Mengapa Ada Orang yang Tidak Bisa Lepas dari Hubungan Abusive?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: | Oleh

Tanggal tayang September 1, 2019
Bagikan sekarang

Ketika mengenal seorang yang masih saja menjalin hubungan dengan orang yang melakukan kekerasan atau abusive, Anda mungkin bertanya-tanya mengapa ia tidak segera mengakhiri hubungannya. Nyatanya, melepaskan diri dari hubungan yang penuh kekerasan tidak semudah yang dibayangkan.

Mengapa mengakhiri hubungan abusive terasa sulit?

Ada banyak faktor yang mendasari seseorang untuk bertahan dalam hubungan penuh kekerasan. Faktor-faktor tersebut dapat memengaruhi korban secara langsung maupun orang-orang di sekitarnya.

Berikut adalah beberapa penyebab paling umum mengapa korban kekerasan dalam hubungan sulit meninggalkan pasangannya, antara lain:

1. Konflik pikiran dan emosi

karakteristik orang yang berduka cita

Trauma dengan adanya kekerasan dalam hubungan bisa membuat korban merasa bingung, ragu, serta menyalahkan dirinya sendiri. Korban percaya bahwa ialah yang memicu konflik. Caranya bertanggung jawab adalah dengan tidak mengakhiri hubungan yang abusive tersebut.

Ada pula korban yang tidak menyadari bahwa perlakuan pasangannya tergolong sebagai kekerasan. Ia bisa saja tidak mengetahui bahwa kata-kata kasar, perilaku mengintimidasi, atau hubungan seksual tanpa persetujuan juga merupakan bentuk kekerasan.

Dengan begitu, sulit baginya untuk memikirkan “mengakhiri hubungan” sebagai alternatif dari akhir hubungan ini.

2. Rasa takut korban

hubungan tidak bahagia merusak kesehatan

Salah satu alasan korban kekerasan dalam hubungan sulit meninggalkan pasangannya karena si pelaku sering kali memanfaatkan rasa takut korban untuk menjebaknya. Ia bahkan tidak ragu bertindak semakin kasar jika korban berusaha melepaskan diri atau mengadu kepada orang lain.

Tidak jarang, pelaku kerap mengancam akan menyakiti anak, orangtua, serta orang lain yang penting bagi korban. Akhirnya, korban tidak berani mengakhiri hubungan abusive ini. Pelaku pun merasa memiliki kontrol yang kuat terhadap pasangannya.

3. Tekanan sosial, agama, dan norma

Pelaku kekerasan dalam sebuah hubungan terkadang merupakan orang tenar atau memiliki reputasi baik di mata orang lain. Hal ini dapat membuat korban sulit untuk melapor, karena susahnya meyakinkan orang-orang di sekitarnya.

Faktor agama dan norma juga bisa membuat seseorang bertahan dalam hubungan yang penuh kekerasan. Korban mungkin dapat mengakhiri hubungan abusive melalui perceraian. Namun, bisa saja ia terbentur oleh agama dan norma yang kerap memberi stigma buruk terhadap perceraian sehingga korban mengurungkan niatnya.

4. Korban bergantung pada pelaku

takut kehilangan

Beberapa orang yang menjadi korban kekerasan dalam hubungan terpaksa bertahan karena mereka bergantung pada pelaku. Kasus yang paling sering terjadi adalah ketergantungan finansial. Korban memaksakan diri untuk bertahan karena ia tidak memiliki penghasilan untuk menghidupi diri.

Ada pula korban yang tidak mampu mengakhiri hubungan abusive karena tidak tahu harus pergi ke mana setelahnya. Rasa putus asa ini biasanya menjadi lebih besar jika korban tinggal bersama dengan pelaku.

5. Adanya anak

Anak sering menjadi pertimbangan bagi pasangan yang terlibat dalam hubungan yang penuh kekerasan untuk tetap bertahan dalam hubungan itu. Alasannya beragam, bisa korban merasa takut tidak bisa melindungi anaknya, ingin anaknya tetap memiliki orangtua yang lengkap, dan lain sebagainya.

Biasanya, jika sudah membicarakan soal anak, orangtua akan cenderung mendahulukan keselamatan anak dibandingkan kesejahteraannya sendiri. Inilah yang membuat banyak korban kekerasan dalam hubungan seperti KDRT memilih bertahan sekalipun sebenarnya sangat ingin mengakhiri hubungan abusive tersebut.

Orang yang tidak pernah mengalami hubungan abusive biasanya tidak benar-benar memahami secara nyata betapa besarnya efek hubungan ini terhadap kondisi psikologis korban. Oleh sebab itu, banyak orang menyangka bahwa meninggalkan hubungan abusive seharusnya mudah.

Kelima poin tersebut bisa menjadi alasan siapa pun, baik pria maupun wanita, untuk bertahan dalam hubungan yang abusive, sekalipun tidak semua korban yang bertahan memiliki alasan yang sama. 

Jika orang terdekat Anda menunjukkan tanda-tanda terjebak dalam hubungan abusive, bantulah mereka semampu Anda dan sebisa mungkin jangan menghakimi. Upaya paling sederhana sekalipun dapat membantu mereka mengakhiri hubungan abusive, bahkan menyelamatkan nyawa.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Hal yang Tidak Seharusnya Dilakukan Oleh Pasangan Anda

Hubungan yang sehat punya batasan-batasan tertentu yang tidak boleh dilanggar oleh kedua pasangan. Terlebih bila sampai melakukan kekerasan dalam pacaran.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Karinta Ariani Setiaputri
Hidup Sehat, Seks & Asmara Agustus 24, 2018

Apakah Orang yang Kasar dan Kejam Bisa Berubah Jadi Lebih Baik?

Anda mungkin percaya bahwa orang yang punya sifat keras, kasar, dan kejam tak akan bisa berubah. Apakah faktanya memang seperti itu? Cari tahu di sini.

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Widya Citra Andini
Hidup Sehat, Psikologi Maret 1, 2018

Masih Pacaran Sudah Melakukan Kekerasan, Apa Penyebabnya?

Kekerasan tidak hanya terjadi di jalanan atau dalam ranah rumah tangga, dalam pacaran pun bisa terjadi. Apa penyebab kekerasan dalam pacaran?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Novita Joseph
Hidup Sehat, Seks & Asmara Januari 6, 2018

4 Kiat Cerdas Menghindari Kekerasan Dalam Pacaran

Tindak kekerasan dalam pacaran bukan lagi barang baru di negeri ini. Namun bukan berarti kita harus mentolerirnya. Ini yang bisa dilakukan untuk mencegahnya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Hidup Sehat, Seks & Asmara Januari 5, 2018

Direkomendasikan untuk Anda

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Penyebab Meningkatnya Kasus KDRT Selama COVID-19 dan Cara Menanganinya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Nabila Azmi
Tanggal tayang April 15, 2020
Korban Pasangan Abusive Berisiko Mengulang Hubungan yang Sama, Ini Sebabnya

Korban Pasangan Abusive Berisiko Mengulang Hubungan yang Sama, Ini Sebabnya

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang Maret 15, 2020
Bertengkar Terus Selama Pacaran, Apakah Bisa Sampai Bikin Depresi?

Bertengkar Terus Selama Pacaran, Apakah Bisa Sampai Bikin Depresi?

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Diah Ayu
Tanggal tayang September 9, 2019
8 Tanda Anda Mengalami Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Asmara

8 Tanda Anda Mengalami Kekerasan Emosional Dalam Hubungan Asmara

Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
Ditulis oleh Adelia Marista Safitri
Tanggal tayang September 19, 2018