Apakah Paranoid Bisa Disembuhkan?

Ditinjau oleh: | Ditulis oleh:

Terakhir diperbarui: 29/10/2019 . 4 mins read
Bagikan sekarang

Paranoid adalah perasaan irasional dan terus menerus, yang membuat Anda merasa bahwa orang-orang keluar untuk menangkap Anda, atau bahwa Anda merupakan subjek perhatian yang mengganggu orang lain. Ketidakpercayaan kepada orang lain yang tidak mendasar ini membuat seseorang yang mengalami paranoid sulit untuk bersosialisasi dan berhubungan dekat dengan orang lain. Penyebab paranoid tidak jelas, namun genetik diduga memainkan peran dalam hal ini. Selain itu, tidak ada obat yang mutlak dapat mengobati kondisi ini.

Jadi, apakah hal ini dapat disembuhkan? Hal ini tergantung kondisi, tapi bukan berarti mustahil dilakukan. Sebelum kita mengetahui apa saja hal-hal yang mungkin dapat memulihkan paranoid, ada baiknya untuk mengetahui gejalanya terlebih dahulu!

Gejala paranoid

Gejala paranoid berkisar dari ringan hingga berat. Sebenarnya gejala tergantung pada penyebabnya, namun umumnya mereka mengalami kondisi:

  • Mudah tersinggung
  • Sulit mempercayai orang lain
  • Tidak dapat menghadapi berbagai kritik
  • Komentar orang lain dianggap sebagai makna berbahaya
  • Selalu defensif
  • Bersikap memusuhi, agresif, dan argumentatif
  • Tidak dapat berkompromi
  • Merasa sulit untuk memaafkan dan melupakan
  • Selalu berpikir bahwa orang lain berbicara buruk di belakang dirinya
  • Selalu curiga bahwa orang lain berbohong untuk menipu dirinya
  • Tidak dapat mencurahkan hati pada siapapun
  • Berpikir bahwa menjalin hubungan merupakan hal yang sulit
  • Dunia merupakan ancaman konstan
  • Merasa dianiaya oleh dunia
  • Percaya pada teori konspirasi yang tidak beralasan

Bagaimana menyembuhkan paranoid?

Meskipun tidak ada obat mutlak untuk kondisi ini, pengobatan dapat membantu orang mengatasi gejala mereka, sehingga hidup bahagia dan lebih produktif. Pengobatan tergantung pada jenis dan tingkat keparahan kondisi, tetapi hal ini mungkin termasuk:

1. Psikoterapi

Seperti kebanyakan gangguan mental lainnya, psikoterapi merupakan salah satu pengobatnya. Individu dengan gangguan paranoid jarang untuk melakukan pengobatan. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika penelitian mengenai jenis pengobatan yang paling efektif untuk gangguan ini sangat sedikit.

Ada kemungkinan bahwa terapi yang menekankan pendekatan sederhana, yang berfokus pada klien, merupakan yang paling efektif. Membangun hubungan pada orang dengan gangguan ini akan lebih sulit dari biasanya, maka terminasi dini (penghentian terapi dini) umum terjadi. Seiring terapi berlangsung, pasien mungkin akan sedikit demi sedikit percaya dengan dokter.  Ia mungkin akan mulai mengungkapkan beberapa gagasan seputar paranoid yang ada di benaknya. Terapis harus berhati-hati dalam menyeimbangkan anatara tujuan terapi dan pemikiran pasien, agar tidak meningkatkan kecurigaan pasien. Ini adalah sesuatu yang sulit dipertahankan, meskipun terapis sudah memiliki hubungan yang baik dengan pasien.

Pada masa ketika pasien bertindak atas keyakinan paranoidnya, loyalitas dan kepercayaan terapis akan mulai dipertanyakan. Perawatan harus digunakan bukan sebagai penantang klien, karena risiko yang akan terjadi adalah klien akan meninggalkan terapi secara permanen. Karena keyakinan paranoid adalah sebuah delusi dan tidak didasarkan pada kenyataan, maka berargumen dengan mereka pada sudut pandang rasional merupakan hal yang sia-sia. Menantang keyakinan juga dapat membuat frustrasi kedua belah pihak, baik pada klien maupun terapis.

Semua dokter dan tenaga kesehatan mental yang melakukan kontak dengan klien gangguan ini harus sangat menyadari efek berterus terang pada klien. Lelucon halus biasanya tidak begitu mengganggu mereka, namun kata kiasan atau sindiran mengenai informasi klien yang tidak diterima langsung dari mulut klien akan memberikan banyak masalah kecurigaan. Berbagai hal dalam kehidupan yang biasanya tidak akan dipikir dua kali oleh orang lain dapat dengan mudah menjadi fokus perhatian klien gangguan ini, sehingga perawatan harus dilakukan dalam diskusi bersama klien.

2. Obat-obatan

Obat biasanya berkontraindikasi untuk gangguan ini, karena mereka dapat menimbulkan kecurigaan yang tidak perlu, yang biasanya akan menimbulkan ketidakpatuhan dan penghentian terapi. Obat yang diresepkan untuk kondisi tertentu harus segera dilakukan dalam waktu singkat untuk mengontrol kondisi.

Agen anti-kecemasan, seperti diazepam, merupakan obat yang dapat diberikan dengan resep jika klien menderita kecemasan akut atau agitasi yang telah mengganggu fungsi normal keseharian. Obat anti-psikotik, seperti thioridazine atau haloperidol, dapat diberikan jika pasien mengalami agitasi berat atau delusional pemikiran yang dapat mengakibatkan pasien menyakiti diri atau juga merugikan orang lain.

BACA JUGA:

Hello Health Group dan Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, maupun pengobatan. Silakan cek laman kebijakan editorial kami untuk informasi lebih detail.

Baca Juga:

    Apakah artikel ini membantu Anda?
    happy unhappy"
    Sumber

    Yang juga perlu Anda baca

    Pro dan Kontra Mengonsumsi Obat Antidepresan

    Antidepresan bisa membantu penderita depresi agar pulih, tapi ada efek samping yang perlu diwaspadai. Pahami pro dan kontra antidepresan berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 18/06/2020 . 5 mins read

    Ini Penyebab Kulit Kita Bisa Merinding

    Saat nonton film horor atau berada di tempat yang sangat tinggi, kulit bisa merinding ketakutan. Nah, ini dia penjelasan kenapa tubuh bereaksi seperti itu.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Fakta Unik 13/06/2020 . 4 mins read

    Pura-pura Sakit? Bisa Jadi Anda Mengidap Sindrom Munchausen

    Tanpa Anda sadari, sering berpura-pura sakit ternyata bisa menandakan gangguan jiwa. Cari tahu tanda-tanda dan penyebab sindrom pura-pura sakit berikut ini.

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Hidup Sehat, Psikologi 13/06/2020 . 5 mins read

    Cara Membedakan Stres, Depresi, dan Gangguan Kecemasan

    Setiap orang pernah mengalami stres. Tapi tidak semua orang mengalami depresi atau gangguan kecemasan. Lalu, apa bedanya stres dan depresi serta kecemasan?

    Ditinjau oleh: dr. Yusra Firdaus - Dokter Umum
    Ditulis oleh: Ajeng Quamila
    Hidup Sehat, Psikologi 09/06/2020 . 6 mins read

    Direkomendasikan untuk Anda

    Berpikir negatif demensia

    Sering Berpikir Negatif Bisa Tingkatkan Risiko Demensia

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Ulfa Rahayu
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 4 mins read
    psikoterapi

    Keluar dari Lubang Hitam Anda Lewat Psikoterapi

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 20/06/2020 . 5 mins read
    sumber stres dalam pernikahan

    6 Sumber Stres Utama dalam Pernikahan

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 19/06/2020 . 5 mins read
    hipnoterapi

    Memanfaatkan Hipnoterapi untuk Menyembuhkan Trauma Psikologis

    Ditinjau oleh: dr. Andreas Wilson Setiawan
    Ditulis oleh: Irene Anindyaputri
    Dipublikasikan tanggal: 18/06/2020 . 5 mins read