Menjadi korban pemerkosaan atau kekerasan seksual bukanlah hal yang diinginkan. Pemerkosaan adalah hal yang sadis, mematikan rasa kepercayaan diri, serta menyebabkan trauma psikologis dan fisik korban. Korban pemerkosaan mengalami stres, takut, cemas yang bercampur aduk. Oleh karena itu, jika Anda menjadi pendengar cerita korban, hati-hati dengan apa yang Anda sampaikan. Justru jangan membuat korban makin merasakan keterpurukan. Ini dia enam kalimat yang tidak boleh diucapkan pada korban.

1. “Kenapa baru cerita sekarang?”

Kalimat ini bisa membuat korban kecewa. Banyak korban trauma, sangat sulit membicarakan apa yang terjadi pada orang lain. Bisa karena takut tidak dipercaya, adanya perasan bersalah, rasa malu yang sangat besar, dan kekhawatiran bahwa pelaku akan melakukan pembalasan. Dengan beraninya korban menceritakan kepada Anda, artinya korban percaya pada Anda sekarang. Jangan berpikir jika korban tidak mempercayai Anda atau tidak memercayai Anda.

Daripada mengatakan kalimat ini, lebih baik tekankan kekuatan positif kepada mereka terhadap trauma yang mereka alami dan hargai keberanian serta kejujurannya. 

2. “Kenapa kamu tidak melawan?”

Mengatakan kalimat ini terhadap korban sangat tidak tepat dan menyakitkan.

Saat korban diserang oleh pelaku, korban berada pada keadaan terkejut. Mereka tidak percaya dengan apa yang terjadi. Korban pemerkosaan terkadang ada yang masih bisa melawan meskipun akhirnya juga kalah. Namun, ada juga yang tidak bisa bergerak sedikit pun seakan-akan tubuhnya bukan bagian dari dirinya lagi.

Setelah kejadian penyerangan ini, korban akan memiliki rasa penyesalan luar biasa terhadap dirinya sendiri. Kenapa saya tidak bisa melawan? Kenapa saya tidak bisa melawan lebih keras lagi? Penuh penyesalan dijatuhkan pada dirinya sendiri karena efek keterkejutan dan ketidakmamupan yang mereka lakukan.

Jangan pernah memberikan pertanyaan ke arah ini lagi pada korban karena mereka sudah cukup sakit menghadapi segala penyesalannya.

3. “Pokoknya sekarang kamu menurut saja!”

Saat korban menceritakan pada Anda, jangan langsung memutuskan bagaimana korban harus mengatasi apa yang terjadi. Setelah mengalami pelecehan seksual, korban mengalami trauma yang di luar kendalinya. Bantu korban untuk mengendalikan dirinya dulu.

Jika sudah lebih tenang, Anda boleh menanyakan apakah ada yang bisa Anda lakukan untuk membantunya, daripada mendikte korban harus melakukan apa. Anda bisa memberikan saran-saran bagi korban, tapi jangan dengan unsur pemaksaan.

4. “Kenapa kamu pergi ke sana? Kamu pakai baju seperti apa waktu itu?”

Mengajukan pertanyaan seperti ini hanya menambah stigma negatif dan rasa bersalah yang dialami oleh korban. Yang salah di ini adalah pelakunya, bukan apa yang dilakukan korban atau pakaiannya. Anda justru sebaiknya meyakini korban bahwa ini semua bukan salah korban, jangan malah menginterogasinya seperti seorang kriminal.

5. “Ini semua sudah jalannya.”

Kalimat seperti ini justru akan membuat korban merasa dia pantas menerima musibah besar seperti ini. Padahal, tentu saja tak seorang pun pantas diperlakukan secara tak manusiawi. 

Jika Anda mempercayai kalimat ini, tidak apa-apa dan tidak ada salahnya. Namun simpan dahulu untuk diri Anda sendiri, bukan saat korban bercerita lalu Anda mengatakan hal tersebut. 

6. “Orang lain mengalami kasus yang lebih parah.”

Memberikan pernyataan ini tidak manusiawi terhadap korban pemerkosaan dan seakan-akan meremehkan rasa sakit mereka. Jangan pernah membandingkan apa yang terjadi pada hidup korban dengan apa yang terjadi di kasus-kasus lainnya. Apalagi ketika korban mendengar adanya kasus serupa ini justru memicu ketakutan dan kecemasannya menjadi semakin meningkat. Berhati-hatilah untuk tidak mengungkit tentang kasus pemerkosaan lainnya kepada korban.

Baca Juga:

Sumber
Yang juga perlu Anda baca