Mengulik Peran Media Sosial dalam Membentuk Citra Tubuh (Body Image) Kita

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Damar Upahita - Dokter Umum

Media sosial digunakan oleh hampir segala usia, dari yang muda hingga tua. Maraknya penggunaan media sosial ini bisa memberikan pengaruh buruk untuk Anda. Apalagi jika Anda terlalu banyak menghabiskan waktu untuk mengecek media sosial.

Bagaimana media sosial mengubah hidup kita?

FOMO adalah

Media sosial memang digunakan untuk memudahkan Anda berkomunikasi, terlebih dengan orang yang jaraknya jauh dari Anda. Namun, penggunaan media sosial sering disalahgunakan. Banyak orang yang terlalu sibuk dengan dunia maya sampai melupakan dunia nyata.

Penelitian melaporkan bahwa semakin banyak waktu yang Anda habiskan untuk berinteraksi melalui media sosial, maka semakin sedikit waktu yang Anda gunakan untuk berkomunikasi di dunia nyata.

Hal ini bisa membuat Anda menarik diri dari dunia nyata dan akhirnya merasa kurang berinteraksi dengan orang-orang terdekat.

Selain itu, media sosial juga akan memengaruhi citra tubuh Anda. Lebih aktif di dunia maya akan membuat Anda lebih sering membanding-bandingkan diri Anda pada orang lain di dunia maya.

Pengaruh media sosial pada citra tubuh

media sosial

Citra tubuh adalah cara seseorang melihat atau menilai tubuhnya sendiri. Hal ini mengacu pada bagaimana Anda berpikir tentang tubuh atau fisik Anda. Misalnya Anda menilai badan Anda terlalu gemuk (padahal belum tentu) atau Anda merasa terlalu pendek (meskipun sebenarnya tinggi badan sudah ideal untuk rentang usia Anda). Citra tubuh yang Anda bentuk dipengaruhi oleh banyak hal, salah satunya adalah media massa dan media sosial.

Jennifer Mills, seorang lektor kepala di Fakultas Psikologi di York University di Toronto, Kanada, dan Jacqueline Hogue, seorang mahasiswa program doktoral klinis, melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengamati pengaruh media sosial dengan citra tubuh. Penelitian ini dilakukan dengan melibatkan para mahasiswi.

Para peneliti membagi 118 mahasiswi wanita berusia 18-27 tahun menjadi dua kelompok. Peserta kelompok pertama diminta untuk membuka Facebook dan Instagram selama 5 menit atau lebih. Mereka juga diminta untuk mencari satu teman seusia yang mereka anggap lebih menarik dari dirinya sendiri. Kemudian para peneliti meminta semua peserta untuk mengomentari foto teman-temannya.

Dalam kelompok kedua, para peserta juga diminta membuka Facebook dan Instagram selama minimal 5 menit. Bedanya, mereka diminta untuk mencari dan mengomentari foto anggota keluarga yang dianggap tidak lebih menarik dari mereka sendiri.

Sebelum dan setelah pembagian kelompok, para peserta diminta menjawab kuesioner yang berisi seberapa puas penilaian mereka terhadap penampilan dirinya. Penilaian ini menggunakan skala dari “tidak puas sama sekali” hingga “sangat puas”.

Hasilnya, kelompok pertama yang main media sosial dan melihat teman-teman yang menarik dapat memengaruhi citra tubuh menjadi negatif. Sementara melihat-lihat akun media sosial anggota keluarga tidak memiliki pengaruh apa-apa pada citra tubuh mereka.

Citra tubuh negatif bisa muncul sebagai pengaruh media sosial

citra tubuh

Media sosial bisa menghubungkan Anda dengan teman-teman yang menarik secara fisik, kemudian ini bisa menciptakan citra tubuh negatif. Citra tubuh bisa menjadi negatif (Anda merasa hidung terlalu pesek) jika Anda terus-terusan membandingkannya dengan orang lain. Jadi sebetulnya hidung Anda sudah cukup mancung, tapi di media sosial banyak yang hidungnya lebih mancung dari Anda. Akibatnya, muncul pemahaman yang keliru dalam benak Anda, seolah-olah hidung Anda pesek, padahal tidak.

Citra tubuh negatif ini muncul dari pengaruh media sosial yang tidak digunakan dengan baik. Wanita yang lebih sering menghabiskan waktu menghadap layar gadget, akan lebih sering juga membandingkan dirinya dengan teman-temannya di media sosial. Bila tidak dibina dengan baik, citra tubuh yang negatif ini dapat berdampak pada gangguan makan, diet ketat, atau olahraga mati-matian.

Maka, silakan saja bermain media sosial, tetapi batasi waktunya supaya tidak berlebihan. Saat mengakses media sosial, Anda juga harus bijak memilah-milah konten seperti apa yang akan Anda konsumsi, apakah sudah cukup sehat atau justru “beracun” bagi pikiran Anda.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca