Siapa sih yang tidak suka tidur? Bagi banyak orang, perlu alarm untuk memastikan tubuh bisa terjaga dan tidur yang nyenyak dan menenangkan. Tanpa alarm, bisa-bisa kita kebablasan dan baru terbangun saat sudah tidur sepuluh jam nonstop.

Tapi tahukah Anda bahwa suara alarm yang nyaring menggelegar akan mengagetkan tubuh Anda yang belum siap beranjak dari tidur, dan mengirimkan sensasi adrenalin yang terpompa ke sekujur tubuh? Pelepasan adrenalin secara mendadak  dapat membahayakan jantung Anda; meningkatkan tekanan darah dan mempercepat laju jantung, seperti yang disimpulkan oleh National Institute of Industrial Health of Japan. Bagi penderita kelebihan berat badan, terus menerus gelisah menanti datangnya alarm saat tidur dan juga kurang tidur, sekecil apapun stimulasi yang mereka dapatkan, tetap dapat memicu serangan jantung.

Tapi saya sehat, jadi masih bolehkah pakai alarm?

Tubuh sehat tidak terkecuali. Jika Anda bergantung pada alarm untuk membangunkan Anda setiap pagi, besar kemungkinan bahwa Anda tidak mendapatkan waktu istirahat yang cukup, yaitu sekitar 7-9 jam per hari. Kurang tidur dari waktu yang direkomendasikan berisiko dua kali lipat terhadap serangan jantung. Peneliti dari Jerman mengungkapkan bahwa, setelah melakukan studi pada 5,600 pasien penderita sakit jantung, terdapat peningkatan risiko terhadap serangan jantung setiap hari Senin, jika dibandingkan dengan hari lainnya.

Peneliti juga menemukan fakta bahwa selama sepuluh tahun belakangan ini, orang-orang cenderung tidur lebih larut dari biasanya, namun bangun pagi dengan waktu yang sama dari hari ke hari, menyebabkan kita kehilangan sekitar 40 menit waktu tidur pada hari-hari kerja. Kita juga lebih sering menghabiskan waktu beraktivitas di luar, yang juga menjadi salah satu faktor penyebab jam tidur biologis kita berubah.

Banyak orang yang menganjurkan untuk tidur setidaknya 7 jam sehari, namun aktivitas sehari-hari yang sangat padat tidak jarang mengharuskan kita untuk “mencuri” waktu tidur. Kebutuhan tubuh akan tidur versus kebutuhan menjalani hidup inilah yang sering bertentangan satu sama lain, dan menjadi penyebab pola tidur yang tidak teratur.

Hubungan antara kelebihan berat badan dengan kurang tidur sebenarnya tidak hanya didasari oleh seberapa banyak tidur yang Anda dapatkan, namun lebih kepada jam biologis tubuh yang menjadi berantakan akibat pola tidur yang berantakan pula.

Kehidupan sehari-hari kita diatur oleh dua fenomena utama, yang terjadi secara alami: jam sirkadian internal tubuh, dan rotasi bumi. Pusat dari jam biologis tubuh manusia terletak pada bundel saraf yang disebut suprachiasmatic nucleus, di dalam hipotalamus otak. Jam sentral ini bertindak sebagai pemicu jantung, mensinkronisasikan “jam” lain yang dipercayai ilmuwan terdapat dalam seluruh tubuh. Sistem jam sirkadian ini mengontrol berbagai fungsi tubuh, termasuk sekresi hormon, suhu tubuh, dan tekanan darah. Jam sirkadian ini juga berfungsi sebagai pengatur kegiatan organ tubuh sehari-hari.

Jam sirkadian tubuh akan me-reset ulang secara otomatis setiap harinya untuk tetap dapat beroperasi dalam siklus 24 jam. Pengaturan ulang jam ini terjadi saat tubuh terkena paparan sinar matahari pagi dan kegelapan di malam hari. Sinyal dari otak akan diterima saraf optik tubuh untuk kembali mengatur jam biologis tubuh.

Tidur sering dianggap sebagai suatu kemewahan. Tapi peneliti tersebut mengungkapkan bahwa orang yang tidur lebih sedikit dari waktu yang direkomendasikan tidak akan bekerja dengan efisien selama pagi dan siang harinya, sehingga menciptakan siklus yang tak sehat: bekerja lembur dan tidur kurang. Tidur sering dianggap sebagai suatu kemalasan, padahal sebaliknya, tidur menyiapkan kita untuk menjadi aktif.

Saya tidak bisa hidup tanpa alarm, bagaimana cara menyiasatinya?

Menurut beberapa penelitian, cara kita menyetel alarm tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya tubuh butuhkan, namun lebih kepada kapan kita butuh untuk bangun. Jika alarm Anda tiba-tiba bunyi di tengah siklus tidur alami Anda, Anda mungkin akan merasa sangat kecapekan sepanjang hari, terlepas dari seberapa lama Anda telah tidur.

Siklus tidur Anda bertahan hingga 90 menit, yang terdiri dari 4 tahapan. Tahapan ketiga sampai keempat adalah periode tidur Anda yang paling lelap, di mana suhu tubuh, laju jantung, energi yang dilepaskan, dan laju pernapasan semua dalam keadaan rendah dan stabil. Menurut jurnal dari American Medical Association, bangun lebih awal, terutama di tahap-tahaptidur  akhir, dapat menyebabkan hilang ingatan sesaat dan hambatan kemampuan kognitif.

Beberapa peneliti menyarankan untuk mengatur waktu alarm setidaknya 7,5 – 9 jam dari setelah Anda tertidur, jika Anda mampu. Jika tidak memungkinkan, setel alarm setelah Anda tidur selama 6 jam terbilang mencukupi, karena Anda akan terbangun di tahapan awal siklus tidur, dibanding dengan harus terbangun di tengah periode REM (rapid eye movement) Anda. Namun jangan khawatir, aturan ini hanya dibuat secara garis besarnya saja. Setiap tubuh manusia memiliki bioritme yang berbeda.

BACA JUGA:

Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca