Segala Hal yang Perlu Anda Tahu Soal Mastektomi (Operasi Pengangkatan Payudara)

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 16/03/2020 . 10 menit baca
Bagikan sekarang

Pembedahan lewat jalur operasi adalah salah satu pilihan pengobatan utama untuk kanker payudara. Dari berbagai pilihan operasi, mastektomi adalah yang paling umum direkomendasikan dokter. Berikut ulasan lengkapnya.

Apa itu mastektomi?

Mastektomi adalah istilah untuk operasi pengangkatan payudara, baik salah satu atau keduanya, untuk menghilangkan sel kanker.

Dikutip dari Mayo Clinic, mastektomi adalah prosedur yang dapat mengangkat hanya sebagian jaringan payudara atau keseluruhannya, tergantung kebutuhan.

Tergantung juga dari keparahan stadium kanker payudara Anda, operasi ini bisa dilakukan sendiri atau digabung dengan radiasi dan kemoterapi.

Pada beberapa kasus, operasi pengangkatan—termasuk mastektomi—adalah jalan terbaik bagi beberapa orang untuk terhindar dari risiko kanker payudara.

Namun, mastektomi adalah cara yang hanya menurunkan risiko kanker di payudara yang sama. Sebagai tindak pencegahan, prosedur ini tidak menurunkan kemungkinan kanker dapat kembali muncul di bagian tubuh yang lain.

Sebelum menjalani prosedur ini, dokter akan memaparkan apakah mastektomi adalah jalan satu-satunya yang paling efektif buat Anda sembuh dari kanker payudara.

Tipe-tipe mastektomi

Mastektomi adalah prosedur yang terbagi ke dalam 5 kategori berbeda. Mana yang akan direkomendasikan oleh dokter nantinya buat Anda ditentukan oleh banyak faktor, seperti usia dan kondisi fisik Anda.

Namun, faktor penentu utama mastektomi yang akan Anda jalani adalah ukuran tumor dan sudah sejauh mana sel kanker menyebar.

Dokter juga akan mempertimbangkan alasan pribadi Anda dalam memilih prosedur pengobatan yang tepat. Maka, jangan ragu untuk selalu mendiskusikan pertimbangan dan pilhan Anda bersama dokter.

Secara umum, berbagai tipe mastektomi adalah:

Simple atau total mastectomy

Dalam prosedur ini, dokter akan mengangkat seluruh bagian payudara Anda, termasuk kelenjar getah bening dalam payudara dan puting. Namun, otot dan kelenjar getah bening yang ada di ketiak biasanya tidak ikut diangkat.

Operasi pengangkatan payudara ini biasanya dilakukan untuk wanita yang memiliki banyak area karsinoma duktal in situ (DCIS). DCIS adalah kumpulan sel abnormal yang muncul di saluran susu.

Mastektomi juga dapat dilakukan pada wanita yang berisiko tinggi terkena kanker payudara sebagai tindak pencegahan.

Radikal

Mastektomi ini adalah prosedur pengangkatan seluruh bagian payudara, kelenjar getah bening aksila (ketiak), dan otot dinding dada di bawah payudara.

Mastektomi tipe ini dapat mengubah bentuk tubuh sehingga sangat jarang direkomendasikan. Saat ini mastektomi radikal telah digantikan dengan modifikasi radikal sebagai alternatif, karena manfaatnya sama dengan efek samping yang lebih sedikit.

Meski begitu, operasi radikal masih mungkin dilakukan untuk tumor besar yang tumbuh ke otot dada.

Modifikasi radikal

Prosedur ini menggabungkan mastektomi total dengan pengangkatan kelenjar getah bening di bawah lengan. Namun, otot dada tidak ikut diangkat dan dibiarkan utuh tanpa disentuh.

Nipple-sparing mastectomy

Prosedur ini disebut juga dengan mastektomi hemat puting. Nipple-sparing mastectomy adalah mastektomi (operasi pengangkatan jaringan payudara) yang menyisakan puting dan kulit di sekitarnya (areola). Prosedur ini biasanya diikuti dengan rekonstruksi payudara.

Nipple-sparing mastectomy biasanya menjadi pilihan bagi wanita yang memiliki kanker payudara stadium awal di jaringan terluar. Dokter bedah akan mengangkat jaringan payudara di bawah puting dan areola untuk membuang sel kanker.

Perlu dipahami, sel kanker biasanya cenderung tidak terlihat jika berada dekat dengan puting. Namun jika saat prosedur berlangsung dokter menemukan sel kanker dalam jaringan tersebut, puting juga harus diangkat. Risiko kanker menyebar dapat makin tinggi jika puting tidak diangkat.

Jika memang tidak ada, sebagian dokter kemudian akan memberikan radiasi pada jaringan puting. Radiasi akan diberikan selama atau setelah operasi untuk mengurangi risiko kanker muncul kembali.

Jenis mastektomi ini dapat membuat jaringan puting yang tersisa jadi menyusut atau cacat bentuknya karena tidak mendapat suplai darah yang baik.

Selain itu, banyak dokter yang merasa bahwa operasi kanker payudara ini lebih cocok dilakukan untuk wanita yang berpayudara kecil atau sedang.

Bagi wanita yang berpayudara besar, puting mereka mungkin tampak bergeser lokasi setelah payudara direkonstruksi.

Mastektomi ganda

Mastektomi ganda adalah operasi pengangkatan kanker pada kedua sisi payudara. Prosedur mastektomi ini adalah yang paling umum dilakukan untuk wanita yang sangat berisiko tinggi terkena kanker payudara, terutama wanita yang mengalami mutasi gen BRCA.

Biasanya kombinasi prosedur yang dilakukan adalah mastektomi total atau nipple-sparing.

Siapa saja yang perlu melakukan mastektomi?

Wanita yang didiagnosis kanker stadium awal bisa memilih antara operasi konservasi payudara (lumpektomi) dan mastektomi.

Lumpektomi adalah prosedur di mana jaringan payudara tidak diangkat sepenuhnya, hanya area yang terkena kanker.

Operasi pengangkatan payudara atau mastektomi adalah prosedur yang biasanya disarankan untuk wanita yang:

  • Tidak bisa menjalani terapi radiasi
  • Lebih menginginkan operasi pengangkatan payudara dibandingkan radiasi
  • Pernah menjalani perawatan payudara dengan terapi radiasi
  • Sudah pernah lumpektomi tetapi kanker tak juga hilang
  • Memiliki dua atau lebih area kanker pada payudara satu sisi payudara
  • Tumor berukuran lebih dari 5 cm, atau bahkan lebih besar dari ukuran payudara
  • Sedang hamil dan efek radiasi akan jauh lebih berbahaya pada janin
  • Memiliki faktor genetik, seperti mutasi gen BRCA
  • Memiliki penyakit jaringan ikat yang serius, seperti skleroderma atau lupus sehingga rentan terhadap efek samping radiasi
  • Memiliki jenis kanker payudara yang meradang

Sebagian besar wanita dan dokter lebih memilih mengobati kanker payudara dengan terapi radiasi. Namun kadang, efektivitas dan hasil dari mastektomi jauh lebih baik.

Efek samping mastektomi

Efek samping dari operasi pengangkatan payudara biasanya tergantung pada jenis kanker yang Anda miliki. Efek samping mastektomi yang umum muncul beberapa di antaranya adalah:

  • Tubuh, terutama area payudara terasa nyeri
  • Pembengkakan di area operasi
  • Demam sehabis operasi (di bawah 37,7º C)
  • Penumpukan darah di luka (hematoma)
  • Penumpukan cairan bening di luka (seroma)
  • Gerak lengan dan bahu jadi lebih terbatas
  • Mati rasa di dada atau lengan atas
  • Nyeri saraf di dinding dada, ketiak, dan/atau lengan yang tak kunjung hilang seiring berjalannya waktu
  • Perdarahan dan infeksi pada area yang dioperasi

Konsultasikan kembali ke dokter jika efek samping yang dirasakan semakin hari semakin parah dan tak kunjung membaik.

Apa yang harus dilakukan sebelum mastektomi?

Sebelum melakukan operasi pengangkatan payudara ini, ada beberapa hal yang perlu dilakukan, yaitu:

  • Memberi tahu dokter mengenai obat, vitamin, dan suplemen yang sedang dikonsumsi
  • Tidak minum aspirin, ibuprofen, atau obat pengencer darah, seperti warfarin seminggu sebelum operasi
  • Tidak makan atau minum sekitar 8-12 jam sebelum operasi

Jangan lupa untuk mengemasi pakaian, alat mandi, dan perlengkapan pribadi lainnya sebagai persiapan untuk rawat inap.

Apa yang terjadi setelah mastektomi?

Setelah operasi pengangkatan payudara (mastektomi), hal yang biasanya dokter sarankan adalah lanjut rawat inap selama kurang lebih 3 hari.

Opname berguna untuk memberi kesempatan Anda pulih dari operasi mastektomi di bawah pengawasan dokter. Anda juga akan diberikan saran tentang kegiatan apa saja yang perlu dihindari.

Selama waktu ini tim dokter dan terapi juga mungkin mengajarkan Anda olahraga ringan untuk sekadar menggerak-gerakkan tubuh. Olahraga akan membantu merilekskan sisi lengan atau bahu pada sisi tubuh yang dilakukan mastektomi. Selain itu, olahraga juga mengurangi risiko terbentuknya bekas luka.

Selama menginap di rumah sakit Anda juga akan dipasangankan kateter khusus untuk menampung darah dan cairan dari area operasi akibat limfedema.

Limfedema adalah penggumpalan cairan di lengan, tangan, atau dada. Anda akan lebih rentan mengalami limfedema setelah menjalani pengangkatan kelenjar getah bening.

Adapun tanda-tanda limfedema termasuk:

  • Lengan terasa berat atau timbul pembengkakan
  • Kulit pada lengan terasa kencang
  • Kebas pada lengan atau tangan
  • Kelenturan tangan atau lengan berkurang

Jika Anda mengalami limfedema, biasanya ada terapi khusus untuk mengurangi tekanan. Melakukan olahraga ringan juga akan membantu mengurangi risiko Anda mengalami limfedema pascaoperasi.

Apa yang harus dilakukan setelah mastektomi?

Setelah mastektomi, menjaga diri terhindar dari infeksi yang dapat mengakibatkan limfedema adalah hal yang penting. Berikut cara mudah meminimalisir risiko infeksi:

  • Tidak menyuntik di sisi lengan bekas operasi
  • Menggunakan sarung tangan pelindung saat membersihkan rumah, berkebun, dan mencuci piring
  • Menggunakan pencukur elektrik untuk menghindari luka sayat
  • Menggunakan tabir surya untuk menghindari kulit terbakar matahari
  • Memakai pakaian longgar dan tidak memakai perhiasan
  • Tidak minum alkohol
  • Berhenti merokok
  • Menjaga berat badan tetap ideal

Usakahan untuk tetap rutin berkonsultasi ke dokter setelah operasi pengangkatan payudara ini. Hal ini bertujuan agar dokter bisa terus memantau kondisi Anda.

Pemulihan mastektomi (operasi pengangkatan payudara) di rumah

Umumnya pemulihan operasi bisa memakan waktu hingga beberapa minggu. Namun, pemulihan akan lebih lama jika Anda melakukan rekonstruksi payudara sekaligus.

Cara pemulihan diri setelah operasi pengangkatan payudara bisa berbeda untuk tiap orang. Untuk memulihkan kondisi tubuh di rumah setelah mastektomi, cara yang bisa Anda lakukan adalah:

Beristirahat

Istirahat menjadi hal penting yang perlu dilakukan setelah operasi. Anda perlu membiarkan tubuh selama beberapa waktu untuk tidak melakukan pekerjaan berat apa pun agar kembali pulih.

Rutin minum obat

Setelah pulang ke rumah, dokter biasanya akan meresepkan beberapa jenis obat, termasuk penghilang nyeri. Minumlah obat sesuai dengan dosis yang dianjutkan. Jika Anda merasa obat yang diberikan tidak meringankan rasa sakit, konsultasikan ke dokter. Dokter akan menambahkan dosis obat jika memungkinan atau mencari alternatif lainnya.

Makan makanan tinggi serat

Obat-obatan yang diberikan pasca-operasi pengangkatan payudara biasanya dapat menyebabkan sembelit. Oleh karena itu, Anda disarankan untuk makan makanan berserat tinggi, seperti apel, pir, brokoli, wortel, hingga kacang merah.

Hati-hati ketika membersihkan diri

Pastikan Anda menjaga area bekas operasi tetap bersih dan kering, terutama di awal-awal masa setelah operasi. Setelah operasi ada jahitan atau perban yang tidak boleh Anda lepas atau sentuh, kecuali dengan instruksi dokter.

Berhati-hatilah ketika membersihkan diri, misalnya waktu mandi. Tanyakan kepada dokter dan perawat di rumah sakit bagaimana caranya agar tidak membuat bekas operasi Anda tambah buruk atau infeksi.

Rutin berolahraga

Olahraga penting untuk memulihkan kondisi tubuh. Namun, olahraga setelah operasi pengangkatan payudara agak berbeda. Lakukan olahraga ringan yang sudah diajarkan dokter. Jangan berolahraga terlalu berat karena justru bisa membuat tubuh kelelahan dan semakin melemah.

Sebagian wanita memilih untuk melakukan rekonstruksi payudara setelah mastektomi, sedangkan yang lainnya lebih memilih menggunakan payudara buatan. Sebagain lainnya memilih untuk menerima tampilan barunya apa adanya.

Semua adalah pilihan pribadi Anda. Diskusikan pilihan Anda dengan dokter agar Anda bisa mempertimbangkan mana yang terbaik. Jangan lupa untuk menerapkan gaya hidup sehat dan hal-hal menyenangkan lainnya untuk menjaga Anda tetap sehat dan bahagia setelah mastektomi.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"

Yang juga perlu Anda baca

Berapa Lama Olahraga yang Dianggap Efektif?

Berapa lama olahraga juga menentukan kesuksesan tujuan Anda. Terlalu sebentar tak akan efektif, tapi terlalu lama juga tak baik.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Kebugaran, Hidup Sehat 16/06/2020 . 5 menit baca

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/06/2020 . 5 menit baca

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . 4 menit baca

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 menit baca

Direkomendasikan untuk Anda

Olahraga di luar rumah pandemi

Olahraga di Luar Rumah Saat Pandemi? Perhatikan Hal-hal Ini

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 30/06/2020 . 4 menit baca
apa itu kolesterol

7 Hal yang Paling Sering Ditanyakan Tentang Kolesterol

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 5 menit baca
kanker-muncul-kembali

4 Penyebab Kanker Kembali Lagi Setelah Sembuh

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . 6 menit baca
kista saat hamil di usia tua

Apa yang Akan Terjadi Jika Muncul Kista Saat Hamil?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 menit baca