4 Hal yang Sering Salah Dipahami dari Body Positivity

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr Patricia Lukas Goentoro

Kampanye body positivity telah sejak lama digaungkan dan semakin marak dari tahun ke tahun. Kendati bermanfaat untuk meningkatkan kepercayaan diri dan rasa cinta terhadap diri sendiri, kampanye body positivity ternyata masih tidak luput dari berbagai mitos yang dapat menimbulkan salah paham.

Body positivity bukan hanya tentang menerima tubuh dengan berat badan yang lebih atau mencintai kulit dengan warna yang gelap. Ada banyak makna yang terkandung dalam kampanye body positivity, tapi makna tersebut mungkin tidak akan tersampaikan dengan baik bila mitos-mitos yang menyebabkan salah paham masih beredar.

Lantas, apa saja kesalahpahaman tersebut?

Salah paham soal body positivity

Mitos 1: body positivity artinya mencintai tubuh sepanjang waktu

Body positivity memang mengajak setiap orang untuk lebih mencintai tubuhnya sendiri. Namun, tidak berarti Anda harus melakukannya setiap waktu. Sangat wajar bila Anda sesekali merasa tidak percaya diri atau menganggap diri jauh dari kata sempurna, sebab memang tidak ada satu pun orang yang memiliki tubuh tanpa cela.

Beberapa orang mungkin salah paham dan mengartikan body positivity sebagai cara untuk membuat diri tampak lebih cantik. Padahal, body positivity sendiri sebenarnya membahas keyakinan bahwa setiap tubuh, termasuk tubuh Anda, sangat berharga.

Begitu Anda mempunyai keyakinan tersebut, benak dan energi Anda tidak lagi tersita untuk memikirkan bentuk, berat, ataupun tinggi badan. Anda pun bisa fokus melakukan kegiatan lain yang lebih bermakna, misalnya menjalani hobi, belajar, dan sebagainya.

Mitos 2: body positivity adalah suatu pencapaian

olahraga untuk pemalas

Salah paham tentang body positivity juga bisa timbul bila kampanye ini selalu dikaitkan dengan pencapaian. Sebagai contoh, Anda ingin rutin berolahraga untuk menurunkan berat badan yang berlebih. Dengan begitu, Anda memperoleh bentuk tubuh yang Anda inginkan sehingga Anda bisa lebih menerima tubuh sendiri.

Hal ini sama sekali tidak salah, apalagi mengingat olahraga rutin amat bermanfaat bagi kesehatan. Meski demikian, Anda perlu kembali mengingatkan diri bahwa olahraga bukanlah satu-satunya jalan untuk menerima bentuk tubuh.

Jika tidak, olahraga yang tadinya bermakna untuk meraih body positivity dapat bergeser menjadi keinginan untuk sekadar menurunkan berat badan dan menjadi kurus. Apabila berat badan yang diinginkan tidak tercapai, Anda lebih rentan mengalami emosi negatif yang timbul karenanya.

Mitos 3: body positivity diperoleh dengan cara yang ‘glamor’

risiko dan manfaat spa

Anda dapat memperoleh body positivity dengan menerapkan self-care, yakni tindakan untuk memelihara kesehatan dan meningkatkan kebahagiaan. Menurut National Alliance on Mental Illness, ada banyak metode self-care yang bisa dilakukan, dari mengikuti pola makan sehat, memanjakan diri, hingga bepergian.

Walau demikian, self-care tidak harus selalu berbentuk mandi busa dalam bathtub, melakukan manikur dan pedikur, atau traveling dengan menghabiskan banyak uang. Ini juga merupakan salah paham tentang body positivity yang masih sering beredar.

Body positivity tidak selalu diperoleh dengan cara yang glamor. Bahkan, Anda mungkin tidak akan mendapatkannya dari metode self-care yang nyaman. Setiap orang akan melewati fase yang berbeda sebelum bisa betul-betul menerapkan body positivity.

Mitos 4: body positivity hanya tentang body image yang positif atau negatif

ruam kulit hiv

Hal lain yang kerap menimbulkan salah paham tentang body positivity adalah anggapan bahwa hanya ada dua macam body image, yakni body image positif dan negatif. Padahal, sudut pandang seseorang dalam menerima tubuhnya tidak bisa dipisahkan menjadi sesuatu yang hitam-putih.

Anda mungkin tidak menyukai warna kulit Anda yang gelap, tapi hal ini tidak membuat tubuh Anda menjadi buruk. Begitu pun ketika Anda mendambakan kaki jenjang yang dimiliki seorang model, kaki jenjang tersebut tidak membuat tubuh sang model menjadi sempurna.

Anda boleh saja menyukai tubuh tinggi Anda, tapi di sisi lain juga tidak terlalu menyukai bentuk bahu Anda yang lebar. Body positivity adalah kumpulan spektrum emosi, artinya setiap orang berhak merasakan emosi dalam bentuk dan tingkat yang berbeda-beda terkait tubuhnya.

Body positivity merupakan keyakinan yang dibangun seiring waktu. Anda tidak dapat memperoleh body positivity secara instan dan perlu menjalani proses panjang untuk meraihnya. Namun, Anda bisa mengawalinya dengan beberapa langkah kecil.

Mulailah dengan menanamkan pada diri bahwa setiap tubuh unik dan layak dihargai, begitu pun dengan tubuh Anda. Sambil melakukan ini, Anda juga dapat mengedukasi diri dengan pengetahuan tentang body positivity guna menghindari hal-hal yang dapat menimbulkan salah paham.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 9, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 12, 2020

Sumber
Yang juga perlu Anda baca