Haruskah Beri Tahu Pasangan Jika Saya Mengidap Penyakit Kelamin?

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Sebuah hubungan asmara yang sehat, entah itu masih dalam tahap pacaran atau sudah suami-istri, membutuhkan kejujuran dan keterbukaan antar satu sama lain dalam segala hal. Namun, mungkin akan sedikit rumit masalahnya apabila salah satu pasangan terdiagnosis penyakit kelamin menular.

Haruskah memberi tahu pasangan jika Anda terdiagnosis penyakit kelamin?

Sulit memang untuk berbicara blak-blakan mengenai penyakit Anda dengan pasangan. Akan tetapi, Anda harus jujur pada pasangan jika Anda benar terdiagnosis penyakit kelamin menular. Ini adalah sebuah keharusan — sebuah tanggung jawab, bahkan. Di beberapa negara, menyembunyikan status kesehatan seksual kepada pasangan dapat menjerumuskan Anda ke balik jeruji.

Memberi tahu pasangan seputar kondisi yang Anda idap bukanlah untuk menakut-nakuti atau mempermalukan diri sendiri. Penolakan, amarah, cibiran, gunjingan, semua ini mungkin harus Anda hadapi sebagai konsekuensinya. Akan tetapi, sepahit apa pun kenyataan ini, Anda tetap harus menyampaikannya. Ini menyangkut kesehatan dan nyawa orang lain. Ini juga soal menghormati orang lain.

Terlebih, Anda seharusnya tidak hanya memberitahukan kondisi ini pada pasangan Anda yang sekarang, namun juga pada mantan pasangan Anda. Ya. Terlepas apakah Anda dan sang mantan pernah berhubungan seks atau tidak, Anda tetap perlu memberi tahu mereka. Meskipun Anda berhubungan seks dengan kondom sekalipun, Anda akan tetap perlu memberitahukannya.

Dengan memberi tahu pasangan (dan mantan pasangan), mereka bisa segera memeriksakan kondisi kesehatannya juga untuk memastikan apakah mereka tertular atau tidak. Jika ya, mereka dapat sesegera mungkin mendapatkan pengobatan yang tepat sebelum kondisinya makin parah — sekaligus mencegah penyebaran penyakit semakin meluas ke orang lain. Jika tidak, mereka dapat mulai merencanakan langkah pencegahan yang sesuai untuk ke depannya.

Jika Anda memiliki pasangan yang baru pun, Anda harus memberi tahu kondisi Anda sebelum memutuskan melakukan hubungan seksual. Begitu pula dengan dirinya. Sangatlah penting untuk Anda berdua untuk saling terbuka dan berbagi mengenai riwayat seks masing-masing. Hal ini dapat membantu Anda berdua untuk merencanakan solusi terbaik supaya bisa melakukan seks yang aman.

Seseorang akan cenderung memercayai dan menghormati orang-orang yang berani jujur tentang kondisinya sebelum terjun ke hubungan yang semakin dalam.

Kapan harus memberi tahunya?

Idealnya, Anda harus segera memberi tahu pasangan setelah Anda positif terdiagnosis penyakit kelamin. Ingat, aktivitas seksual adalah perantara utama bagi penularan penyakit kelamin. Beberapa penyakit kelamin juga bisa ditularkan lewat sentuhan kulit dengan kulit, seperti kutil kelamin dan sariawan herpes oral. Menunda justru hanya akan merisikokan masalah yang semakin besar.

Jika Anda tidak memberi tahu pasangan dan pergi ke dokter sembunyi-sembunyi tanpa pasangan, Anda berdua berisiko mengalami efek pingpong. Persis seperti namanya, efek pingpong adalah kejadian saling “oper” infeksi dari satu orang ke orang lainnya, dan akan begitu seterusnya. Artinya, penyakit kelamin Anda tidak akan benar-benar sembuh. Justru hanya akan semakin parah dan menyebar pada orang lain.

Terlebih, tidak semua penyakit seks menular akan menimbulkan gejala yang jelas. Misalnya saja HIV dan infeksi HPV. Bahkan, banyak pula gejala penyakit kelamin yang mirip dengan masalah kesehatan lainnya. Maka, penting untuk memberi tahunya sesegera mungkin.

Bagaimana cara beri tahu pasangan kalau saya terdiagnosis penyakit kelamin?

Mulai untuk jujur mengenai masalah seberat ini memang tidak mudah. Anda bisa melatihnya dulu sendiri, dengan berbicara di depan kaca misalnya. Bayangkan Anda sedang menyampaikannya pada pasangan Anda dan perkirakan apa saja kemungkinan pertanyaan yang akan diberikan. Anda harus meyakinkan diri Anda sendiri untuk tetap tenang dan bicara dengan lembut selama membicarakan masalah ini. 

Persiapkan segala informasi tentang penyakit menular seksual yang Anda idap sebelum membicarakannya pada pasangan. Atau kalau perlu, bawa artikel terkait penjelasan mengenai jenis penyakit Anda.

Jika Anda sudah merasa mantap, ajaklah pasangan untuk berdiskusi berdua. Bicarakanlah terus terang. Misalnya, “Aku tahu kita berdua sangat menanti-nantikan momen ini. Tapi sebelum kita berhubungan seks, aku ingin kita membicarakan soal perlindungan yang tepat. Sebab, aku baru saja terdiagnosis penyakit kelamin menular.” 

Beri waktu baginya untuk mencerna informasi baru tersebut dan memberikan respon. Setiap orang bisa berbeda-beda reaksinya. Ada yang mungkin kecewa, terkejut, gusar, marah, bahkan mengamuk. Reaksi ini wajar dan mungkin tidak bisa dihindari sepenuhnya, tetapi percayalah bahwa ini yang terbaik untuk Anda berdua daripada Anda membiarkan pasangan Anda sakit.

Dengarkanlah dengan baik apa yang ia katakan. Jika pasangan bertanya lebih detail tentang kondisi Anda jawablah segala pertanyaannya sedetail mungkin sebisa Anda.  Jawablah dengan tenang dan lembut. Jangan sampai Anda justru marah atau kesal. Ini tanggung jawab Anda untuk menjelaskan kondisi Anda, dan hak pasangan Anda untuk mengetahui kondisi pasangannya.

Tenangkanlah dirinya. Anda bisa berikan lebih banyak waktu untuk dirinya memikirkan langkah apa yang selanjutnya harus ia ambil. Katakan, “Aku tahu kamu sangat syok mendengar hal ini. Aku tidak bermaksud untuk menyembunyikannya darimu. Kalau kamu butuh waktu untuk menyendiri dulu, tidak apa-apa.” Dengan memberikan penjelasan seperti itu menunjukan bahwa Anda memang memiliki tujuan yang baik dan dapat mengendalikan diri saat menghadapi masalah.

Apa yang harus dilakukan selanjutnya?

Setelah masing-masing kepala sudah dingin, barulah kemudian Anda berdua bisa merencanakan langkah ke depannya. Lakukan tes penyakit kelamin bersama-sama. Pasangan Anda juga harus diajak periksa, meskipun pasangan belum merasakan gejala apa pun. Dengan begitu, Anda juga bisa menghindari risiko efek pingpong. Karena hubungan asmara melibatkan dua orang, maka pemeriksaan dan pengobatan untuk penyakit kelamin juga melibatkan dua orang.

Anda berdua juga bisa berkonsultasi dengan dokter untuk mendapatkan informasi lebih lanjut sekaligus meminta saran apa yang sebaiknya Anda lakukan dan hindari dalam berhubungan seks. Usaha ini dilakukan agar Anda dan pasangan tetap bisa menikmati seks walaupun dinyatakan positif terinfeksi dan sebisa mungkin tidak menularkannya ke pasangan yang sehat. Pelajari cara berhubungan seks yang aman.

Jika tidak dideteksi dan diobati, penyakit menular seksual bisa menyebabkan ketidaksuburan — bahkan kanker.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Februari 11, 2018 | Terakhir Diedit: Februari 7, 2018

Sumber
Yang juga perlu Anda baca