Uji Coba Obat Remdesivir Berhasil, Puluhan Pasien di AS Sembuh dari COVID-19

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 21 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Kabar gembira mengenai pengembangan obat untuk COVID-19 datang dari Amerika Serikat. Sebuah rumah sakit di Chicago belum lama ini mengadakan uji coba obat remdesivir terhadap pasien COVID-19 dengan gejala parah. Setelah rutin diberikan obat, puluhan pasien di rumah sakit tersebut akhirnya dinyatakan sembuh.

Para ilmuwan hingga saat ini belum menemukan obat maupun vaksin untuk COVID-19. Walau demikian, remdesivir tampaknya menjadi salah satu obat yang paling berpotensi. Lantas, bagaimana cara kerja remdesivir pada uji coba tersebut? Apakah uji coba yang sama bisa dilakukan di Indonesia dalam waktu dekat?

Simak informasinya berikut ini.

Uji coba remdesivir pada pasien COVID-19

obat antimalaria mengatasi covid-19

Tahun 2012 lalu, sekelompok ilmuwan membuat senyawa yang saat itu masih dikenal sebagai senyawa 3a. Senyawa tersebut ternyata dapat membunuh berbagai jenis virus, salah satunya adalah coronavirus yang menjadi penyebab pandemi COVID-19 saat ini.

Senyawa 3a dikembangkan menjadi senyawa lain yang disebut remdesivir. Remdesivir merupakan obat antivirus yang kini sedang diuji karena dianggap berpotensi mengatasi COVID-19. Salah satu uji cobanya dilakukan oleh beberapa peneliti dari Chicago.

Mereka menguji remdesivir pada 125 pasien COVID-19. Dari jumlah tersebut, sebanyak 113 pasien mengalami demam tinggi dan gejala gangguan pernapasan parah. Uji coba dilakukan dengan memberikan remdesivir kepada pasien setiap hari melalui suntikan.

Setelah rutin diberikan remdesivir, hampir semua pasien COVID-19 pulih hanya dalam waktu seminggu sejak uji coba dimulai. Dr. Kathleen Mullane selaku pimpinan penelitian menyatakan sebagian besar pasien juga sudah dipulangkan. Selama uji coba, hanya ada dua pasien yang meninggal dunia.

COVID-19 Outbreak updates
Country: Indonesia
Data

951,651

Confirmed

772,790

Recovered

27,203

Death
Distribution Map

Mullane menyebutkan, uji coba ini sebenarnya bukanlah bukti pasti bahwa remdesivir betul-betul dapat menyembuhkan COVID-19. Namun, terapi menggunakan remdesivir memang terbukti menurunkan demam pada pasien COVID-19 dengan cepat.

Remdesivir juga berpotensi meringankan gejala gangguan pernapasan. Hal ini terlihat dari banyaknya pasien yang bisa segera melepas ventilator sehari setelah diberikan obat. Ini merupakan gebrakan besar dalam pengobatan COVID-19.

Ia pun menambahkan, sebagian besar pasien COVID-19 dalam uji coba ini mengalami gejala parah, tapi mereka bisa pulang setelah diberikan remdesivir selama enam hari. Jadi, durasi pengobatan tidak harus sepuluh hari seperti yang selama ini diperkirakan.

Uji coba sejenis juga tengah dilakukan di berbagai belahan dunia. Hingga kini, terdapat total 2.400 pasien dengan gejala COVID-19 parah yang sedang menjalani uji coba di 152 lokasi. Hasilnya kemungkinan baru akan terlihat pada akhir bulan ini.

tips donor darah aman

Cara remdesivir membunuh virus COVID-19

coronavirus bermutasi

Remdesivir sering diandalkan dalam uji coba klinis karena dua alasan. Pertama, obat ini pernah digunakan untuk mengatasi Ebola sehingga aman bagi manusia. Kedua, data berbagai penelitian membuktikan bahwa remdesivir bisa mengatasi infeksi coronavirus.

Virus Ebola dan SARS-CoV-2 adalah dua virus yang amat berbeda. Meski demikian, remdesivir memiliki strategi jitu untuk membunuh keduanya. Obat ini tidak langsung menyerang virus, melainkan sistem yang digunakan virus untuk memperbanyak diri.

SARS-CoV-2 memerlukan zat yang disebut polimerase untuk bisa memperbanyak diri. Polimerase ibarat pabrik yang mengumpulkan bahan mentah, lalu membentuk rantai DNA dari bahan tersebut. Setelah DNA tersusun, barulah virus membentuk bagian ‘tubuh’ yang lain untuk menghasilkan virus baru.

Remdesivir membajak proses ini dengan menyusup ke dalam bahan-bahan mentah tersebut, tapi hal ini tidak disadari oleh polimerase. Polimerase tetap membentuk rantai DNA baru tanpa menyadari bahwa salah satu bahannya adalah remdesivir.

SARS-CoV-2 akhirnya tidak dapat menghasilkan virus baru karena virus-virus tersebut sudah lebih dulu hancur sebelum terbentuk. Jumlah virus dalam tubuh pun berkurang dan pasien bisa segera pulih.

ibuprofen covid-19

Uji coba obat pada pasien COVID-19 di Asia

Uji coba obat dalam rangka menghadapi pandemi COVID-19 kini telah diikuti oleh lebih dari 45 negara. Program bertajuk Solidarity Trial ini dilakukan terhadap empat alternatif obat yang sudah pernah dicoba dan masih diteliti, yaitu:

Tiongkok sebelumnya sudah melakukan uji coba sejumlah obat pada pasien COVID-19. Meski menjanjikan, hasil uji coba ini masih perlu dikaji lebih lanjut karena jumlah pasien dinilai kurang. Terhitung 15 April, uji coba remdesivir pada pasien pun masih ditunda.

Kapan Pandemi COVID-19 akan Berakhir?

Malaysia juga telah berpartisipasi dalam uji coba obat sejak awal April. Langkah serupa pun diambil oleh negara-negara serumpun termasuk Thailand dan Indonesia. Namun, masyarakat masih perlu bersabar hingga hasil uji coba diterbitkan.

Selama menanti hasil uji coba, hal terbaik yang dapat dilakukan saat ini adalah melakukan upaya pencegahan. Cucilah tangan Anda dengan air dan sabun. Tetaplah di rumah dan terapkan social distancing. Jika keluar rumah, wajib memakai masker. Lengkapi dengan menjaga daya tahan tubuh dan makan makanan bernutrisi.

Bantu dokter dan tenaga medis lain mendapatkan alat pelindung diri (APD) dan ventilator untuk melawan COVID-19 dengan berdonasi melalui tautan di bawah ini.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Was this article helpful for you ?
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Perkembangan Uji Klinis Vaksin Sinovac di Indonesia

Vaksin Sinovac buatan China sedang diuji coba secara klinis pada ribuan orang di Bandung, Indonesia. Bagaimana perkembangannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 6 menit

Parosmia, Gejala Long COVID-19 Bikin Pasien Mencium Bau Tak Sedap

Pasien COVID-19 melaporkan gejala baru yang disebut parosmia, yakni mencium bau amis ikan dan beberapa bau tidak sedap lain yang tidak sesuai kenyataan.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 11 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit

Semua tentang Vaksin COVID-19: Keamanan, Efek Samping, dan Lainnya

Berikut beberapa informasi umum seputar vaksin COVID-19, keamanan, efek samping, dan pelaksanaan imunisasinya di Indonesia.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 9 menit

Vaksin COVID-19 Tidak Mencegah Penularan, Masyarakat Masih Harus Menerapkan 3M

Para ahli mengingatkan, berjalannya vaksinasi COVID-19 tidak serta merta mencegah penularan dan membuat bisa kembali hidup normal seperti sebelum pandemi.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
COVID-19, Penyakit Infeksi 29 Desember 2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

vitamin pasien covid-19

Rekomendasi Vitamin untuk Pasien Covid-19

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 19 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
donor plasma konvalesen

Bagaimana Cara Donor Plasma Konvalesen Pasien COVID-19 Sembuh?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 3 menit
psikotik covid-19

Infeksi COVID-19 Bisa Menyebabkan Gejala Psikotik Seperti Delusi?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 15 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit
jamu covid-19

Potensi Jamu dan Obat Tradisional dalam Penanganan COVID-19

Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 12 Januari 2021 . Waktu baca 5 menit