5 Mitos Seks yang Beredar di Masyarakat, Padahal Tidak Selalu Benar!

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Banyak orang yang menganggap seks sebagai pengalaman yang menyenangkan dan memuaskan. Namun, masih banyak orang yang keliru karena ada beragam mitos tentang seks di luar sana yang masih simpang siur kebenarannya. Nah, ulasan berikut ini akan menjawabnya untuk Anda.

Berbagai mitos tentang seks yang tidak selalu benar

Mitos 1: Ukuran penis yang besar membuat seks lebih memuaskan

Sering mendengar mitos tentang seks yang satu ini? Ya, mungkin sebagian besar orang bisa berpikir demikian. Akan tetapi ternyata, momok mengenai ukuran penis lebih banyak dipikirkan oleh kaum pria dibandingkan kaum wanita.

Seorang dokter anak sekaligus penulis buku “Don’t Put That In There!”, Rachen C. Vreeman, M.D dan Aaron E. Carroll, M.D, menunjukkan bahwa survei yang dilakukan pada 50.000 pria dan wanita untuk mengetahui apakah faktor ukuran penis menjadi salah satu kepuasan mereka dalam berhubungan seks atau tidak.

Ternyata hasilnya sebanyak 85 persen wanita mengatakan bahwa mereka puas dengan ukuran penis pasangan mereka, sementara hanya 55 persen pria yang puas dengan ukuran penis mereka sendiri saat berhubungan intim dengan pasangan.

Sebagai gantinya, daripada Anda terlalu pusing dengan ukuran penis diri atau pasangan Anda, cobalah untuk lebih memaknai setiap sesi bercinta yang Anda berdua lakukan. Dengan begitu, Anda akan lebih menghargai apa yang Anda dan pasangan miliki.

Mitos 2: Belum bisa dikatakan “mencapai orgasme” kalau tidak melalui vagina

Memang, pada umumnya orgasme dikatakan berhasil ketika melalui penetrasi di vagina. Namun, menurut Departemen Kesehatan di Brown University bahwa ada banyak wanita yang sulit untuk mencapai orgasme yang maksimal melalui penetrasi.

Temuan ini diperkuat oleh Medical News Today yang mengatakan bahwa bukan berarti suatu pendapat bisa Anda telan mentah-mentah dan cocok pada semua orang, contohnya dalam hal mencapai orgasme.

Sebab sebuah penelitian menunjukkan presentase klimaks saat seks pada wanita, di mana 25 persen wanita mudah mencapai orgasme dengan penetrasi, sementara 75 persen sisanya lebih memilih untuk mendapatkan rangsangan pada klitorisnya.

Jadi jangan berpikir kalau Anda tidak bisa mencapai orgasme maksimal melalui penetrasi, atau berpikir Anda sulit untuk memuaskan pasangan karena tak kunjung mencapai klimaks.

Pasalnya, sebagian wanita mungkin akan lebih memilih diberikan rangsangan pada klitorisnya dibandingkan melakukan penetrasi pada vagina. Maka itu, ada baiknya jika Anda dan pasangan berdiskusi atau sekadar bertanya, bagian apa yang disukai saat bercinta atau bagaimana caranya untuk membuat masing-masing klimaks.

posisi seks untuk penis besar

Mitos 3: Wanita harus di beri rangsangan pada klitoris agar mencapai klimaks saat bercinta

Ada berbagai macam “aturan” seks pada masing-masing orang, baik pria maupun wanita. Banyak yang mengira jika wanita harus diberikan rangsangan pada klitoris dulu baru bisa mencapai klimaks.

Padahal, anggapan tersebut tak sepenuhnya benar. Dilansir dari laman Women’s Health, ada banyak cara agar wanita bisa mencapai orgasme. Misalnya dengan merangsang puting payudara, telinga, leher, hingga klitoris.

Menurut Vreeman dan Caroll, orgasme yang muncul dengan melakukan sentuhan-sentuhan pada area tubuh lainnya ini kemudian disebut dengan nama “zona orgasme”.

Mitos 4: Melakukan oral seks lebih aman dibandingkan seks pada vagina

Mungkin banyak pasangan akan memilih langkah seks yang satu ini guna menghindari terjadinya kehamilan. Padahal dengan melakukan oral seks, tetap tidak menutup kemungkinan terjadinya penularan penyakit infeksi menular seksual (IMS), misalnya penyakit herpes, gonore, dan klamidia bisa menular meski dilakukan dengan seks oral.

Untuk itu, agar Anda dan pasangan lebih aman dan nyaman saat bercinta, sebaiknya gunakan kondom saat seks oral demi mencegah penularan penyakit kelamin.

Mitos 5: Wanita yang sering melakukan hubungan seks, memiliki vagina yang lebih kendur

Faktanya, menurut Debby Herbenick, Ph.D seorang profesor di Indiana University sekaligus penulis buku The Coregasm Workout, bahwa vagina wanita bersifat fleksibel sehingga cenderung tidak akan terlalu berubah dalam ukuran maupun bentuknya meskipun telah berkali-kali melakukan hubungan seksual.

Mitos tentang seks ini diperkuat dengan studi yang membandingkan kelompok wanita yang sudah melahirkan dengan wanita yang belum melahirkan maupun berhubungan intim. Hasilnya menyatakan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan dalam perubahan ukuran vagina.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca