Haruskah Beri Tahu Pasangan Jika Saya Punya Gangguan Jiwa?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 19/02/2018 . Waktu baca 6 menit
Bagikan sekarang

Saat terkena pilek, demam, atau sakit kepala mungkin akan mudah bagi Anda untuk bilang, “Aku lagi sakit, nih!” Dari flu biasa sampai kanker, penyakit-penyakit ini tidak akan terdengar aneh karena umum dialami oleh banyak orang. Bahkan mungkin Anda akan banyak menerima ucapan dan doa agar cepat sembuh. Namun, bagaimana bila Anda berisiko atau malah sudah didiagnosis punya gangguan jiwa — misalnya saja depresi?

Haruskah beri tahu pasangan jika saya punya gangguan jiwa?

Gangguan jiwa bisa menyerang siapa saja, tidak terkecuali diri kita sendiri dan orang-orang terdekat. Menurut Riskedas tahun 2013 milik Kementerian Kesehatan, ada sekitar 14 juta orang Indonesia yang mengidap depresi dan gangguan kecemasan, dan kurang lebih 400 ribu orang pengidap skizofrenia.

Sulit memang untuk berbicara terus terang mengenai penyakit Anda dengan pasangan. Pasalnya, gangguan jiwa masih sering mendapat stigma negatif di masyarakat, bahkan hampir selalu disamaratakan dengan “orang gila”. Itu sebabnya banyak orang yang memiliki gangguan mental merasa ragu untuk berobat apalagi menceritakan kondisinya dengan orang-orang terdekat, termasuk pada pasangan mereka. Bahkan tidak sedikit pula yang benar-benar menyembunyikan penyakitnya dari siapapun.

Keraguan Anda untuk menceritakan kondisi Anda pada pasangan juga mungkin didasari oleh rasa takut tidak dipercaya atau takut tidak digubris. Memang, hampir kebanyakan penyakit dan gangguan mental tidak memiliki gejala fisik yang khas. Akan tetapi, tidak ada salahnya untuk memberi tahu pasangan jika Anda punya gangguan mental. Entah itu depresi, gangguan bipolar, skizofrenia, atau masalah kesehatan mental lainnya. Memberi tahu pasangan seputar kondisi yang Anda idap bukanlah untuk menakut-nakuti atau mempermalukan diri sendiri. 

menghibur pasangan sedang sedih

Kapan harus memberitahunya?

Tidak ada batas waktu yang tepat untuk memberi tahu pasangan tentang kondisi kesehatan Anda. Idealnya, Anda harus segera memberi tahu pasangan setelah Anda positif terdiagnosis punya gangguan jiwa. Namun bila usia hubungan masih seumur jagung, Anda tidak perlu cepat-cepat menceritakan riwayat kesehatan Anda. Andalah yang paling mengenal diri sendiri luar-dalam. Jika Anda butuh lebih banyak waktu sampai bisa merasa siap, pergunakanlah baik-baik untuk mempertimbangkannya.

Akan tetapi, memang lebih baik untuk mengungkapkan kondisi kesehatan Anda sejak awal ketimbang menyembunyikannya sampai terlanjur sangat parah. Semakin lama pasangan yang sehat hidup bersama dengan pasangan yang depresi, semakin tinggi risiko bagi dirinya untuk juga mengalami depresi. Terlebih, perkembangan gangguan jiwa bisa terjadi perlahan, hampir tak kentara. Gejalanya juga tampak berbeda pada pria dan wanita.

Ingat juga bahwa keterbukaan adalah landasan penting dari sebuah hubungan asmara yang sehat. Dengan bersikap saling jujur dan terbuka, Anda menunjukkan kepercayaan terhadap satu sama lain. Anda membutuhkan dukungan agar bisa sembuh total dan bangkit kembali menjalani aktivitas seperti orang-orang sehat lainnya. Hal ini didukung oleh Dr. Ayelet Krieger, seorang psikolog di Bay Area, yang menyatakan bahwa mengungkapkan gangguan mental di awal hubungan sangatlah penting. Itu artinya Anda memercayai pasangan Anda sepenuh hati.

Bagaimana cara beri tahu pasangan kalau saya punya gangguan jiwa?

Mulai untuk jujur mengenai masalah seberat ini memang tidak mudah. Ingatlah bahwa banyak orang dengan masalah yang sama memiliki hubungan yang kuat bersama pasangannya. Bisa jadi pasangan Anda juga akan melakukan hal yang sama setelah ia mengetahuinya, bahkan bisa saling berbagi kekuatan.

Nah, berikut adalah beberapa tips untuk Anda mulai memberi tahu pasangan bahwa Anda punya gangguan jiwa:

1. Pilih waktu yang tepat

Apapun jenis gangguan mental yang Anda alami, Anda tentu memiliki cara tersendiri untuk menemukan, memproses, dan mengekspresikan emosi Anda. Jadi, sesuaikan waktu yang tepat untuk membicarakannya dengan pasangan Anda. Hindari saat-saat gangguan mental Anda kambuh, baik itu cemas, depresi, psikosis, dan gejala kambuhan lainnya.

Jika Anda masih ragu dan bingung bagaimana mengungkapkannya, baiknya konsultasikan pada terapis atau ahli kejiwaan. Anda juga bisa berlatih bersamanya tentang cara terbaik untuk mengungkapkan masalah kesehatan yang dialami. Berlatih dapat membantu Anda menentukan hal-hal apa saja yang perlu diceritakan.

2. Hindari langsung to the point tentang masalah Anda

Topik ini bukanlah hal yang mudah untuk dibicarakan. Jadi, hindari langsung to the point menceritakan masalah yang Anda alami. Mulailah dengan membicarakan hal-hal yang ringan, misalnya seputar perkembangan hubungan Anda dan saling bicara dari hati ke hati.

Anda juga bisa mengemas pembicaraan dengan mengutarakan dua kabar baik sebelum ke inti pembicaraan. Contohnya, beri tahu pasangan bahwa Anda mencintainya dan ingin terus bersamanya. Hadirkan obrolan positif agar suasana hati membaik.

Setelah suasana mencair, baru arahkan pembicaraan ke inti permasalahan. Sampaikan bahwa Anda ingin berbagi hal-hal sulit kepadanya dan berharap bisa didengarkan dan dimengerti olehnya. Barulah Anda bisa memberitahukan bahwa Anda punya gangguan mental. Jelaskan secara perlahan sampai dia mengerti. Persiapkan segala informasi tentang gangguan jiwa yang Anda idap sebelum membicarakannya pada pasangan, termasuk gejala, pemicu kekambuhannya, hingga jenis pengobatannya. Kalau perlu, bawa contoh artikel terkait penjelasan mengenai jenis penyakit Anda.

Setelah itu, bangun lagi obrolan positif dengan menjelaskan perawatan apa yang sudah Anda jalani dan apa yang telah membuat Anda kuat menjalaninya.

3. Siap dengan segala kemungkinan

Anda mungkin belum siap dengan berbagai reaksi yang bisa terjadi setelah Anda jujur pada pasangan. Menurut Avi Steinhardt, seorang ahli klinis di Brooklyn New York, risiko bersikap jujur tentang gangguan mental serupa dengan risiko jatuh cinta. Dan pada dasarnya hanya ada dua kemungkinan.

Pertama, pasangan berempati dengan masalah yang Anda hadapi, bahkan bisa jadi ia malah mengajak Anda menemukan pengobatan terbaik. Ini artinya pasangan Anda mendukung apapun yang terjadi pada diri Anda dan siap berjuang bersama. Hal ini tentu menjadi kabar baik untuk Anda. 

Kedua, kemungkinan terburuknya adalah pasangan justru tidak menggubrisnya sama sekali dan malah ingin mengakhiri hubungan. Hal ini mungkin saja terjadi bila Anda terus mengulur-ulur waktu. Bukan karena ia menganggap enteng masalah kesehatanAnda, tapi mungkin lebih kepada marah dan kecewa karena merasa tidak dihargai.

Jadi, apapun konsekuensinya, tetap komunikasikan pada pasangan Anda sejak awal dan percayalah semua akan baik-baik saja.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Ternyata Ayah Juga Bisa Kena Depresi Pasca Melahirkan

Postpartum depression tak cuma menyerang wanita yang baru melahirkan. Depresi pasca melahirkan juga bisa dialami para ayah. Inilah tanda-tandanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Parenting, Tips Parenting 14/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

Pentingnya Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental untuk Pebisnis Startup

Ditinjau oleh: dr. Carla Pramudita Susanto
Ditulis oleh: Willyson Eveiro
Dipublikasikan tanggal: 07/07/2020 . Waktu baca 5 menit
PTSD pandemi COVID-19

Bagaimana Pandemi Membuat Seseorang Berisiko Mengalami PTSD?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 22/06/2020 . Waktu baca 4 menit
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit
psikoterapi

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit