Bahaya Preeklampsia Pada Ibu Hamil dan Janin

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 15/11/2019 . Waktu baca 3 menit
Bagikan sekarang

Preeklampsia adalah kondisi yang terjadi pada kehamilan yang memasuki usia minggu ke-20. Kondisi ini ditandai dengan tingginya tekanan darah walaupun ibu hamil tersebut tidak memiliki riwayat hipertensi. Preeklampsia adalah salah satu dari sekian penyebab kematian utama para ibu di negara-negara berkembang. Ini juga berdampak pada pertumbuhan janin. Lalu , apa saja bahaya preeklampsia untuk ibu dan janin?

Dampak preeklampsia pada ibu hamil

Wanita yang memiliki tekanan darah tinggi selama kehamilan berisiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi kehamilan, kelahiran, dan dalam masa nifas. Dampak buruk ini dapat terjadi pada ibu maupun janin.

berat janin dalam kandungan masih kurang

Preeklampsia adalah bentuk komplikasi paling serius ketika ibu mengalami tekanan darah tinggi selama kehamilan, tetapi bukan berarti penyebabnya adalah hipertensi. Bisa jadi, hal ini adalah gangguan yang disebabkan oleh kehadiran plasenta.

Awal mulanya, preeklampsia diawali dengan kondisi plasenta abnormal. Plasenta adalah suatu organ penting untuk pertumbuhan janin dalam kandungan. Plasenta yang tidak normal ini dapat menyebabkan berbagai masalah yang berhubungan dengan sistem pembuluh darah, kesehatan ibu, maupun perkembangan janin itu sendiri.

Dampak preeklampsia juga berpengaruh pada fungsi ginjal ibu. Selain itu, preeklampsia juga bisa memicu kejang pada ibu hamil, dan ini disebut sebagai eklampsia.

Akan tetapi, bahaya terbesar dari dampak preekmpasia adalah muncul sindrom HELLP (Hemolysis, Elevated Liver Enzimes and Low Platelet Count) atau hemolisis, peningkatan enzim hati dan jumlah trombosit yang rendah.

Sindrom HELLP, bersama dengan preeklampsia, mengakibatkan banyak kematian pada ibu terkait dengan hipertensi.

Ancaman lain dari kondisi preeklampsia ibu hamil

Sebetulnya, kondisi hipertensi ibu hamil  akan sembuh sendiri setelah janin dan plasenta dilahirkan, Namun janin terancam mengalami hambatan pertumbuhan dalam kandungan, bahkan lahir  prematur.

Sehingga bila ibu hamil memiliki kondisi ini, mungkin akan memerlukan perawatan lebih lanjut dari dokter sebelum dan setelah lahir. Pengobatan hipertensi tidak dapat mencegah hal ini, tetapi masih bisa digunakan untuk mencegah komplikasi kardiovaskular pada ibu, terutama selama persalinan dan melahirkan.

Dampak preeklampsia pada janin dalam kandungan

perkembangan kehamilan 2 minggu

Dampak preeklampsia berat akan memberikan risiko berbeda pada tiap janin. Dampak utama pada janin adalah kekurangan gizi akibat kekurangan pasokan darah dan makanan ke plasenta, hal ini mengarah ke gangguan pertumbuhan si bayi di dalam kandungan. Janin bisa berisiko lahir cacar hingga lahir mati, akibat tidak mendapatkan makanan yang cukup.

Penelitian lanjutan juga sudah banyak menunjukkan bahwa preeklampsia pada ibu hamil bisa membuat bayi berisiko terkena penyakit tertentu. Ini disebabkan karena janin harus bertahan dengan pasokan nutrisi yang terbatas sewaktu di dalam kandungan. Dalam hal ini, mereka akan mengubah struktur dan metabolisme mereka secara permanen.

Perubahan ini mungkin akan menjadi penyebab dari sejumlah penyakit di kemudian hari, termasuk penyakit jantung koroner dan gangguan terkait seperti stroke, diabetes dan hipertensi.

Bayi yang ukuran tubuhnya kecil atau tidak proporsional pada saat lahir, atau yang telah mengalami perubahan pertumbuhan plasenta, kini diketahui telah memiliki risiko lebih besar untuk mengalami penyakit jantung koroner, hipertensi dan diabetes non-insulin saat dewasa.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Otot Sering Kedutan, Bahaya atau Tidak?

Hampir semua orang pernah mengalami mata atau tangan kedutan. Namun, apakah Anda tahu arti kedutan dan risikonya bagi kesehatan?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 15/06/2020 . Waktu baca 5 menit

6 Jenis Minyak Esensial untuk Mengatasi Masalah Pencernaan

Masalah pencernaan bisa sangat mengganggu dan menyusahkan. Berbagai pengobatan pun Anda coba. Nah, sudahkah Anda menggunakan minyak esensial?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 13/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Benarkah Gerimis Lebih Bikin Sakit Daripada Hujan?

Waktu kecil Anda mungkin sering diingatkan bahwa gerimis bikin sakit. Namun, benarkah lebih aman main hujan-hujanan daripada kena gerimis? Cek di sini, yuk!

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Fakta Unik 31/05/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

makanan yang dilarang untuk pasien penyakit jantung

5 Jenis Pantangan Makanan untuk Pasien Penyakit Jantung

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
sering buang air kecil

8 Kondisi yang Menjadi Penyebab Sering Buang Air Kecil

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Fauzan Budi Prasetya
Dipublikasikan tanggal: 06/08/2020 . Waktu baca 6 menit
botol plastik hangat

Amankah Minum Air dari Botol Plastik yang Sudah Hangat?

Ditinjau oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
akibat anak terlalu sering dibentak

Apa Akibat Anak Sering Dibentak? Orangtua Perlu Tahu Ini

Ditinjau oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum
Ditulis oleh: Annisa Hapsari
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 8 menit