Mengenal Perangkat Implan: Alat Pacu Jantung, ICD dan LVAD

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 11/05/2020 . 5 menit baca
Bagikan sekarang

Gagal jantung, penyakit jantung, dan cacat pada jantung dapat mengancam nyawa apabila gejalanya berlanjut setelah pengobatan dan penanganan operasi. Perangkat implan medis dapat memperbaiki kondisi jantung tertentu untuk jangka panjang, atau bisa bertindak sebagai transisi antara penanganan yang lebih serius, seperti transplantasi. Perkiraan harganya sekitar $30.000 (sekitar Rp 395 juta) atau lebih. Namun, nilai alat dianggap tak ternilai karena dapat menyelamatkan nyawa Anda.

Alat Pacu Jantung

Siapa yang membutuhkannya?

Alat pacu jantung adalah perangkat implan medis yang paling umum diketahui untuk pasien yang sakit jantung. Komponen kecil ini dimasukkan dengan prosedur operasi melalui perut atau rongga dada seseorang yang menderita aritimia atau detak jantung yang tidak teratur. Pasien aritimia dapat mengalami pola pernafasan yang terlalu cepat, lama atau tidak merata.

Metode penanganan yang kurang invasif dapat meliputi obat-obatan, kejutan elektrik “cardioversion” atau terapi ablasi (prosedur kateter yang menghancurkan jaringan tidak normal yang berkontribusi pada pola detak jantung yang tidak teratur). Alat pacu jantung merupakan solusi apabila pengobatan pertama tersebut gagal menstabilkan aritimia.

Bagaimana cara kerjanya?

National Heart Lung and Blood Institute (NHLBI) mendeskripsikan alat pacu jantung sebagai sistem monitor internal pada jantung untuk mengukur aktivitas elektrik, pola denyut, detak jantung, dan bahkan temperatur darah. Saat sistem elektrik jantung keluar dari jalur, alat pacu jantung yang menggunakan baterai menuntun jantung untuk kembali pada ritme normal dengan impuls elektrik. Baterai dan generator alat pacu jantung bertahan sekitar 7 tahun dan perlu diganti.

Prosedur

Operasi pemasangan alat pacu jantung dilakukan di rumah sakit dengan obat bius umum. Ahli bedah akan menempatkan perangkat dan baterai di dalam kulit dan memasang kawat pada pembuluh darah Anda sampai ke jantung. Prosedurnya memakan waktu sekitar beberapa jam, dan Anda akan menginap di rumah sakit untuk diawasi. Waktu pemulihannya cukup singkat. Anda mungkin mengalami rasa sakit pada daerah sayatan selama beberapa hari, tapi Anda bisa kembali bekerja saat Anda sudah merasa baikan.

Risiko pemasangan alat pacu jantung rendah, tapi bisa meliputi:

  • Pembengkakan atau memar pada bagian sayatan
  • Infeksi
  • Kerusakan pada pembuluh darah atau saraf
  • Mengempisnya paru-paru

Peringatan

Pasien yang menggunakan alat pacu jantung harus waspada terhadap gangguan potensial dari benda-benda elektronik, seperti handphone, oven microwave, dan alat pendeteksi metal. Jauhkan benda-benda elektronik dari alat pacu jantung, simpan handphone di kantung celana daripada di kantung kemeja, dan hindari berada di dekat microwave untuk waktu yang lama. Beri tahu petugas bandara atau lokasi lain yang memiliki pendeteksi metal, karena dapat mengganggu kerja alat pacu jantung Anda.

Ventricular Assist Device

Ventricular Assist Device (VAD) atau biasa disebut Left Ventricular Assist Device (LVAD), karena membantu bagian kiri ruang jantung bekerja, adalah alat yang digunakan sementara untuk mencegah gagal jantung yang fatal. Ruang jantung kiri adalah ruang terbesar pada jantung, dan bertugas memompa darah dari jantung ke seluruh tubuh.

Pasien dengan penyakit jantung yang berada pada daftar transplantasi dapat memerlukan LVAD (pompa buatan) untuk melakukan tugas jantung yang terlalu lemah.

VAD sering disebut sebagai “jembatan transplantasi” menurut American Heart Association. Alat ini digunakan sebelum donor jantung yang cocok ditemukan.

Risiko dari operasi ini meliputi:

  • Infeksi
  • Kegagalan perangkat
  • Gagal jantung
  • Pembekuan darah

Operasi LVAD merupakan operasi jantung terbuka dan berlangsung 4-6 jam. Anda akan dipasangi ventilator dan mesin jantung-paru-paru, sementara alat diimplantasi di rongga dada Anda. Setelah operasi dilakukan, Anda akan meluangkan beberapa hari di ICU. Ini bertujuan untuk memastikan pompa bekerja dengan benar, menyesuaikan kadar obat pengencer darah, dan mencegah infeksi. Proses pemulihan tergantung pada kesehatan Anda sebelum operasi. Beberapa pasien bisa pulang cepat dan beberapa perlu menginap di rumah sakit sampai donor jantung tersedia.

Implantable Cardioverter Defibrillator

Implantable Cardioverter Defibrillator menyerupai alat pacu jantung dan keduanya digunakan untuk menangani aritimia. ICD lebih umum digunakan pada pasien yang mengalami bagian ventricular fibrillation (VF). VF adalah kedutan serius pada jantung yang berkontribusi pada gagal jantung, karena darah tidak terpompa dengan seharusnya. VF biasanya fatal, tapi dapat terjadi selama serangan jantung non-fatal atau dari kekurangan oksigen.

Defibrilator menghantarkan arus elektrik ke jantung untuk me-restart otot akibat VF atau bentuk lain aritimia. Seperti alat pacu jantung, ICD diimplantasi di bawah kulit, biasanya pada area di bawah tulang selangka atau daerah perut. Kawat dipasang dari baterai ICD pada bagian dalam otot jantung.

Sebuah penelitian yang diterbitkan di Archives of Neurologi pada tahun 2009 mengindikasikan laki-laki lebih bisa ditangani dengan ICD daripada wanita. Pasien wanita memiliki sampai 70% peningkatan pada efek yang merugikan dari operasi ICD dibandingkan laki-laki. Namun perbedaan respon terhadap mesin bisa disebabkan kurangnya studi tentang ICD pada wanita. Diperlukan riset lebih lanjut pada wanita terkait ICD.

Hello Health Group tidak menyediakan nasihat medis, diagnosis, maupun pengobatan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Endokarditis

    Endokarditis adalah infeksi bakteri yang menyerang endokardium, bagian dari organ jantung. Ketahui lebih lanjut gejala, penyebab, dan pengobatannya.

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 30/06/2020 . 1 menit baca

    Gagal Jantung Kanan, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kiri?

    Salah satu tipe gagal jantung adalah gagal jantung kanan. Lalu, apa beda dari gagal jantung kiri dan gagal jantung kanan, ya?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 30/06/2020 . 7 menit baca

    Berbagai Komplikasi Gagal Jantung yang Perlu Diwaspadai

    Kondisi gagal jantung dapat memicu komplikasi yang menurunkan kualitas dan harapan hidup. Apa saja komplikasi gagal jantung yang perlu diwaspadai?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Kesehatan Jantung, Gagal Jantung 25/06/2020 . 7 menit baca

    Apakah Seseorang yang Mengalami Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

    Aritmia merupakan jenis penyakit kardiovaskuler yang mempengaruhi denyut jantung. Lantas, apakah Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Kesehatan Jantung, Aritmia 24/06/2020 . 5 menit baca

    Direkomendasikan untuk Anda

    gejala penyakit yang diacuhkan

    8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

    Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
    Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . 4 menit baca
    kelainan katup jantung bawaan pada bayi

    Mengenal Kelainan Katup Jantung Bawaan dan Cara Mengatasinya

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ihda Fadila
    Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 7 menit baca
    menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

    Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Aprinda Puji
    Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 10 menit baca
    gagal jantung akut

    Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

    Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Annisa Hapsari
    Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . 5 menit baca