Berbagai Penyebab Kanker Payudara dan Faktor Risikonya

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 14/07/2020 . Waktu baca 12 menit
Bagikan sekarang

Kanker payudara adalah salah satu penyakit kanker dengan angka kematian yang tinggi di Indonesia. Berdasarkan data Global Cancer Observatory 2018 yang dirilis World Health Organization (WHO), angka kematian akibat penyakit ini menempati posisi kedua, dengan jumlah kasus sebanyak 22.692 di Indonesia. Meski tampak menakutkan, Anda masih bisa mencegah kanker payudara dengan menghindari faktor penyebab, yang bisa meningkatkan risiko terjadinya penyakit ini.

Lantas, apa saja penyebab dan faktor risiko terjadinya kanker payudara? Bagaimana penyakit kanker payudara ini dapat terjadi? 

Berbagai penyebab dan faktor risiko kanker payudara

Kanker payudara dapat terjadi karena adanya pertumbuhan sel-sel abnormal (sel kanker) yang tidak terkontrol di jaringan payudara. Sel kanker ini awalnya merupakan sel yang normal. Namun, mutasi DNA menyebabkan terjadinya perubahan sel menjadi sel kanker tersebut.

Sel kanker membelah lebih cepat daripada sel normal, yang kemudian menumpuk dan membentuk benjolan atau massa yang padat. Lama kelamaan, sel kanker ini menyebar atau bermetastasis melalui payudara Anda ke kelenjar getah bening, atau bahkan hingga ke bagian tubuh yang lain.

Sebenarnya, mutasi DNA yang menyebabkan terbentuknya sel kanker payudara ini tidak diketahui penyebab pastinya. Namun, faktor hormon, lingkungan, dan mutasi DNA yang diturunkan dari keluarga diyakini berperan dalam pembentukan sel kanker tersebut.

Berikut beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu kanker payudara:

1. Genetik

penyakit keturunan keluarga

Sekitar 5-10 persen dari kasus kanker payudara terjadi karena faktor genetik. Wanita yang memiliki ibu atau nenek yang pernah terkena kanker payudara berisiko hingga dua atau tiga kali lebih tinggi mengalami penyakit yang sama, dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki riwayat tersebut.

Hal ini berkaitan dengan gen BRCA1 dan BRCA2 yang telah mengalami mutasi, kemudian diturunkan oleh orangtua ke generasi selanjutnya. Adapun BRCA1 dan BRCA2 merupakan gen yang disebut sebagai penekan tumor, yang berfungsi mengontrol pertumbuhan sel abnormal. Mutasi pada gen ini akan menyebabkan munculnya sel kanker.

Meski demikian, tidak semua wanita dengan faktor risiko ini akan mengalami kanker payudara. Anda tetap bisa mencegah penyakit ini dengan menghindari faktor risiko kanker payudara lainnya, seperti menerapkan gaya hidup yang sehat.

2. Hormon tubuh

Selain genetik, hormon tubuh juga bisa menjadi penyebab kanker payudara. Baik wanita maupun pria, keduanya memiliki hormon seks, yaitu estrogen, progesteron, dan testosteron.

National Cancer Institute menyebut, wanita yang memiliki kadar hormon estrogen dan progesteron tinggi memiliki risiko lebih besar terkena kanker payudara.

3. Lingkungan atau paparan radiasi

Faktor lingkungan juga disebut menjadi sebab terjadinya kanker payudara. Salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh, yaitu paparan radiasi, seperti penggunaan sinar-X dan CT scan, yang merupakan salah satu prosedur pemeriksaan secara medis.

Mayo Clinic menyebut, risiko ini umumnya terjadi bila Anda mendapat pemeriksaan radiasi di dada saat masih anak-anak atau dewasa muda. Konsultasikan dengan dokter untuk memahami efek samping radiasi ini pada Anda.

4. Gaya hidup tidak sehat

Penyebab terjadinya kanker payudara yang lain, yaitu gaya hidup yang tidak sehat. Gaya hidup semacam ini dapat menyebabkan perubahan sel menjadi sel kanker, termasuk di payudara. Berikut beberapa kebiasaan buruk yang bisa menjadi pemicu dan penyebab kanker payudara:

Merokok

Merokok meningkatkan risiko kanker, termasuk kanker payudara pada usia muda dan wanita premenopause. Bagi yang sudah didiagnosis memiliki kanker payudara, merokok bisa menyebabkan komplikasi selama proses pengobatan kanker payudara, seperti:

  • Kerusakan paru-paru akibat terapi radiasi.
  • Sulitnya penyembuhan pascaoperasi dan rekonstruksi payudara.
  • Tingginya risiko penggumpalan darah saat Anda sedang dalam terapi hormon.

Malas bergerak

Aktivitas fisik yang kurang dapat dikaitkan dengan perubahan indeks massa tubuh. Peningkatan berat badan sendiri kerap dikaitkan dengan risiko kanker payudara.

Pola makan tidak sehat

Beberapa makanan tertentu memang diketahui bisa memicu atau meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Makanan penyebab kanker payudara umumnya mengandung lemak jenuh, lemak trans, tinggi gula, hingga mengandung pengawet atau natrium tinggi.

Alkohol pun termasuk ke dalam jenis minuman yang bisa menyebabkan penyakit ini, terutama bila dikonsumsi berlebihan.

Pola makan yang tidak sehat juga bisa menyebabkan kekurangan asam folat atau vitamin B12. Adapun asupan asam folat yang tinggi dapat menurunkan risiko kanker payudara pada wanita yang sudah menopause.

Obesitas atau kegemukan

Kurangnya aktivitas fisik dan pola makan yang tidak sehat bisa meningkatkan body mass index (BMI) atau indeks massa tubuh, sehingga menyebabkan obesitas atau kegemukan. Adapun obesitas juga disebut menjadi salah satu penyebab terjadinya penyakit kanker payudara, terutama pada wanita usia lanjut atau pascamenopause.

Ini bisa terjadi karena berat badan berlebih dapat meningkatkan kadar estrogen pada wanita pascamenopause. Adapun kadar estrogen yang tinggi bisa menyebabkan bertumbuhnya sel kanker pada payudara.

Selain itu, wanita yang kelebihan berat badan juga cenderung memiliki kadar insulin yang lebih tinggi. Kondisi ini juga dikaitkan dengan penyakit kanker, termasuk kanker payudara.

Mendukung fakta tersebut, sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal BMJ Open melaporkan, wanita yang memiliki berat badan berlebih saat berumur 20 hingga 60-an mengalami peningkatan risiko terhadap kanker payudara sekitar 33 persen. 

Kalkulator BMI

Faktor risiko lain penyebab kanker payudara

Selain penyebab di atas, Anda juga perlu memperhatikan beberapa faktor yang bisa meningkatkan risiko Anda terkena kanker payudara. Beberapa faktor risiko tersebut, yaitu:

1. Jenis kelamin wanita

Meski pria juga bisa mengalami kanker payudara, wanita pada umumnya perlu lebih waspada karena ini adalah faktor utama penyebab kanker payudara.

Hormon estrogen dan progesteronlah yang mungkin menjadi penyebab meningkatnya pertumbuhan sel kanker payudara pada wanita dibandingkan laki-laki. 

2. Usia yang semakin bertambah

merawat orangtua yang depresi

Studi menemukan bahwa seseorang akan lebih berisiko terkena kanker payudara seiring bertambahnya usia. Sekitar 77 persen wanita yang didiagnosis menderita penyakit ini setiap tahunnya berusia di atas 50 tahun. Hampir 50 persen lainnya berusia 65 tahun atau bahkan lebih.

3. Menstruasi usia muda dan menopause yang lebih lambat

Wanita yang mengalami siklus menstruasi lebih awal (di bawah 12 tahun) atau mengalami masa menopause lebih lambat (lebih dari 55 tahun) lebih berisiko kena kanker payudara pada kemudian hari. 

Kedua faktor ini dapat meningkatkan kadar hormon estrogen pada tubuh, yang merupakan salah satu penyebab atau pemicu terjadinya kanker payudara.

Selain kedua faktor ini, kadar estrogen yang tinggi juga bisa terjadi pada wanita yang mengalami kehamilan pertama pada usia yang lebih tua (melahirkan di usia lebih dari 30 tahun) atau tidak pernah melahirkan. Sebaliknya, melahirkan adalah faktor yang dapat mengurangi risiko kanker payudara.

4. Penggunaan alat kontrasepsi hormonal

Selain faktor-faktor di atas, penggunaan alat kontrasepsi hormonal juga bisa meningkatkan kadar hormon estrogen, yang bisa meningkatkan risiko penyebab kanker payudara.

Berdasarkan sebuah penelitian di Denmark yang dipublikasikan oleh The New England Journal of Medicine, penggunaan alat kontrasepsi hormonal, baik pil KB maupun KB spiral (IUD), bisa meningkatkan risiko terjadinya kanker payudara. Meski demikian, peningkatan risiko ini bergantung pada faktor lainnya, termasuk usia, kondisi kesehatan secara umum, atau memiliki faktor risiko kanker payudara lain sebelum menggunakan KB, seperti keturunan atau gaya hidup yang buruk.

Oleh karena itu, sebaiknya Anda selalu berkonsultasi dengan dokter sebelum menggunakan KB, termasuk untuk mengetahui dosis yang terbaik untuk Anda.

5. Penggunaan terapi hormon

Terapi hormon estrogen (sering dikombinasikan dengan progesteron) biasa digunakan untuk membantu meringankan gejala menopause dan membantu mencegah osteoporosis. Namun, faktanya, wanita menopause yang menggunakan terapi hormon kombinasi berisiko tinggi mengalami kanker payudara.

Peningkatan risiko ini umumnya terlihat setelah sekitar 4 tahun digunakan. Selain itu, kombinasi terapi hormon ini juga meningkatkan kemungkinan kanker ditemukan pada stadium kanker payudara lanjut.

Namun, risiko penyebab kanker payudara ini bisa menurun kembali dalam lima tahun setelah terapi dihentikan. Konsultasikan dengan dokter Anda mengenai efek samping dari terapi ini bila Anda ingin menggunakannya.

6.  Perubahan jam tidur malam

Sebuah penelitian mengungkapkan bahwa perempuan yang memiliki jam kerja pada malam hari lebih rentan terhadap kanker payudara dibandingkan mereka yang tidak.

Para peneliti berasumsi hal ini disebabkan oleh hormon-hormon, salah satunya melatonin, yang terganggu akibat perubahan jam tidur malam. Rendahnya hormon melatonin sering dijumpai pada pasien yang mengidap kanker payudara.

Terkait hal ini, sebuah analisis yang dipublikasikan di BMJ menunjukkan fakta bahwa wanita dengan kebiasaan tidur yang baik, yang suka bangun pagi, berisiko lebih rendah terkena kanker payudara. Sebaliknya, wanita yang suka begadang memiliki risiko lebih tinggi terkena kanker payudara.

Selain itu, wanita yang berprofesi sebagai pramugari pun lebih rentan dan lebih berisiko mengalami kanker payudara. Para peneliti dari Harvard T.H. Chan School of Public Health menduga, pramugari rentan mengalami gangguan tidur terkait rutinitas pekerjaan serta mendapat paparan tertentu.

Paparan tersebut diantaranya, radiasi pengion kosmik dari ketinggian, sinar UV, asap rokok dari penumpang dan awak pesawat lain, atau udara di kabin yang tidak sehat.

7. Pemakaian pewarna rambut

pewarna rambut kanker payudara

Penelitian yang diterbitkan di International Journal of Cancer mengungkapkan faktar bahwa pewarna atau cat rambut, terutama jenis permanen, dapat meningkatkan risiko kanker payudara. Kandungan cat rambut permanen, yaitu aromatic amines, disebut sebagai penyebab terjadinya kanker, termasuk di payudara.

Aromatic amines adalah senyawa kimia sampingan yang biasa ditemukan pada produk plastik, bahan kimia industri, dan produk lainnya. Senyawa kimia ini dibagi menjadi tiga kategori dan kemungkinan besar bersifat karsinogen terhadap manusia.

Namun, fakta mengenai hal ini masih memerlukan penelitian lanjutan untuk menguatkannya.

8. Miliki payudara yang padat

Wanita dengan payudara yang sangat padat diperkirakan lebih berisiko hingga empat sampai enam kali lipat mengalami kanker payudara, dibandingkan dengan wanita dengan kepadatan payudara yang rendah.

Belum ada alasan yang pasti mengapa kepadatan payudara bisa dikaitkan dengan risiko penyebab kanker payudara. Namun, jaringan payudara yang padat umumnya menyulitkan dokter dan teknisi untuk menemukan potensi kanker payudara pada hasil mammogram.

9. Ukuran payudara yang besar

Selain kepadatan payudara, ukuran payudara juga disebut menjadi faktor penyebab terjadinya kanker payudara. Belum diketahui secara pasti apa hubungan antara kedua hal tersebut. Namun, para ahli menyatakan bahwa ukuran payudara wanita dipengaruhi oleh gen.

Adapun gen yang membuat ukuran payudara besar juga memengaruhi pertumbuhan kanker, sehingga pada kemudian hari penyakit ini bisa muncul.

Selain itu, wanita dengan berat badan berlebih juga umumnya mempunyai ukuran payudara yang besar. Adapun obesitas atau kegemukan juga dapat meningkatkan risiko penyakit kanker payudara.

Mitos mengenai penyebab kanker payudara dan faktanya

Selain penyebab dan faktor risiko yang sudah pasti, ada beberapa mitos yang disebut bisa menjadi penyebab penyakit kanker payudara. Benarkah mitos tersebut dan bagaimana faktanya? Berikut penjelasannya untuk Anda:

1. Mitos: Implan payudara menyebabkan kanker payudara

Pemasangan implan payudara disebut bisa menjadi salah satu pemicu terjadinya kanker payudara. Namun, hal ini tidak sepenuhnya benar.

Belum ada penelitian yang menyatakan implan payudara berisiko kanker payudara. Namun, penggunaan implan telah terbukti menyebabkan jenis kanker lain, yaitu limfoma sel besar anaplastik terkait dengan implan payudara (breast implant-associated anaplastic large cell lymphoma/BIA-ALCL).

2. Mitos: Penggunaan bra berkawat menyebabkan kanker payudara

bra berkawat penyebab kanker payudara

Banyak wanita yang resah karena menggunakan bra berkawat seringkali disebut sebagai salah satu penyebab kanker payudara. Namun, hingga saat ini belum ada penelitian yang cukup kuat untuk membuktikan isu tersebut.

3. Mitos: Deodoran menyebabkan kanker payudara

Deodoran disebut mengandung alumunium dan paraben yang dapat diserap kulit dan masuk ke dalam tubuh. Meski demikian, kedua kandungan tersebut tidak terbukti dapat menyebabkan kanker payudara.

4. Mitos: Mamografi, USG, dan MRI menyebabkan kanker payudara

Paparan radiasi memang disebut bisa menjadi penyebab kanker payudara. Oleh karena itu, muncul mitos atau isu yang menyebutkan bahwa mamografi bisa memicu penyakit ini.

Namun, faktanya, risiko paparan radiasi dari mamografi sangat rendah, karena hanya menggunakan dosis radiasi yang sangat kecil. Penggunaan mamografi justru lebih bermanfaat untuk membantu diagnosis kanker payudara.

Kemudian, perlu Anda ketahui, USG payudara merupakan prosedur yang menggunakan gelombang suara, sedangkan MRI merupakan magnet, sehingga keduanya tidak berisiko pada kanker.

5. Mitos: Kafein meningkatkan risiko kanker payudara

Efek kafein pada risiko kanker payudara memang masih pro dan kontra. Sebuah penelitian di Swedia justru menemukan fakta bahwa mengonsumsi kopi berkafein dapat menurunkan risiko kanker payudara pada wanita pascamenopause.

Meski demikian, hal ini tidak bisa dijadikan alasan untuk minum kopi sebanyak-banyaknya. Untuk lebih jelas, tanyakan kepada dokter seberapa banyak Anda boleh mengonsumsi minuman berkafein, sesuai dengan kondisi Anda.

Dibanding meminum kopi, lebih baik Anda menerapkan gaya hidup sehat untuk menurunkan risiko kanker payudara. Anda pun perlu melakukan deteksi dini kanker payudara untuk menghindari perkembangan penyakit yang lebih serius. 

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Bagaimana Cara Menjaga Kesehatan Kandung Kemih bagi Pria dan Wanita?

Hati-hati, tidak menjaga kesehatan kandung kemih membuat Anda rentan kena berbagai gangguan sistem kemih seperti infeksi saluran kencing hingga kanker.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Diah Ayu
Urologi, Kandung Kemih 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit

5 Ramuan Alami Terbaik untuk Mengatasi Rambut Kering

Rambut kering memang bikin penampilan terlihat kusam. Mari simak cara mengatasi rambut kering menggunakan 5 bahan alami pada penjelasan di sini.

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Novita Joseph
Perawatan Rambut & Rambut Rontok, Hidup Sehat 04/08/2020 . Waktu baca 4 menit

Tips Menghadapi Kecemasan Kembali Beraktivitas di Era New Normal

Wajar jika merasa khawatir terhadap ketidakpastian di tengah pandemi COVID-19. Yuk, cari tahu solusi menghadapi kecemasan di new normal di sini.

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Konten Bersponsor
menghadapi kecemasan di new normal
Hidup Sehat, Tips Sehat 03/08/2020 . Waktu baca 5 menit

Penuhi Nutrisi Ini untuk Mencegah Penularan Coronavirus saat New Normal

Nutrisi memegang peranan yang besar untuk mencegah kemungkinan risiko COVID-19. Yuk, cari tahu nutrisi utama yang perlu ditambahkan dalam menu harian Anda.

Ditulis oleh: Maria Amanda
Nutrisi, Hidup Sehat 30/07/2020 . Waktu baca 9 menit

Direkomendasikan untuk Anda

rileksasi tubuh

5 Cara Sederhana untuk Relaksasi Sehabis Olahraga

Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 07/08/2020 . Waktu baca 4 menit
cara menghilangkan varises dengan skleroterapi

Sering Menggoyang-goyangkan Kaki Saat Tidur? Ini Penyebabnya

Ditulis oleh: Novita Joseph
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 3 menit
sering kencing di malam hari

7 Cara Mengatasi Sering Buang Air Kecil yang Mengganggu

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Adelia Marista Safitri
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
nokturia adalah

Nokturia, Penyebab Sering Buang Air Kecil pada Malam Hari

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit