Mengenali dan Melawan Stigma Mengenai Gangguan Jiwa

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017
Bagikan sekarang

Dalam satu tahun belakangan, dunia dikagetkan tentang beberapa kabar orang terkenal yang mengalami gangguan jiwa. Mulai selebriti Korea T.O.P, pemain bola Aaron Lennon, sampai yang terakhir vokalis Linkin Park, Chester Benington yang bahkan sampai ditemukan bunuh diri akibat kecurigaan depresi. Kejadian ini menyadarkan kita bahwa gangguan jiwa berada di sekitar kita dan masyarakat tidak menyadarinya.

Gangguan jiwa dapat menyerang siapa saja

Gangguan jiwa adalah sindrom atau pola perilaku yang secara klinis bermakna dan berkaitan dengan stres (distress) dalam fungsi kehidupan . Penyakit ini ternyata diderita oleh 43,8 juta orang di Amerika atau 1 dari 5 dewasa. Di Indonesia, ada 6% orang di indonesia dengan gejala depresi dan kecemasan serta 400.000 penderita skizofrenia.

Masyarakat Indonesia masih menganggap gangguan jiwa hanyalah penyakit yang diderita oleh orang di Rumah Sakit Jiwa. Padahal gangguan jiwa bisa menyerang siapa saja, tidak terkecuali diri kita dan orang-orang terdekat. Sayangnya, kesadaran dan pengetahuan mengenai keadaan ini masih rendah, terutama di Indonesia. Jadi, jangan heran bila banyak tidak menyadari bahwa mereka mengalami gejala dari gangguan jiwa.

Stigma bahwa orang dengan gangguan jiwa adalah orang gila

Masih ada stigma di masyarakat sehingga orang yang mengalami gejala ini enggan berobat karena tidak ingin dikatakan “gila”. Padahal gangguan jiwa dapat muncul dalam bentuk yang ringan dan mungkin hanya berupa kecemasan dan rasa sedih.

Bila gejala yang muncul sudah mengganggu fungsi Anda dalam bekerja dan bersosialisasi, misalnya, Anda sudah dapat dikatakan memiliki gangguan jiwa. Meskipun orang-orang mungkin hanya bilang bahwa Anda hanya “capek” atau “jenuh”. Anda mungkin tidak menyadari bahwa yang Anda alami jauh lebih serius dari itu.

Stigma ini juga berkaitan karena anggapan bahwa terdapat perbedaan antara penyakit fisik dan penyakit kejiwaan. Sehingga, orang enggan berobat karena merasa bahwa gangguan yang dialaminya tidak akan bisa sembuh dengan berobat. Padahal gangguan jiwa diketahui berkaitan erat dengan ketidakseimbangan neurotransmitter atau kimiawi otak. Misalnya saja orang dengan depresi diketahui memiliki serotonin yang rendah. Untuk itulah, pada kasus tertentu, dokter meresepkan obat untuk membantu kimiawi otak kembali seimbang. Ini biasanya diberikan bersamaan dengan terapi-terapi lainnya.

Stigma ini menyebabkan gejala gangguan jiwa tidak disadari dan ditangani yang kemudian akan semakin berat yang bahkan bisa berakhir ke bunuh diri. Karena itu, perlu dimulai adanya kesadaran mengenai gangguan jiwa agar kita semua bisa menangani dan mencegah sebelum menjadi berat

Apa saja gejala gangguan jiwa?

Gejala gangguan jiwa bisa sangat bervariasi dan muncul pada kegiatan sehari-hari. gejala ini biasanya muncul dengan adanya perubahan pada emosi, pikiran ataupun perilaku. Contoh gejala yang muncul seperti:

  • Merasa sedih
  • Kesulitan konsentrasi
  • Cemas atau takut yang berlebihan
  • Mengindar dari teman dan keluarga
  • Merasa selalu lelah atau kesulitan tidur
  • Kesulitan untuk menghadapi stres sehari-hari
  • Penggunaan alkohol atau obat-obatan berlebihan
  • Perubahan kebiasaan makan
  • Timbulnya marah dan kekerasan yang berlebihan
  • Timbulnya halusinasi
  • Rasa bersalah dan tidak berguna

Gejala yang harus diwaspadai adalah timbulnya pikiran untuk bunuh diri. Apabila hal ini muncul atau adanya orang terdekat yang menunjukkan ini, segera minta bantuan orang lain atau dokter psikiatri.

Jangan malu untuk mencari bantuan

Apabila hal ini terjadi pada diri kita, janganlah merasa malu ataupun berkecil diri. Gangguan jiwa merupakan hal yang bisa terjadi dan tidak berbeda dengan gangguan fisik. Bila gejala ini tidak kunjung hilang, jangan ragu untuk berbicara dengan orang-orang terdekat karena beban yang ditanggung bersama akan terasa lebih ringan. Janganlah takut meminta bantuan profesional, karena gangguan yang dialami bisa terkontrol dan membaik. Ini dibuktikan dengan banyaknya orang dengan gangguan jiwa yang bisa kembali beraktivitas secara optimal.

Bila orang terdekat mengalami gangguan jiwa

Apabila hal ini terjadi pada orang terdekat, anda bisa melakukan mental health first aid yang terdiri dari:

  1. Melakukan pendekatan, deteksi gejala berbahaya, dan membantu orang terdekat pada berbagai keadaan. Gejala berbahaya yang muncul seperti pikiran bunuh diri, ingin melukai diri sendiri atau orang lain, atau menghindar dari keluarga, teman atau aktivitas sosial.
  2. Mendengarkan cerita mereka tanpa menghakimi.
  3. Memberi dukungan dan informasi.
  4. Mendorong penderita untuk mendapat bantuan profesional,
  5. Membantu dalam hal lain seperti olahraga, terapi relaksasi, mengajak diskusi dalam support group, dan mengajak mereka dalam aktivitas sosial dengan teman ataupun keluarga.

Gangguan jiwa memang merupakan masalah yang serius yang belum dipahami oleh kebanyakan orang sehingga menimbulkan stigma. Karena itu, marilah kita bersama-sama menghadapi hal ini. Ini bisa dimulai dengan memberi info yang benar mengenai gangguan jiwa, sehingga masyarakat bisa mengenali dan menghilangkan stigma yang ada.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Artikel dari ahli dr. Rezky Ananda Rianto

Mengenali dan Melawan Stigma Mengenai Gangguan Jiwa

Akibat stigma dan anggapan yang salah tentang gangguan jiwa, banyak penderita yang tak meminta bantuan dan akhirnya memilih mengakhiri hidupnya.

Ditulis oleh: Lika Aprilia Samiadi
gangguan jiwa
READ MORE FROM dr. Rezky Ananda Rianto

Yang juga perlu Anda baca

Mengatasi Sakit Tangan Akibat Terlalu Sering Main HP

Jika Anda seharian tidak lepas dengan HP, wajar bila Anda kemudian merasakan sakit tangan dan jari. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi

Bagaimana Punya Harapan Membuat Lebih Sehat dan Bahagia?

Harapan tak hanya memberikan motivasi untuk bertahan di situasi yang sulit, tapi juga memberikan manfaat untuk kesehatan dan kebahagiaan Anda.

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Winona Katyusha

Kulit Kering Bikin Gatal? Begini Cara Mengatasinya

Kulit kering ternyata bisa menimbulkan rasa gatal dan iritasi. Begini cara mengatasi gatal karena kulit kering, serta mencegah kulit jadi semakin kering.

Ditinjau secara medis oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi

Delusi dan Halusinasi, Apa Bedanya?

Delusi dan halusinasi sama-sama membuat orang melihat dan merasakan hal-hal yang sebenarnya tidak nyata. Tapi, yang mana yang merupakan gangguan mental?

Ditulis oleh: Kemal Al Fajar

Direkomendasikan untuk Anda

fungsi air untuk ginjal

Fungsi Penting Air Putih untuk Menjaga Kesehatan Ginjal

Ditinjau secara medis oleh: dr. Tania Savitri - Dokter Umum
Ditulis oleh: Aprinda Puji
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
makan di luar rumah saat pandemi

Amankah Makan di Luar Rumah di Tengah Pandemi?

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
bayi 6 bulan susah bab

Ibu Harus Paham, Ini Penyebab Bayi 6 Bulan Susah BAB

Ditinjau secara medis oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Maria Amanda
Dipublikasikan tanggal: 02/06/2020
ayah ibu depresi postpartum

5 Peran Ayah dalam Membantu Ibu yang Mengalami Depresi Postpartum

Ditinjau secara medis oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Dipublikasikan tanggal: 01/06/2020