Bisakah Depresi Postpartum Kambuh Lagi Pada Kehamilan Berikutnya?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 03/12/2019 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Depresi postpartum alias depresi pascamelahirkan adalah kondisi yang umum terjadi, namun sayangnya sering tidak disadari. Satu dari tujuh wanita dapat mengalami depresi usai melahirkan. Risiko ini juga akan meningkat pada ibu yang sudah mengalami kecemasan dan depresi saat hamil. Lantas, apa bisa depresi postpartum kambuh kembali pada kehamilan berikutnya?

Apa yang menyebabkan depresi pascamelahirkan?

Para ahli tidak sepenuhnya memahami mengapa beberapa wanita bisa mengalami depresi setelah melahirkan, sementara yang lainnya tidak.

Apa yang memicu depresi biasanya dipengaruhi oleh beberapa hal berbeda berbeda, dan bukan hanya karena satu penyebab saja. Namun pada umumnya, perasaan sedih, gelisah, moody, mudah marah dipicu oleh perubahan hormon setelah melahirkan.

Faktor risiko depresi postpartum meliputi depresi berat sebelum kehamilan, kehamilan usia muda, stress psikososial, dukungan sosial yang kurang memadai, mengonsumsi alkohol atau obat-obatan terlarang, dan riwayat keluarga dengan gangguan depresi.

Gejala depresi postpartum meliputi mood buruk, sering menangis, merasa putus asa/nelangsa (keterpurukan), tidak bersemangat/tidak mampu untuk menikmati aktivitas yang menyenangkan, sulit tidur, kelelahan, perasaan tidak berharga, gangguan makan, kecenderungan bunuh diri, perasaan tidak mampu sebagai orangtua, dan gangguan konsentrasi.

Gejala depresi pascamelahirkan biasanya muncul dalam lima minggu pertama setelah persalinan, dan berlangsung hingga 6 bulan setelah persalinan. Namun, depresi dapat juga terjadi kapan saja pada tahun pertama.

Depresi postpartum kambuh lagi pada kehamilan berikutnya, benarkah bisa begitu?

Ya. Bukannya tidak mungkin untuk depresi postpartum kambuh lagi pada kehamilan berikutnya.

Wanita yang pernah mengalami depresi pasca melahirkan sebelumbya lebih berisiko untuk kembali mengalami depresi pada kehamilan berikutnya.

Sheila Marcus, seorang professor dalam bidang psikiatri di Universitas Michigan mengatakan, pada dasarnya apabila Anda pernah mengalami satu episode depresi postpartum unipolar, maka Anda memiliki risiko sebanyak 30 persen lebih besar untuk mengalaminya lagi.

Jika Anda mengalami depresi postpartum bipolar, maka risikonya kira-kira 50 persen lebih besar. Jika Anda pernah mengalami psikosis postpartum (gangguan kejiwaan yang lebih berat dari depresi post partum), maka risikonya 70 persen lebih besar untuk kambuh kembali pada kehamilan berikutnya.

Peningkatan risiko ini mungkin dapat memengaruhi keputusan banyak wanita dengan riwayat depresi untuk punya anak lagi. Untungnya, jika anda memang benar siap untuk memiliki momongan lagi, ada banyak hal yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko depresi postpartum kambuh lagi.

Bagaimana caranya untuk mengurangi risiko depresi post partum kambuh lagi?

Apabila Anda pernah mengalami depresi post partum, cobalah beberapa tips berikut ini untuk mengurangi risiko kekambuhan:

  • Patuh dengan pengobatan Anda. Jika Anda sedang dalam terapi pengobatan, minumlah obat sesuai dengan yang telah ditentukan.
  • Wanita hamil disarankan untuk aktif secara fisik. Ahli mengatakan bahwa wanita yang berisiko mengalami depresi postpartum dapat memperoleh manfaat dari setidaknya berolahraga 30-40 menit sebanyak tiga kali seminggu.
  • Kurangi stres. Kurangi stres sebanyak yang Anda bisa dengan melakukan apa yang Anda rasa menyenangkan. Terapi dengan psikolog mungkin dapat membantu Anda mencari tahui hal-hal apa membuat Anda stres sehingga Anda dapat mengontrolnya.
  • Beristirahat lebih banyak. Cukup tidur setelah bayi lahir merupakan hal yang sangat penting dan Anda harus pandai dalam mengatur waktu istirahat.
  • Pertimbangkan obat-obatan. Beberapa uji klinis menunjukkan hasil yang beragam pada manfaat mengonsumsi obat antidepresan selama kehamilan. Namun, penting untuk mendiskusikannya terlebih dulu dengan dokter Anda mengenai dosis dan pertimbangan manfaat dan kerugiannya untuk kondisi Anda.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Munculnya kista saat hamil adalah hal yang umum terjadi. Walau biasanya tidak berbahaya, ibu hamil perlu memahami apa saja pengaruhnya terhadap kandungan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

mengantar istri melahirkan ke rumah sakit

Ayah, Ini Tips Mengantar Ibu Hamil ke Rumah Sakit untuk Kelahiran

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 27/06/2020 . Waktu baca 4 menit
cara memandikan bayi yang baru lahir

Agar Tidak Bingung, Berikut Cara Memandikan Bayi Baru Lahir

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Riska Herliafifah
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 9 menit

Ini Akibatnya Jika Bayi Memakai Popok Terlalu Lama

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 5 menit
pelukan bayi perkembangan bayi 14 minggu perkembangan bayi 3 bulan 2 minggu

Ilmuwan Jepang Ungkap Cara Sempurna Memeluk Bayi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 25/06/2020 . Waktu baca 4 menit