Terus pantau perkembangan soal COVID-19 di sini.

home

Adakah saran agar artikel ini lebih baik?

close
chevron
Artikel ini tidak akurat
chevron

Mohon sampaikan saran Anda

wanring-icon
Anda tidak perlu mengisi secara detail bila tidak berkenan. Klik 'Kirim Opini Saya' di bawah ini untuk lanjut membaca.
chevron
Artikel ini tidak memberi cukup informasi
chevron

Tolong beri tahu kami bila ada yang salah

wanring-icon
Anda tidak wajib mengisi kolom ini. Klik "Kirim" untuk lanjut membaca.
chevron
Saya punya pertanyaan
chevron

Kami tidak memberi pelayanan kesehatan berupa diagnosis atau perawatan, tapi kami terbuka terhadap saran Anda. Silakan ketik di kotak berikut ini.

wanring-icon
Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

Polusi dapat Meningkatkan Risiko Gejala Berat COVID-19

Polusi dapat Meningkatkan Risiko Gejala Berat COVID-19

Baca semua artikel tentang coronavirus (COVID-19) di sini.

Polusi udara tercatat telah membunuh setidaknya 4 juta orang setiap tahunnya. Pada masa pandemi, polusi udara menjadi salah satu faktor meningkatkan risiko keparahan gejala pada pasien COVID-19. Polusi memperburuk tingkat kesakitan dan risiko kematian.

Selain berpengaruh terhadap kesehatan orang-orang yang telah lama menghirup udara tercemar, para ahli menduga partikel polusi udara juga bisa menjadi jalur penularan COVID-19 yang lebih masif.

Polusi udara memperbesar risiko perburukan gejala pasien COVID-19

polusi udara meningkatkan risiko covid-19

Dalam sebuah studi, peneliti dari Harvard University menemukan bahwa peningkatan kandungan partikel polusi dalam udara, sekecil apapun, bisa meningkatkan risiko kematian pada pasien positif COVID-19.

Dalam studi tersebut, peneliti melakukan pengamatan pada 3.080 wilayah di Amerika Serikat. Peneliti menemukan, pasien COVID-19 yang telah tinggal 15-20 tahun di wilayah dengan polusi tinggi memiliki potensi kematian lebih tinggi dibanding wilayah rendah polusi.

Risiko kematian akibat COVID-19 jadi lebih besar di wilayah dengan kandungan polusi PM 2,5 yang melebihi ambang batas. Namun studi ini belum ditinjau rekan sejawat (peer review).

“Bukti yang kami miliki cukup jelas, pasien yang tinggal di wilayah yang lebih tercemar polusi dalam waktu yang lama cenderung meninggal karena virus corona (SARS-CoV-2),” ujar Aaron Bernstein, direktur Pusat Iklim, Kesehatan, dan Lingkungan Global di Harvard University.

Angka pedoman organisasi kesehatan dunia (WHO) mematok ambang batas aman PM 2,5 adalah 25 mikrogram/m3 dalam waktu 24 jam. Sedangkan Jakarta selama beberapa tahun terakhir selalu memiliki kandungan polusi PM 2,5 melebihi ambang batas aman yang ditentukan WHO.

Hari ini Minggu (6/9) misalnya, AirVisual mencatat angka polusi PM 2,5 Jakarta berada di 69,6 mikrogram/m3.

“Anda dapat memilih kota mana pun di dunia dan berharap melihat efek polusi udara pada risiko orang menjadi lebih sakit dari COVID-19,” Aaron Bernstein.

Apa itu polusi PM 2,5 dan bagaimana mempengaruhi pasien COVID-19?

risiko covid-19 di wilayah dengan polusi udara tinggi

Particulate matter (PM), PM adalah partikel polusi yang bisa masuk hingga ke dalam pembuluh darah dan paru-paru. Jika bersentuhan dengan PM dapat menyebabkan masalah iritasi pada mata, tenggorokan, paru-paru, dan dapat menyebabkan masalah pernapasan. Partikel polusi ini juga dapat mengganggu fungsi paru dan memperburuk kondisi kesehatan orang dengan asma dan penyakit jantung.

PM 2,5 berukuran 2,5 mikrometer, yakni sekitar 10 kali lebih kecil dari sehelai rambut manusia. Sangat kecil dan tak kasat mata hingga bisa menembus masker bedah atau masker kain yang biasa kita pakai.

Xiao Wu, kepala peneliti dalam studi tersebut, mengatakan risiko peningkatan kematian pada pasien COVID-19 yang hidup di wilayah tinggi polusi berkaitan dengan penyakit pernapasan dan penyakit jantung.

Berbagai penelitian telah membuktikan bahaya polusi udara pada kesehatan tubuh manusia. Paparan polusi udara membuat orang berisiko tinggi terkena kanker paru-paru, serangan jantung, stroke, dan bahkan kematian dini.

Polusi udara juga dapat menyebabkan hipertensi, diabetes, dan penyakit pernapasan. Tiga penyakit ini disebut sebagai beberapa penyebab utama memburuknya gejala dan risiko kematian akibat COVID-19.

Selain bisa menyebabkan sejumlah masalah infeksi pernapasan, polusi udara dapat menurunkan daya tahan tubuh seseorang. Daya tahan tubuh yang lemah ini dapat membahayakan kemampuan seseorang dalam melawan infeksi penyakit.

Inilah alasan menghirup udara yang penuh polusi dapat membuat gejala bertambah parah bagi pasien yang terinfeksi COVID-19.

Sebelum pandemi COVID-19, polusi udara juga berkaitan dengan risiko keparahan gejala pasien SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) yang mewabah pada tahun 2003-2014. Studi tersebut menyebut pasien SARS yang telah lama tinggal di wilayah berpolusi, 84% lebih berisiko meninggal dibanding dengan pasien di wilayah dengan polusi rendah.

Lawan COVID-19 bersama!

Ikuti informasi terbaru dan cerita para pejuang COVID-19 di sekitar kita. Ayo gabung komunitas sekarang!


Hello Health Group tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan.

Sumber
  • Wu, X., Nethery, R., Sabath, B., Braun, D., & Dominici, F. (2020). Exposure to air pollution and COVID-19 mortality in the United States: A nationwide cross-sectional study. doi: 10.1101/2020.04.05.20054502
  • Cui, Y., Zhang, Z., Froines, J. et al. Air pollution and case fatality of SARS in the People’s Republic of China: an ecologic study. Environ Health 2, 15 (2003). https://doi.org/10.1186/1476-069X-2-15
Foto Penulisbadge
Ditulis oleh Ulfa Rahayu Diperbarui 18/12/2020
Ditinjau secara medis oleh dr. Andreas Wilson Setiawan
x