Pentingnya Tes Kesehatan Sebelum Hamil dan 6 Jenis Tesnya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 2 November 2020 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang
Artikel ini berisi:

    Sebelum merencanakan program hamil, baiknya wanita melakukan check-up pra-kehamilan ke dokter. Seperti yang disarankan oleh dr. Mary Jane Minkin, seorang spesialis kebidanan dan kandungan dari Yale University of School Medicine, wanita sebaiknya periksa kesehatan dulu dengan dokter kandungan sebelum mencoba hamil. Menurut dr. Mary Jane, tujuannya yaitu untuk mengetahui adanya kelainan dan masalah kesehatan apa yang berisiko bagi ibu, bayi, dan juga kehamilannya. Apa saja tes kesehatan sebelum hamil yang dianjurkan bagi calon ibu?

    Tes kesehatan sebelum hamil yang sebaiknya dilakukan oleh wanita

    1. Tes darah untuk mengetahui penyakit genetik

    tes darah deteksi kesehatan jantung

    Direktur kebidanan dan kandungan di Johns Hopkins Medicines, dr. Sheri Lawson, menganjurkan para wanita menjalani tes darah sebagai salah satu tes kesehatan sebelum hamil.

    Dokter merekomendasikan tes darah untuk mendeteksi kelainan genetik seperti cystic fibrosis (di mana lendir tebal merusak organ tubuh), penyakit Tay-Sachs (kondisi yang menghancurkan sel-sel saraf dalam tubuh), atau sel sabit (kondisi tidak adanya darah merah yang mengantarkan oksigen ke seluruh tubuh).

    Ini bertujuan bila Anda atau pasangan membawa penyakit genetik tertentu, risiko pada kehamilan dan bayi bisa dihindari. Bila memang nantinya ditemukan gen penyakit di antara Anda dan pasangan, dr. Sheri Lawson menyarankan program bayi tabung supaya nanti gen embrionya bisa dites terlebih dahulu. 

    2. Cek gula darah

    alat tes gula darah

    Cek gula darah adalah salah satu tes kesehatan sebelum hamil yang harus dilakukan oleh calon ibu dengan kondisi diabetes atau pradiabetes.

    Calon ibu dengan diabetes yang tidak terkontrol berisiko menyebabkan bayi lahir dengan gula darah rendah, bayi lahir mati (stillbirth), atau kelahiran dengan operasi caesar. Maka dari itu, pasien diabetes atau yang wanita dengan berat badan berlebih sangat disarankan untuk cek kadar gula darah dulu sebelum mulai program hamil.

    3. Tes fungsi tiroid

    tes fungsi tiroid

    Hipotiroidisme adalah kondisi di mana tubuh Anda tidak memiliki hormon tiroid yang cukup untuk janin tumbuh normal. Selain itu, bila Anda terdeteksi mengalami hipertiroidisme atau banyaknya hormon tiroid di dalam tubuh, ini bisa membahayakan bayi. Hormon tiroid yang berlebih bisa melewati plasenta bayi dan menyebabkan risiko tiroid janin yang membesar pula.

    Masalah tiroid dapat ditemukan melalui tes darah sederhana. Tes darah sederhana juga bisa mengetahui adanya kondisi HIV, hepatitis B atau C, hingga sipilis yang dapat ditularkan ke calon buah hati Anda.

    4. Cek obat-obatan

    terlalu banyak minum obat

    Sebelum merencanakan kehamilan, ada baiknya Anda memastikan bahwa obat yang Anda minum selama program hamil itu cocok dan tidak memiliki efek samping tertentu.

    Pasalnya, ada beberapa obat yang mudah bereaksi dengan kondisi tertentu atau obat lain. Misalnya obat tekanan darah tinggi dan obat epilepsi.  Jadi, pastikan dulu dengan dokter bahwa obat-obatan yang Anda konsumsi selama program hamil tetap aman dan tidak akan menimbulkan efek samping yang berbahaya.

    5. Pap smear

    dideteksi lewat pap smear

    Bagi wanita yang sudah menikah dan sudah melakukan hubungan seks, sangat disarankan rutin menjalani tes pap smear. Salah satu tes kesehatan sebelum hamil ini berfungsi untuk mendeteksi virus HPV yang bisa jadi penyebab kanker serviks (leher rahim) pada wanita. Kanker serviks sendiri adalah salah satu jenis kanker yang cukup sering menyerang wanita.

    Bila setelah melakukan pap smear ditemukan kelainan di rahim dan vagina, nantinya dokter akan melakukan biopsi. Nah, biopsi ini lebih baik dilakukan sebelum kehamilan terjadi. Karena bila ibu hamil menjalani biopsi, Anda bisa berisiko mengalami nyeri, kram, atau bahkan perdarahan.

    6. Tes penyakit kelamin

    tes penyakit kelamin

    Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyarankan para wanita, terutama calon ibu, melakukan tes penyakit kelamin sebagai salah satu kelengkapan check-up prakehamilan. Pasalnya, penyakit kelamin seperti klamidia atau sipilis sering tidak terdeteksi di awal-awal.

    Hal ini juga bisa mempersulit kehamilan karena klamidia bisa menyebabkan adanya jaringan parut pada tuba falopi di rahim. Penyakit kelamin tertentu juga bisa menghambat pembuahan sehingga peluang Anda hamil jadi lebih kecil. 

    Kalkulator Masa Subur

    Ingin Cepat Hamil? Cari tahu waktu terbaik untuk bercinta dengan suami lewat kalkulator berikut.

    Kapan Ya?
    general

    Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Berapa Kali Hamil dan Melahirkan yang Aman Bagi Kesehatan?

    Untuk wanita, adakah batasan maksimal berapa kali hamil dan melahirkan? Apa ada dampak tertentu jika hamil dan melahirkan hingga lebih dari 5 kali?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Novita Joseph
    Melahirkan, Kehamilan 25 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Minum Paracetamol Saat Hamil, Apakah Aman?

    Terkadang ibu hamil mungkin merasa demam dan nyeri. Hal ini membuat ibu hamil memerlukan paracetamol. Namun, apakah aman minum paracetamol saat hamil?

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 18 November 2020 . Waktu baca 3 menit

    Apakah Pemanis Buatan Aman untuk Ibu Hamil?

    Pemanis buatan saat hamil mungkin diperlukan oleh ibu yang memiliki diabetes gestasional atau yang kelebihan berat badan. Tapi, apakah memang lebih aman?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Prenatal, Kehamilan & Kandungan, Kehamilan 18 November 2020 . Waktu baca 3 menit

    Seberapa Besar Kemungkinan Bayi Prematur Bertahan Hidup?

    Kebanyakan bayi prematur lahir pada usia kehamilan 34-36 minggu. Lalu, bagaimana kemungkinan bayi prematur bertahan hidup jika usianya masih 24 minggu?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Yuliati Iswandiari
    Bayi, Bayi Prematur, Parenting 17 November 2020 . Waktu baca 3 menit

    Direkomendasikan untuk Anda

    bersepeda saat hamil

    Apakah Bersepeda Saat Hamil Aman Bagi Janin?

    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 2 Desember 2020 . Waktu baca 3 menit
    waktu bermain video game

    Berapa Lama Waktu Bermain Video Game yang Pas untuk Anak?

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit
    nutrisi trimester ketiga

    Nutrisi yang Harus Dipenuhi Ibu Hamil di Trimester Ketiga

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 26 November 2020 . Waktu baca 4 menit

    Apa Akibatnya Jika Ibu Mengandung Bayi Besar?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Arinda Veratamala
    Dipublikasikan tanggal: 25 November 2020 . Waktu baca 5 menit