Mengelola Ekspektasi, Menerima Segala Perubahan yang Mungkin Terjadi

Oleh Informasi kesehatan ini sudah direview dan diedit oleh: dr. Carla Pramudita Susanto

Dalam menjalani kehidupan, perlahan-lahan ekspektasi tumbuh dari berbagai pengalaman. Di satu sisi kita yakin bahwa ekspektasi itu akan tercapai jika kita menerapkan beberapa upaya yang harus dilakukan. Namun, ekspektasi akan berbuah pada kekecewaan saat beragam cara ditempuh tetapi hasilnya tidak sesuai keinginan. Di sinilah pentingnya mengelola ekspektasi.

Pernah mengalaminya? Coba simak penjelasan berikut untuk mengelola ekspektasi.

Menyadari diri untuk mengelola ekspektasi

senyum tingkatkan kepercayaan diri

Setiap hari kita mengumpulkan sedikit demi sedikit dari hal-hal yang kita jumpai. Hal-hal yang kita temukan ini membentuk ekspektasi dalam pikiran, sehingga ada hasrat untuk mengejar atau mengharapkan ekspektasi tersebut menjadi kenyataan. Mengelola ekspektasi dari awal dapat membuat Anda siap dalam segala situasi, apapun hasilnya.

Ekspektasi ini bisa datang dalam konteks apapun, misalnya karir, percintaan, keinginan untuk berkunjung ke suatu tempat, membeli barang, dan lainnya. Setiap orang punya strategi untuk mencapai apa yang menjadi tujuannya.

Dalam satu momen, bisa saja keinginan itu ada di depan mata. Namun dipatahkan oleh kenyataan. Hasilnya? Timbul rasa kecewa, sedih, dan amarah.

Di sini, kita perlu sadar hal apapun bisa terjadi pada diri sendiri. Menyadari bahwa apa yang terjadi bisa saja menjawab keinginan, memberikan pelajaran, atau membawa kita dalam tujuan lain di luar yang kita pikirkan.

berpikir logis

Melansir laman Psychology Today, cara yang bijaksana dalam menghadapi ekspektasi adalah dengan berekespektasi rendah. Menahan diri untuk berekspektasi tinggi dan tetap sadar akan kondisi diri. Ini pikiran yang perlu ditanamkan saat Anda mengelola ekspektasi.

Logikanya seperti ini, jika kita tidak berharap menjadi sukses atau bahagia, kita tidak akan mendapat kekecewaan. Ingatlah, bahwa segala proses yang terjadi dan bagaimana kita menerima kembali diri sendiri. Di sinilah pentingnya mindfulness atau kesadaran diri.

Mindfulness ibarat sebuah cermin yang memantulkan seperti apa diri kita. Bagaimana kita menyadari kemampuan, kelebihan, dan kekurangan. Setiap orang memiliki kesadaran yang tinggi untuk merasakan hal-hal di sekitarnya. Apakah lingkungan mendukung, apakah kemampuan diri, dan dengan langkah seperti apa mencapai ekspektasi.

Saat menjalani prosesnya ada beragam emosi negatif dan positif yang datang. Di sini Anda perlu bersabar dan berhati-hati dalam untuk menanggapi emosi negatif yang bisa datang dalam diri sendiri maupun lingkungan.

Melatih mindfulness saat mengelola ekspektasi 

cara mengatasi kesepian

Siapa yang tidak ingin ekspektasinya tercapai? Dalam prosesnya, tentu perlu mengelola ekspektasi dan terbuka atas kemungkinan akhir yang terjadi. Terkadang perasaan ambisius itu memberikan emosi negatif saat keinginan tidak tercapai. Misalnya, Anda jadi marah dan kecewa, menyalahkan beragam pihak karena tidak mencapai tujuan.

Serangan emosi yang paling besar ada di dalam diri sendiri. Bagaimana cara kita menghadapi diri sendiri adalah dengan mindfulness. Anda bisa mencoba melatih diri dengan mindfulness.

Mulai berkomunikasi dengan diri sendiri, apakah yang Anda harapkan masuk di akal. Monolog yang terjadi bisa memotivasi dan meningkatkan kepercayaan diri. Ini langkah awal mengelola ekspektasi. Pikirkan apakah Anda siap melewati prosesnya hingga akhir. Pikirkan secara detail risikonya.

Bila perlu, komunikasikan secara jelas dengan semua pihak. Pendapat dan pengalaman orang lain bisa mengajarkan Anda untuk mencapai tujuan. Meskipun akan ada rintangan yang dihadapi dalam mencapai prosesnya.

Menerapkan mindfulness dalam diri, menerima atas masukan dari lingkungan sekitar dapat membuka jalan menuju tujuan Anda.

Menghadapi ekspektasi yang tidak sampai

diabetes pada remaja

Tidak mengelola ekspektasi dari awal bisa menjadi masalah untuk diri sendiri. Apalagi kalau ekspektasi tidak jalan dengan kenyataan, kekecewaan bisa merambati diri sendiri. Sebetulnya wajar jika Anda dilanda rasa kecewa, marah, atau sedih.

Namun, jangan biarkan emosi negatif menghentikan langkah Anda. Tetap ingat menerapkan konsep mindfulness. Menerima diri apa adanya dan menyadari emosi yang ada pada diri Anda. Tetap tenangkan diri sesuai dengan cara yang Anda yakini nyaman. Misalnya, bercerita kepada orang terdekat tentang masalah yang dialami atau bermeditasi.

Dari halangan atau masalah ini, Anda bisa belajar bagaimana mengelola ekspektasi dalam tahap selanjutnya. Jangan putus asa, tetap rendah hati dalam mengatur tujuan selanjutnya, serta selalu mengaplikasikan mindfulness.

Baca Juga:

Share now :

Direview tanggal: Maret 21, 2020 | Terakhir Diedit: Maret 21, 2020

Sumber