7 Tips Aman Bagi Penderita Epilepsi yang Hidup Sendiri

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Gejala epilepsi memang dapat muncul kapan saja. Akan tetapi, bukan berarti penderita epilepsi tidak bisa hidup seorang diri. Dengan beberapa modifikasi dan persiapan yang memadai, penderita epilepsi tetap dapat hidup mandiri dan menjaga kesehatannya agar senantiasa prima.

Epilepsi adalah gangguan pada sistem saraf pusat akibat aktivitas listrik yang tidak normal pada otak. Orang yang hidup dengan epilepsi biasanya mengalami keluhan berupa kejang, perilaku atau sensasi yang tidak biasa, hingga hilang kesadaran.

Tips hidup mandiri bagi orang dengan epilepsi

8 Mitos Epilepsi yang Ternyata Salah Kaprah

Setiap penderita epilepsi dapat mengalami kejang dalam bentuk dan tingkat keparahan yang beragam. Ada yang hanya diam dan menatap kosong selama beberapa detik, tapi ada pula yang mengalami kedutan pada otot lengan dan kaki.

Epilepsi terkadang juga dapat menimbulkan kejang yang parah. Hal ini berisiko menyebabkan kecelakaan, apalagi bila orang dengan epilepsi hidup seorang diri. Bahkan, faktor yang menjadi bahaya dari epilepsi bukanlah penyakit itu sendiri, melainkan kecelakan yang terjadi saat penderita kejang.

Menurut sebuah penelitian yang dirangkum dalam Epilepsy Society, lebih dari 1.000 kecelakaan menimpa penderita epilepsi setiap tahunnya. Sebagian besar kecelakaan ini sebenarnya bisa dicegah bila penderita epilepsi tinggal di lingkungan tempat tinggal yang aman.

Bagi orang dengan epilepsi yang hidup seorang diri, berikut beberapa tips yang dapat membantu Anda:

1. Mengetahui pemicu kejang

Setiap penderita epilepsi memiliki pemicu kejang yang berbeda. Mulai dari kurang tidur, stres, konsumsi alkohol, demam, gula darah rendah, hingga siklus menstruasi. Kejang juga bisa terjadi pada waktu-waktu tertentu, misalnya siang hari.

Orang yang hidup mandiri dengan epilepsi perlu mengetahui berbagai pemicu ini untuk mengurangi risiko kejang. Beritahukan juga anggota keluarga yang lain agar Anda bisa menjalani kegiatan sehari-hari dengan lebih aman.

2. Menyusun rencana tanggap kejang

Rencana tanggap kejang akan memandu orang-orang di sekitar Anda yang ingin menolong saat terjadi kejang. Melalui informasi ini, mereka bisa mengetahui pemicu kejang, cara memposisikan tubuh Anda, serta nomor darurat yang perlu dihubungi.

Siapkan informasi yang dibutuhkan dalam selembar kertas. Letakkan di tempat yang mudah dilihat seperti kulkas atau meja. Berikan salinannya pada keluarga dan pasangan Anda, serta bawalah setiap kali Anda bepergian.

3. Memodifikasi tempat tinggal agar lebih aman

Kasus kematian akibat epilepsi biasanya terjadi karena penderita terjatuh, tenggelam, atau mengalami kecelakaan lain yang berakibat fatal saat terjadi kejang. Oleh sebab itu, orang yang hidup mandiri dengan epilepsi perlu memastikan rumahnya cukup aman.

Tempat tinggal Anda dikelilingi dinding beton yang keras, lantai yang licin, serta ujung perabot yang lancip. Guna mengurangi risiko bahaya ketika kejang, berikut beberapa modifikasi yang bisa Anda lakukan:

  • Melapisi ujung perabot yang lancip dengan kain.
  • Merapikan kabel yang berserakan di lantai.
  • Memasang karpet pada lantai yang licin.
  • Memasang pegangan dinding dan keset di dalam kamar mandi.
  • Duduk di bangku saat mandi dan tidak berendam.
  • Memastikan pintu dan jendela selalu tertutup, tapi tidak terkunci untuk memudahkan bantuan saat terjadi kejang.
  • Memasang pembatas di sekitar kolam renang bila ada.

4. Mengamankan lingkungan dapur

ingin dapur bersih? perhatikan dulu hal ini

Selain kamar mandi yang licin, orang dengan epilepsi yang hidup sendiri juga harus berhati-hati ketika berada di dapur. Pasalnya, di dapur terdapat berbagai perabot, benda tajam, serta sumber api.

Setelah terkena serangan kejang, penderita epilepsi dapat mengalami kebingungan. Pada saat kebingungan itulah Anda paling berisiko mengalami kecelakaan.

Guna mencegah kecelakaan di dapur, orang yang hidup dengan epilepsi dapat melakukan upaya berikut:

  • Jika memungkinkan, hanya gunakan kompor listrik agar tidak ada sumber api terbuka.
  • Memasak dengan metode yang lebih aman, misalnya menggunakan microwave.
  • Mengenakan sarung tangan ketika memasak dengan oven.
  • Bila memungkinkan, gunakan pemanggang tertutup.
  • Menyediakan troli di dapur untuk membantu Anda membawa makanan panas dengan aman.

5. Melakukan aktivitas fisik aman bagi orang yang hidup dengan epilepsi

Setiap aktivitas fisik memiliki risiko tersendiri bagi orang yang hidup mandiri dengan epilepsi. Anda bisa mengurangi risiko tersebut dengan memeriksakan diri ke dokter sebelum memulai rutinitas aktivitas fisik yang baru.

Jika kejang sering muncul pada waktu-waktu tertentu, misalnya pagi atau sore hari, coba lakukan aktivitas fisik di luar waktu tersebut. Hindari pula panas berlebihan saat beraktivitas fisik dan minumlah cukup air agar Anda tidak mengalami dehidrasi.

6. Memasang alarm atau penanda darurat

Ketakutan terbesar bagi orang yang hidup mandiri dengan epilepsi adalah gejala yang dapat muncul kapan saja. Alarm dan penanda darurat akan membantu mempercepat datangnya bantuan sehingga dampak kejang dapat dikurangi.

Anda dapat menggunakan alarm khusus yang terhubung dengan kontak darurat ketika dinyalakan. Atau, mintalah bantuan tetangga maupun keluarga untuk menelepon Anda pada jam-jam tertentu guna memastikan Anda baik-baik saja.

7. Menjalani hidup dengan pola yang sehat bagi penderita epilepsi

Pola hidup sehat dapat membantu Anda mengurangi risiko kejang. Mulailah dengan mencukupi kebutuhan nutrisi dan minum setiap hari. Sebisa mungkin, cobalah untuk tidur dan berolahraga dengan cukup agar tubuh Anda tetap bugar.

Orang yang hidup mandiri dengan epilepsi juga harus disiplin dalam meminum obat. Periksakan pula diri Anda secara rutin bila disarankan demikian. Bila perlu, cobalah ikut serta dalam support group bagi penderita epilepsi untuk saling berbagi informasi.

Hidup seorang diri mungkin tidak mudah jika Anda menderita epilepsi. Namun, hal ini tidak mustahil selama Anda mampu membuat perencanaan, berkomunikasi dengan keluarga dan tetangga, serta mengurangi risiko bahaya di lingkungan tempat tinggal.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 13, 2020 | Terakhir Diedit: Februari 13, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca