Emboli Air Ketuban (Emboli Cairan Amnion)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Oktober 2020 . Waktu baca 11 menit
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu emboli air ketuban (emboli cairan amnion)?

Emboli cairan amnion atau disebut juga emboli air ketuban adalah komplikasi yang jarang terjadi saat melahirkan.

Emboli air ketuban adalah kondisi di mana air ketuban, sel-sel janin, rambut, atau yang lainnya memasuki aliran darah ibu melalui dasar plasenta rahim.

Berbagai cairan dan bahan-bahan tersebut dapat memicu reaksi yang menyerupai alergi.

Reaksi ini kemudian dapat mengakibatkan kolaps kardiorespirasi (jantung dan paru-paru) dan perdarahan yang berlebihan (koagulopati).

Emboli cairan amnion sebenarnya bisa terjadi selama kehamilan.

Akan tetapi, komplikasi persalinan yang satu ini lebih sering terjadi selama proses melahirkan berlangsung atau segera setelahnya.

Emboli air ketuban adalah komplikasi melahirkan yang cukup sulit untuk didiagnosis.

Jika dokter mencurigai Anda mengalami kondisi ini, akan segera dilakukan tindakan guna mencegah komplikasi pada Anda dan bayi yang berisiko mengancam nyawa.

Bahkan, emboli air ketuban masih adalah salah satu komplikasi yang bisa berujung fatal karena sulit diprediksi dan dicegah.

Segera bawa ibu hamil melahirkan di rumah sakit ketimbang melahirkan di rumah bila mengalami masalah tertentu menjelang kelahiran.

Pastikan semua persiapan persalinan dan perlengkapan melahirkan sudah siap sedia mendekati hari-H kelahiran.

Ibu dapat didamping oleh pasangan, anggota keluarga lainnya, maupun doula bila ada saat pergi ke rumah sakit sebelum lahiran.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Melansir dari Cleveland Clinic, emboli cairan amnion adalah kondisi yang cukup langka.

Kejadian ini terjadi pada 2-8 per 100.000 kelahiran dan menyumbang sekitar 7,5-10% angka kematian ibu.

Ada beberapa faktor yang juga dapat meningkatkan risiko Anda mengalami emboli air ketuban.

Faktor tersebut meliputi memiliki masalah pada plasenta, preeklampsia, jumlah air ketuban berlebih (polihidramnion), serta usia di atas 35 tahun saat hamil dan melahirkan.

Namun, hal ini dapat diatasi dengan mengurangi faktor risiko Anda. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-Tanda dan Gejala

Apa saja tanda-tanda dan gejala emboli air ketuban?

Emboli air ketuban adalah kondisi yang terjadi secara tiba-tiba dan cepat.

Tahap awal dari komplikasi ini biasanya meliputi serangan jantung dan gagal pernapasan yang cepat.

Serangan jantung terjadi ketika jantung berhenti bekerja dan ibu kehilangan kesadaran serta berhenti bernapas.

Gagal pernapasan cepat terjadi ketika paru-paru tidak dapat memasok cukup oksigen untuk darah atau membuang cukup karbon dioksida dari darah.

Ini membuat ibu sangat sulit untuk bernapas.

Kemungkinan tanda-tanda dan gejala dari emboli air ketuban lain adalah sebagai berikut:

  • Sesak napas mendadak
  • Cairan berlebih dalam paru-paru (edema paru)
  • Tekanan darah rendah yang mendadak
  • Jantung mendadak gagal untuk memompa darah dengan efektif (kolaps kardiovaskular)
  • Masalah pembekuan darah yang mengancam nyawa (koagulopati intravaskular diseminata)
  • Perubahan keadaan mental seperti kecemasan
  • Kedinginan
  • Ritme jantung cepat atau gangguan dalam ritme jantung
  • Fetal distress, seperti ritme jantung lambat
  • Kejang
  • Koma
  • Abnormalitas ritme jantung pada janin secara mendadak
  • Pendarahan dari rahim, sayatan, atau lokasi intravena (IV)

Pastikan segera pergi ke rumah sakit saat tanda-tanda melahirkan sudah muncul.

Tanda-tanda mau melahirkan biasanya meliputi air ketuban pecah, kontraksi persalinan, hingga pembukaan lahiran.

Namun, bedakan gejala dari kontraksi persalinan asli dengan kontraksi palsu yang kerap mengecohkan di trimester ketiga kehamilan.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda mengalami tanda-tanda atau gejala yang tercantum di atas berkaitan dengan emboli cairan amnion atau memiliki pertanyaan, sebaiknya segera konsultasikan pada dokter.

Tubuh setiap orang bereaksi dengan cara yang berbeda.

Hal terbaik adalah mendiskusikan dengan dokter apa yang terbaik untuk keadaan Anda.

Penyebab

Apa penyebab emboli air ketuban?

Emboli air ketuban adalah komplikasi yang dapat terjadi selama persalinan maupun setelah proses melahirkan selesai.

Kondisi ini bisa dialami oleh Anda yang melahirkan normal melalui vagina dengan posisi persalinan apa pun atau menjalani operasi caesar.

Emboli air ketuban adalah komplikasi yang terjadi ketika cairan ketuban atau bagian-bagian dari janin memasuki aliran darah ibu.

Penyebab terjadinya emboli air ketuban hinggsa kini belum dapat dipahami dengan baik.

Penyebab yang paling mungkin dari emboli air ketuban adalah kerusakan pada penghalang plasenta seperti karena adanya trauma atau luka.

Ketika kerusakan ini terjadi, sistem kekebalan tubuh merespons dengan melakukan berbagai hal.

Respons tubuh mulai dari melepaskan suatu bahan yang menyebabkan reaksi inflamasi (peradangan) hingga mengaktifkan pembekuan abnormal pada paru-paru dan pembuluh darah ibu.

Semua hal tersebut dapat mengakibatkan gangguan pembekuan darah serius yang disebut sebagai koagulasi intravaskular diseminata.

Namun, emboli air ketuban adalah sesuatu yang langka.

Ini karena adanya sebagian air ketuban yang memasuki aliran darah ibu selama persalinan tidak selalu menyebabkan masalah.

Tidak jelas mengapa dalam beberapa kasus hal ini sampai menjadi penyebab emboli air ketuban.

Untuk lebih jelasnya, dibutuhkan penelitian lebih lanjut mengenai penyebab emboli air ketuban ini.

Faktor Risiko

Apa yang membuat seseorang berisiko terkena emboli air ketuban?

Emboli cairan amnion sebenarnya sangat jarang terjadi selama melahirkan.

Itu sebabnya, cukup sulit untuk mengidentifikasi faktor risiko emboli cairan amnion, menurut Mayo Clinic.

Akan tetapi, ada beberapa faktor dapat meningkatkan risiko emboli cairan amnion.

Beberapa faktor risiko yang dapat memicu seseorang terkena emboli air ketuban yakni meliputi:

1. Usia tua saat hamil

Jika Anda berusia 35 tahun ke atas pada saat kelahiran, risiko Anda untuk terkena emboli cairan amnion akan meningkat.

Semakin tua usia Anda saat hamil dan melahirkan, semakin besar pula risiko untuk mengalami komplikasi ini.

2. Masalah plasenta

Jika terdapat kelainan pada plasenta Anda, risiko Anda terkena emboli cairan amnion jadi meningkat.

Kelainan pada struktur yang berkembang dalam rahim selama masa kehamilan misalnya dapat meningkatkan risiko komplikasi ini.

Adanya kelainan plasenta meliputi sebagian atau seluruh plasenta yang menutupi leher rahim (plasenta previa).

Kondisi plasenta yang mengelupas dari dinding dalam rahim sebelum persalinan (abruptio plasenta) juga meningkatkan risikonya.

Kedua kondisi ini dapat menimbulkan masalah pada plasenta atau pelindung bayi selama berada di dalam kandungan.

3. Preeklampsia

Hati-hati, jika Anda memiliki preeklampsia yaitu tekanan darah tinggi dan kelebihan protein di dalam urine setelah 20 minggu kehamilan.

Pasalnya, berbagai kondisi tersebut dapat membuat Anda memiliki risiko yang lebih tinggi untuk mengalami emboli air ketuban.

4. Kelahiran yang dipicu secara medis

Metode induksi persalinan yang diberikan sebelum melahirkan diperkirakan dapat meningkatkan risiko mengalami emboli air ketuban.

Namun, dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk memastikan kejelasan hal ini.

5. Melahirkan dengan operasi caesar

Menjalani operasi caesar, melahirkan dengan forceps, maupun ekstraksi vakum dapat meningkatkan risiko emboli air ketuban.

Ini karena penggunaan alat tersebut dapat menghancurkan penghalang fisik antara Anda dan bayi Anda alias kantung ketuban.

Namun, tidak jelas apakah persalinan dengan operasi memang merupakan faktor risiko emboli air ketuban.

Pasalnya, penggunaan forceps dan vakum sebenarnya ditujukan untuk mempercepat kelahiran pada persalinan normal, terlebih jika dokter telah mencurigai adanya emboli cairan amnion.

6. Polihidramnion

Polihidramnion adalah kondisi ketika jumlah air ketuban bayi di dalam kandungan terlalu banyak.

Ini merupakan salah satu jenis kelainan cairan ketuban (hidramnion).

Adanya terlalu banyak cairan yang mengelilingi bayi di dalam kandungan dapat membuat Anda berisiko terkena emboli cairan amnion.

Faktor risiko emboli emboli cairan amnion lainnya

Selain berbagai faktor risiko yang telah disebutkan di atas, emboli air ketuban juga bisa dipicu oleh beberapa hal sebagai berikut:

  • Sedang hamil anak kembar dua, tiga, atau lebih
  • Bayi mengalami gawat janin, atau kurangnya persediaan oksigen selama kehamilan dan persalinan
  • Kelainan plasenta
  • Eklampsia, yang merupakan bentuk komplikasi lebih parah dari preeklampsia
  • Ruptur uteri atau rahim robek
  • Proses persalinan yang berlangsung cepat

Beragam faktor risiko yang dijelaskan sebelumnya tidak selalu mengakibatkan emboli air ketuban.

Akan tetapi, memiliki satu atau lebih faktor risiko tersebut dapat meningkatkan peluang Anda untuk mengalami emboli cairan amnion.

Dokter akan segera memberikan tindakan penanganan yang tepat, bila ibu memiliki satu atau lebih faktor risiko di atas yang disertai dengan keluhan medis tertentu.

Diagnosis dan Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti dari nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter atau apoteker Anda sebelum memulai pengobatan.

Bagaimana cara mendiagnosis kondisi ini?

Diagnosis emboli air ketuban ditentukan berdasarkan pemeriksaan dokter. Diagnosis biasanya dibuat setelah kondisi lain dihilangkan.

Dalam beberapa kasus, diagnosis bisa dibuat hanya setelah kematian ibu.

Beberapa tes akan dilakukan untuk mendiagnosis emboli cairan amnion, termasuk:

  • Tes darah, termasuk yang mengevaluasi pembekuan, enzim jantung, elektrolit dan jenis darah, serta hitung darah lengkap (CBC).
  • Elektrokardiogram (ECG atau EKG) untuk mengevaluasi ritme jantung Anda.
  • Pulse oximetry untuk memeriksa jumlah oksigen dalam darah Anda.
  • X-ray dada untuk memeriksa cairan di sekitar jantung Anda.
  • Echocardiography (ECG) untuk mengevaluasi fungsi jantung Anda.

Apa saja pengobatan untuk emboli air ketuban?

Kondisi emboli air ketuban membutuhkan perawatan sesegera mungkin guna mengatasi persediaan oksigen yang menipis dan tekanan darah rendah.

Dokter dan tim medis dapat memberikan perawatan masing-masing bagi Anda dan bayi yang sedang dilahirkan.

Penanganan untuk ibu

Perawatan yang diberikan pada ibu bertujuan untuk mencegah keparahan gejala agar tidak sampai mengakibatkan koma bahkan kematian.

Dokter akan memberikan oksigen tambahan maupun ventilator oksigen untuk memastikan Anda mendapatkan oksigen yang cukup.

Hal ini penting karena berarti persediaan oksigen untuk bayi juga memadai.

Selebihnya, dokter dapat memasukkan kateter untuk memeriksa kondisi jantung dan memberikan obat untuk mengontrol tekanan darah.

Dalam beberapa kasus, transfusi darah juga mungkin dilakukan guna menggantikan darah yang hilang selama perdarahan saat melahirkan.

Penanganan untuk bayi

Selama proses persalinan, dokter dan tim medis juga akan selalu memantau kondisi bayi.

Biasanya, bayi baru akan dilahirkan setelah kondisi tubuh Anda dirasa sudah cukup stabil.

Dengan begitu, hal ini dapat meningkatkan peluang bayi untuk dapat bertahan hidup.

Namun setelahnya, bayi biasanya harus dirawat secara intensif oleh dokter dan tim medis di ruang rawat khusus bayi.

Secara khususnya, berikut berbagai pengobatan darurat yang bisa diberikan untuk emboli air ketuban:

1. Menggunakan kateter

Tim medis Anda akan menempatkan selang tipis berongga ke dalam salah satu arteri (kateter arteri) untuk memonitor tekanan darah Anda.

Selang lain juga akan ditempatkan ke dalam vena di dada Anda (kateter vena sentral) yang dapat digunakan untuk memberikan cairan, obat atau transfusi, serta mengambil darah.

2. Pemberian oksigen

Anda mungkin akan membutuhkan selang pernapasan yang dimasukkan ke dalam saluran napas untuk membantu Anda bernapas.

3. Pemberian obat-obatan

Dokter mungkin akan memberikan obat-obatan untuk meningkatkan dan mendukung fungsi jantung Anda.

Obat-obatan lain dapat digunakan untuk menurunkan tekanan yang disebabkan oleh masuknya cairan ke dalam jantung dan paru-paru Anda.

4. Memberikan transfusi darah

Jika Anda mengalami perdarahan yang tidak terkendali, Anda akan membutuhkan transfusi darah, produk darah, dan penggantian cairan.

Jika Anda mengalami emboli cairan amnion sebelum melahirkan, dokter akan memberikan pengobatan agar bayi dapat dilahirkan dengan selamat.

Operasi caesar darurat mungkin akan diperlukan.

Pencegahan

Apa saja yang dapat saya lakukan di rumah untuk mencegah atau mengatasi kondisi ini?

Emboli cairan amnionn tidak dapat dicegah. Penyebab komplikasi kehamilan karena emboli air ketuban juga cenderung sulit untuk diprediksi kapan terjadinya.

Jika Anda pernah mengalami emboli cairan amnion dan berencana untuk mengupayakan hamil kembali, sebaiknya konsultasikan pada dokter kandungan terlebih dahulu.

Dokter sebelumnya akan mengecek riwayat kesehatan dan kondisi tubuh Anda saat ini untuk membantu menentukan pilihan terbaik bagi Anda.

Jika Anda memiliki pertanyaan, konsultasikan pada dokter untuk lebih memahami solusi terbaik untuk Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Apa Efeknya Pada Bayi Jika Ibu Melahirkan Dengan Bius Epidural?

Sebelum memutuskan untuk melahirkan normal dengan epidural, calon orangtua wajib mempertimbangkan berbagai risiko efek bius epidural pada bayi berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Melahirkan, Kehamilan 18 Oktober 2017 . Waktu baca 5 menit

5 Kondisi Penyebab Kematian Ibu Setelah Melahirkan

Melahirkan adalah soal pertaruhan hidup dan mati ibu. Banyak kondisi kritis selama persalinan yang menjadi penyebab ibu meninggal setelah melahirkan.

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Melahirkan, Kehamilan 23 Agustus 2017 . Waktu baca 4 menit

8 Risiko Kesehatan yang Mungkin Terjadi Setelah Aborsi

Baik menggugurkan kandungan lewat jalur medis resmi ataupun ilegal, selalu ada potensi risiko efek aborsi dan komplikasi kesehatan yang harus Anda sadari.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Hidup Sehat, Fakta Unik 11 Mei 2017 . Waktu baca 8 menit

Jamu Rumput Fatimah: Bisa Melancarkan Persalinan, Tapi Juga Berisiko Memicu Keguguran

Jamu rumput fatimah adalah salah satu cara merangsang persalinan yang populer di Indonesia. Tapi hati-hati risiko bahayanya yang bisa berakibat fatal.

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 6 Mei 2017 . Waktu baca 4 menit

Direkomendasikan untuk Anda

ruptur uteri adalah rupture uteri rahim robek

Semua Hal Seputar Ruptur Uteri, Komplikasi Saat Melahirkan Karena Rahim Robek

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 12 Agustus 2019 . Waktu baca 13 menit
asfiksia neonatorum pada bayi baru lahir adalah

Asfiksia pada Bayi Baru Lahir, Saat Persediaan Oksigen Bayi Tidak Mencukupi

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 6 Agustus 2019 . Waktu baca 10 menit
depresi postpartum kambuh

Bisakah Depresi Postpartum Kambuh Lagi Pada Kehamilan Berikutnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Hendry Wijaya
Dipublikasikan tanggal: 9 Februari 2018 . Waktu baca 4 menit
persalinan macet distosia

Persalinan Macet di Tengah Jalan (Distosia): Penyebab dan Penanganannya

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
Dipublikasikan tanggal: 27 Januari 2018 . Waktu baca 9 menit