Berapa Lama Harus Menunggu Hamil Anak Kedua?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 6 November 2020 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Baik jika Anda ingin segera hamil anak kedua, ataupun jika Anda ingin menunggu lama sebelum kembali menikmati punya bayi lagi, selalu ada pro dan kontra yang akan menyelimuti Anda, tidak peduli seberapa dekat — atau jauh — usia anak-anak Anda.

Merencanakan hamil anak kedua adalah pilihan pribadi, dan kadang-kadang itu tidak sepenuhnya dalam kendali Anda. Terlebih lagi, wanita yang berkeluarga di usia yang menginjak tiga puluhan mungkin tidak memiliki kesempatan untuk menunggu terlalu lama untuk hamil lagi karena peluang sukses mereka berkurang seiring usia.

Walaupun begitu, dilansir dari Daily Mail, sebuah studi baru dari CDC tahun 2011 menunjukkan bahwa waktu adalah segalanya. Studi ini menemukan bahwa kesenjangan antara kelahiran satu anak dan yang lain, juga dikenal sebagai ‘jarak antarkehamilan’ (interpregnancy interval/IPI) secara signifikan dapat mempengaruhi kondisi kesehatan ibu dan bayi.

Terlalu dini, anak berisiko lahir prematur dan autisme

Studi tersebut menemukan bahwa interval antarkehamilan yang pendek (kurang dari 18 bulan; terutama dalam waktu satu tahun) akan mempengaruhi risiko komplikasi kelahiran pada janin, seperti kelahiran prematur, berat badan lahir rendah, dan usia kehamilan kecil — dan juga meningkatkan risiko memiliki anak dengan cacat lahir atau masalah perilaku di masa pertumbuhannya.

Dalam hasil penelitian ini, anak kedua dari calon ibu yang melahirkan dalam waktu satu tahun, biasanya lahir sebelum 39 minggu. Lebih lanjut lagi, satu dari lima (20,5 %) wanita yang melahirkan dua kali dalam setahun, akan melahirkan anak kedua mereka sebelum usia kehamilan 37 minggu — masa di mana peluang komplikasi medis jauh lebih mungkin terjadi. Angka ini hampir tiga kali lebih banyak dari mereka yang menunggu satu setengah tahun atau lebih sebelum memiliki bayi lagi, di mana insiden melahirkan sebelum 37 minggu hanya terjadi 7,7%.

Tidak hanya itu. Mengutip dari New Health Guide, setidaknya satu studi menunjukkan bahwa peluang autisme tiga kali lebih tinggi jika anak kedua dikandung dalam waktu satu tahun setelah anak pertama lahir.

Terlalu jauh, ibu berisiko terkena preeklampsia

Beberapa ahli percaya bahwa kehamilan berjarak dekat tidak memberikan ibu cukup waktu untuk pulih dari stress fisik satu kehamilan, sebelum siap untuk yang berikut. Kehamilan dan menyusui dapat menguras stok nutrisi penting Anda, seperti zat besi dan asam folat. Jika Anda hamil lagi sebelum mengisi ulang stok nutrisi tersebut, tubuh Anda akan bekerja keras untuk memproduksi sel darah merah agar janin di dalam kandungan bisa mendapat cukup asupan folat. Namun, di saat yang bersamaan, tubuh ibu masih dalam kondisi anemia pasca-melahirkan anak pertama.

Radang saluran kelamin yang berkembang selama kehamilan dan tidak benar-benar sembuh sebelum kehamilan berikutnya juga bisa berperan dalam peluang kesehatan ibu.

Mengutip WebMD, kehamilan anak kedua dalam kurun waktu 12 bulan setelah kelahiran pertama dikaitkan dengan peningkatan risiko:

  • Plasenta sebagian atau seluruhnya mengelupas dari dinding dalam rahim sebelum persalinan (placental abruption).
  • Plasenta melekat pada bagian bawah dinding rahim, sebagian atau seluruhnya menutupi leher rahim (plasenta previa), pada wanita yang memiliki kelahiran pertama dengan operasi caesar.
  • Rahim sobek, pada wanita yang menjalani persalinan normal kurang dari 18 bulan setelah operasi caesar anak pertama.

Tidak hanya stress fisik, kehamilan berjarak dekat juga bisa mempengaruhi kondisi mental Anda.

Sindrom baby blues, alias depresi pasca-melahirkan, diderita 1 dari 5 wanita. Jika mereka menjalani kehamilan anak kedua terlalu dini dan belum mengatasi tanda dan gejala dari depresi ini, ada peluang besar bahwa depresi setelah melahirkan ini akan tetap berlanjut, dan mungkin akan bertambah parah, karena mereka belum mendapatkan cukup waktu untuk menjalankan terapi pemulihan depresi.

Studi lain menemukan jarak pendek antar dua kelahiran mengemban risiko lebih tinggi terhadap angka kematian ibu dan gangguan hipertensi selama kehamilan termasuk perdarahan dan anemia. Negara-negara berkembang cenderung menjadi yang paling terpengaruh, karena mereka memiliki risiko yang lebih tinggi dari kehilangan darah dan kekurangan gizi.

Di sisi lain, wanita yang menunggu hingga lima tahun — atau lebih — untuk memiliki anak lagi juga bisa menghadapi peningkatan risiko kesehatan, termasuk:

Tidak jelas mengapa interval kehamilan lama dikaitkan dengan masalah kesehatan bagi ibu dan bayi. Beberapa ahli percaya bahwa kehamilan meningkatkan kapasitas rahim untuk meningkatkan pertumbuhan dan dukungan janin, tapi seiring waktu, perubahan fisiologis yang menguntungkan ini akan hilang. Ada juga kemungkinan faktor lain yang tidak terukur, seperti penyakit ibu.

Aspek sosial ekonomi keluarga juga harus dipertimbangkan

Dari perspektif gaya hidup, kesenjangan usia yang lebih kecil antar anak artinya kerja keras pengasuhan anak-anak lebih bisa lebih cepat usai. Dari sisi hubungan antar kakak-adik, ikatan hubungan kedua anak Anda juga akan lebih erat jika jarak usia mereka tidak terlalu jauh.

Gagasan mengembangkan keluarga kecil menjadi suatu yang lebih besar lagi juga memiliki dampak besar pada hidup Anda — mulai dari pekerjaan, hingga perencanaan keuangan untuk hidup Anda dengan pasangan dan anak sulung Anda. Mengasuh dua anak bayi di saat yang bersamaan tentu membutuhkan biaya yang tidak kecil. Berita baiknya, banyak aktivitas anak, seperti kursus menari, kemping dan outbond, bahkan beberapa sekolah yang menawarkan diskon untuk kakak-adik.

Tapi, persiapkan diri untuk menghadapi dua kali lipat tantrum dari anak-anak Anda. Belum lagi pertengkaran antar anak (dan orangtua!) yang mungkin terjadi akibat kepentingan anak-anak dan rumah tangga akan sering tumpang tindih.

Rentang usia 2-4 tahun antara kakak beradik mungkin akan lebih ideal. Kakak dan adik masih cukup erat untuk menikmati bermain bersama. Anak sulung Anda juga sudah bisa lebih menerima kehadiran bayi baru dan akan dengan mudah mempersepsikan dirinya sebagai “kakak”, dan bukannya “musuh”, untuk menemani, mengasuh, dan mengajari adik kecilnya segala hal yang ia sudah pelajari lebih dulu.

Melihat begitu, dengan beragamnya pro kontra kehamilan anak kedua, baik dari sisi medis dan sosial, saat ini para pakar dan WHO sepakat untuk merekomendasikan para ibu menunggu setidaknya 18-24 bulan setelah kelahiran pertama untuk hamil anak kedua.

BACA JUGA:

Kalkulator Hari Perkiraan Lahir

Kalkulator ini dapat memperkirakan kapan hari persalinan Anda.

Cek HPL di Sini
general

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Tiba-Tiba Susah Kentut? Tak Perlu Pusing, Begini Cara Mengatasinya

Pernah merasakan tidak bisa kentut? Tentu rasanya sangat mengganggu dan membuat perut terasa sakit. Tenang, atasi masalah susah kentut dengan cara alami ini

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Kesehatan, Gejala dan Kondisi Umum 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

9 Cara Jitu untuk Mengusir Semut Bandel di Rumah

Setiap rumah pasti ada semutnya. Apalagi rumah yang kotor. Jangan panik dulu, air lemon ternyata bisa jadi cara mengusir semut di rumah yang terjamin ampuh.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Kebersihan Diri, Hidup Sehat 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Bisakah Mengetahui Keperawanan Wanita Lewat Ciri Fisiknya?

Banyak yang percaya gadis perawan memiliki ciri-ciri khusus. Tapi bagaimana dengan pandangan medis soal tes keperawanan wanita? Benarkah bisa dilakukan?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Wanita, Penyakit pada Wanita 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Ragam Makanan dengan Kandungan Bakteri yang Baik untuk Usus

Tubuh kita membutuhkan bakteri dalam usus untuk menjaga fungsinya. Cari tahu makanan yang baik untuk usus dalam artikel berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kesehatan Pencernaan 25 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gula darah turun

Habis Makan, Gula Darah Malah Turun Drastis? Apa Sebabnya?

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: dr. Angelina Yuwono
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
ciri dan gejala infeksi parasit

Mengenal Jenis-Jenis Parasit dan Penyakit Infeksi yang Disebabkannya

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 10 menit
tidak enak badan

6 Cara Mengurangi Rasa Tidak Enak Badan saat Demam

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit
makan makanan yang sama

Sehatkah Kalau Makan Makanan yang Sama Terus Setiap Hari?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 26 Januari 2021 . Waktu baca 4 menit