3 Masalah Seksual yang Sering Dihadapi Penyandang Disabilitas

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Tidak hanya hak kesehatan dan hak pendidikan saja, setiap orang juga berhak mendapatkan hak kesehatan reproduksi dan seksual yang baik serta aman. Ini artinya, para penyandang cacat pun berhak atas hak-hak tersebut. Namun sayangnya, banyak orang menganggap bahwa penyandang disabilitas tidak mengalami aktivitas seksual yang sama seperti orang normal. Akibatnya, para penyandang cacat sering kali dihantui oleh berbagai masalah seksual dalam hidupnya.

Masalah seksual yang sering mengintai penyandang cacat

Menurut WHO, ada beberapa masalah seksual dan kesehatan reproduksi yang dihadapi oleh penyandang cacat, yaitu:

1. Sering dipaksa melakukan hal yang tidak diinginkan

penyandang cacat

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengungkapkan bahwa orang yang punya keterbatasan fisik sering kali mendapatkan paksaan untuk melakukan hal-hal yang tidak mereka inginkan atau sadari. Misalnya saja, mereka tidak boleh berpacaran atau menikah dengan orang yang mereka sukai atau bahkan dipaksa menikah oleh keluarganya.

Padahal, semestinya pernikahan terjadi atas dasar suka sama suka alias kesepakatan kedua belah pihak. Karena dianggap merepotkan, mereka sering kali mendapatkan perlakuan yang tidak diinginkan. Misalnya dijadikan pembantu, korban pemerkosaan dalam perkawinan, dan pelecehan seksual lainnya.

2. Berisiko menjadi korban pelecehan seksual

pelecehan seksual

Masih menurut WHO, para penyandang cacat berisiko 3 kali lebih besar mengalami pelecehan seksual, dibandingkan orang normal. Namun sayangnya, kasus pelecehan seksual pada penyandang cacat sering kali dianggap sebagai masalah yang sepele. Bahkan lebih parahnya lagi, kejadian ini sering diabaikan dan dianggap aib oleh keluarganya sendiri.

Kondisi fisik yang tidak normal sering kali dimanfaatkan oleh para pelaku pelecehan seksual untuk melakukan hal-hal yang tidak senonoh terhadap korban. Hal ini pun dapat dilakukan oleh orang-orang terdekat, entah itu teman sekolah, tetangga, atau bahkan orang yang hidup serumah dengannya.

Dibalik keterbatasannya, para penyandang disabilitas jenis apa pun perlu mendapatkan perlindungan, khususnya dari keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Secara bertahap, berikan pemahaman mengenai cara merawat organ intimnya dengan benar, bagian tubuh mana yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, dan hal-hal penting lainnya seputar alat reproduksi.

Menurut Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Derah Istimewa Yogyakarta, hal ini dilakukan untuk mencegah berbagai tindak kekerasan dan pelecehan seksual pada penyandang disabilitas.

3. Kesulitan mengakses layanan kesehatan reproduksi

penyandang cacat

Dilansir dari laman resmi Universitas Gadjah Mada, hak-hak reproduksi penyandang cacat dinilai kurang diperhatikan. Sampai saat ini, mereka masih sering kesulitan mengakses materi-materi yang berkaitan dengan kesehatan reproduksi.

Salah satu penyebabnya adalah kurangnya kemampuan para petugas kesehatan dalam berkomunikasi dengan para penyandang cacat. Terlebih bagi mereka yang berkebutuhan khusus (tunagrahita) atau memiliki gangguan pendengaran (tunarungu) yang membutuhkan juru bahasa isyarat.

Kalaupun materi kesehatan reproduksinya ada, terkadang para penyandang cacat masih sulit memahaminya. Contohnya, tidak ada buku kesehatan reproduksi dalam versi huruf braille, juru bahasa isyarat yang kesulitan menjelaskan soal kesehatan reproduksi, layanan kesehatan reproduksi yang aksesnya sulit dijangkau oleh para penyandang cacat, dan sebagainya.

Akibatnya, timbullah diskriminasi hak-hak reproduksi yang seharusnya bisa didapatkan oleh mereka. Masalah seksual yang satu ini memang kompleks, sehingga dibutuhkan perhatian dari semua pihak untuk mengatasinya.

Jika Anda memiliki anak yang punya keterbatasan, sebaiknya berikan pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi sedini mungkin, setidaknya mulai usia 8-9 tahun. Misalnya soal kapan anak menstruasi pertama kali, ciri-ciri pubertas pada anak laki-laki, bagian tubuh yang boleh dan tidak boleh disentuh orang lain, dan sebagainya.

Sumber
Yang juga perlu Anda baca