Ada Kaitan Antara Film Porno dan Kekerasan Terhadap Perempuan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan

Tahukah Anda bahwa 88,2% film porno menyajikan aksi kekerasan? Sebuah studi dalam jurnal yang berjudul Violence Against Women pada tahun 2010 menunjukkan bahwa 88,2% adegan seks dalam film porno mengandung kekerasan fisik, terutama pukulan, cekikan, dan tamparan. Sekitar 48,7% dari adegan tersebut juga mengandung agresi verbal, terutama nama-nama panggilan yang merendahkan perempuan. Terlebih lagi, tidak hanya pada film porno, ternyata kekerasan terhadap perempuan juga terjadi di kehidupan masyarakat dan banyak di antaranya dipicu oleh film porno.

Patriarki yang ditunjukkan film porno

Untuk memahami fungsi pornografi, kita harus terlebih dahulu paham mengenai konstruksi seksualitas laki-laki. Menurut Bell Hooks, anak-anak belajar lebih banyak mengenai seksualitas dari media massa dibandingkan dari sumber lain. Media tersebut biasanya menggambarkan mode patriarki, di mana laki-laki mendominasi perempuan ke dalam posisi tunduk atau patuh. Pada saat yang sama, masyarakat terus berpegang pada asumsi bahwa seks adalah hal yang harus dimiliki laki-laki dan bahwa laki-laki akan “menggila” jika mereka tidak dapat bertindak secara seksual. Inilah logika yang menciptakan budaya pemerkosaan.

Menurut data yang disajikan womenlobby.org, dari 88,2% film porno yang mengandung agresi fisik, 70% di antaranya menunjukkan kekerasan yang dilakukan oleh laki-laki, dan 94% tindakan kekerasan oleh laki-laki tersebut diarahkan kepada seorang perempuan. Hanya ada 9,9% film porno yang memperlihatkan perilaku seperti tertawa bahagia, mengelus sayang, atau melontarkan kata-kata yang manis, sedangkan 41,1% memperlihatkan adegan memukul dan menampar.

Seks yang digambarkan pada film porno umumnya berfokus pada kenikmatan seksual dan orgasme laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Seluruh adegan porno memiliki tema seksis dan rasis. Website film porno seringnya memiliki menu di mana pengguna dapat memilih perempuan berdasarkan etnis, tipe tubuh, dan usia. Ada juga pilihan seperti ‘amatir’, ‘antar-ras’, dan yang lebih populer yaitu kategori ‘remaja’.

Di belakang layar, aktris film porno sering mengalami kekerasan

Sebuah studi baru dari UCLA’s School of Public Health menunjukkan bahwa aktris pornografi menghadapi banyak cedera fisik, pelecehan seksual, dan infeksi menular seksual. Dipublikasikan di Centers of Disease Control’s 2014 STD Prevention Conference di Atlanta, Georgia, studi ini menemukan bahwa 10,3% dari artis porno, 75% di antaranya adalah perempuan yang terluka saat pengambilan film, dan hampir 14% melakukan adegan seks yang tidak dikehendaki oleh mereka.

Shelley Lubben, seorang mantan aktris porno dan juga seorang presiden dari Pink Cross Foundation, mengatakan bahwa hasil studi ini  memandang rendah kekerasan yang sebenarnya dialami oleh para pelaku film porno “Studi tersebut menunjukkan 10,3% wanita terluka secara fisik dalam satu set film, yang berarti mereka terjatuh, menginjak kaca, atau implan payudara terobek dan diharuskan pergi ke rumah sakit,” ujarnya kepada LifeSiteNews.

“Hal tersebut bagaimanapun juga tidak mencakup kekerasan fisik yang lazim terdapat pada film porno. Kekerasan fisik itu berupa perempuan yang dicekik, ditendang, dipukul, ditampar, disumbat mulutnya dengan penis, dan secara fisik dikekang, sementara ia diperkosa oleh satu atau bahkan beberapa pemain laki-laki, sementara studi ini tidak berbicara apapun mengenai hal tersebut. Jika hal-hal itu dikaitkan, maka jumlahnya akan jauh lebih tinggi hingga mencapai 90%.”

Ia juga mengatakan bahwa hasil penelitian ini patut dipertanyakan, karena “Perempuan di film porno sering berbohong atau tidak menyadari apa yang telah mereka jalani”.

Bagaimana film porno membuat kekerasan jadi ‘seksi’

Tidaklah heran jika kekerasan dalam film porno dapat memicu penontonnya untuk melakukan hal yang sama. Jika Anda masih bertanya-tanya bagaimana caranya menonton film porno benar-benar dapat mengubah cara pikir dan kelakuan seseorang, maka jawabannya kembali ke bagaimana film porno mengubah otak. Fightthenewdrug.org menjelaskan bahwa otak kita memiliki neuron cermin atau sel otak yang membuat kita terpengaruh oleh apa yang kita lihat. Ini sebabnya mengapa film dapat membuat kita menangis, ketakutan, atau mengapa kita dapat terlibat secara emosional saat menonton pertandingan sepak bola di TV.

Ketika seseorang menonton film porno, otak mereka sibuk terhubung dengan rangsangan seksual yang terjadi pada layar (seperti benar-benar melakukan apa yang mereka tonton). Jadi, jika mereka sedang menonton seorang perempuan ditendang dan dipanggil dengan nama-nama kasar sementara sedang merasa terangsang, maka kekerasan tersebut diasosiasikan oleh mereka sebagai sesuatu yang seksi. Bahkan ketika film porno tidak menunjukkan kekerasan, penonton belajar untuk melihat perempuan tidak lebih sebagai benda yang dibuat untuk kesenangan seksual.

Lebih buruknya lagi, ketika film porno menunjukkan korban kekerasan pasrah atau menikmati saat disakiti, orang yang menontonnya akan menangkap bahwa perempuan ingin dan senang diperlakukan seperti itu, sehingga mereka sendiri seakan-akan “diberi izin” untuk bertindak seperti itu.

Emily F. Rothman, ScD., pada jurnalnya dalam bu.edu (BU School of Public Health), menyatakan bahwa beberapa orang memaksa pasangannya untuk melakukan hal-hal yang mereka lihat di film porno. 11% pasien perempuan di pusat-pusat kesehatan masyarakat perkotaan menyatakan bahwa mereka dipaksa atau diancam untuk berpartisipasi dalam hubungan seksual yang para pelaku lihat di pornografi. Hasil dari dua penelitian kualitatif juga menunjukkan bahwa perempuan kadang ditekan untuk meniru tindakan seks yang pertama dilihat oleh pasangan laki-laki meleka di film porno.

Penelitian pertama menemukan bahwa banyak perempuan yang dipaksa melakukan seks anal oleh pasangannya akibat seks anal yang ditampilkan di film porno. Penelitian kedua menemukan bahwa perempuan dan laki-laki remaja mencoba tindakan dan posisi seks yang pertama dilihat di film porno dengan pasangan mereka. Dalam satu kasus yang dijelaskan dalam literatur, seorang perempuan muda dilaporkan terkejut dengan rasa sakit yang luar biasa akibat seks anal sehingga ia membutuhkan ibuprofen. Ia tidak menyangka akan sesakit itu, karena apa yang ia lihat di film porno tampak para aktris menikmatinya.

BACA JUGA:

Share now :

Direview tanggal: Agustus 1, 2016 | Terakhir Diedit: Maret 18, 2020

Yang juga perlu Anda baca