Somatoparaphrenia, Sindrom Tak Mengakui Anggota Tubuh Sendiri

Ditinjau secara medis oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 23/10/2019
Bagikan sekarang

Somatoparaphrenia adalah jenis khayalan monothematic yang membuat seseorang menyangkal kepemilikan salah satu anggota tubuh, atau keseluruhan sebagian sisi tubuh (biasanya tubuh sebelah kiri), bahkan ketika mereka diberi bukti tak terbantahkan bahwa anggota badan yang melekat pada tubuh mereka merupakan anggota badannya sendiri. Penderita sindrom ini memilik suatu kebingungan yang rumit mengenai anggota tubuh yang sebenarnya atau bagaimana anggota badan orang lain dapat berada di tubuh mereka. Dalam beberapa kasus, delusi ini akan menjadi lebih parah dan penderita akan memperlakukan anggota tubuhnya seolah-olah makhluk yang terpisah.

Somatoparaphrenia berbeda dengan sindrom asomatognosia, meskipun keduanya mirip. Sindrom asomatognosia disebabkan oleh kelumpuhan atau kelalaian unilateral, seperti salah mengira tangan mereka sebagai tangan dokter. Namun, mereka dapat menggambarkan tubuh mereka sendiri. Seperti dalam jurnal yang dipublikasikan dalam Oxford University Press, para ahli neuropsikologi memberikan contoh perbedaan antara penderita somatoparaphrenia dan asomatognosia dengan memberikan sebuah pertanyaan, “Tangan siapa ini?”

  • Penderita asomatognosia menjawab, “Ini adalah tangan Anda, saya yakin. Tangan saya lebih besar ukurannya, sedangkan yang ini terlalu kecil.”
  • Penderita somatoparaphrenia menjawab, “Ini adalah tangan saudari saya, ya betul, itu tangan saudari saya. Tangan saya berada dalam perut, tapi karena saya terlalu gemuk, saya tidak bisa melihatnya.”

Ciri-ciri sindrom somatoparaphrenia

Lisa Genova, seorang neuroscientist, menjelaskan kehidupan orang-orang yang memiliki sindrom somatoparaphrenia di bukunya Left Neglected. Dalam bukunya, tokoh utama yang bernama Sarah Nickerson menderita cedera otak akibat kecelakaan mobil. Ketika ia terbangun, semua orang di sekelilingnya menyadari bahwa Lisa tidak dapat mengenali apapun yang berada di sebelah kirinya seperti, jam, lukisan, dan sebagainya. Saat ia mulai dapat merasakan sisi kiri tubuhnya, ia tetap harus fokus kepada fakta bahwa ia memiliki tubuh sisi kiri, untuk mengendalikan kaki kirinya berjalan. Namun, meskipun begitu, ketika ia pertama kali melihat lengan kirinya, ia selalu menyatakan bahwa lengan itu milik orang lain.

Kondisi yang dialami oleh tokoh Sarah di atas menggambarkan dengan jelas ciri-ciri orang yang terkena sindrom somatoparaphrenia.

Penyebab sindrom somatoparaphrenia

Mengenal Sindrom SomatoparaphreniaMengenal Sindrom Somatoparaphrenia

Mengenal Sindrom Somatoparaphrenia

Penyebab yang tepat dari kondisi ini masih bersifat spekulatif. Ada pendapat yang menyatakan bahwa kerusakan pada daerah otak posterior (temporo-parietal junction) dari korteks dapat memainkan peranan penting dalam pengembangan somatoparaphrenia. Namun, penelitian terbaru menunjukkan kerusakan mendalam pada daerah korteks seperti insula posterior dan pada struktur subkorteks seperti ganglia basal juga memungkinkan untuk memiliki peran penting dalam pengembangan somatoparaphrenia.

Dr. Antonio Carota MD, Neurologist, menyatakan bahwa mekanisme sindrom somatoparaphenia mirip dengan sindrom lainnya yang diakibatkan oleh adanya kerusakan otak bagian kanan (seperti asomatognosia, anosognosia, misoplegia, dsb.).

Akhirnya diyakini bahwa somatoparaphrenia disebabkan oleh kerusakan lobus parietal dari daerah cerebral, khususnya temporo-parietal junction yang biasa terlihat di sisi kanan otak.

Cara menangani sindrom somatoparaphrenia

Dewasa ini, pengobatan sindrom somatoparaphrenia telah mengalami kemajuan. Sindrom ini dapat disembuhkan sementara dengan simulasi vestibular kalori air dingin, yaitu proses yang melibatkan infus air dingin ke dalam liang telinga bagian luar pasien. Perawatan ini dapat membuat aktivasi lobus parietal kanan dan berbagai daerah otak lainnya.

Selain itu ada juga pengobatan dalam bentuk lain yang menghasilkan kesadaran kepemilikan tubuh, seperti terapi cermin. Terapi ini mengharuskan orang yang menyangkal kepemilikan anggota tubuhnya sendiri untuk melihat tubuhnya di cermin. Pasien kemudian akan melihat ke cermin dan menyatakan bahwa anggota tubuh yang terdapat di cermin merupakan anggota tubuhnya. Namun, terapi ini memiliki banyak sekali kekurangan, karena ketika cermin tersebut diambil, pasien akan kembali ke kondisi awal.

BACA JUGA:

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"

    Yang juga perlu Anda baca

    Manfaat Masak Sendiri bagi Kesehatan Fisik dan Mental

    Saat mengakhiri hari yang sibuk, makan di luar rasanya menjadi pilihan tercepat dan mudah, padahal masak makanan sendiri punya banyak manfaat lho.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu

    Teman Divonis Autoimun, Lakukan 5 Hal Ini untuk Menyemangatinya

    Mendengar teman divonis sakit autoimun, ini saatnya Anda memberi dukungan yang tepat agar ia tetap semangat dan tidak merasa sendiri.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
    Ditulis oleh: Maria Amanda

    KDRT dan Konflik Rumah Tangga Selama COVID-19 di Indonesia

    Kondisi pandemi bisa membuat hal-hal kecil menjadi pertengkaran antara suami istri, tapi konflik rumah tangga ini tidak serta-merta merupakan KDRT.

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Coronavirus, COVID-19 22/04/2020

    Tips Mengatasi Rasa Insecure yang Sering Muncul

    Rasa insecure bisa dirasakan oleh siapa saja, terkadang kebiasaan membanding-bandingkan diri dengan orang lain tidak bisa tertahankan.

    Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
    Ditulis oleh: Winona Katyusha

    Direkomendasikan untuk Anda

    diagnosis hiv

    Apa Bedanya Stres dan Depresi? Kenali Gejalanya

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 26/05/2020
    stres anak saat pandemi

    Bagaimana Cara Membantu Anak Atasi Stres Saat Pandemi COVID-19?

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 17/05/2020
    Manfaat detoks digital

    Apa Itu Detoks Digital dan Manfaatnya bagi Kesehatan

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 15/05/2020
    Kelulusan saat pandemi

    Fenomena Kelulusan Pelajar dan Mahasiswa yang Dilewatkan Akibat Pandemi

    Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 13/05/2020