Penelitian Ini Berhasil Buktikan Bahwa Manusia Adalah Makhluk Sosial

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum

Anda pasti pernah mendengar istilah “manusia adalah makhluk sosial”. Teori ini memang sudah dikembangkan sejak dahulu kala. Namun, penelitian baru-baru ini menemukan bukti baru bahwa manusia memang sejatinya merupakan makhluk yang pandai bersosialisasi dengan sesamanya.

Setiap hari pun Anda pasti menerima banyak informasi dari orang-orang di sekitar Anda. Contohnya berita terkini dari media sosial, kabar dari keluarga, ketika bersosialisasi dengan tetangga, atau saat berkenalan dengan teman baru di kantor. Pada saat yang bersamaan, semua informasi yang Anda dapatkan akan langsung direkam, dicerna, dan disimpan di otak. Bahkan sosok dan sifat teman baru di kantor bisa terus terbayang-bayang di kepala saat Anda sedang istirahat atau tidur.

Otak lebih mudah memproses interaksi dengan manusia daripada benda mati

bromance persahabatan laki-laki

Dilansir dari Science Daily, sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan pada artikel Cerebral Cortex menemukan bahwa otak merekam semua peristiwa dan percakapan yang terjadi, bahkan saat Anda sedang beristirahat atau tidur. Proses ini terjadi pada dua bagian otak, yaitu korteks prefrontal medial dan persimpangan temporoparietal. Kedua area otak tersebut berperan penting untuk memproses informasi, meningkatkan daya ingat, menjalankan fungsi kognitif, serta menilai kepribadian orang lain.

Selama penelitian, sebanyak 19 peserta diminta untuk melakukan dua tugas, yaitu menerjemahkan kode sosial dan non-sosial. Kode sosial adalah nilai-nilai yang melekat pada manusia, sedangkan kode non-sosial lebih ditujukan untuk benda-benda mati.

Pada tugas yang pertama, peserta diperlihatkan foto orang dengan profesi tertentu, kemudian diminta untuk menyebutkan dua ciri yang menggambarkan orang tersebut. Contohnya saat diberikan foto seorang dokter, peserta menyebutkan nilai-nilai sosial yang biasanya melekat pada dokter, misalnya berpendidikan dan bersifat tulus. Selanjutnya, mereka diminta untuk menilai dengan skala 1 sampai 100 pada layar komputer.

Setelah beristirahat sejenak, peserta diberikan tugas yang kedua. Bedanya, foto yang ditunjukkan bukanlah foto manusia, melainkan suatu tempat atau lokasi tertentu. Misalnya pemandangan pantai, gunung, atau taman. Lalu peserta juga diminta untuk menyebutkan ciri-cirinya. Contohnya gunung erat kaitannya dengan kesejukan dan ketenangan.

Para ahli menemukan bahwa saat sedang istirahat, dua area otak yaitu korteks prefrontal medial dan persimpangan temporoparietal menjadi sangat aktif setelah peserta melihat foto orang, dibandingkan saat melihat foto benda-benda mati atau pemandangan tertentu.

Hal ini menandakan bahwa otak lebih mudah mencerna informasi yang diterima ketika Anda bersosialisasi – alias peristiwa yang berhubungan dengan manusia – ketimbang benda-benda mati. Ketika informasi mudah dicerna, Anda juga akan lebih mudah mengingat dan menganalisisnya. Itulah yang membuat manusia sangat pandai bersosialisasi dan berinteraksi dengan sesamanya.

Kenapa cara setiap orang untuk bersosialisasi itu beda-beda?

punya banyak teman

Otak manusia memiliki lebih dari 86 miliar saraf yang saling terhubung satu sama lain. Otak terdiri dari beberapa bagian dengan fungsinya masing-masing, salah satunya adalah korteks serebral.

Ketika Anda banyak bersosialisasi dengan orang lain, korteks serebral merekam dan mencerna semua proses Anda saat bersosialisasi. Setelah informasi tersebut dicerna, otak akan mengirimkan sinyal pada bagian tubuh tertentu untuk memberikan respon.

Jika suasana hati Anda sedang baik, maka bagian otak yaitu korteks serebral akan semakin terbuka dan membuat Anda bersikap ramah kepada orang lain. Sebaliknya, ketika Anda merasa tersinggung, maka korteks serebral akan lebih menutup sehingga Anda lebih mudah marah.

Meski demikian, tidak semua orang akan memberikan respon yang sama terhadap suatu peristiwa. Contohnya, Anda mungkin saja tertawa terbahak-bahak saat mendengar gurauan pelawak favorit Anda, sementara orang lain tidak tertawa sama sekali.

Menurut para ahli, hal ini disebabkan karena kondisi psikologis setiap orang berbeda-beda. Akibatnya, cara setiap orang bersosialisasi pun akan berbeda-beda pula. Ada yang murah senyum dan ramah ketika bersosialisasi, ada juga yang cenderung datar dan tidak banyak menunjukkan emosi. Bagaimanapun juga, semua hal yang ada di sekitar Anda sangat memengaruhi cara Anda bersosialisasi.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca