5 Aktivitas Seru yang Bisa Kurangi Risiko Demensia Mulai Hari Ini

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Demensia adalah sekumpulan gejala yang muncul akibat penurunan fungsi otak seiring bertambahnya usia. Gejala demensia adalah kesulitan mengingat dan berpikir, sehingga lebih dikenal dengan sebutan pikun atau penyakit orang tua. Pada kasus berat, orang dengan kondisi ini bisa mengalami halusinasi. Itulah sebabnya kualitas hidup orang dengan demensia sangat berkurang. Padahal, mengurangi risiko demensia bisa dilakukan sejak muda dengan berbagai hal mudah. Beberapa di antaranya bahkan mungkin sudah menjadi hobi Anda sedari kecil. Yuk, cari tahu lebih lanjut di artikel ini!

Demensia adalah penyakit orang tua

Faktor risiko demensia yang paling utama adalah penuaan. Berdasarkan Hasil Survei Penduduk Antar Sensus yang dirilis BPS, jumlah penduduk Indonesia yang berusia di atas 60 tahun mencapai 21,4 juta orang hingga tahun 2015 lalu.

Rentang usia 60 tahun ke atas merupakan kelompok yang paling rentan terkena demensia. Semakin usia bertambah tua, semakin tinggi risikonya untuk mengalami demensia. Meski begitu, gejala demensia juga bisa mulai muncul secepat di usia 40 tahun-an.

Berbagai aktivitas harian yang bisa mengurangi risiko demensia

Demensia tidak hanya menyebabkan seseorang pikun serta sulit berpikir, namun juga kesulitan mengatur emosi. Demensia juga menyulitkan pengidapnya berbicara dan bergerak lancar.

Sebenarnya, risiko demensia bisa diperlambat atau bahkan dicegah sama sekali dengan menjaga pola makan sehat dan rutin olahraga untuk otak. Di samping itu, beberapa aktivitas yang Anda lakukan sehari-hari tanpa disadari juga membantu menjaga kesehatan otak sehingga mengurangi risiko demensia. Apa saja itu?

1. Baca buku

belajar hal baru

Hampir 90% orang Indonesia tidak suka baca buku. Hal ini tentu sangat disayangkan karena manfaat membaca buku tidak cuma bantu memperluas wawasan dan membangun kreativitas.

Hobi baca buku sama saja dengan melatih kemampuan konsentrasi dan fokus otak untuk menyelesaikan satu tugas. Membaca juga melatih Anda untuk menajamkan kekuatan otak untuk menyerap, mengolah, mengingat, dan menyimpan informasi baru. Maka dari itu, orang yang rajin membaca diketahui memiliki risiko yang jauh lebih rendah terhadap macam-macam penyakit otak, seperti demensia dan Alzheimer.

Teori di atas dibuktikan oleh sebuah studi asal Hongkong, dikutip dari Medical Daily. Setelah mengamati lebih dari 1.500 orang lansia 65 tahun ke atas yang bebas dari demensia, peneliti menemukan bahwa mereka sudah suka membaca semenjak masih muda.

Yuk, baca buku!

2. Ikut kursus

manfaat belajar musik anak

Semakin tua usia Anda, rasanya semakin sulit untuk mempelajari hal baru. Wajar memang, tapi jangan jadikan ini alasan untuk Anda cepat menyerah. Belajar sesuatu yang baru di usia yang tak lagi muda bisa jadi tantangan bagi otak Anda.

Sebuah studi tahun 2014 membandingkan orang dewasa yang mempelajari fotografi sebagai hobi barunya dengan orang dewasa yang hanya aktif berolahraga saja. Hasilnya, orang-orang yang belajar fotografi mengalami peningkatan daya ingat yang lebih tinggi daripada orang yang hobi olahraga saja.

Namun bukan berarti Anda harus kursus fotografi saja, lho, untuk mengurangi risiko demensia. Jika selama ini Anda terus mengurungkan niat untuk belajar bahasa asing, les musik, atau bahkan ikut kursus memasak karena takut gagal, jangan ragu lagi untuk mulai!

3. Ngobrol

punya banyak teman

Siapa, sih, yang tidak suka ngobrol? Nah saat Anda berinteraksi dengan orang lain, otak bekerja lebih aktif untuk menentukan bagaimana Anda harus bersikap, memberikan respons, menyatakan pendapat, dan lain sebagainya.

Sementara itu, otak juga terus merekam semua peristiwa dan percakapan yang terjadi. Proses ini bahkan terus berlanjut saat Anda sedang sendirian atau tidur malam. Bagian otak yang bertanggung jawab dalam hal ini adalah korteks prefrontal medial dan persimpangan temporoparietal. Kedua area otak tersebut berperan penting untuk memproses informasi, meningkatkan daya ingat, hingga menjalankan fungsi kognitif.

Selain itu, bersosialisasi dengan orang lain bisa menjadi cara untuk mengurangi stres yang bisa berdampak buruk bagi kesehatan otak. Bahkan, membuka percakapan basa-basi dengan orang di sebelah Anda saat menunggu bus umum datang pun bisa menyehatkan otak Anda.

4. Menari

Menari adalah salah satu aktivitas fisik yang dapat melatih kelenturan tubuh sekaligus menyehatkan otak. Saat menari, otak mengatur gerakan tubuh untuk mengikuti irama. Selain itu, otak juga bekerja untuk menghafal gerakan dan memproses gerakan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Semua aktivitas ini diatur oleh bagian otak yang disebut dengan basal ganglia.

Menurut sebuah studi dalam The New England Journal of Medicine, menari dapat meningkatkan daya ingat dan mencegah Anda dari kepikunan seiring bertambahnya usia. Latihan aerobik seperti menari dapat mengembalikan volume hipokampus yang hilang. Hipokampus adalah bagian otak yang mengontrol penyimpanan ingatan. Hipokampus secara alami akan menyusut saat Anda menginjak usia lanjut, yang sering menyebabkan gangguan ingatan dan kepikunan.

5. Berkebun

cara mencegah sakit punggung saat berkebun

Selain bikin pekarangan rumah jadi lebih asri, berkebun nyatanya juga bisa membuat hati gembira dan sudah dibuktikan oleh begitu banyak penelitian medis, lho!

Penelitian yang dimuat dalam Journal of Alzheimer’s Disease melaporkan, berkebun dapat melindungi fungsi kognitif otak, meningkatkan volume otak, dan menurunkan risiko alzheimer hingga 50 persen. Studi lain yang terbit pada tahun 2006 melaporkan berkebun dapat mengurangi risiko demensia sebanyak 36 persen setelah mengamati 2 ribu orang lansia yang hobi berkebun selama 16 tahun.

Selain itu, berkebun juga dapat menurunkan risiko penyakit jantung.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca