Jangan Cemas! Pengobatan Skizofrenia Bisa Dilakukan di Puskemas

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum

Kesehatan jiwa khususnya skizofrenia masih menjadi salah satu permasalahan kesehatan masyarakat yang terabaikan di Indonesia. Data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di Indonesia tahun 2013 menunjukkan bahwa kasus gangguan jiwa berat, seperti skizofrenia mencapai sekitar 400 ribu orang. Dari 400 ribu orang yang terkena gangguan mental ini baru sekitar 15 persennya yang melakukan pengobatan skizofrenia. Sisanya, kebanyakan pasien belum mendapatkan pengobatan atau justru menutup mata tentang penyakit ini.

Kabar baiknya, kini penderita gangguan jiwa termasuk skizofrenia dapat ditangani di pusat layanan kesehatan primer, seperti Puskesmas. Jadi, Anda tak perlu cemas untuk mencari pengobatan skizofrenia yang terjangkau.

Penyakit skizofrenia dapat diobati

Skizofrenia adalah penyakit jiwa berat dan kronis yang menyebabkan penderita memiliki gangguan dalam memproses pikirannya, sehingga timbulah halusinasi, delusi, pikiran yang tidak jelas, serta tingkah laku atau bicara yang tidak wajar.

Gejala-gejala tersebut menyebabkan orang yang memiliki skizofrenia mengalami kesulitan untuk berinteraksi dengan orang lain, bahkan cenderung menarik diri dari aktivitas sehari-hari dan dunia luar.

Di berbagai negara, termasuk Indonesia masih menganggap bahwa skizofrenia itu penyakit berbahaya, menular, dan terkutuk, sehingga perlu dijauhi. Padahal stigma tersebut keliru. Sama seperti penyakit kronis lainnya, skizofrenia adalah penyakit mental yang bisa disembuhkan dan pengidapnya bisa kembali beraktivitas normal jika mendapatkan pengobatan yang tepat.

Puskesmas jadi ujung tombak pengobatan skizofrenia

Salah satu upaya pemerintah Indonesia untuk mengatasi skizofrenia sekaligus menghapus stigma negatif tentang penyakit ini adalah dengan menyediakan layanan pengobatan di layanan tingkat primer, seperti Puskesmas. Layanan ini adalah bagian dari Program Indonesia Sehat dengan Pendekatan Keluarga (PSPK).

“Puskesmas secara dini bisa menemukan kasus-kasus ini (skizofrenia), sehingga masyarakat tidak takut lagi dengan stigma. Kalau stigma ini hilang, maka kita dapat mengembalikan lagi kepercayaan orang-orang dengan skizofrenia.” Ungkap dr. Asjikin Iman Hidayat Dachlan, MHA , Sekretaris Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan yang ditemui pada Southeast Asia (SEA) Mental Health Forum 2018 di Jakarta, Kamis (30/8) yang diadakan oleh PT Johnson & Johnson Indonesia.

Para tenaga kesehatan di Puskesmas  yang sudah mendapatkan kompentensi umumnya dapat membantu menangani kasus-kasus skizofrenia dan gangguan jiwa lainnya yang masih dalam skala rendah. Jika pasien memiliki gejala skizofrenia yang berat, maka Puskesmas dapat merujuk pasien ke pelayanan sekunder di Rumah Sakit Umum atau ke Rumah Sakit Jiwa.

Oleh sebab itu, jangan ragu untuk membawa pasien dengan skizofrenia melakukan pengobatan. Semakin penyakit skizofrenia diketahui lebih awal, maka pengobatan akan lebih murah, mudah, peluang untuk sembuhnya juga semakin besar. Tak hanya itu saja, pengobatan yang cepat dan tepat juga membantu menghilangkan stigma negatif tentang penyakit ini.

Pengobatan skizofrenia juga membutuhkan dukungan banyak pihak

Untuk kasus skizofrenia, obat adalah pilihan utama untuk mengontrol gejala. Itu sebabnya, orang dengan gangguan ini membutuhkan pengawasan yang intensif agar mereka minum obat dan melakukan terapi secara teratur. Hal ini tentu akan melibatkan banyak pihak.

Jadi bukan hanya dokter spesialis kesehatan jiwa/psikiater, perawat, pekerja sosial, dan pasien saja, namun keluarga dan masyarakat juga ikut berperan. Jika semua elemen tersebut saling bekerja sama, maka peluang pasien untuk bisa sembuh dari penyakit skizofrenia pun besar.

Hal serupa pun dikatakan oleh Dr. Eka Viora SpKJ, Ketua Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa Indonesia (PDSKJI) ditemui dalam acara yang sama. “Dukungan dari keluarga terutama lingkungan yang tidak memberikan stigma dan mendiskriminasi, maka pengobatan (skizofrenia) akan jauh lebih maju.” ungkap Dr. Eka.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca