Meski Kelihatan Normal, 5 Sikap Ini Bisa Jadi Tanda Kekerasan Emosional Dalam Hubungan

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Tak seperti kekerasan fisik, kekerasan emosional dalam hubungan biasanya tak mudah terlihat dan terdeteksi. Pasalnya, kekerasan emosional memang cukup samar dan sering kali tak disadari bahkan oleh sang korban. Namun, kekerasan emosional sangat menyiksa karena emosi menjadi senjata sang pelaku untuk mengendalikan korbannya.

Berbagai perilaku yang menjadi tanda kekerasan emosional

Agar tak menjadi salah satu korban kekerasan emosional dalam hubungan, yuk kenali perilaku-perilaku yang mengarah ke sana:

1. Ingin menggabungkan keuangan di awal hubungan

uang

Membuka rekening bersama pasangan memang bukan hal yang terlarang. Namun, biasanya hal ini dilakukan ketika Anda dan pasangan sudah memiliki tujuan pasti dalam hubungan, misal untuk menikah. Oleh karena itu, hal ini umumnya tidak dilakukan di awal hubungan melainkan setelah Anda dan pasangan sama-sama merasa cocok setelah beberapa bulan bersama.

Namun, jika pasangan meminta untuk menggabungkan keuangan di awal hubungan, Anda patut curiga. Pasalnya, menurut Lisa Ferentz, seorang pekerja sosial klinis berlisensi dan edukator spesialis trauma di Amerika Serikat, hal ini bisa menjadi trik pasangan untuk mengendalikan Anda agar tak mudah lepas darinya. Bahkan, hal ini kerap dilakukannya sebagai cara untuk memakai uang Anda dengan dalih “uang bersama”.

2. Selalu mengecek keberadaan pasangan

harus ldr

Normalnya, pasangan biasanya saling memberi tahu jadwal kegiatannya setiap hari agar sama-sama tahu. Namun, pasangan yang kasar secara emosional biasanya selalu mengecek keberadaan Anda meski Anda sudah memberi tahunya. Ia akan terus menanyakan Anda ada di mana, bersama siapa, dan sedang apa dengan kedok peduli.

Padahal, cara ini dilakukannya untuk mengawasi Anda. Bisa jadi hal ini dilakukan karena ia memiliki kecemburuan berlebihan atau merasa bahwa Anda adalah miliknya satu-satunya. Bahkan, ia tak segan untuk cek hp Anda setiap kali bertemu dan memeriksa semua pesan serta panggilan masuk serta keluar.

3. Meminta untuk selalu menghabiskan waktu bersama

cara mengendalikan emosi saat bertengkar dengan pasangan

Di awal-awal hubungan, menghabiskan waktu bersama menjadi hal yang normal dan sangat diinginkan. Meski kelihatannya normal, Anda harus bisa membedakan kapan hal ini menjadi terasa berlebihan. Biasanya, hal ini mulai menjurus ke arah negatif saat pasangan bahkan tidak membolehkan Anda untuk berkumpul bersama teman dan keluarga.

Hal ini akan dijadikannya sebagai senjata dengan mengatakan bahwa menghabiskan waktu bersama Anda menjadi hal paling membahagiakan untuknya. Eits, jangan langsung menganggap hal ini romantis.

Jika pada kenyataannya waktu Anda bersama orang-orang terdekat justru dibatasi bahkan dilarang hal ini malah menjurus ke arah kekerasan emosional. Pasalnya, tindakannya ini bisa jadi upaya ia untuk mengisolasi Anda dari orang-orang terdekat.

4. Sering memberikan kritikan

saat bertengkar dengan pasangan

Kritikan memang bagus, apalagi kritik yang membangun. Namun, pasangan yang kasar secara emosional biasanya memberikan kritikan dengan alasan supaya Anda jadi jauh lebih baik. Mereka biasanya akan membuat Anda memperbaiki hal yang sebenarnya tidak salah.

Mereka bersikap seolah mengingatkan dan membantu Anda tapi sebenarnya semua yang Anda lakukan sama sekali tak ada yang salah. Mereka membuat seolah-olah bahwa Anda melakukan hal yang keliru dan perlu diperbaiki.

Mereka melakukan hal ini hanya karena ingin membuat diri Anda malu dan krisis percaya diri. Dengan begitu, Anda akan semakin mudah dikendalikan olehnya.

5. Memberikan kebaikan secara berlebihan

kencan pertama

Tidak ada manusia yang tak suka hadiah dan pujian, apalagi jika hal ini diberikan oleh pasangannya. Pasangan yang cenderung kasar secara emosional biasanya akan memberikan kebaikan secara berlebihan di awal hubungan. Ia akan menghujani Anda dengan berbagai kebaikan yang tak pernah Anda sangka-sangka.

Carol A. Lambert, psikoterapis dan penulis buku Women with Controlling Partners, menyatakan bahwa kebaikan yang dilakukan pasangan secara berlebihan terkadang menjadi sebuah taktik manipulasi. Ia akan menjadi pasangan yang manipulatif dengan membuat Anda melayang oleh kebaikannya.

Namun, hal ini biasanya tak akan bertahan lama. Ketika ia merasa bahwa Anda sudah berada di bawah kendalinya, barulah serangan demi serangan akan diluncurkan. Biasanya Anda akan kerap disalahkan dalam berbagai situasi.

Ia akan membuat Anda seolah-olah kesalahan ada pada Anda karena ia sudah berlaku sangat baik pada Anda. Padahal faktanya, sedari awal ia memang melakukan kebaikan dengan tujuan untuk memanipulasi Anda nantinya.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca