Terlalu Banyak Akun Media Sosial Bisa Picu Depresi

Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 06/09/2017 . Waktu baca 4 menit
Bagikan sekarang

Coba cek, berapa banyak situs media sosial yang Anda miliki di ponsel Anda. Apakah Anda hanya aktif dan selalu aktif di Facebook — atau aktif di semua platform, mulai dari Facebook, Instagram, Snapchat, dan juga Twitter secara bersamaan? Psstt.. Jawaban Anda bisa mengungkapkan banyak tentang kesehatan mental Anda.

Rupanya, semakin banyak akun media sosial yang Anda miliki, semakin besar peluang Anda untuk mengalami depresi dan kecemasan. Waduh!

Kenapa media sosial bisa picu depresi dan kecemasan?

Tim peneliti asal University of Pittsburgh menemukan bahwa orang-orang yang terlibat aktif dalam tujuh dari sebelas situs media sosial paling populer — Facebook, YouTube, Twitter, Google Plus, Instagram, Snapchat, Reddit, Tumblr, Pinterest, Vine, dan LinkedIn — dikaitkan dengan tiga kali peningkatan risiko terhadap depresi dan kecemasan, dibandingkan mereka yang menggunakan hanya satu-dua media sosial atau tidak sama sekali, bahkan setelah penggunaan medsos telah disesuaikan dengan total waktu yang dihabiskan di masing-masing situs.

Para peneliti tidak menutup kemungkinan bahwa hubungan antara menggunakan banyak akun medsos dan gejala kecemasan dan depresi adalah hubungan sebab-akibat langsung. Di satu sisi, bisa jadi bahwa orang yang menderita depresi atau kecemasan, cenderung terlibat dalam lebih banyak pilihan situs media sosial. Menggunakan banyak platform sekaligus dapat menjadi cara untuk mencari tahu saluran mana yang paling terasa nyaman untuknya berekspresi dan juga membuat mereka merasa diterima oleh komunitas pengguna di dalamnya.

Namun keterkaitan ini juga bisa muncul pada orang-orang sehat yang jumpalitan berusaha keras mempertahankan eksistensinya di beberapa platform berbeda, dan kemudian tekanan ini memicu gejala depresi dan kecemasan. Misalnya, seorang selebgram dengan ribuan followers yang harus berurusan dengan celaan dan komentar negatif, tapi di saat yang bersamaan ia harus tetap menampilkan persona diri yang profesional di mata publik.

Multitasking dan blunder interaksi di media sosial bisa memupuk emosi negatif

Beralih antara platform medsos berbeda, alias multitasking, bisa berdampak pada kesehatan mental penggunanya. Penelitian sebelumnya yang dilakukan di Stanford University menemukan multitasking terbukti sebagai metode penyelesaian tugas yang kurang produktif daripada menyelesaikannya satu demi satu.

Selain itu, orang yang menerima beberapa aliran informasi elektronik, seperti notifikasi, cenderung tidak mampu memperhatikan, mengingat informasi, atau beralih dari satu tugas ke yang lain sebaik orang-orang yang menangani satu hal pada suatu waktu. Multitasking diketahui terkait dengan hasil kesehatan kognitif dan mental yang buruk.

Di sisi lain, setiap situs media sodial memiliki satu aturan tak tertulis, asumsi budaya, dan keistimewaannya masing-masing. Ini dapat semakin mewalahkan penggunanya untuk mengurus dan mengelola profil dunia mayanya ketika penggunaan akun situs media sosialnya semakin bertambah. Hal ini bisa mengakibatkan suasana hati yang negatif dan emosi.

Ada juga lebih banyak kesempatan untuk melakukan blunder di media sosial, yang bisa dijadikan isu viral yang berujung pada rasa malu yang berulang — semakin banyak blunder Anda di-share dan diperbincangkan, semakin sering Anda harus mengalami flashback kenangan buruk, dan juga (mungkin) penyesalan. Stres mental ini bisa mengganggu kesehatan kognitif.

Tak selamanya media sosial berdampak negatif

Tentu saja, seperti dua sisi mata uang, kita juga tahu bahwa media sosial tidak selalu semuanya berdampak negatif. Menjadi netizen aktif dalam berbagai platform media sosial bisa memberikan manfaat positif dalam cara memberikan individu rasa keterlibatan dalam masyarakat, membantu orang untuk merasa tidak sendirian, lebih merasa didukung, dan memiliki harapan.

Memahami arah kaitan antara sosial media dan depresi penting untuk ke depannya. Jika penggunaan media sosial dapat menyebabkan atau memperburuk depresi, ada pekerjaan besar yang harus dilakukan untuk meneliti apa alasan di baliknya sehingga berpotensi membimbing pengguna yang berisiko tinggi untuk menjauh dari situs-situs tersebut.

Di sisi lain, jika orang-orang yang depresi beralih ke media sosial untuk mencari dukungan emosional — dan jika terbukti bahwa hal itu dapat membantu — maka kita mungkin benar-benar ingin mendorong penggunaan media sosial di antara pasien depresi.

Di penghujung hari, semua ini akan kembali lagi kepada pentingnya menemukan keseimbangan yang sehat dalam berinteraksi di dunia maya — dan dengan mengingat bahwa apa yang biasanya selebram unggah ke lamannya hanya versi realita yang telah melalui proses editing njelimet.

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

Apakah artikel ini membantu Anda?
happy unhappy"
Sumber

Yang juga perlu Anda baca

Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

Sedang mengalami masa sulit yang seakan mengisap energi dan pikiran Anda ke dalam lubang hitam? Psikoterapi bisa membantu Anda mencari solusinya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Begini Alasan Adanya Mata Plus pada Anak

Mata plus sering dikenal sebagai penyakit orang tua. Padahal banyak juga kasus mata plus pada anak. Baca terus dan pelajari berbagai penyebab dan gejalanya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Kesehatan Mata, Hidup Sehat 20/06/2020 . Waktu baca 5 menit

6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

Tanpa Anda sadari, pernikahan mungkin menjadi penyebab Anda stres dan tertekan. Ayo cari tahu berbagai sumber stres dalam pernikahan dan cegah dampaknya.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 19/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

Bagi orang yang memendam trauma psikologis yang serius, dampaknya begitu terasa dalam hidup sehari-hari. Untungnya, metode hipnoterapi bisa membantu Anda.

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . Waktu baca 5 menit

Direkomendasikan untuk Anda

tanggal kedaluwarsa

4 Fakta yang Perlu Anda Ketahui Seputar Tanggal Kedaluwarsa

Ditulis oleh: Arinda Veratamala
Dipublikasikan tanggal: 10/07/2020 . Waktu baca 4 menit
penyebab cantengan; kuku cantengan

Mengapa Kuku Bisa Cantengan dan Bagaimana Mengobatinya?

Ditulis oleh: Ajeng Quamila
Dipublikasikan tanggal: 08/07/2020 . Waktu baca 5 menit
mual karena gugup

Kenapa Kita Merasa Mual Saat Sedang Gugup?

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
Dipublikasikan tanggal: 21/06/2020 . Waktu baca 6 menit
Berpikir negatif demensia

Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . Waktu baca 4 menit