Atresia Ani

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 22/04/2020
Bagikan sekarang

Definisi

Apa itu atresia ani?

Atresia ani (imperforate anus) adalah kelainan atau cacat lahir bawaan yang biasanya terjadi pada bayi. Atresia ani adalah kondisi ketika anus bayi tidak terbentuk dengan sempurna atau tidak normal. 

Anus merupakan lubang tempat kotoran atau feses keluar dari tubuh. Kondisi cacat lahir ini membuat feses atau kotoran bayi tidak bisa keluar dengan normal dari dalam tubuh.

Berbeda dengan bayi pada umumnya, bayi perempuan yang mengalami atresia ani memiliki rektum, kandung kemih, dan vagina dalam satu lubang bukaan besar yang sama.

Lubang bukaan besar tersebut disebut dengan kloaka. Atresia ani adalah kondisi yang mulai berkembang sejak bayi masih berada di dalam kandungan.

Kondisi cacat lahir pada bayi ini biasanya terbentuk sekitar minggu ke-5 usia kehamilan hingga minggu ke-7 usia kehamilan.

Selain memiliki imperforate anus, bayi juga bisa mengalami kondisi cacat lahir lainnya pada dubur dalam waktu yang bersamaan.

Dokter biasanya akan segera mendiagnosis kondisi atresia ani setelah bayi lahir. Kondisi ini tidak bisa disepelekan dan harus diberikan penanganan secepatnya.

Seberapa umumkah kondisi ini?

Atresia ani adalah kondisi cacat lahir yang bisa dialami oleh sekitar 1 dari 5.000 bayi yang baru lahir, menurut Children’s Hospital of Philadelphia.

Kondisi ini cenderung lebih sering dialami oleh bayi laki-laki dibandingkan dengan bayi perempuan.

Atresi ani adalah kelainan bawaan yang tidak bisa dianggap ringan karena dapat sangat berpengaruh pada proses tumbuh kembang si kecil.

Atresia ani bisa ditangani dengan mengurangi faktor-faktor risiko. Diskusikan dengan dokter untuk informasi lebih lanjut.

Tanda-tanda & gejala

Apa saja tanda dan gejala atresia ani?

Bayi baru lahir yang tidak memiliki anus dengan sempurna otomatis akan mengalami kesulitan dalam mengeluarkan feses atau tinja.

Feses tetap akan bergerak menuju anus, tetapi terhambat karena tidak ada jalan untuk keluar dari tubuh.

Alhasil, mekonium atau feses pertama bayi seolah “terjebak” sehingga tetap berada di dalam usus.

Lama lama, kondisi ini bisa mengakibatkan bayi mengalami muntah dan pembengkakan atau pembesaran pada perut.

Melansir dari UCSF Benioff Children’s Hospital, dalam beberapa kasus atresia ani, rektum bisa berpindah posisi hingga berada di dekat panggul maupun di mendekati posisi normalnya.

Rektum adalah organ yang bertindak sebagai jalur keluarnya feses atau tinja. Rektum menghubungkan antara bagian usus besar dan anus.

Ketika ada bagian usus dan kandung kemih terhubung menjadi satu, tinja atau feses bayi bisa diekskresikan atau diubah menjadi urine.

Sementara ketika usus dan vagina terhubung satu sama lain, tinja atau feses bayi dengan atresia ani akan keluar melalui vagina.

Kedua kondisi ini khususnya terjadi pada bayi perempuan dengan satu lubang besar penghubung (kloaka) rektum, kandung kemih, dan vagina.

Tanda dan gejala atresia ani

Secara garis besarnya, gejala umum dari atresia ani pada bayi adalah sebagai berikut:

  • Tidak memiliki lubang anus.
  • Memiliki lubang anus di tempat yang tidak semestinya, misalnya terlalu dekat dengan vagina.
  • Ada selaput yang menutupi lubang anus.
  • Usus tidak tersambung dengan anus.
  • Memiliki sambungan yang tidak normal antara rektum dan sistem reproduksi maupun saluran kemih (urinasi).
  • Sambungan antara usus dan sistem urinasi tidak normal sehingga feses bisa melewati sistem kemih dan reproduksi seperti uretra, vagina, skrotum atau dasar penis.
  • Tidak mengeluarkan tinja atau feses dalam 24 – 48 jam pertama setelah lahir.
  • Perut bayi tampak buncit yang tidak normal, membesar, atau membengkak.

Tanda dan gejala tambahan

Beberapa kelainan tambahan lain yang bisa dialami bayi dengan atresia ani adalah sebagai berikut:

  • Cacat pada ginjal atau saluran urinasi
  • Kelainan pada tulang belakang
  • Cacat pada tenggorokan atau trakea
  • Cacat pada kerongkongan atau esofagus
  • Cacat pada lengan atau paha, yakni kondisi saat tubuh bayi kelebihan kromosom
  • Mengalami Down syndrome
  • Mengalami Hirschsprung, yakni kondisi ketika sel-sel saraf hilang dari usus besar
  • Mengalami duodenal atresia, yaitu perkembangan tidak sempurna pada bagian pertama dari usus kecil
  • Mengalami cacat jantung bawaan atau kongenital

Kemungkinan ada tanda-tanda dan gejala yang tidak disebutkan di atas. Bila Anda memiliki kekhawatiran akan sebuah gejala tertentu yang dialami bayi, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter.

Kapan harus periksa ke dokter?

Jika Anda memiliki kekhawatiran tentang pertumbuhan, perkembangan, maupun kemunculan gejala tertentu pada si kecil, segera konsultasikan dengan dokter.

Kondisi kesehatan tubuh masing-masing orang berbeda, termasuk bayi. Selalu konsultasikan ke dokter agar mendapatkan penanganan terbaik terkait kondisi kesehatan buah hati Anda.

Penyebab

Apa penyebab atresia ani?

Penyebab atresia ani pada bayi masih belum diketahui secara pasti. Atresia ani bisa disebabkan oleh cacat pada genetik.

Kelainan ini terjadi sejak bayi masih berkembang di dalam kandungan atau tepatnya pada usia kehamilan minggu ke-5 hingga usia kehamilan minggu ke-7.

Selama masa ini, anus dan sistem pencernaan bayi sedang dalam proses pembentukan. Meski terbilang jarang, penyebab atresia ani bisa disebabkan oleh kelainan atau cacat genetik.

Lebih lanjutnya, atresia ani adalah kondisi cacat lahir yang bisa dikarenakan adanya perubahan atau mutasi gen. Perubahan atau mutasi gen tersebut dapat dikaitkan dengan faktor lingkungan.

Beberapa bentuk atresia ani yang bisa terjadi adalah sebagai berikut:

  • Rektum dan usus besar bisa tidak saling terhubung.
  • Rektum bisa terhubung ke bagian lain seperti uretra, kandung kemih, pangkal penis, maupun skrotum pada bayi laki-laki dan vagina pada bayi perempuan.
  • Ada penyempitan anus atau tidak ada anus sama sekali.

Atresia ani adalah kondisi cacat lahir pada bayi yang bisa terjadi sendiri maupun bersamaan dengan kelainan lainnya.

Faktor-Faktor Risiko

Apa yang meningkatkan risiko terkena atresia ani?

Jenis kelamin bayi bisa menjadi faktor yang meningkatkan risiko atresia ani. Ini karena kondisi cacat lahir yang satu ini lebih banyak dialami atau sekitar dua kali lipat lebih besar pada bayi laki-laki ketimbang bayi perempuan.

Diagnosis & Pengobatan

Informasi yang diberikan bukanlah pengganti nasihat medis. SELALU konsultasikan pada dokter Anda.

Apa saja tes yang biasa dilakukan untuk mendiagnosis atresia ani?

Atresia ani pada bayi adalah kondisi yang sering kali didiagnosis setelah persalinan dengan melakukan pemeriksaan fisik.

Pemeriksaan fisik dilakukan ketika dokter melibat lubang anus bayi hilang atau berada dalam posisi yang salah. 

Adanya hubungan yang abnormal antara usus dan kandung kemih disertai dengan berubahnya tinja menjadi urine juga menunjukkan tanda-tanda atresia ani.

Dokter akan memeriksa lambung bayi untuk melihat adanya tanda-tanda pembengkakan. Selain itu, dokter juga akan memeriksa bukaan anus untuk melihat adanya tanda-tanda kelainan.

Supaya lebih pasti lagi, biasanya dokter akan melakukan pemeriksaan lebih lanjut dengan menggunakan x-ray (rontgen) dan ultrasound (USG) pada perut bayi.

Setelah mendiagnosis imperforate anus, penting untuk melakukan tes guna mengetahui kelainan lainnya yang terkait dengan kondisi ini.

Beberapa jenis tes yang dapat dilakukan meliputi:

  • X-ray untuk mendeteksi kelainan tulang belakang.
  • Spinal ultrasound untuk mendeteksi kelainan pada bagian tulang belakang.
  • Ekokardiogram untuk mendeteksi kelainan jantung.
  • MRI untuk mendeteksi cacat pada kerongkongan, seperti pembentukan fistula pada trakhea atau batang tenggorok.

Apa saja pilihan pengobatan untuk atresia ani?

Operasi diperlukan pada banyak kasus atresia ani pada bayi untuk membuka lubang yang tertutup. Tergantung pada kondisi, ahli bedah akan memilih metode yang cocok, seperti:

1. Operasi kolostomi

Prosedur ini dilakukan dokter dengan membuat dua lubang kecil pada perut bayi. Selanjutnya, usus bagian bawah ditempelkan pada satu lubang dan usus bagian atas ditempelkan pada lubang lainnya.

Lubang tersebut merupakan kantung yang menempel di bagian luar tubuh bayi guna menampung agar feses bisa keluar.

2. Operasi korektif

Operasi korektif pada bayi dengan atresia ani akan disesuaikan dengan tingkat keparahan kondisinya.

Ambil contohnya sejauh mana posisi rektum bayi turun, seperti apa pengaruh rektum yang turun dengan otot-otot di sekitarnya, dan lain sebagainya.

3. Operasi anoplasti perineum

Prosedur ini dilakukan dokter dengan menutup apabila rektum terhubung atau melekat pada uretra maupun vagina. Proses operasi dilanjutkan dengan membuat anus bayi pada posisi yang normal.

4. Operasi pull-through

Prosedur operasi ini dilakukan dokter dengan menarik rektum ke bawah sehingga terhubung dengan anus bayi yang baru. Alhasil, cara ini bisa membantu feses bayi untuk keluar dari tubuh.

Dokter biasanya akan menyarankan Anda untuk melakukan peregangan pada anus bayi secara berkala. Prosedur ini bisa dilakukan selama beberapa bulan setelah operasi.

Pengobatan di Rumah

Apa saja perubahan gaya hidup atau pengobatan rumahan yang dapat dilakukan untuk mengatasi kondisi ini?

Ikuti petunjuk dokter untuk merawat kondisi kesehatan anak setelah menjalani operasi. Perawatan jangka panjang yang bisa Anda lakukan pada anak dengan atresia ani adalah sebagai berikut:

  • Kunjungi dokter secara rutin untuk memeriksa kondisi anak Anda
  • Ubah pola makan anak, level aktivitas anak, dan ajarkan kebiasaan buang air kecil serta besar pada anak untuk mengurangi konstipasi
  • Bantu anak Anda mempelajari bagaimana menggunakan anus yang sekarang dimilikinya
  • Gunakan latihan untuk menstimulasi saraf pada usus
  • Jika diperlukan, lakukan operasi lainnya untuk meningkatkan kendali usus

Bila ada pertanyaan, konsultasikanlah dengan dokter untuk solusi terbaik masalah Anda.

Hello Health Group tidak memberikan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Kapan Kecacatan pada Janin Mulai Bisa Terdeteksi Lewat USG?

    Pemeriksaan USG penting dilakukan sebab dapat mendeteksi beberapa kelainan janin. Kelainan apa saja yang bisa dideteksi dan kapan mulai bisa terdeteksi?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Riska Herliafifah

    Craniosynostosis

    Craniosynostosis adalah kelainan bentuk tengkorak kepala bayi tidak normal. Cari tahu gejala, penyebab, serta pengobatan di Hello Sehat.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Andisa Shabrina

    Hiperinsulinemia Pada Bayi: Saat Kadar Insulin Bayi Berlebih

    Tak hanya orang dewasa, hiperinsulinemia juga bisa terjadi pada bayi, di mana hormon insulin diproduksi berlebihan. Apa penyebab hiperinsulinemia pada bayi?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Kemal Al Fajar

    Posisi Bayi di Dalam Kandungan: Mana yang Paling Ideal untuk Persalinan dan Berisiko?

    Posisi bayi dalam kandungan memungkinkan dokter untuk memastikan apakah Anda bisa melahirkan normal atau harus lewat caesar. Seperti apa yang ideal?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Karinta Ariani Setiaputri
    Melahirkan, Kehamilan 01/05/2017

    Direkomendasikan untuk Anda

    Apa Akibatnya pada Janin Jika Ibu Merokok Saat Hamil?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Dipublikasikan tanggal: 31/05/2020
    mengejan saat bab buang air besar

    Hati-hati, Ini 4 Bahayanya Jika Mengejan Terlalu Keras Saat BAB

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 11/07/2019
    penyebab atresia ani pada bayi baru lahir

    Penyebab Atresia Ani, Kondisi Bayi Lahir Tanpa Anus

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Diah Ayu
    Dipublikasikan tanggal: 11/07/2019
    seks anal pertama kali

    Mau Coba Seks Anal yang Pertama Kalinya? Intip Dulu 6 Tips Ini!

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Dipublikasikan tanggal: 21/01/2018