Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Uji Coba Obat Remdesivir Berhasil, Puluhan Pasien di AS Sembuh dari COVID-19

Uji Coba Obat Remdesivir Berhasil, Puluhan Pasien di AS Sembuh dari COVID-19

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Kabar gembira mengenai pengembangan obat untuk COVID-19 datang dari Amerika Serikat. Sebuah rumah sakit di Chicago belum lama ini mengadakan uji coba obat remdesivir terhadap pasien COVID-19 dengan gejala parah. Setelah rutin diberikan obat, puluhan pasien di rumah sakit tersebut akhirnya dinyatakan sembuh.

Para ilmuwan hingga saat ini belum menemukan obat maupun vaksin untuk COVID-19. Walau demikian, remdesivir tampaknya menjadi salah satu obat yang paling berpotensi. Lantas, bagaimana cara kerja remdesivir pada uji coba tersebut? Apakah uji coba yang sama bisa dilakukan di Indonesia dalam waktu dekat?

Simak informasinya berikut ini.

Uji coba remdesivir pada pasien COVID-19

obat antimalaria mengatasi covid-19

Tahun 2012 lalu, sekelompok ilmuwan membuat senyawa yang saat itu masih dikenal sebagai senyawa 3a. Senyawa tersebut ternyata dapat membunuh berbagai jenis virus, salah satunya adalah coronavirus yang menjadi penyebab pandemi COVID-19 saat ini.

Senyawa 3a dikembangkan menjadi senyawa lain yang disebut remdesivir. Remdesivir merupakan obat antivirus yang kini sedang diuji karena dianggap berpotensi mengatasi COVID-19. Salah satu uji cobanya dilakukan oleh beberapa peneliti dari Chicago.

Mereka menguji remdesivir pada 125 pasien COVID-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 113 pasien mengalami demam tinggi dan gejala gangguan pernapasan parah. Uji coba dilakukan dengan memberikan remdesivir kepada pasien setiap hari melalui suntikan.

Setelah rutin diberikan remdesivir, hampir semua pasien COVID-19 pulih hanya dalam waktu seminggu sejak uji coba dimulai. Dr. Kathleen Mullane selaku pimpinan penelitian menyatakan sebagian besar pasien juga sudah dipulangkan. Selama uji coba, hanya ada dua pasien yang meninggal dunia.

Mullane menyebutkan, uji coba ini sebenarnya bukanlah bukti pasti bahwa remdesivir betul-betul dapat menyembuhkan COVID-19. Namun, terapi menggunakan remdesivir memang terbukti menurunkan demam pada pasien COVID-19 dengan cepat.

Remdesivir juga berpotensi meringankan gejala gangguan pernapasan. Hal ini terlihat dari banyaknya pasien yang bisa segera melepas ventilator sehari setelah diberikan obat. Ini merupakan gebrakan besar dalam pengobatan COVID-19.

Ia pun menambahkan, sebagian besar pasien COVID-19 dalam uji coba ini mengalami gejala parah, tapi mereka bisa pulang setelah diberikan remdesivir selama enam hari. Jadi, durasi pengobatan tidak harus sepuluh hari seperti yang selama ini diperkirakan.

Uji coba sejenis juga tengah dilakukan di berbagai belahan dunia. Hingga kini, terdapat total 2.400 pasien dengan gejala COVID-19 parah yang sedang menjalani uji coba di 152 lokasi. Hasilnya kemungkinan baru akan terlihat pada akhir bulan ini.

tips donor darah aman

Cara remdesivir membunuh virus COVID-19

coronavirus bermutasi

Remdesivir sering diandalkan dalam uji coba klinis karena dua alasan. Pertama, obat ini pernah digunakan untuk mengatasi Ebola sehingga aman bagi manusia. Kedua, data berbagai penelitian membuktikan bahwa remdesivir bisa mengatasi infeksi coronavirus.

Virus Ebola dan SARS-CoV-2 adalah dua virus yang amat berbeda. Meski demikian, remdesivir memiliki strategi jitu untuk membunuh keduanya. Obat ini tidak langsung menyerang virus, melainkan sistem yang digunakan virus untuk memperbanyak diri.

SARS-CoV-2 memerlukan zat yang disebut polimerase untuk bisa memperbanyak diri. Polimerase ibarat pabrik yang mengumpulkan bahan mentah, lalu membentuk rantai DNA dari bahan tersebut. Setelah DNA tersusun, barulah virus membentuk bagian ‘tubuh’ yang lain untuk menghasilkan virus baru.

Remdesivir membajak proses ini dengan menyusup ke dalam bahan-bahan mentah tersebut, tapi hal ini tidak disadari oleh polimerase. Polimerase tetap membentuk rantai DNA baru tanpa menyadari bahwa salah satu bahannya adalah remdesivir.

SARS-CoV-2 akhirnya tidak dapat menghasilkan virus baru karena virus-virus tersebut sudah lebih dulu hancur sebelum terbentuk. Jumlah virus dalam tubuh pun berkurang dan pasien bisa segera pulih.

ibuprofen covid-19

Uji coba obat pada pasien COVID-19 di Asia

Uji coba obat dalam rangka menghadapi pandemi COVID-19 kini telah diikuti oleh lebih dari 45 negara. Program bertajuk Solidarity Trial ini dilakukan terhadap empat alternatif obat yang sudah pernah dicoba dan masih diteliti, yaitu:

Tiongkok sebelumnya sudah melakukan uji coba sejumlah obat pada pasien COVID-19. Meski menjanjikan, hasil uji coba ini masih perlu dikaji lebih lanjut karena jumlah pasien dinilai kurang. Terhitung 15 April, uji coba remdesivir pada pasien pun masih ditunda.

Kapan Pandemi COVID-19 akan Berakhir?

Malaysia juga telah berpartisipasi dalam uji coba obat sejak awal April. Langkah serupa pun diambil oleh negara-negara serumpun termasuk Thailand dan Indonesia. Namun, masyarakat masih perlu bersabar hingga hasil uji coba diterbitkan.

Selama menanti hasil uji coba, hal terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah melakukan upaya pencegahan. Cucilah tangan Anda dengan air dan sabun. Tetaplah di rumah dan terapkan social distancing. Jika keluar rumah, wajib memakai masker. Lengkapi dengan menjaga daya tahan tubuh dan makan makanan bernutrisi.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber

Cho, A., Saunders, O., Butler, T., Zhang, L., Xu, J., Vela, J., & Feng, J. (2012). Synthesis and antiviral activity of a series of 1′-substituted 4-aza-7,9-dideazaadenosine C-nucleosides. Bioorganic & Medicinal Chemistry Letters, 22(8), 2705-2707. doi: 10.1016/j.bmcl.2012.02.105

Remdesivir (RDV): Experimental Antiviral Drug for COVID-19 Coronavirus. (2020). Retrieved 17 April 2020, from https://www.medicinenet.com/remdesivir_rdv_ebola_covid-19_coronavirus_trial/article.htm

Gilead data suggests coronavirus patients are responding to treatment. (2020). Retrieved 17 April 2020, from https://www.statnews.com/2020/04/16/early-peek-at-data-on-gilead-coronavirus-drug-suggests-patients-are-responding-to-treatment/

With the coronavirus, drug that once raised global hopes gets another shot. (2020). Retrieved 17 April 2020, from https://www.statnews.com/2020/03/16/remdesivir-surges-ahead-against-coronavirus/

Indonesia Ikut Solidarity Trial WHO untuk COVID-19. (2020). Retrieved 17 April 2020, from http://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20200330/2133535/indonesia-ikut-solidarity-trial-who-covid-19/

Malaysia starts global “Solidarity Trial” – a research effort to test possible treatments for COVID-19. (2020). Retrieved 17 April 2020, from https://www.who.int/malaysia/news/detail/05-04-2020-malaysia-starts-global-solidarity-trial—a-research-effort-to-test-possible-treatments-for-covid-19

Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Diah Ayu Lestari Diperbarui 30/03/2021
Ditinjau secara medis oleh dr Patricia Lukas Goentoro
x