Menjaga dan merawat kesehatan kulit itu penting. Sayangnya, banyak wanita yang cenderung lebih fokus merawat kulit wajah, tangan, dan kaki saja. Padahal, semua kulit yang ada pada tubuh juga perlu mendapatkan perawatan, termasuk kulit di sekitar vagina. Akibatnya, banyak wanita yang memiliki keluhan seperti rasa gatal, perih, dan ruam, tanda-tanda iritasi vagina.

Jika tidak segera ditangani, apa efeknya bagi kesehatan? Lalu, bagaimana caranya menjaga kebersihan? Yuk, cari tahu jawabannya pada ulasan berikut ini.

Kenapa kulit di sekitar vagina bisa iritasi?

Tahukah Anda bahwa vagina sangat sensitif? Ya, ketebalan kulit pelindung yang dikenal dengan stratum corneum atau horny cell jauh lebih tipis dibanding area lainnya.

Selain itu, area kulit sekitar kemaluan ini juga cenderung lebih sering lembap. Risiko iritasi semakin besar ditambah dengan penggunaan berbagai produk yang mengenai kulit vagina, seperti pembalut, produk pembersih, tekstur kain celana, dan juga alat kontrasepsi seperti kondom.

Kondisi ini bisa terjadi kapan saja, namun lebih sering dialami oleh wanita menjelang dan selama menstruasi. Perubahan hormonal yang menyebabkan lendir jadi lebih banyak serta pembalut yang berbahan tidak lembut, tidak menyerap darah dengan baik, serta unbreathable (tidak memungkinkan sirkulasi udara) bisa jadi biang keladinya.

Area vagina yang terlalu lembap bisa menyebabkan gesekan serta pertumbuhan jamur jadi lebih aktif. Akibatnya, vagina akan terasa gatal, kemerahan, dan menimbulkan bercak ruam. Kondisi ini pasti membuat Anda tidak nyaman dalam melakukan berbagai aktivitas, bukan?

Ini dampaknya jika iritasi vagina tidak diobat atau tidak dicegah?

Gejala iritasi yang paling awal adalah munculnya kemerahan yang kadang disertai rasa gatal. Sayangnya, banyak wanita yang tidak mengetahui tanda-tanda ini dan membiarkan kondisi ini begitu saja. Menganggap kondisi akan baik dengan sendirinya seiring berjalannya waktu, hingga akhirnya baru menyadari vagina menjadi iritasi setelah ruam bermunculan.

Tanpa perawatan dan pencegahan, gejala iritasi pada vagina bisa semakin parah. Kombinasi antara kelembapan vagina, kondisi iritasi yang sudah ada, serta tidak terjadinya sirkulasi di kulit area vagina, bisa menjadi sarang bagi bakteri untuk berkembang biak. Berikut beberapa kemungkinan penyakit yang berisiko terjadi jika iritasi vagina tidak diobati.

1. Bacterial vaginosis

Sebenarnya bakteri itu tidak selalu jahat, ada juga bakteri baik yang ikut menjaga kesehatan tubuh, seperti bakteri baik pada sistem pencernaan dan juga vagina. Namun, bakteri baik dan bakteri jahat akan terus bersaing, jika lebih banyak jumlahnya maka bakteri tersebutlah yang akan menang.

Nah, bakteri baik pada vagina bisa kalah bersaing dengan bakteri jahat akibat kondisi vagina yang terlalu lembap Akibatnya, bakteri jahat bisa berkembang biak secara aktif yang menyebabkan bakterial vaginosis.

Penyakit ini menyebabkan perubahan pada lendir; menjadi lebih banyak dan berbau tidak sedap serta akan menimbulkan sensasi nyeri dan terbakar saat buang air atau berhubungan seks. Jika tidak diatasi, kondisi ini bisa memengarungi kesuburan.

2. Infeksi saluran kemih

Selain bacterial vaginosis, bakteri jahat yang terus berkembang biak bisa menyebabkan penyakit infeksi saluran kemih (ISK). Bakteri jahat, terutama bakteri E. colli yang menumpuk pada vagina, bisa menyebar ke kandung kemih dan menyebabkan peradangan.

Gejala ISK yang umumnya terjadi adalah demam, rasa sakit dan sensasi terbakar saat buang air kecil, serta nyeri pada punggung bawah dan perut bagian bawah. Kondisi ini mungkin membuat Anda ingin terus buang air, tapi hanya sedikit urine yang dikeluarkan.

Perhatikan tanda dan gejala dari kedua penyakit ini. Segera lakukan pemeriksaan ke dokter sebelum kondisi bertambah parah dan mempersulit pengobatan.

Tips mencegah vagina tetap bersih dan menstruasi bebas iritasi

Anda tentu tidak ingin terkena iritasi vagina dan berisiko penyakit pada vagina lainnya, bukan? Tentu, lebih baik mencegah daripada mengobati. Untuk itu, simak tips merawat dan menjaga kebersihan vagina agar tetap sehat seperti berikut ini:

  • Bijak memilih pembalut. Kelembapan yang tinggi terjadi saat menstruasi.  Artinya, Anda harus memilih pembalut yang tidak membuat area vagina bertambah lembab. Carilah pembalut berbahan lembut dan cepat menyerap. Dan yang terpenting, pembalut harus memiliki pori-pori yang memungkinkan adanya sirkulasi udara sehingga area vagina akan tetap kering.
  • Tidak menggunakan produk pembersih vagina yang bisa merusak keseimbangan asam vagina. Sebaiknya, basuh vagina dengan lembut dengan air bersih dan mengalir setiap kali buang air. Kemudian, usap dengan tisu supaya vagina tetap kering.
  • Hindari celana yang ketat dan berbahan kasar. Pilih celana yang berbahan katun yang lembut dan dapat menyerap keringat dengan baik.

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca