengan pengobatan yang sudah dicanangkan oleh dokter.
  • Perhatikan “tanda-tanda peringatan”. Cari tahu hal-hal apa saja yang memicu kambuhnya gejala Anda. Buatlah rencana apa yang harus dilakukan saat itu terjadi. Hubungi dokter atau terapis Anda jiga perlu, untuk mencegah gejala makin buruk.
  • Bergabung dengan support group. Bertukar pikiran dengan sesama penderita bisa membantu menghadapi penyakit Anda dengan lebih baik.
  • Jauhi narkoba, rokok, dan alkhol. Tiga hal ini bisa memperparah gejala maupun mengganggu kerja obat-obatan.

Silakan konsultasikan pada dokter untuk informasi lebih lanjut.

Hello Health Group tidak menyediakan konsultasi medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Baca Juga:

    Yang juga perlu Anda baca

    Jangan Sampai Tertukar, Ini Perbedaan Skizofrenia dan Bipolar Disorder

    Meski sama-sama termasuk penyakit kejiwaan, nyatanya ada banyak perbedaan skizofrenia dan bipolar disorder yang kerap sulit dibedakan.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 15 Desember 2018 . Waktu baca 5 menit

    4 Kiat Andalan untuk Mencegah Kambuhnya Skizofrenia

    Skizofrenia tidak terjadi setiap saat, melainkan bisa sembuh dan kambuh kapan pun. Sebelum terulang, masih ada kesempatan untuk mencegah skizofrenia kambuh.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Hidup Sehat, Tips Sehat 5 Desember 2018 . Waktu baca 4 menit

    Pseudoseizure, Kejang-kejang yang Menandakan Gejala Gangguan Mental

    Ternyata, tidak semua kejang termasuk epilepsi alias ayan. Gejala kejang juga dapat terjadi akibat dipicu oleh gangguan jiwa seperti skizofrenia.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Kemal Al Fajar
    Hidup Sehat, Psikologi, Fakta Unik 31 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

    4 Faktor Utama Penyebab Skizofrenia, dari Genetik Hingga Stres Kronis

    Anda berisiko mengalami skizofrenia hingga 50 persen jika saudara kembar Anda mengidap skizofrenia. Perhatikan faktor risiko skizofrenia lainnya disini.

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
    Hidup Sehat, Psikologi 16 Oktober 2018 . Waktu baca 4 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    pasung orang dengan gangguan jiwa

    Bahaya Pasung pada Orang dengan Gangguan Jiwa

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 9 April 2020 . Waktu baca 4 menit
    sikzonoate

    Sikzonoate

    Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 1 Agustus 2019 . Waktu baca 9 menit
    halusinasi-dan-delusi

    Meski Berbeda, Bisakah Halusinasi dan Delusi Terjadi Secara Bersamaan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 3 Juli 2019 . Waktu baca 3 menit
    fakta tentang skizofrenia

    Bukan Penyakit Gila, Ini 5 Fakta Penting Skizofrenia yang Masih Disalahpahami

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Dipublikasikan tanggal: 23 Desember 2018 . Waktu baca 4 menit