Fitur ‘Like’ Pada Media Sosial Berpengaruh Pada Psikologi Remaja

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . Waktu baca 5 menit
Bagikan sekarang

Tahukah Anda bahwa sirkuit otak yang merespons jika Anda mendapat “likes” alias jempol di foto dan status yang Anda unggah di sosial media, adalah sirkuit otak yang sama dengan yang aktif saat Anda makan makanan favorit atau menang lotere?

Penelitian tentang keadaan otak remaja saat membuka media sosial

Para ilmuwan dari UCLA, Amerika Serikat, mencoba mengobservasi bagian-bagian otak yang aktif saat menerima suatu rewards. Sebanyak 32 anak remaja berumur 13-18 tahun diminta untuk berpartisipasi dalam sebuah jaringan sosial yang mirip dengan media sosial yang sedang populer saat ini, seperti Instagram. Experimen yang dilakukan di UCLA’s Ahmanson-Lovelace Brain Mapping Center ini memberikan 148 gambar di layar komputer kepada anak-anak remaja tersebut, termasuk 40 gambar yang dikumpulkan oleh setiap anak-anak remaja ini. Di saat yang bersamaan, para ilmuwan menganalisis aktivitas pada otak mereka menggunakan alat yang dinamakan functional magnetic resonance imaging (fMRI).

Setiap gambar yang terpampang di layar komputer juga disertai dengan jumlah “likes” yang mereka kira diberikan oleh peserta remaja yang lain. Akan tetapi sebenarnya, jumlah “likes” tersebut sudah ditentukan oleh para ilmuwan (setelah prosedur selesai, para remaja baru diberi tahu bahwa sebenarnya para ilmuwan sudah menentukan jumlah likes yang ada di gambar tersebut).

Hasilnya, ketika remaja-remaja ini melihat gambar yang mereka unggah mendapat banyak “likes”, para ilmuwan melihat berbagai aktivitas terjadi di berbagai bagian otak mereka. Satu bagian yang paling aktif adalah bagian otak yang termasuk dalam bagian striatum, namanya nucleus accumbens. Nucleus accumbens adalah bagian otak yang termasuk dalam sirkuit otak yang bernama brain’s reward circuitry. Sirkuit ini memang dipelajari akan lebih sensitif pada orang dewasa. Selain itu, para ilmuwan juga menganalisis aktivitas pada bagian otak yang bernama social brain dan bagian otak yang berhubungan dengan perhatian visual.

Semakin banyak likes yang sudah ada, semakin banyak pula yang akan ikut nge-like

Saat remaja akan memutuskan apakah mereka akan memberikan jempol pada suatu gambar, mereka sangat dipengaruhi dari jumlah likes yang terdapat pada gambar tersebut. Bagaimana para ilmuwan bisa mengetahui hal ini? Para ilmuwan mencoba memberikan gambar yang sama persis kepada dua grup remaja, grup remaja yang pertama melihat gambar tersebut dengan banyak likes menyertai gambar tersebut, sedangkan grup yang satu lagi melihat gambar yang sama, tapi jumlah likes di gambar tersebut lebih sedikit. Hasilnya, para remaja akan lebih tertarik untuk memberi likes jika pada gambar tersebut sudah memiliki banyak likes.

Dalam kehidupan nyata, pengaruh dari teman-teman para remaja lebih kuat dalam memberi likes pada gambar yang diunggah. Dalam penelitian ini, semua remaja tidak mengenal satu dengan yang lain. Meskipun demikian, tetap ada aktivitas pada otak dan memberi likes pada gambar dari orang yang tidak mereka kenal. Apalagi, kalau dalam kehidupan nyata, mereka mendapat likes dari orang-orang yang dekat dengan mereka.

Apakah orangtua perlu khawatir dengan media sosial?

Yang namanya fasilitas dunia maya, termasuk media sosial, pasti selalu ada keuntungan dan kerugiannya. Perlu diingat bahwa saat remaja adalah saat-saat di mana para remaja mencoba mencari identitas mereka. Para remaja sangat dipengaruhi dengan opini orang lain terhadap mereka. Banyak remaja yang berteman di media sosial dengan orang yang sama sekali tidak mereka kenal di dunia nyata. Hal ini memang perlu dikhawatirkan oleh orangtua, sebab hal ini membuka kesempatan pada remaja untuk mudah terpengaruh dengan orang-orang yang membuat anak Anda mudah mengambil keputusan yang berisiko.

Sisi baiknya, kalau teman-teman anak remaja Anda mengunggah sesuatu yang positif, maka akan luar biasa bila anak remaja Anda juga melihat sesuatu yang positif lalu terpengaruh dengan hal tersebut. Oleh karena itu, sangat penting bagi para orangtua untuk terus memantau dengan siapa saja anak remaja Anda berinteraksi di dunia maya, termasuk dengan status, gambar, atau video yang sering mereka lihat atau beri likes.

Apakah efek peer pressure juga berlaku di dunia maya?

Dalam dunia remaja, peer pressure memang merupakan salah satu efek yang selalu muncul. Ternyata, efek peer pressure ini lebih hebat lagi efeknya di dunia maya. Para ilmuwan mencoba memberikan gambar-gambar kepada remaja yang bersifat netral (seperti gambar bersama teman-teman atau makanan). Selain itu, para ilmuwan juga memberi gambar yang “berisiko”, seperti rokok, alkohol, dan remaja dengan busana yang provokatif.

Hasilnya, bukan jenis gambarlah yang mempengaruhi si remaja akan memberi likes atau tidak, tetapi jumlah likes pada gambar tersebut yang mempengaruhi remaja untuk memberi likes. Ilmuwan menamakan hal ini “efek konfirmasi”, yang artinya para remaja merasa “diterima” oleh kalangan mereka bila ikut memberi jempol pada gambar yang memang sudah banyak di likes, tidak peduli jenis apa itu gambarnya.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 mins read

Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 mins read

Khasiat Minyak Esensial untuk Meredakan Stres

Pertolongan pertama saat stres: gunakan minyak esensial untuk meredakan stres. Apa saja jenis minyak esensial dan bagaimana cara menggunakannya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Tips Sehat 05/06/2020 . 6 mins read

Mengatasi Sakit Tangan Akibat Terlalu Sering Main HP

Jika Anda seharian tidak lepas dengan HP, wajar bila Anda kemudian merasakan sakit tangan dan jari. Bagaimana cara mengatasinya?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Rizki Pratiwi
Hidup Sehat, Tips Sehat 01/06/2020 . 5 mins read

Direkomendasikan untuk Anda

Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 mins read
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 mins read
sumber stres dalam pernikahan

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 mins read
hipnoterapi

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 mins read