Dari 3 Jenis Vape (Rokok Elektrik) Paling Populer, Mana yang Paling Aman Buat Kesehatan?

Oleh

Vape atau rokok elektrik belakangan ini sedang populer di kalangan anak muda maupun dewasa. Vape menawarkan banyak rasa yang bisa dinikmati. Selain rasa vape yang bisa dipilih, Anda juga bisa memilih berbagai jenis alat pemanas untuk memanaskan cairan vape atau biasa dikenal dengan vaporizer. Ya, vaporizer ini tersedia dalam berbagai jenis.

Apa saja jenis vape yang tersedia?

Banyak jenis vaporizer yang diperjual-belikan untuk penikmat rokok elektrik, dengan berbagai bentuk dan ukuran. Tadinya, rokok elektrik bertujuan untuk membantu seseorang meninggalkan kebiasaan merokoknya. Namun, ternyata rokok elektrik juga dapat membahayakan kesehatan Anda.

Berikut ini merupakan jenis-jenis vaporizer.

1. Jenis pen

Vaporizer jenis pen ini bentuknya seperti pulpen, sesuai dengan namanya. Vaporizer pen merupakan vaporizer dengan bentuk terkecil yang bisa dibawa ke mana-mana. Vaporizer pen dapat menghasilkan uap dengan cara memanaskan cairan vape. Terdapat dua jenis elemen pemanas yang bisa dipilih untuk memanaskan cairan vape, yaitu:

  • Atomizer, adalah elemen pemanas untuk memanaskan cairan vape yang mengandung nikotin. Atomizer biasanya harus diganti jika panas yang dihasilkan sudah berkurang kualitasnya, membuat rasa vape menjadi tidak enak lagi. Dekat dengan atomizer, terdapat tank sebagai tempat bahan yang akan dipanaskan.
  • Cartomizer, adalah kombinasi dari cartridge dan atomizer. Pada pengaturan ini, komponen yang dipanaskan bersentuhan langsung dengan elemen pemanas.vape pen

Untuk memanaskan elemen pemanas tersebut, vaporizer pen membutuhkan baterai sebagai energi. Baterai ini bisa diisi ulang dan biasanya mempunyai tegangan sebesar 3,7 V, tapi ada juga baterai yang bisa diatur tegangannya. Baterai ini bisa mempunyai kekuatan sampai 1300 mAh. Hati-hati dengan baterai vape karena bisa meledak dan membahayakan Anda. Hindari alat ini dari jangkauan anak-anak.

BACA JUGA: Awas! Ternyata Vape Bisa Meledak di Wajah Anda

2. Jenis portable

Jenis vape portable atau juga dikenal dengan handheld vaporizer bentuknya lebih besar dibandingkan dengan vaporizer pen. Namun, vaporizer ini juga bisa dibawa ke manapun, sama seperti vaporizer pen. Walaupun lebih besar dari vaporizer pen, vaporizer portable masih bisa dimasukkan ke kantung Anda.

Tidak jauh berbeda dengan vaporizer pen, vaporizer portable juga mempunyai komponen elemen pemanas dan baterai. Namun pada vaporizer portable, cairan vape tidak kontak langsung dengan elemen pemanas, sehingga menghasilkan rasa yang lebih baik dan asap yang lebih sedikit. Baterai pada vaporizer portable biasanya dapat bertahan 2-3 jam atau bahkan lebih.

vape portable

Seberapa banyak uap yang bisa dihasilkan dari alat vape tergantung dari daya baterai, seberapa banyak elemen pemanas atau kawat yang ada di atomizer (biasanya 0,5 Ohm sudah cukup optimal untuk menghasilkan panas), dan komposisi dalam cairan vape (semakin tinggi kadar vegetable glycerin, semakin banyak uap yang bisa dihasilkan). Namun, panas tinggi yang bisa dihasilkan dari alat vape bisa meningkatkan risiko vape untuk meledak.

Ingat, cairan vape pastinya mengandung nikotin. Selain itu, juga mengandung bahan dasar dan perasa. Bahan dasar ini terdiri dari propylene glycol dan vegetable glycerin yang kadarnya bervariasi. Propylene glycol lebih cair dan berair, sedangkan vegetable glycerin lebih kental dan mempunyai rasa lebih manis. Namun, kedua bahan dasar tersebut dapat menyebabkan Anda mengalami reaksi alergi.

3. Jenis desktop

Berbeda dengan vaporizer pen dan portable, vaporizer jenis desktop ini bentuknya lebih besar dan tidak dapat dibawa ke mana-mana. Vaporizer desktop ini hanya bisa digunakan di rumah atau di satu tempat. Vaporizer desktop juga membutuhkan permukaan yang datar untuk menempatkannya, serta memerlukan pasokan energi yang konstan agar dapat berfungsi dengan baik.

BACA JUGA: Rokok Elektrik vs Rokok Tembakau: Mana Lebih Aman?

Karena pasokan energi yang stabil dibutuhkan untuk fungsi vaporizer ini, tentunya vaporizer desktop bisa menghasilkan panas yang lebih maksimal, rasa yang lebih tajam, dan uap yang lebih banyak daripada vaporizer lainnya. Semakin tajam rasa vape dan semakin banyak uap yang dihasilkan mungkin membuat pengguna vape merasa puas. Namun, hati-hati semakin banyak uap yang dihasilkan, semakin tinggi juga risiko kesehatan yang bisa dialami.

vape desktopSumber foto: http://www.leafscience.com/wp-content/uploads/2015/05/extreme-q.jpg

Kandungan dalam uap yang dihasilkan vape dan bahayanya

Vape atau rokok elektrik dianggap lebih aman daripada rokok biasa. Namun, ternyata risiko menghirup rokok elektrik tidak jauh berbeda dengan rokok biasa. Dalam jurnal yang diterbitkan oleh Circulation disebutkan bahwa nanopartikel dalam jumlah tinggi ditemukan dalam penghirup uap vape.

Nanopartikel ini beracun, dapat menumpuk dalam paru-paru dan menyebabkan peradangan. Menghirup uap vape telah dikaitkan dengan penyakit asma, stroke, penyakit jantung, dan diabetes. Penelitian lain juga menemukan bahwa uap yang dihasilkan rokok elektrik mengandung pelarut, di mana terkandung nikotin dan perasa. Pelarut ini dapat menyebabkan iritasi pada paru-paru.

Semakin tinggi panas dan semakin banyak uap yang dihasilkan, pengguna vape semakin menikmatinya. Namun, semakin banyak uap yang dihasilkan, maka semakin banyak nikotin yang terkandung dalam setiap tiupan. Selain itu, semakin tinggi panas yang dihasilkan juga dapat memicu kerusakan pelarut, sehingga pelarut dapat berubah menjadi senyawa yang lebih berbahaya, yaitu karbonil. Senyawa karbonil ini, contohnya adalah formaldehida dan asetaldehida yang dapat menyebabkan kanker. Semakin tinggi daya vaporizer bahkan bisa menghasilkan formaldehida yang sama seperti yang ditemukan dalam asap tembakau.

Selain nikotin dan pelarut, uap vape juga mengandung perasa dan pengawet. Walaupun keduanya mungkin aman, namun bisa juga membahayakan kesehatan ketika dihirup dan masuk ke saluran pernapasan.

BACA JUGA: Mana yang Lebih Baik, Shisha Atau Rokok Elektrik (Vape)?

Sumber
Yang juga perlu Anda baca