5 Tanda Anda Mungkin Belum Siap Menjalin Hubungan dengan Single Parent

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Menjalin hubungan dengan single parent atau orangtua tunggal artinya Anda harus siap dengan apa yang mereka bawa. Mulai dari anak, isu pernikahan, hingga mantan pasangan mereka. Jika Anda mengalami beberapa tanda di bawah ini, mungkin Anda belum siap berhubungan dengan seorang single parent

Siapkah Anda berhubungan dengan seorang single parent?

Bagi orang yang menjalin hubungan asmara dengan seorang single parent mungkin tidak jarang menemui tantangan dan rintangan. Tantangan yang Anda temui tentu tak akan sama dibandingkan ketika Anda mendekati mereka yang belum pernah terikat pernikahan dan memiliki anak. 

Jika Anda mengalami beberapa tanda di bawah ini, mungkin saja Anda sebenarnya belum siap untuk berhubungan lebih lanjut dengan seorang single parent.  

1. Cemburu terhadap anaknya

perilaku anak

Rasa cemburu adalah perasaan yang sangat manusiawi dan normal terjadi ketika Anda menjalin hubungan dengan seseorang. 

Pada kasus berhubungan dengan single parent, mungkin pasangan Anda lebih banyak menghabiskan waktunya dengan anaknya. Itu sebabnya Anda menjadi cemburu. 

Apabila Anda merasakan kecemburuan tersebut dan berusaha mengalihkan perhatian pasangan Anda dari anak mereka, bisa jadi Anda belum siap untuk melanjutkan hubungan ini. 

Selain itu, rasa cemburu ini juga dapat membuat Anda bersikap tidak menyenangkan terhadap anak dari pasangan Anda karena merasa pasangan dikuasai oleh anak sendiri. 

Padahal, menurut profesor antropologi dari University of Nevada, Peter Gray, pendapat anak tentang pasangan baru orangtuanya sangat penting. 

Maka itu, ketika Anda menjalin hubungan dengan orangtua tunggal dan cemburu dengan anaknya, akan sulit mempertahankan hubungan tersebut. 

Sebaliknya, Anda justru harus mendekatkan diri kepada anaknya dan berusaha untuk menyayanginya juga.

2. Menahan kritikan tentang pola pengasuhan anak

pasangan suka mengkritik

Jika Anda sudah memasuki tahap pengenalan dengan anak pasangan dan melihat bagaimana pola asuh pasangan Anda, mungkin ada keinginan untuk mengkritik cara pasangan Anda mendidiknya. 

Akan tetapi, cobalah untuk menahan hal tersebut sebisa mungkin. Ingat, pasangan Anda telah mengasuh anaknya selama bertahun-tahun. Mengomentari gaya asuh mereka bisa saja menyinggung hatinya.

Cobalah untuk masuk secara perlahan. Jangan mengungkapkan semua ketidaksetujuan Anda pada tahap-tahap awal.  

3. Ingin mengontrol jadwal dan waktu

kekerasan dalam pacaran yang tidak boleh dilakukan

Saat berhubungan dengan seorang single parent, Anda harus lebih bisa menghargai waktu dalam proses hubungan Anda. 

Misalnya, bersabar kapan pasangan akan memperkenalkan anak-anak mereka atau berdiskusi tentang hubungan ke tingkat selanjutnya. 

Masalah yang paling sering diperdebatkan oleh orang yang menjalani hubungan dengan single parent adalah menunjukkan rasa sayang di depan anak pasangan. 

Apakah pantas memegang tangan, menyentuh bahu atau mencium pasangan Anda di depan anaknya, dan bagaimana reaksi mereka. Tidak memedulikan itu semua akan membuat Anda terlihat tidak menghargai pasangan Anda. 

4. Mencari spontanitas

cinta buta

Menurut American Psychological Association, ada beberapa faktor yang menyebabkan orangtua tunggal dilanda stres berat, seperti:

  • Adanya masalah dalam keluarga besar
  • Waktu kunjungan anak
  • Efek dari masalah yang terus berlanjut di antara orangtua

Akhirnya, untuk mulai berhubungan kembali dengan orang lain, para single parent mungkin akan sulit menemukan waktu yang tepat. Bahkan, ketika memulai hubungan baru pun mereka lebih terfokus pada anaknya dibandingkan hubungan mereka. 

Akibatnya, Anda yang berada dalam hubungan ini akan sulit memberikan kejutan-kejutan kecil yang bisa memperkuat ikatan. 

Hal ini dikarenakan untuk melakukan kejutan, artinya pasangan Anda harus rela melepaskan waktunya untuk bersama dengan anak mereka. 

Jika Anda terus berinisiatif melakukan spontanitas, dan meminta kepada pasangan untuk meluangkan waktunya agar rencana Anda terwujud, tapi ia tidak mampu menyanggupinya, mungkin Anda berdua memang belum siap.

5. Tidak menyukai anak-anak

dampak depresi orangtua

Tidak menyukai anak-anak bisa jadi membawa Anda ke jalan buntu untuk memperkuat ikatan Anda dengan orangtua tunggal. 

Mungkin Anda tidak menyadarinya sejak awal, tetapi ketika menjalin hubungan dengan orangtua tunggal, rasa tidak suka itu bisa semakin kuat. Masalah ini juga bisa semakin tajam apabila Anda hanya menginginkan anak-anak dari Anda dan pasangan sendiri.

Sebenarnya, berhubungan dengan seorang single parent butuh rasa menghargai satu sama lain seperti hubungan pada umumnya. Hanya saja, porsinya kali ini harus jadi lebih besar karena banyaknya faktor yang dipertimbangkan.

Memang akan ada rintangan dan masalah dalam menghadapi hubungan ini, tetapi ketika Anda benar-benar siap dan rela untuk berjuang bersama-sama, bukan tak mungkin hubungan ini akan berakhir bahagia.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Oktober 28, 2019 | Terakhir Diedit: Oktober 26, 2019

Sumber
Yang juga perlu Anda baca