Korban Pasangan Abusive Berisiko Mengulang Hubungan yang Sama, Ini Sebabnya

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Keluar dari hubungan abusive adalah hal yang sulit. Setelah berhasil keluar pun, korban pasangan abusive masih belum sepenuhnya terlepas dari risiko jerat hubungan serupa. Tanpa disadari, korban mungkin saja memasuki hubungan baru dengan pola kekerasan fisik, emosional, ataupun seksual yang bahkan lebih buruk dari sebelumnya.

Mengapa korban bisa kembali terjebak dalam hubungan abusive?

Sebagai pihak luar, memang mudah untuk meminta korban menghindari hubungan yang sama. Namun, faktor-faktor seperti pola asuh, seberapa lama kekerasan terjadi, dan kemampuan emosional turut memengaruhi korban dalam mengambil keputusan.

Secara umum, berikut adalah beberapa faktor yang membuat korban pasangan abusive rentan kembali dalam hubungan yang sama:

1. Kekerasan selama masa kanak-kanak

kasus kdrt ortu memicu risiko psikopat pada anak

Banyak korban hubungan abusive juga mengalami kekerasan semasa kecil. Kekerasan terus terjadi selama bertahun-tahun hingga membuat korban menjadi terbiasa. Korban pun tidak menyadari bahwa kekerasan dalam keluarganya adalah suatu hal yang keliru.

Manusia cenderung bertahan dengan pola yang sudah familiar dengannya. Pada kasus ini, korban merasa familiar dengan kekerasan yang terjadi di rumahnya semasa kecil. Akibatnya, korban tidak merasakan ada yang salah ketika pasangannya bertindak abusive.

Ketika korban hubungan abusive bertemu pasangan baru dengan sikap yang sama, ia tidak menyadari bahaya dari hubungannya yang baru. Akhirnya, korban terjebak dalam siklus hubungan abusive yang sama.

2. Korban tidak mendapatkan dukungan yang cukup

merasa kesepian

Korban hubungan abusive cenderung merasa tidak memiliki kendali atas hidupnya. Kondisi ini terjadi karena pasangan korban terus mengontrol dan membuatnya merasa bergantung. Oleh sebab itu, keluar dari hubungan yang abusive tidak pernah mudah.

Sulit bagi korban untuk bergerak seorang diri. Agar bisa pulih, ia membutuhkan dukungan dari teman, keluarga, dan kerabat, serta bantuan profesional dari psikolog. Akan tetapi, tidak semua korban kekerasan bisa mendapatkan bantuan yang memadai.

Melansir National Domestic Violence Hotline, pasangan abusive mengontrol korban dengan banyak cara. Dari memicu trauma, membuatnya tergantung secara finansial, hingga menurunkan kepercayaan dirinya. Tanpa dukungan yang cukup, korban rentan kembali dalam hubungan abusive yang sama.

3. Pasangan baru memberikan rasa nyaman yang lebih besar

pamer kemesraan

Hubungan abusive terdiri dari banyak fase naik dan turun. Saat fase turun, hubungan penuh akan pertengkaran. Sebaliknya, fase naik akan terasa membahagiakan. Fase ini juga membuat korban merasa dicintai sehingga ia mengabaikan kekerasan yang terjadi.

Siklus ini bisa terus terjadi hingga hubungan berikutnya. Pasangan yang baru mungkin memberikan rasa nyaman dan lebih sering menimbulkan fase bahagia dibandingkan pasangan sebelumnya. Padahal, ia sebenarnya juga bertindak abusive.

Tindakan abusive seringan apa pun tidak dapat dibenarkan. Sayangnya, korban tidak menyadari hal ini. Korban terus merasa yakin bahwa pasangan barunya tidak bertindak abusive dan lebih baik dibandingkan pasangannya dahulu. 

Setelah berhasil keluar dari hubungan abusive, korban masih berisiko terjebak dalam hubungan dengan pola yang sama. Dukungan orang-orang terdekat amat penting agar korban bisa pulih sepenuhnya.

Sebagai orang terdekat, Anda juga dapat membantu korban membangun hubungan yang kuat dengan terapisnya. Cara ini akan membantu korban menentukan batasan yang aman dalam hubungannya. Dengan begitu, ia memahami mana hubungan yang sehat dan mana yang tidak.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 15, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 13, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca