Benarkah Depresi Dapat Sebabkan Serangan Jantung?

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 28/04/2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Stress atau depresi sangat mungkin ditemukan pada orang-orang yang mengidap penyakit berat. Namun, hal ini lebih sering ditemukan perempuan dibandingkan laki-laki. Depresi menyebabkan berbagai proses kimiawi di dalam tubuh yang dapat meningkatkan angka kecacatan dan kematian akibat penyakit berat, termasuk penyakit jantung. Akan tetapi, apakah depresi dapat sebabkan serangan jantung?

Sebelum kita membahas hubungan depresi dengan risiko serangan jantung, kita perlu mendeskripsikan apa itu depresi. Banyak skala atau skor yang mampu mendiagnosis depresi. Secara sekilas Anda mungkin bisa membedakan orang depresi atau tidak. Namun, diagnosis depresi secara klinis ditegakkan berdasarkan Diagnostic and Stattistical Manual of Mental Health V (DSM V) pada tahun 2013. Di Indonesia, penerapannya disederhanakan melalui Pedoman Penggolongan Diagnosis Gangguan Jiwa (PPDGJ) yang dikeluarkan oleh Kementarian Kesehatan RI.

Apa saja gejala depresi?

Sebelum mengetahui apakah depresi dapat sebabkan serangan jantung, Anda mungkin perlu memahami apa saja gejala depresi terlebih dahulu. Gejala khas individu yang depresi adalah:

  • Mood yang depresif. Hal ini dapat dilihat dari raut wajah yang murung, tatapan kosong, dan keadaan tubuh yang tidak segar.
  • Berkurangnya energi yang mengakibatkan keadaan mudah lelah dan berkurangnya aktivitas. Biasanya orang yang berada dalam episode depresi menghindari kontak dengan orang lain dan cenderung mengurung diri.
  • Kehilangan minat dan kegembiraan.

Gejala tidak khas (namun merujuk ke arah depresi) antara lain:

  • Kepercayaan diri berkurang
  • Konsentrasi dan perhatian berkurang
  • Pandangan masa depan yang suram dan pesimistis
  • Rasa bersalah dan merasa tidak berguna
  • Adanya gagasan atau perbuatan yang membahayakan diri bahkan sampai pada upaya bunuh diri
  • Gangguan tidur, baik sulit tidur maupun tidur terus menerus
  • Nafsu makan berkurang

Stres dan depresi berhubungan timbal balik dengan penyakit kardiovaskular atau penyakit jantung. Setidaknya ada dua penelitian yang menunjukkan bahwa depresi mampu sebabkan peningkatan potensi seseorang mengalami serangan jantung.

Whang dkk melaporkan bahwa depresi mempunyai hubungan yang kuat dengan kejadian Penyakit Jantung Koroner (PJK) yang fatal pada perempuan usia 30-55 tahun, yang sebelumnya tidak mempunyai riwayat PJK.

Begitupun Wassertheil-Smoller dkk dalam penelitiannya terhadap perempuan post menopause tanpa riwayat penyakit kardiovaskular sebelumnya. Hasil yang sama menunjukkan bahwa gejala depresi berhubungan bermakna dengan meningkatnya risiko kematian akibat serangan jantung.

Artinya, meski tidak sebabkan serangan jantung, depresi dapat meningkatkan potensi seseorang mengalami kondisi tersebut.

Bagaimana depresi bisa meningkatkan potensi serangan jantung?

Depresi mungkin tidak sebabkan serangan jantung secara langsung, tapi dapat meningkatkan potensi seseorang mengalaminya. Pada saat seseorang mengalami depresi, terjadi ketidakseimbangan senyawa kimia (neurotransmitter) di dalam tubuh. Itulah sebabnya, seseorang terlihat murung dan tidak bertenaga. Selain itu ada dua jalur kimia tubuh yang mengalami kekacauan.

Jalur yang pertama adalah sistem saraf autonom yang mengatur tekanan darah dan pembuluh darah, sedangkan jalur kedua adalah jalur HPA, sebuah jalur yang menghubungkan otak dengan kelenjar adrenal. Kelenjar adrenal ini adalah pabriknya hormon, sehingga bila pabrik ini bermasalah akan berakibat pada ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.

Pada jalur pertama, kekacauan itu menyebabkan keluarnya senyawa katekolamin. Senyawa ini bertanggung jawab pada banyak hal. Akibat banyaknya katekolamin, platelet (keping darah) meningkat yang akhirnya membuat darah mengental.

Selain itu, terjadi kerusakan pembuluh darah karena jumlah katekolamin yang banyak di darah. Hal ini menyebabkan tekanan darah meningkat dan kemampuan jantung menurun. Kombinasi ini adalah kombinasi yang tepat untuk membuat blokade di pembuluh darah yang menuju jantung, sehingga sebabkan serangan jantung pada orang yang mengalami depresi.

Pada jalur kedua, kekacauan di pabrik hormon menyebabkan keluarnya senyawa kortisol. Kortisol “memanggil” banyak senyawa yang menyebabkan peradangan di pembuluh darah. Kerusakan pembuluh darah memudahkan lemak “tersangkut” dan membuat blokade yang menyebabkan serangan jantung.

Dua mekanisme ini cukup menjelaskan bahwa meski depresi tidak sebabkan serangan jantung, orang depresi memiliki potensi serangan jantung yang lebih tinggi dibandingkan orang normal. Perubahan senyawa dalam tubuhnyalah yang berperan dalam hal tersebut.

Bagaimana mencegah serangan jantung pada orang yang depresi?

Program rehabilitasi adalah pilihan terbaik untuk orang-orang dalam fase depresi agar tidak mengalami serangan jantung. Program ini mudah dan murah dilakukan, meliputi pengaturan berat badan, peningkatan aktivitas fisik dan dukungan sosial serta penghentian kebiasaan merokok.

Aktivitas fisik juga bermanfaat untuk menurunkan berbagai faktor risiko serangan jantung dan menurunkan risiko depresi. Aktivitas fisik yang teratur juga dapat mengalihkan perhatian perempuan dari kebiasaannya merokok, sekaligus membantunya untuk menjaga berat badan dan mengontrol faktor risiko lainnya.

Begitu pun dukungan sosial sangat membantu penderita depresi agar dapat menemukan kepercayaan diri dan kembali bersosialisasi dan beraktivitas secara normal. Semakin cepat fase depresi berakhir, maka semakin kecil potensi depresi sebabkan serangan jantung.

Obat-obatan anti depresi juga membantu menghilangkan gejala depresi. Oleh sebab itu, pendampingan oleh dokter ahli kejiwaan juga memiliki peranan yang besar. Melalui minum obat dan kontrol yang teratur, orang dalam fase depresi tidak perlu mengalami serangan jantung yang mungkin akan memperparah fase depresinya.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Endokarditis

Endokarditis adalah infeksi bakteri yang menyerang endokardium, bagian dari organ jantung. Ketahui lebih lanjut gejala, penyebab, dan pengobatannya.

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Lainnya 30/06/2020 . Waktu baca 11 menit

Apakah Seseorang yang Mengalami Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Aritmia merupakan jenis penyakit kardiovaskuler yang mempengaruhi denyut jantung. Lantas, apakah Aritmia Jantung Bisa Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Kesehatan Jantung, Aritmia 24/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Hati-hati Serangan Jantung Saat Bersepeda Terutama untuk Pemula

Bersepeda memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Tapi sebaiknya lebih berhati-hati karena bersepeda berlebihan bisa berisiko terkena serangan jantung.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Kebugaran, Hidup Sehat 24/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Obat Herbal untuk Penyakit Jantung Koroner, Aman atau Tidak?

Obat herbal untuk jantung koroner harus dilakukan dengan hati-hati. Apa saja obat herbal untuk penderita jantung koroner dan cara aman mengonsumsinya?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Kesehatan Jantung, Penyakit Jantung Koroner 22/06/2020 . Waktu baca 6 menit

Direkomendasikan untuk Anda

gejala penyakit yang diacuhkan

8 Gejala Penyakit Berbahaya yang Sering Anda Abaikan

Ditulis oleh: Nimas Mita Etika M
Dipublikasikan tanggal: 03/07/2020 . Waktu baca 4 menit
kelainan katup jantung bawaan pada bayi

Mengenal Kelainan Katup Jantung Bawaan dan Cara Mengatasinya

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Ihda Fadila
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 7 menit
menjaga kesehatan anak dengan penyakit jantung bawaan

Panduan Menjaga Kesehatan Anak dengan Penyakit Jantung Bawaan

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 10 menit
gagal jantung akut

Gagal Jantung Akut, Apa Bedanya dengan Gagal Jantung Kronis?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 01/07/2020 . Waktu baca 5 menit