Punya Masalah Kejiwaan? Sampaikan Pada Pasangan Dengan 4 Tips Ini

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 24/10/2018 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Membicarakan kelebihan dan kekurangan masing-masing memang bisa memperkuat hubungan yang sedang dirajut. Namun, kadang susah jika menyangkut penyakit yang Anda miliki. Apalagi jika hubungan tersebut baru saja terjalin. Lalu, bagaimana cara memberi tahu pasangan bahwa Anda punya masalah kejiwaan? Jangan cemas, ikuti beberapa tipsnya berikut ini.

Haruskah beri tahu pasangan jika punya masalah kejiwaan?

Stigma buruk mengenai kesehatan jiwa masih banyak menyebar dalam masyarakat. Maklum, orang-orang sering menyamakan penyakit jiwa dengan gila (hilang akal atau kendali atas perilakunya). Pada kenyataannya, masalah kejiwaan tak sesimpel itu. Orang dengan kondisi ini dapat hidup seperti biasa jika mendapatkan perawatan dan dukungan dari orang-orang di sekelilingnya. Itulah sebabnya memberi tahu orang terdekat mengenai masalah kejiwaan yang Anda miliki itu penting.

“Jika Anda merasa bahwa hubungan Anda berjalan serius dan pasangan Anda adalah orang yang kemungkinan besar mampu memberikan dukungan dan kasih sayang, maka Anda harus memberi tahu tentang penyakit Anda”, ujar Michael Brustein, Psy.D, psikolog klinis di New York City, seperti dikutip dari laman Self.

Sayangnya, menyampaikan hal ini tidak semudah memberi tahu pasangan makanan apa yang Anda sukai dan tidak sukai. Apalagi kalau Anda baru saja pacaran dengannya.

Bagaimana menyampaikannya?

komunikasi dengan pasangan komunikasi dalam hubungan

Kunci utama agar hubungan asmara Anda dan pasangan berjalan langgeng adalah kejujuran dan kepercayaan. Meskipun tidak mudah, beberapa tips berikut bisa membantu Anda untuk memberitahukan masalah kejiwaan yang Anda miliki kepada pasangan, antara lain:

1. Cari waktu yang tepat

Tidak jadi masalah jika hubungan Anda baru seumur jagung. Saat Anda merasa nyaman dan sudah berkomitmen satu sama lain untuk menjalani hubungan yang serius, membicarakan penyakit yang diidap pada saat itu adalah waktu yang tepat.

Ahli psikologi berpendapat bahwa tidak ada batasan waktu kapan Anda merasa nyaman dalam menjalin hubungan dan berencana untuk ke jenjang yang lebih serius, misalnya pernikahan. Selain keseriusan dalam berhubungan, Anda perlu juga mempertimbangan kesiapan diri Anda sendiri untuk membicarakannya.

2. Rencanakan dulu

Tidak semua orang mengerti bagaimana perjuangan Anda hidup dengan penyakit ini. Itulah sebabnya Anda harus membuat rencana lebih dulu. Anda mungkin perlu menuliskan apa saja hal yang harus Anda bicarakan, kira-kira apa saja pertanyaan dari pasangan, dan mempelajari hal apa saja yang berkaitan dengan penyakit Anda.

Jika Anda gugup, Anda mungkin butuh latihan bicara di depan cermin atau meminta anggota keluarga menjadi lawan bicara. Ingat, cari waktu luang dan tempat yang membuat Anda merasa nyaman. Bila masih ragu, lakukan konsultasi ke dokter atau psikolog untuk memudahkan Anda memberitahukan hal ini pada pasangan.

3. Bersabar

Menerima kenyataan bahwa pasangan memiliki penyakit kejiwaan pasti sulit. Pasti akan ada banyak pertanyaan yang ingin ia ajukan. Jadi, jelaskan situasi Anda selama ini, layaknya sedang memberikan seminar. Anda harus sabar menjawab pertanyaan, bahkan kalau harus mengulangi hal yang sama.

Ingat, informasi yang Anda berikan pada pasangan bisa membantu Anda kelak jika gejala muncul. Jadi, beri tahu bagaimana penyakit ini memengaruhi Anda, apa saja gejalanya, bagaimana cara mengatasinya, dan perawatan apa saja yang Anda lakukan.

Memberi tahu pasangan mungkin bisa mempermudah perawatan Anda, tapi jangan sampai membuat pasangan begitu tertekan dan merusak hubungan pada akhirnya. Jadi, Anda perlu memerhatikan diri sendiri untuk menjaga kesehatan dan menghindari pemicu supaya gejala bisa berkurang.

4. Lihat reaksi pasangan

Semua orang pasti mengharapkan hasil terbaik dalam setiap usahanya, termasuk Anda. Namun, dalam hal ini sebaiknya Anda tidak mengharapkan reaksi tertentu karena bisa membuat Anda kecewa jika tidak sesuai harapan nantinya. Daripada berharap terlalu tinggi, lebih baik lihat reaksi pasangan saat itu dan baca situasi dengan kepekaan.

Yang terpenting adalah siapkan diri untuk menjelaskan dan membantu pasangan memahami Anda. Ingat, jangan menyalahkan diri jika pasangan Anda bereaksi dengan tidak wajar. Masih ada kesempatan untuk Anda berpikir lagi apakah hubungan tersebut layak dipertahankan.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Selain itu studi terbaru menunjukkan bahwa berpikir negatif (negative thinking) terus menerus bisa meningkatkan risiko demensia. Apa bisa dicegah?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Hidup Sehat, Fakta Unik 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit
fenomena bucin budak cinta

‘Bucin’ Alias Budak Cinta, Fenomena Ketika Cinta Menjadi Candu

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 24/06/2020 . Waktu baca 7 menit
PTSD pandemi COVID-19

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 4 menit
jual mahal berhasil

Tidak Selamanya Gagal, Ini Alasan Mengapa Jual Mahal Kadang Berhasil

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . Waktu baca 5 menit