Beberapa tahun belakangan, kata “ansos” sempat populer digunakan oleh kalangan anak muda Indonesia untuk menyebut orang-orang yang tidak mau bergaul atau bersosialisasi. Istilah ini merupakan kependekan dari “antisosial”, karena dianggap mewakili sifat penyendiri, hingga bahkan introvert.

Padahal, antisosial adalah nama lain dari sosiopati, salah satu jenis gangguan kepribadian nyata yang sebenarnya merupakan kondisi kesehatan mental serius. Gangguan kepribadian memengaruhi bagaimana seseorang berpikir, merasakan, menerima gagasan, atau berhubungan dengan orang lain. Lalu, adakah ciri yang bisa menandakan Anda benar-benar seorang sosiopat, alias antisosial, dan bukan cuma orang yang sekadar mager keluar rumah untuk membuang waktu ngerumpi di coffee shop?

Apa itu sosiopati?

Sosiopati adalah suatu kondisi gangguan kepribadian yang mengacu pada perilaku dan pola pikir antisosial. Secara medis, seorang sosiopat (atau antisosial) memiliki pola perilaku yang eksploitatif, penuh tipu muslihat, mengabaikan hukum, melanggar hak orang lain, serta kasar (cenderung kriminal), tanpa motif yang jelas atau logis. Dan lebih sering daripada tidak, semua tindak-tanduk dan pemikirannya tidak bisa diprediksi.

Seorang sosiopat memiliki hati nurani yang cacat. Ia bisa membedakan mana yang benar dan salah, tapi memilih untuk mengabaikannya. Joseph Newman berpendapat bahwa sosiopat memiliki hambatan perhatian yang memungkinkan dia untuk fokus hanya pada satu kegiatan atau pemikiran, dengan mengesampingkan orang lain. Sementara itu, peneliti lain, termasuk Howard Kamler, mengatakan bahwa sosiopat tidak kekurangan “kompas” moral melainkan justru tidak memiliki identitas diri sama sekali. Ini mungkin yang jadi penyebab mengapa banyak sosiopat yang memiliki nama alias.

Penyebab pasti dari sosiopati tidak diketahui. Namun, kecenderungan sosiopati diyakini sebagai hasil dari interaksi yang kompleks dari faktor genetik dan lingkungan (misalnya, pelecehan anak, orang tua pemabuk). Dan untuk seseorang bisa dikatakan sosiopat, ia harus setidaknya berusia 18 tahun, serta sudah terlebih dulu memiliki riwayat masalah perilaku pada masa kanak-kanak — seperti membolos, melanggar norma (misalnya, melakukan kejahatan atau penyalahgunaan obat), dan perilaku merusak atau agresif lainnya. Ada lebih banyak sosiopat laki-laki di dunia ini dibandingkan dengan perempuan.

Apa ciri-ciri seorang sosiopat?

Dalam berbagai film dan acara TV, sosiopat biasanya adalah penjahat yang senang menyiksa dan membunuh korbannya. Walau stereotip ini tak salah-salah amat, penting untuk dicatat bahwa tidak semua sifat tersebut, atau yang di bawah ini, akan hadir di semua kasus sosiopati.

1. Memiliki ego besar

Ego yang besar seringnya diperlihatkan oleh seorang yang narsisistik, dengan kesombongan dan keegoisan yang besar, dan butuh untuk terus-menerus dikagumi oleh orang lain. Sosiopat memiliki sifat mirip — menganggap dirinya adalah yang terbaik, segalanya, pusat dunia. Mereka cenderung menyalahkan orang lain atas kesalahan mereka sendiri, atau lihai memengaruhi orang lain untuk memercayainya dan/atau menawarkan “fakta alternatif” yang ia rangkai sedemikian rupa sehingga terlihat nyata sebagai caranya cuci tangan dari konflik.

2. Karismatik, sangat cerdas, tapi manipulatif

Sosiopat adalah seorang pendusta, entah itu tujuannya untuk menggolkan misinya atau untuk sekadar bersenang-senang mempermainkan orang lain. Seorang sosiopat cenderung menampilkan emosi datar dan tenang, sangat jarang menampilkan kegugupan atau kecemasan. Atau justru sebaliknya, ia bisa menampilkan respon emosional yang tidak sesuai dengan sikon yang dihadapi karena ia memiliki toleransi rendah terhadap pemicu stres dan frustrasi.

Dan karena kecenderungan manipulatif ini, akan sulit bagi orang awam untuk bisa membedakan mana yang jujur atau tidak dari setiap perkataan mereka. Atau bahkan, tidak ada yang pernah bisa mengetahui bahwa mereka memiliki gangguan kepribadian.

3. Tidak peduli orang lain

Sosiopat sering mengabaikan orang lain, dan ini dimulai sejak usia dini atau remaja awal yang berlanjut sampai dewasa. Seorang sosiopat tidak memiliki kasih sayang. Mereka tidak memedulikan keselamatan orang lain, mengabaikan kebutuhan atau perasaan orang lain, dan cenderung menempatkan mereka dalam bahaya demi menguntungkan diri sendiri. Di atas semua itu, sosiopati ditandai dengan rasa malu dan penyesalan yang minim.

Kurangnya empati terhadap orang lain mungkin tercermin pada aspek bahwa orang-orang sosiopat tidak memiliki banyak teman. Sosiopat tidak memiliki kemampuan untuk mempertahankan hubungan dekat, walaupun tidak memiliki masalah untuk memulainya. Begitu pula dengan kehidupan seksnya, lebih cenderung menyukai hubungan romantis sesaat atau cinta satu malam yang alakadarnya.

4. Terus menerus melanggar hukum

Sosiopati ditandai dengan perilaku impulsif, yang diikuti oleh sifat mudah meledak marah dan agresif. Ini ditunjukkan dengan seringnya bentrokan dengan kasus hukum seperti perkelahian fisik atau serangan yang berulang. Sifat impulsif dan tidak bertanggung jawab ini juga ditunjukkan di aspek kehidupan lainnya, seperti kewajiban sosial seperti pekerjaan dan/atau sekolah, atau urusan keuangan.

Apa Anda salah satunya?

Baca Juga:

Sumber
Ingin hidup lebih sehat dan bahagia?
Dapatkan update terbaru dari Hello Sehat seputar tips dan info kesehatan
Yang juga perlu Anda baca