Sering Ditinggal Oleh Orang Tersayang, Begini Kondisi Mental Keluarga Militer

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 07/10/2019 . 5 mins read
Bagikan sekarang

Anggota militer dituntut untuk setia mengabdi kepada negara. Tandanya, mereka harus rela ditempatkan di mana saja, dipindah tugaskan sewaktu-waktu, hingga dipisahkan dari keluarga untuk waktu yang tidak bisa ditentukan. Jika tidak kuat dengan kondisi tersebut, kesehatan mental para anggota militer rentan terganggu. Lalu, bagaimana dengan kesehatan mental keluarga militer? Apakah mereka merasakan hal yang sama?

Memahami kondisi kesehatan mental keluarga militer

Menjadi anggota militer bukan pekerjaan mudah. Anggota militer dituntut untuk siap sedia setiap waktu, termasuk rela meninggalkan keluarga demi mengabdi kepada negara hingga dunia. Bahkan, anggota militer harus siap meninggal di medan perang. Jadi, tak heran jika kesehatan mental anggota dan keluarga anggota militer sering terganggu.

Dalam hal ini, baik anggota maupun keluarganya tak jarang mengalami gangguan kesehatan mental, seperti depresi. Fakta ini juga telah dibuktikan oleh sebuah penelitian yang dimuat dalam American Journal of Public Health yang menyatakan bahwa anggota militer lebih rentan mengalami depresi dibanding warga negara biasa.

Selain anggota militer, kesehatan mental keluarga militer juga harus diperhatikan. Pasalnya, sebagai suami atau istri serta anak dari anggota militer, mereka harus siap ditinggal sewaktu-waktu. Bahkan lama waktunya tidak bisa ditentukan.

Mereka juga,  mau tak mau, harus rela ikut berpindah-pindah tempat tinggal dari satu tempat ke tempat lain untuk mengikuti wilayah penugasan sang anggota militer. Tentu menanggung segala kemungkinan tersebut bukan hal yang mudah. Sehingga, jika dibiarkan berlarut-larut, mungkin saja menyebabkan depresi.

Gejala depresi pada anggota keluarga militer

Jika Anda adalah anggota keluarga militer atau Anda mengenal salah satu anggota keluarga militer, perhatikan gejala-gejala yang mungkin menjadi pertanda depresi.

  • Mudah marah
  • Kesulitan berkonsentrasi dan membuat keputusan
  • Tubuh mudah lelah dan tidak berenergi
  • Merasa sudah tidak memiliki jalan keluar dari masalah
  • Merasa tidak berharga, merasa bersalah, atau justru jadi membenci diri sendiri
  • Mengisolasi diri sendiri dari dunia luar
  • Tidak bersemangat melakukan berbagai aktivitas atau hobi yang sebelumnya terasa menyenangkan
  • Kurang tidur atau bahkan tidak tidur sama sekali
  • Nafsu makan berubah secara drastis
  • Kebiasaan yang menunjukkan ingin bunuh diri

Tetapi, bukan berarti semua orang yang berada di dalam satu keluarga dengan anggota militer pasti akan mengalaminya. Kesehatan mental anggota keluarga militer juga bisa dipertahankan agar tetap dalam kondisi baik, jika Anda tahu kuncinya.

Kesehatan mental pasangan, kunci dari kesehatan mental keluarga militer

Menjadi pasangan dari anggota militer tentu penuh tantangan, khususnya jika sudah menikah dan dikaruniai anak. Anda mungkin dituntut untuk menjadi orang tua tunggal saat pasangan pergi bertugas. 

Selain itu, Anda juga dituntut untuk siap dengan risiko seperti durasi pasangan Anda bertugas jauh dari rumah, permasalahan ekonomi keluarga, hingga mungkin Anda juga harus merelakan karir Anda demi pasangan. Faktor-faktor ini bisa saja menjadi alasan kesehatan mental Anda sebagai keluarga militer, terganggu. 

Tetapi, kondisi mental keluarga Anda cukup bergantung pada kesehatan mental Anda sebagai pasangan dari seorang anggota militer. Kesehatan mental Anda juga diharapkan siap dengan berbagai kebiasaan yang dijalani oleh keluarga militer, termasuk beradaptasi dengan kondisi yang mungkin tidak nyaman untuk Anda. Hal ini termasuk sering berpindah dari satu tempat ke tempat lain, tinggal di daerah terpencil, serta pengorbanan lainnya. 

Mengatasi depresi yang dihadapi keluarga militer

Kondisi kesehatan mental keluarga militer bisa dijaga agar tetap stabil dan kuat menghadapi berbagai perubahan yang terus-menerus terjadi. Simak beberapa cara yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental keluarga militer berikut.

1. Cari dukungan sosial dari orang sekitar

Menurut sebuah penelitian yang dimuat dalam Journal of Human Behavior and Social Environment, dukungan sosial merupakan faktor krusial yang dapat membantu menjaga kesehatan mental Anda sebagai keluarga militer. Dukungan tersebut bisa berasal dari keluarga, teman dekat, tetangga, komunitas, hingga dari diri Anda sendiri. Artinya, untuk menjaga kesehatan mental Anda sebagai anggota keluarga militer, Anda juga harus ikut mengusahakannya. 

Jika Anda mendapatkan dukungan sosial yang sesuai, kemungkinan Anda menjaga stabilitas mental anggota keluarga Anda lebih tinggi dibanding berjuang sendiri. Selain itu, Anda menjadi lebih mudah dalam menjaga emosi serta membuat suatu keputusan

Sebaliknya, jika kesehatan mental Anda sebagai tumpuan dari keluarga militer tergolong lemah, anggota keluarga Anda lainnya juga cenderung mengalami hal yang sama.

2. Jangan menarik diri dari lingkungan

Menarik diri dari lingkungan dan memilih untuk menyendiri bukan sebuah solusi. Justru, Anda akan semakin terpuruk dengan kondisi Anda. Untuk mengatasinya, Anda bisa terlibat dalam komunitas dan juga bergaul dengan banyak orang, contohnya bergaul dengan sesama pasangan dari anggota militer. Anda juga bisa memperdalam agama Anda sehingga bisa mendekatkan diri kepada Tuhan.

Selain itu, tidak ada salahnya membagi masalah Anda dengan orang lain. Bisa saja, sudut pandang orang lain memberikan pencerahan. Sehingga, Anda bisa lebih positif menghadapi kondisi yang sedang dijalani sebagai pasangan dari anggota militer.

3. Lebih bersabar menghadapi situasi

Perpisahan dengan si anggota militer mungkin menjadi pengalaman yang menyesakkan dada. Apalagi, jika Anda adalah pasangannya. Tetapi, mungkin tidak ada pilihan lain selain berusaha ikhlas dan sabar menerima keadaan. Pada awalnya tentu terasa berat menjalani proses tersebut tetapi Anda pasti akan semakin terbiasa dengan kondisi tersebut.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 mins read

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . 5 mins read

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 mins read

Crab Mentality, Sindrom Psikologis yang Menghambat Orang Lain untuk Sukses

Crab mentality adalah sindrom yang menginginkan orang lain tidak mencapai kesuksesan yang lebih besar dari diri sendiri. Ini penjelasannya.

Ditinjau oleh: dr Patricia Lukas Goentoro
Ditulis oleh: Nabila Azmi
Hidup Sehat, Psikologi 13/05/2020 . 6 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

PTSD pandemi COVID-19

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . 4 mins read
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 mins read
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 mins read
hipnoterapi

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 mins read