Kenapa Ada Orang Melakukan Catfishing di Media Sosial?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Dipublikasikan tanggal: 27/02/2020 . 5 mins read
Bagikan sekarang

Anda pernah bertemu dengan pelaku catfishing atau penipuan berkedok cinta dengan identitas orang lain di media sosial? Kenapa mereka melakukan aksi tersebut? Artikel ini akan mengulas sejumlah alasannya.

Pelaku catfishing di media sosial

pengaruh media sosial

Catfishing merupakan sebuah istilah untuk menggambarkan seseorang yang menggunakan foto dan data orang lain untuk membuat identitas baru di media sosial. Istilah catfishing diambil dari nama sebuah film dokumenter keluaran tahun 2010 yang berisi tentang seseorang yang menjalani hubungan dengan pasangan beridentitas palsu.

Terkadang, pelaku catfishing di media sosial akan membentuk persona fiksi, tapi ada juga yang benar-benar menggunakan seluruh identitas dari individu lain. Intinya, orang-orang yang melakukan tindakan ini berpura-pura menjadi orang lain. Mereka juga bisa saja membuat akun-akun palsu lainnya untuk membangun persona agar lebih meyakinkan.

Akun media sosial yang dibuat bisa digunakan untuk berbagai tujuan. Seringnya, fenomena ini terjadi pada situs kencan daring sebagai cara untuk menjalin hubungan asmara. Namun tak hanya di kalangan remaja, catfishing juga menjadi masalah pada kalangan orang dewasa.

Selain merugikan orang-orang yang menjadi sasaran penipuan, dampaknya juga dirasakan oleh orang-orang yang identitasnya diambil. Apalagi jika orang di balik akun palsu itu menggunakan identitas baru untuk hal-hal yang negatif, perilaku ini akan menimbulkan reputasi yang buruk bagi pemilik asli identitas tersebut.

Lebih bahayanya, perilaku catfishing juga bisa dilakukan oleh paedofil atau predator lainnya yang berpura-pura menjadi remaja atau orang berstrata sosial tinggi untuk memikat hati targetnya. Mereka akan memancing target untuk membagikan informasi pribadi serta mengajak target bertemu. Pertemuan ini sangat berbahaya karena bisa berujung pada penyerangan atau penculikan. Pelaku catfishing di media sosial memang berbahaya.

Mengapa pelaku catfishing di media sosial beraksi?

Aplikasi kencan online

Ada beberapa orang yang melakukan catfishing untuk sekadar bersenang-senang, mencari perhatian, atau hanya karena bosan dengan rutinitas sehari-hari. Di sisi lain, lebih banyak orang-orang yang melakukan hal ini dengan dorongan berbagai motivasi dan tujuan yang ingin dicapai.

Dari sebuah survei yang pernah diadakan oleh Psych.org pada 27 orang yang pernah menjadi pelaku catfishing di media sosial, 41% dari mereka mengaku merasa kesepian dan membutuhkan teman mengobrol.

Sepertiga dari seluruh koresponden menyatakan ketidakpuasannya dengan penampilan fisik masing-masing. Masalah percaya diri yang rendah ini membuat mereka menganggap bahwa diri mereka tak cukup menarik atau rupawan. Oleh sebab itu, mereka menggunakan foto dari orang lain dan membuat identitas palsu sebagai satu-satunya jalan untuk mendapatkan pasangan.

Hal ini didukung oleh seorang responden yang juga mengatakan, ketika ia mencoba mengirim foto diri yang sebenarnya dan tanpa diedit, lawan bicaranya langsung berhenti merespon di kolom pesan dan menghilang.

Tak hanya soal fisik, beberapa orang merasa tak puas dengan hidupnya saat ini. Kegagalan dalam hidup inilah yang membuat mereka ingin melupakan kenyataan dan akhirnya membuat persona baru sebagai proyeksi atas hal-hal yang ingin mereka capai.

Ada pula pelaku catfisihing di media sosial untuk mengeksplorasi seksualitas atau identitas gender mereka. Salah satu responden perempuan mengakui ketertarikannya terhadap perempuan lain, sayangnya ia tidak memiliki pengalaman dalam mendekati perempuan sebelumnya. Ia pun memilih untuk membuat identitas baru di media sosial sebagai seorang laki-laki.

Balas dendam turut menjadi motivasi seseorang untuk melakukan catfishing. Mereka yang telah sakit hati membalas dendam dengan membuat akun media sosial menggunakan gambar dan informasi orang yang bersangkutan dengan tujuan untuk mempermalukannya.

Beberapa dari mereka ada yang menggunakan identitas palsu untuk memikat orang tersebut ke dalam hubungan asmara. Nantinya selama menjalin hubungan tersebut, mereka bisa membalaskan dendam dengan melukai sasarannya secara emosional.

Kenali tanda-tanda akun beridentitas palsu

catfishing

Pelaku catfishing di media sosial tidak hanya merusak kondisi emosional , tetapi juga bisa menghancurkan hidup korbannya secara material. Agar tidak terjebak dalam tipu muslihat orang-orang yang melakukan catfishing, berikut adalah beberapa tanda yang harus Anda perhatikan:

  • Mereka akan mengaku sebagai seseorang dengan jabatan tinggi atau profesi bergengsi lainnya seperti model atau selebriti. Patut dicurigai jika dia tiba-tiba menghubungi Anda tanpa alasan.
  • Tidak bersedia melakukan panggilan dengan video. Mereka juga tidak menggunakan aplikasi semacam Skype atau webcam. Meski awalnya menyanggupi, mereka biasanya akan membatalkan janji tersebut di menit terakhir.
  • Profil terlihat baru dan tidak terisi dengan lengkap. Penting bagi Anda untuk mengetahui kapan mereka membuat akun tersebut.
  • Tidak ada foto yang ditag dari akun orang lain.
  • Mereka akan terburu-buru menyatakan cinta walau Anda baru mengenalnya beberapa minggu yang lalu.
  • Perhatikan jawabannya ketika Anda bertanya tentang profesi atau hal-hal yang dia lakukan. Misalnya, jika dia mengaku menjalani sebuah profesi tapi ketika ditanya tidak menjawab dengan tepat, Anda mungkin harus mulai berhati-hati.

Jadi, waspadalah terhadap pelaku catfishing di media sosial.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Direkomendasikan untuk Anda

Fenomena catfishing

Cara Menghindari Catfishing, Penipuan di Dunia Maya Berkedok Cinta

Ditinjau oleh: dr Mikhael Yosia
Ditulis oleh: Fidhia Kemala
Dipublikasikan tanggal: 27/12/2019 . 4 mins read