Awas, 3 Metode Kontrasepsi Ini Tidak Ampuh Mencegah Kehamilan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Ada banyak sekali jenis metode kontrasepsi yang bisa Anda pilih jika Anda dan pasangan belum ingin memiliki anak atau sudah tidak menginginkan anak lagi. Namun, dalam memilih metode kontrasepsi yang tepat, Anda harus benar-benar memahami seperti apa sifat-sifat dan keampuhannya. Jika tidak berhati-hati, kehamilan akan tetap terjadi meskipun Anda sudah melakukan berbagai cara untuk mencegahnya. Setiap metode memang memiliki tingat efektivitas yang berbeda-beda dalam mencegah kehamilan. Maka, Anda harus tahu apa saja metode kontrasepsi yang tidak efektif dan yang sebaiknya Anda hindari karena kurang manjur. Jangan sampai Anda dan pasangan salah pilih.

Apa yang dimaksud dengan metode kontrasepsi?

Sebelum mencari tahu cara mana yang paling tidak ampuh, Anda harus memahami dulu apa yang dimaksud dengan metode kontrasepsi. Pada dasarnya, metode kontrasepsi adalah usaha yang dilakukan untuk mencegah pembuahan sel telur oleh sperma yang bisa menyebabkan kehamilan.

Untuk mengukur apakah sebuah metode kontrasepsi termasuk efektif dalam mencegah kehamilan, biasanya digunakan perbandingan atau prevalensi kehamilan. Apabila dari 100 orang yang melakukan hubungan seks, kurang dari 20 wanita ditemukan hamil, maka metode tersebut dianggap efektif. Namun, jika dari 100 orang ada lebih dari 21 wanita  yang hamil, metode tersebut kurang atau tidak efektif dalam mencegah kehamilan.

Apakah tidak berhubungan seksual sama sekali termasuk metode kontrasepsi?

Tidak berhubungan seksual atau kerap disebut abstinensi adalah keadaan di mana seseorang menolak atau berpantang dari perilaku seksual. Para ahli masih mendebatkan apakah abstinensi berarti tidak melakukan penetrasi vagina atau berpantang sepenuhnya dari perilaku apa pun yang bersifat seksual. Yang pasti, abstinensi berarti seseorang tidak berhubungan seks dengan orang lain baik untuk periode waktu tertentu (menunggu sampai menikah atau menemukan pasangan yang tepat) maupun selama waktu yang tidak ditentukan (seumur hidup).

Secara harfiah, tidak berhubungan seks sama sekali memang bisa mencegah kehamilan. Namun, tujuan seseorang tidak berhubungan seksual tidak selamanya untuk mencegah kehamilan. Seseorang bisa saja menolak aktivitas seksual karena alasan agama atau prinsip hidup. Di samping itu, meskipun abstinensi merupakan salah satu metode kontrasepsi, metode ini tidak bisa dijadikan perbandingan untuk metode lainnya karena sifat abstinensi yang sudah pasti efektif.

Metode kontrasepsi yang tidak efektif

Sejauh ini metode kontrasepsi yang paling sering digunakan untuk menunda atau mencegah kehamilan adalah kondom laki-laki. Selain kondom, banyak juga wanita yang mengonsumsi pil KB dan memasang spiral (IUD). Namun, beberapa orang masih menggunakan metode-metode yang kurang ampuh sehingga kehamilan tetap terjadi. Perhatikan tiga metode kontrasepsi yang tidak efektif berikut yang telah diurutkan mulai dari yang cukup ampuh sampai yang paling tidak ampuh.

1. Ejakulasi di luar

Ejakulasi di luar juga dikenal sebagai metode senggama terputus. Cara ini mengharuskan pria untuk menarik penis keluar dari vagina sebelum berejakulasi sehingga air mani yang mengandung sperma tidak akan membuahi sel telur wanita. Banyak yang menggunakan metode ini sebagai kontrasepsi darurat ketika tidak merencakan hubungan seks dan tidak menyimpan persediaan kondom. Padahal, taktik ini kurang ampuh dalam mencegah kehamilan. Tak semua pria bisa dengan mudah menghentikan penetrasi dan menarik penis keluar sebelum terlambat. Akibatnya, penis akan berejakulasi di dalam atau di dekat vagina. Hal ini tentu berisiko mengakibatkan pembuahan. New York Times melansir bahwa dari 100 orang, sejumlah  22 wanita yang melakukan hubungan seks dengan metode senggama terputus akan tetap hamil. Artinya, peluang keberhasilan metode ini dalam mencegah kehamilan sebesar 78%.

2. Sistem kalender (pantang berkala)

Metode kontrasepsi sistem kalender bisa digunakan sebagai kebalikan dari perencanaan kehamilan. Wanita bisa menggunakannya untuk melacak siklus menstruasi dan masa suburnya sehingga selama masa subur berlangsung, wanita dan pasangannya akan berpantang dari hubungan seks sampai wanita tidak berovulasi. Metode ini memungkinkan pasangan untuk bercinta tanpa pengaman dengan kemungkinan kehamilan yang lebih kecil dari seks tanpa pengaman pada masa ovulasi.

Namun, metode ini kurang efektif sebagai pencegah kehamilan karena menghitung masa yang aman untuk berhubungan seks tanpa alat kontrasepsi bukan hal yang mudah. Jika salah perhitungan sedikit saja, kehamilan bisa terjadi. Menurut data yang diperoleh dari Office for Population Research di Princeton University, dari 100 orang yang berhubungan seks dengan metode kontrasepsi sistem kalender, 24 wanita akan hamil. Data ini menunjukkan bahwa kemungkinan sistem kalender berhasil mencegah kehamilan hanya berada pada angka 76%.

3. Spermisida

Dari semua metode kontrasepsi yang mungkin pernah Anda dengar atau coba, spermisida adalah yang paling tidak efektif untuk mencegah kehamilan. Spermisida sendiri mengandung zat kimia yang akan membunuh sel sperma supaya tidak bisa membuahi sel telur. Bentuknya bermacam-macam, mulai dari gel, krim, busa, hingga kapsul dan lembaran film yang larut dalam vagina. Penggunaannya juga bervariasi, tergantung pada jenis spermisida yang digunakan oleh Anda dan pasangan.

Sebagai alat kontrasepsi, tingkat keberhasilan spermisida sangat rendah, yaitu 74%. Ini berarti dari 100 pasangan yang bercinta dengan metode kontrasepsi spermisida, akan ada 28 wanita yang hamil. Spermisida memang tidak praktis untuk digunakan saat bercinta. Anda harus menunggu dulu selama beberapa saat sampai zat kimia tersebut benar-benar larut dalam vagina atau menempel pada penis dengan sempurna sebelum penetrasi dilakukan. Jika terlambat, sel sperma akan tetap hidup dan membuahi sel telur. Selain itu, jika seks berlangsung cukup lama dan penetrasi tak hanya terjadi satu kali, Anda harus mengulangi pemakaian spermisida karena efeknya sudah berkurang.

Ada juga risiko pemakaian spermisida yang tidak sempurna, terutama jika spermisida dimasukkan ke dalam vagina. Maka, sebaiknya Anda tidak menggunakan spermisida sebagai satu-satunya alat kontrasepsi. Anda bisa mengoleskannya pada kondom laki-laki atau wanita untuk perlindungan yang lebih baik.

BACA JUGA:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca